Sunday, April 20, 2008

Pemanasan Global dan Kesadaran Umat Islam

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews@yahoo.co.id


Bahaya Lingkungan dan Kita. “The warnings are rather chilling. Around 2,000 islands will disappear from Indonesia's map due to rising sea levels,” demikian pembuka artikel dari Kanis Dursin di harian The Jakarta Post, 1/5/2007. Peringatan itu terdengar menakutkan. Sekitar 2 ribu pulau akan lenyap dari peta Indonesia akibat kenaikan permukaan air laut.

Ia lanjutkan bahwa semua kota-kota pantai dan perumahan di tepi laut akan tenggelam. Satwa liar, terutama yang dilindungi, akan punah. Banjir, tanah longsor, badai dan angin ribut akan menjadi peristiwa rutin, sementara penyakit akan menghantui seluruh penghuni jagat ini. Walau pun demikian, sebagian besar penduduk Indonesia justru tidak menyadari konsekuensi dari angka-angka statistik yang menakutkan itu.

Bangsa Indonesia, lanjut artikel itu, juga jauh dari siap dalam melakukan aksi konkrit untuk mengantisipasi pemanasan global. Survei ACNielsen menunjukkan 28 persen warga dewasa di perkotaan menyadari ancaman pemanasan global, tetapi hanya separonya yang menganggapnya sebagai masalah yang serius.

Banyak kajian menunjukkan bahwa peran kegiatan manusia adalah sentral sebagai penyebab terjadinya pemanasan global. Sehingga agar bumi manusia ini bisa selamat dari bencana yang lebih besar, hanya manusia pula yang bisa melakukan tindakan penyelamatan. Dan semua itu harus dimulai dari kesadaran tiap-tiap individu. Anda juga. Dimulai dari saat ini pula !

Untuk ikut berperan serta dalam berbagi kesadaran itu, saya telah menulis surat pembaca di bawah ini :


Pemanasan Global
Dimuat di Harian Suara Merdeka,
Jumat,4 Januari 2007 : Hal. M


Beberapa minggu lalu saya terlambat berangkat ke sholat Jumat. Tetapi keterlambatan itu menguak hal yang sebelumnya tidak saya sadari. Saat itu halaman masjid Al-Taqwa Wonogiri penuh sesak dengan sepeda motor dan mobil. Saya bergumam, ternyata untuk berbakti kepada Allah para umat juga harus beramai-ramai menggunakan bahan bakar fosil, yaitu bensin, sementara dampak utama dari konsumsi itu adalah meningkatnya suhu global yang lebih cepat.

Photobucket

Penuh kendaraan bermotor. Mobil dan motor nampak memenuhi pelataran parkir Masjid At-Taqwa Wonogiri seusai Jumatan yang saya potret dari balik pagar pembatas lantai dua masjid bersangkutan.

Mungkin yang memiliki sepeda motor ada yang berdoa semoga segera bisa memiliki mobil, dan yang memiliki mobil berdoa dapat memiliki mobil yang lebih mewah. Peningkatan konsumsi bahan bakar fosil pun semakin menaik, suhu global juga naik semakin cepat.

Saya mengetuk : apakah umat Islam dapat sedikit meneruskan ketangguhan sikap menahan diri yang telah tergembleng selama bulan Puasa, dalam kehidupan sehari-hari kini ? Bagaimana kalau setiap melaksanakan sholat Jumat justru kita mengistirahatkan sepeda motor dan mobil kita masing-masing ? Kita pergi ke mesjid dengan jalan kaki. Bila kejauhan dengan mesjid utama, kita dapat melakukan ibadah yang sama di mushalla terdekat.

Kebetulan, tiap Jumat adalah hari berolahraga bagi karyawan lembaga pemerintahan dan swasta. Sehingga alangkah baiknya bila hari itu terjadi kesinambungan semangat dan praktek untuk hidup sehat, berperilaku menahan diri mengonsumsi bahan bakar fosil, peduli kepada masa depan bumi, yang berarti juga peduli bagi masa depan kita sendiri, anak cucu kita dan sesamanya.


Bambang Haryanto
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612


Wonogiri, 21 april 2008


tmw

Friday, February 15, 2008

Ancaman Di Balik Wabah Grafiti di Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews(at)yahoo.co.id


Teori jendela pecah. Kriminolog James Q. Wilson dan George Kelling menelorkan teori broken windows, jendela pecah, untuk menerangkan asal muasal epidemi tindak kejahatan. Paparannya yang menarik dap[at anda baca di bukunya Malcolm Gladwell, The Tipping Point : How Little Things Can Make a Big Difference (2000).

Keduanya berpendapat, kriminalitas merupakan akibat tidak terelakkan dari ketidakteraturan. Jika jendela sebuah rumah pecah namun dibiarkan, siapa pun yang lewat terdorong menyimpulkan pastilah di lingkungan tersebut tidak ada yang peduli. Atau rumah itu kosong.

Dalam waktu singkat akan ada lagi jendelanya yang pecah, dan belakangan berkembang anarki yang menyebar ke sekitar tempat itu. Di sebuah kota, awal yang remeh seperti corat-coret grafiti, ketidakteraturan, dan pemalakan, semua setara dengan jendela pecah, ajakan untuk melakukan kejahatan yang lebih serius lagi. Buku The Tipping Point tadi bahkan menyimpulkan, “bahwa orang yang setiap hari lewat di jalanan bersih atau naik kereta api yang serba rapi cenderung akan menjadi orang lebih baik ketimbang bila mereka setiap hari lewat di jalanan penuh sampah dan naik kereta atau bus kota penuh corat-coret.”

Itukah pula ancaman besar tindak kejahatan yang akan marak dan meruyak di Wonogiri ? Karena lanskap kota Wonogiri yang kurang elok itu kini terasa makin sesak dengan munculnya corat-coret grafiti. Mari kita telusuri panorama hasil corat-coret artis jalanan yang tidak berani memunculkan jati dirinya secara terus terang itu :

Photobucket

KEKACAUAN VISUAL. Grafiti di atas tergores pada tembok bangunan rumah di Jl. Kabupaten. Apa makna pesan di balik corat-coret itu ? Sulit difahami. Tetapi karya “seni lukis jalanan” itu berperan menambah kekacauan visual bagi warga kota kecil ini. Dan adakah pengaruh buruknya bagi psike mereka ?


Photobucket

TANGGA MERAIH PENGAKUAN ? Penjual tangga bambu sedang melintas di jalan sekitar komplek SMA Negeri 1 Wonogiri. Adakah para siswa sekolah ini pula yang membuat grafiti di dekat sekolah mereka tersebut ? Kalau benar, apakah aksi mereka itu sebagai akibat lingkungan sekolah mereka yang justru tidak kondusif untuk menyalurkan energi “bomber” mereka yang meluap-luap ? Mengapa mereka memilih “jalan gelap” untuk meniti tangga guna meraih pengakuan, bahkan kemashuran ?

Photobucket


Photobucket

PARADOKS MENCARI CINTA. Para “bomber” atau pelukis grafiti itu suka menyembunyikan jati dirinya. Dapat dimaklumi, mereka itu dapat dianggap telah melakukan tindakan yang tidak terpuji. Tetapi lihatlah, mereka mempromosikan diri agar dijadikan pacar, seperti tertuang dalam karyanya (atas, di menara waduk Gajah Mungkur) dan di daerah Sanggrahan, pada tembok Jl. Dr Wahidin, timur SDN Wonogiri 1. Bagaimana seseorang dapat mengenal mereka, lalu bisa menjadi pacar mereka, kalau para bomber itu selalu menyembunyikan jati dirinya ?

Photobucket

OPERASI RAHASIA. Para “bomber” itu kiranya orang-orang malam. Mereka beraksi ketika malam tiba. Lihatlah, karya di atas itu tergores pada tembok jalan di Jl. Pelem 3, persis di utara markas Kodim 0728 Wonogiri. Operasi rahasia mereka sukses, bahkan di dekat markas tentara !


Photobucket

AKTORNYA ITU-ITU SAJA ? Dari pelbagai motif grafiti yang ada di Wonogiri segera nampak bahwa karya-karya tersebut dilakukan oleh “pe-bomber” yang sama. Karya di atas terletak di pintu garasi sebuah rumah di Jl. Kartini.

Photobucket

APA INTI PESAN MEREKA ? Grafiti ini terdapat di tembok rumah/toko Tukang Gigi Jaya Leo di dekat Ponten. Tepatnya di sebelah selatan Bank Jawa Tengah. Apakah Anda bisa meraba arah pesan dari grafiti satu ini ?


Photobucket

KARYA SENI YANG HILANG. Tembok di dekat garasi bis Giri Indah, Jl. Kartini, semula nampak meriah dengan grafiti. Kemudian cat hitam telah membuat karyanya yang dikerjakan sang “bomber” alias seniman jalanan dengan sepenuh hati dan mungkin dalam hitungan beberapa malam itu, akhirnya bernasib lenyap dari pemandangan.


Langka kanal berekspresi ? Mengapa tiba-tiba grafiti marak dan apa kira-kira akibat jangka panjangnya bagi Wonogiri ? Ada dugaan, generasi muda di Wonogiri selama ini merasakan kesulitan untuk berekspresi secara otentik dalam mengaktualisasikan potensi mereka.

Sekadar contoh : secara rutin berlangsung di Wonogiri pelbagai acara budaya kolosal gagasan Pemkab. Seperti Kirab 1000 Keris, Kirab Umbul-Umbul dan Kirab Benda-Benda Pusaka yang melibatkan ribuan pelajar. Tetapi sangat jelas, kita semua tahu, aktivitas semacam itu bukan acara “mau” otentik mereka. Aktivitas semacam itu bukan otentik “milik dunia” mereka. Tetapi mereka harus ikut karena perintah guru, guna membawa nama sekolahnya.

Mungkinkah kesumpekan semacam itu yang mendorong mereka bergerilya, berekspresi, mencoret-coret tembok kotanya ? Untuk mengkritisi beragam kegiatan seremonial yang disukai pembesar Pemkab Wonogiri dan potret aktivitas kalangan pelajar di Wonogiri, saya pernah berkomentar dengan menulis surat pembaca seperti tertuang di bawah ini :


Perpustakaan di Wonogiri
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, Rabu, 8 November 2006

Sekolah masa kini bukan lagi ibarat Matahari dan para murid sebagai planet-planet yang mengelilinginya. Para guru dan orang tua juga bukan satu-satunya sumber bagi mereka untuk memperoleh pengetahuan dan kearifan. Wawasan ini menyelinap ketika menyaksikan pelajar Wonogiri pada hari pertama masuk sekolah sesudah Liburan Lebaran. Hari itu, sesudah ritus halal bihalal, jam belajar ditiadakan, dan murid-murid pun diijinkan pulang.

Sebagian dari mereka berbondong-bondong menyerbu pasar swalayan. Ada juga yang nongkrong-nongkrong di pasar. Setahu saya untuk kota sebesar Jakarta pada setiap kompleks pertokoan telah dipasang pesan yang melarang pelajar berseragam untuk keluyuran di pusat-pusat perbelanjaan tersebut. Saya tidak tahu mengapa larangan yang sama tidak diterapkan di Wonogiri.

Yang kiranya boleh saya menduga, mereka menyerbu pasar swalayan karena sebagai satu-satunya tempat yang menarik. Mereka bisa melihat barang-barang bagus, sekaligus bisa melambungkan impian untuk bisa memilikinya. Di tempat berpendingin itu impian-impian mereka memperoleh rumah yang nyaman.

Celakanya, hanya impian sebagai konsumen. Sementara impian sebagai kreator, produsen, mungkin tidak memiliki tempat untuk subur berkembang. Baik di kelas, di rumah, di ruang-ruang perpustakaan sekolah atau umum, juga tidak bergejolak di lapangan-lapangan olah raga. Mereka tidak betah di sana.

Apalagi fasilitas umum untuk mengembangkan intelektualitas, bakat seni dan bakat olahraga di kota kecil Wonogiri, nampak belum mendapat perhatian yang berwenang secara memadai. Tidak hanya menyangkut bangunan fisiknya, tetapi terutama muatan kegiatannya yang mampu menarik generasi muda. Perpustakaan umum Wonogiri hadir dengan ruangan seadanya, lebih banyak lengang karena lokasinya dipencilkan, berada di luar lalu lintas ramai para pelajar.

Wonogiri konon tinggal satu-satunya kabupaten di Jateng yang tidak memiliki mobil/perpustakaan keliling. Warung Internet satu-satu berguguran. Sementara aktivitas anak muda justru cenderung dikooptasi birokrat hanya sebagai barisan pion guna meraih prestasi-prestasi semu yang tidak ada nilai-nilai edukasinya yang tinggi.

Mungkin itulah penyebab mengapa Wonogiri masih termasuk daerah tertinggal dalam hal pembangunan sumber daya manusia. Apalagi, otak-otak terbaik asal daerah ini lebih suka berkiprah di kota lain. Bahkan tidak jarang, mereka pun malu untuk mengaku sebagai wong Wonogiri. Dari mana harus mulai untuk bisa meretas lingkaran setan seperti ini ?


Bambang Haryanto
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri
Warga Epistoholik Indonesia


tmw

Sunday, February 10, 2008

Iklan Rokok Mengepung Kota Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews@yahoo.co.id



Duit rokok, birokrat cadok. Bilbor tak begitu besar itu pernah dipasang di Krisak, dari arah Solo di sisi kiri sesudah monumen. Isi pesannya luhur : mengampanyekan Wonogiri Menuju Sehat 2010. Bilbor di Krisak itu kini hilang, entah mengapa. Tetapi bila pun tetap terpasang, akhirnya hanya menjadi ikon ironi besar bagi Wonogiri. Sebab ketika Anda memasuki kota yang memiliki wakil bupati seorang dokter, pelbagai bilbor yang lebih besar dan berisi iklan-iklan produk yang mengancam kesehatan justru amat dominan di kota kecil ini.

Photobucket

PROMOSI NIKOTIN ! Lanskap Kota Gaplek ini senyatanya sudah sumpek oleh centang-perenangnya iklan-iklan rokok. Dalam rangka meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), para birokrat di Pemkab Wonogiri sepertinya tega menyiksa isi otak warganya untuk setiap harinya dijejali iklan-iklan rokok.

Penetrasi iklan-iklan rokok itu begitu merajalela dan nyaris tidak menyisakan pertimbangan estetika. Para birokrat itu jelas mengidap sakit myopia, cadok, sehingga tidak mampu memikirkan dampak ancaman terhadap kesehatan yang serius akibat rokok yang bakal harus dibayar lunas oleh generasi muda Wonogiri di masa depan.

Sebagai ilustrasi, silakan simak gambaran mengejutkan di balik iklan-iklan rokok itu sebagaimana berita di harian Jawa Pos Radar Yogya yang dikutip BBC (14/12/2007). Harian itu ketika melaporkan hasil seminar “Studi Kelayakan Penyusunan Perda Pembatasan Rokok” di Yogyakarta (13/12/07), mengajukan fakta bahwa dua pertiga dari 19 juta penduduk miskin Indonesia adalah perokok.

Bayangkan kemudian : untuk kebiasaan buruk yang mencandu itu pada sepanjang tahun 2006 saja mereka telah rela menghabiskan uangnya untuk membeli rokok sebesar 23 trilyun rupiah. Angka pemborosan uang itu bisa untuk membeli 5,8 juta ton beras. Dana yang sama juga lebih besar dibanding dana APBN untuk subsidi BBM yang diperuntukkan bagi mereka.


Perang Nikotin di Wonogiri. Indonesia dan termasuk pula Wonogiri, sekarang memang menjadi medan perang industri rokok. Baik yang berasal dari dalam negeri atau pun dari luar negeri. Hampir empat tahun lalu saya telah menulis surat pembaca berikut ini :


Bonus rokok di tiket olahraga
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, 20 Agustus 2004


Pengumuman aneh tertera di loket penjualan tiket kejuaraan bola voli yunior se-Jawa Tengah yang berlangsung di GOR Wonogiri, 7/8/2004 yang lalu. Tertulis harga tiket Rp. 3.000 dan pembeli dapat bonus sebungkus rokok. Saya batal nonton dan berpikir, bukankah pabrik rokok itu curang, melakukan dumping harga untuk mempromosikan produknya ?

Bukankah ini rekayasa bisnis tak etis, untuk produk yang berpotensi besar mengakibatkan kecanduan dan sekaligus membahayakan kesehatan ? Apalagi sasarannya anak-anak muda, di pentas yang tujuannya mempromosikan pentingnya kesehatan, yaitu ajang olahraga ?

Rokok, produk yang membahayakan kesehatan, tampil sebagai sponsor pertandingan olahraga sudah lumrah di tanah air kita. Modus serupa juga gencar dalam pertunjukan musik dan acara lain yang diperkirakan menyedot kehadiran anak-anak muda. Memang, anak-anak muda seumuran SMP-SMA kini jadi target utama produsen rokok. Sebab sekali mereka kecanduan rokok di usia rawan itu, kebiasaan buruk tersebut akan sulit hilang sampai dewasa atau meninggal di usia muda.

Peristiwa di GOR Wonogiri itu, dalam skala besar, mencerminkan pribadi bangsa kita yang terbelah. Kita adakan ajang untuk mempromosikan kesehatan, tapi sponsornya produk yang membahayakan kesehatan. Semakin banyak dibangun tempat-tempat ibadah, tetapi seperti kasus ramai di DPRD-DPRD, mereka pun tak malu berkorupsi secara berjamaah.

Kita mengaku mendukung reformasi, tapi sosok-sosok Orde Baru tetap berjaya di panggung. Gembar-gembor tak tergiur kembali terjun ke politik, tapi tetap glibat-glibet dan ngotot mengajukan RUU yang bertabiat sebaliknya. Mengaku harus netral dalam pemilu, tapi bukti VCD yang bocor ke masyarakat berkata sebaliknya pula. Itulah anomali kepribadian kita sebagai bangsa.

Photobucket

NALAR TIDAK GATHUK. Pesan dalam bilbor iklan rokok ini dan pesan yang ada di bawahnya senyata-nyatanya sangat kontradiktif. Tidak masuk akal sehat. Bagaimana bisa produk rokok mampu mempromosikan sehat bagi warga Wonogiri ?


Anomali yang sama juga diperlihatkan oleh pucuk pimpinan bangsa kita, saat itu. Untuk mengedepankan potretnya, saya telah pula menulis surat pembaca berjudul “Nalar Yang Masih Tidak Gathuk,” dan dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, Sabtu, 18 September 2004. Silakan menyimaknya di bawah ini :

Sivitas akademika Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang pantas dipuji ketika menempuh kebijakan melarang segala bentuk iklan rokok di lingkungan kampusnya. Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) di Purwokerto berdemo menuntut dicabutnya sarana reklame rokok dalam suatu kegiatan di kampus. Lebih hebat lagi, Universitas Petra Surabaya menetapkan larangan merokok di lingkungan kampusnya sejak pertengahan Agustus 2004.

Berapa banyak institusi pendidikan kita dan warganya berlaku cerdas seperti ketiga kampus tadi ? Tidak banyak. Banyak kepala sekolah atau rektor yang tidak merasa bersalah bila ring basket, bangku taman di lingkungannya, terpampang merek rokok. Tidak sedikit mahasiswa yang mengadakan kegiatan di kampus, turnamen olahraga misalnya, dengan alasan lebih mudah mencari duit sponsor maka dikirimi proposal utama adalah pabrik-pabrik rokok.

Realitas yang menyedihkan. Insan-insan cendekia kita itu begitu tertabrak upaya memperoleh uang, maka mudah saja terjadi apa yang disebut sebagai cognitive dissonance (CD), kesadaran yang tak nyambung. Demi uang, mereka seolah melupakan dampak bahaya yang ditimbulkan oleh rokok dan kebiasaan merokok yang mereka kampanyekan itu. Nalar rancu, tidak gathuk (Jawa) ini, dikuatirkan akan mudah berlanjut bila mereka telah terjun di masyarakat. Dengan berpendapat demi uang maka apa pun suara hati, suara kesadaran, boleh dipinggirkan. Ini benih korupsi, bukan ?

Nalar rancu itu tak hanya diidap oleh insan-insan kampus kita. Pada tanggal 19/8/2004, Presiden kita mengunjungi pasukan TNI-Polri yang bertugas di Aceh, di lembah Aloe Gintong, Kecamatan Jantho, Kabupaten Aceh Besar. Kepada para prajurit, seperti dilaporkan Kompas (20/8/04 :1), Presiden (Megawati-BH) berpesan : Jaga kesehatanmu dan berhati-hatilah dalam bertempur. Berita yang sama telah dimuat di Solopos (20/8/04 :2) bertajuk : Di Aceh, Presiden bagikan rokok kepada prajurit.


Anak-anak sebagai korban. Nalar yang rancu itu mampu mengakibatkan dampak yang serius. Mari kita ikuti cerita dari wartawan William Ecenbarger dalam artikelnya yang berjudul America’s New Merchants of Death, Saudagar-Saudagar Kematian Baru dari Amerika Serikat di majalah Reader’s Digest, 4/1993 : 17-24.

Ia menyebutkan, raksasa industri rokok Amerika sebagai saudagar-saudagar kematian baru semakin agresif memindahkan pasarnya ke luar negeri. Karena sebagai negara maju dengan penduduknya berpendidikan, berkesadaran tinggi menjaga kesehatan, membuat konsumsi rokok semakin menurun. Apalagi perangkat hukumnya ketat dan tegas.

Sasaran perpindahannya justru negara miskin dan berkembang. Indonesia dengan penduduk ratusan juta, dengan sbagian besar penduduknya berusia muda, jelas merupakan pasar sangat menggiurkan. Sadisnya lagi, anak-anak dan kaum muda yang menjadi sasaran bidik utama mereka.

Mengapa anak-anak ?

Ketika perokok tua berhenti merokok atau meninggal, masa depan industri rokok bergantung kepada keberhasilan perekrutan konsumen baru mereka, yaitu anak-anak dan kaum muda. Terlebih lagi dari hasil kajian didapat data bahwa seseorang mulai merokok rata-rata pada umur 12 – 16 tahun. Mereka yang tidak merokok ketika berumur 18 tahun akan tidak kecanduan merokok.

Ketika serbuan rokok Amerika mengganas di Indonesia, reaksi apa yang dilakukan oleh industri rokok Indonesia ? Melawan dengan sengit. Terjadilah perang iklan secara sengit antarsaudagar kematian, baik melalui acara musik, olahraga, kegiatan tradisional, pemberian beasiswa, bahkan lomba karya tulis untuk wartawan. Ujung dari itu semua adalah : anak-anak muda kita yang jadi korban. Apalagi bom-bom nikotin itu mereka poles sebagai citra gaya hidup muda, gaul, gaya, funky, masa kini.

Sampai-sampai mahasiswa dan dosen dua perguruan tinggi negeri, UNS di Solo dan Undip di Semarang Jawa Tengah (Kompas Jawa Tengah, 17/9/2004), mau termehek-mehek dan terbius sihir promosi rokok berselubung seminar pendidikan akibat julignya kreator iklan mengemas produk yang berbahaya untuk dikonsumsi anak-anak muda kita.


Orang miskin korban utama. Perang antarsaudagar kematian di atas mirip fenomena perang melawan teroris di negeri kita, pasca 11 September 2001. Saat itu Amerika Serikat bangkit, bergegas menata diri memerangi terorisme. Peraturan imigrasi yang ketat sampai kewaspadaan tinggi, mampu mempersempit ancaman teroris. Akibatnya, teroris memindahkan teaternya melawan AS dan sekutunya di negara-negara luar AS. Termasuk ke Indonesia, di mana teror bom di Bali, Hotel Mariott Jakarta dan di depan Kedubes Australia adalah contoh aktualnya.

Sebagaimana contoh terorisme di atas, perang perebutan pasar rokok merembet ke negara kita. Indonesia karena perangkat hukum relatif lemah dalam regulasi rokok, bahkan presiden kita enggan menandatangani FCTC (WHO Framework Convention on Tobacco Control) atau Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian Tembakau, menjadikan negeri ini ideal dijadikan arena perang antarpara penjaja bom-bom nikotin itu.

Korbannya ?

Menteri Kesehatan AS Richard Carmona mengutip isi Laporan Pemerintah AS No. 28 (Deutsche Presse-Agentur, 27/5/2004) menyatakan bahwa merokok mengakibatkan penyakit untuk semua organ tubuh, pada semua tingkatan usia, di seluruh dunia. Tercatat 440.000 warga AS meninggal tiap tahun akibat penyakit yang terkait dengan merokok dan menghamburkan biaya 157 milyar dollar per tahun, di mana 75 milyar untuk pengobatan dan 82 milyar dollar untuk produktivitas kerja yang hilang.

Itu di Amerika Serikat, sebuah negeri kaya yang penduduknya kebanyakan berpendidikan dan memiliki kesadaran kesehatan yang tinggi. Bagaimana jumlah korban dan kerugian akibat bom-bom nikotin di Indonesia ? Siapa saja mereka ?

Memanglah, konsumen rokok justru sebagian besar adalah orang-orang miskin. Juga anak-anaknya. Termasuk mereka adalah pula warga miskin yang terdaftar sebagai warga Wonogiri, di mana menurut laporan koran Seputar Indonesia (19/1/2008 : hal. 13) disebutkan bahwa Wonogiri termasuk sebagai tiga besar daerah tertinggal di Jawa Tengah.

Photobucket

MENGANCAM SEJAK DINI. Sebuah persewaan playstation di Wonokarto, Wonogiri. Arena permainan yang disukai anak-anak ini ikut diincar sebagai ajang untuk mengajak anak-anak berkenalan dengan rokok.

Sebagai ilustrasi, saya memiliki tetangga yang berusaha warung makan dan juga ada yang mengelola persewaan play station. Antara lain konsumennya adalah sebagian siswa sekolah kejuruan swasta yang lokasinya ada di kampung saya. Mereka itu sering nampak jajan, juga main games, sambil menikmati merokok.

Sementara itu saya pernah meliwati warung-warung yang berada di sekitar sekolah kejuruan swasta, di sekitar Kaloran, Wonogiri Kota. Saat itu jam istirahat, dan saya saksikan sekitar 30-50 persen siswa yang memenuhi warung-warung itu sedang merokok.


Photobucket

GURU KITA TUTUP MATA ? Iklan-iklan rokok juga hadir secara demonstratif di depan hidung komplek sekolah. Nampak dalam foto warung-warung yang berada di sekitar gedung SMP Negeri I Wonogiri terdapat 5 dari 7 warung yang ada memakai kain tabir penutup warungnya yang berisi iklan-iklan rokok.

Sepertinya para guru bekas sekolah saya ini, sudah tak peka akan hal semacam itu ? Apakah fenomena pelajar merokok di sekitar lingkungan sekolah sekarang ini tidak lagi menjadi perhatian para guru-guru mereka ?

Kalau para birokrat, bahkan juga kalangan guru atau orang tua siswa di Wonogiri seolah menutup mata rapat-rapat, juga membutakan nuraninya terhadap fenomena makin gencarnya iklan-iklan rokok dan budaya merokok di kalangan anak didik mereka, lalu siapa lagi yang hirau terhadap masa depan generasi muda kita di Wonogiri ini ?

Hanya Tuhan Yang Maha Tahu.


Wonogiri, 9/2/2008

tmw

Monday, February 4, 2008

Setelah Amuk Bengawan Solo

Rasanya belum terhapus dari ingatan pelbagai rekomendasi penting hasil Ekspedisi Bengawan Solo Kompas 2007 terhadap penyelamatan masa depan sungai legendaris itu. Isu-isu tersebut beberapa hari ini telah diungkap kembali oleh wartawan Kompas, pelaku ekspedisi sekaligus saksi hidup yang mencatat pelbagai kerusakan sungai kita itu dari hulu sampai hilir.

Photobucket

Sebelum cahaya. Beberapa siluet pengunjung nampak sedang melintas di tepian waduk Gajah Mungkur sebelum matahari muncul di ufuk. Tepian waduk ini menjadi salah satu rekreasi dan berolah raga ringan bagi warga Wonogiri di hari Minggu pagi.

Photobucket

Benteng penahan air. Tanggul waduk Gajah Mungkur di lihat dari sisi utara bangunan. Garis yang melintang di bawah adalah pipa yang digunakan untuk menyalurkan lumpur waduk ke penampungan. Objek yang nampak kecil adalah pengunjung waduk di pagi hari.

Saya sebagai warga Wonogiri dan kebetulan jadi saksi peresmian ekspedisi itu pada tanggal 9 Juni 2007, di kolom ini telah mengusulkan agar tanggal itu dijadikan sebagai hari peduli dan cinta Bengawan Solo. Rasanya usulan saya itu harus dicabut, atau direvisi. Karena setelah Bengawan Solo mengamuk dan mengakibatkan banjir yang konon lebih besar dibanding tahun 1966 melanda Solo hingga Bojonegoro, kepedulian dan aksi terhadap upaya penyelamatan bengawan itu harus dilakukan setiap hari.

Mulai saat ini.

Semua fihak harus terus saling mengingatkan, terlebih karena kita adalah bangsa yang sangat pelupa dan sangat mudah alpa mengerjakan pekerjaan rumahnya.



Bambang Haryanto
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
Warga Epistoholik Indonesia

Catatan : Surat pembaca ini dengan penyuntingan redaksi telah dimuat di Kompas Jawa Tengah, Senin, 12 Januari 2008.

Pintu Air Waduk Gajah Mungkur

Selepas musibah banjir yang melanda Solo (26/12/2007), tiba-tiba pintu air Waduk Gajah Mungkur Wonogiri menjadi fokus liputan beberapa radio swasta di Solo. Ada yang menerjunkan reporter, tetapi ada juga yang hanya mengandalkan nara sumber penduduk lokal yang nampak tidak menguasai masalah. Isi liputan mereka nampak bias, sangat menyederhanakan masalah, di mana seolah dibuka atau ditutupnya pintu air waduk itu sebagai penyebab utama terjadinya (atau tidak terjadinya) banjir di Solo.

Photobucket

Pintu Sedang Dibuka. Dua dari empat pintu air waduk Gajah Mungkur sedang dibuka. Foto diambil Minggu, 30/12/2007.

Photobucket

Waduk di pagi hari. Dengan latar depan deretan alat-alat berat, yaitu back hoe yang digunakan untuk mengeruk lumpur yang mempercepat pendangkalan, panorama waduk Gajah Mungkur nampak cukup asri di pagi hari.

Reportase radio itu sama sekali tidak menyinggung adanya belasan anak-anak sungai Bengawan Solo antara Wonogiri-Solo yang jauh lebih banyak menyumbang luapan air ketika hujan deras terjadi. Ingat, akibat perubahan iklim telah membuat curah hujan berlangsung lebih pendek waktunya tetapi dengan curahan yang berlipat-lipat kuantitas dibanding sebelumnya. Sementara itu kuantitas aliran air ketika pintu waduk Gajah Mungkur dibuka diperkirakan hanya sebesar 16 persen saja. Terlebih lagi proses buka dan tutup pintu air itu tentu dilakukan secara terukur dan bertanggung jawab.

Saya berharap pemberitaan yang dangkal dan bertendensi menciptakan horor dari radio-radio swasta itu harus diakhiri dan diganti dengan pemberitaan yang lebih komprehensif, bersifat edukatif dan bertanggung jawab.


Bambang Haryanto
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
Warga Epistoholik Indonesia


Catatan : Surat pembaca ini dengan penyuntingan redaksi telah dimuat di Kompas Jawa Tengah, Senin, 31 Desember 2007.

Friday, August 17, 2007

Nasionalisme Warga Kajen, Warga Kampungku

oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews@yahoo.co.id
Tambahkan Gambar


Ini Nasionalismeku, Bung ! Apa wujud nasionalisme Anda ? Lebih memilih konsumsi produk makanan tradisional, dibanding makanan asal luar negeri. Mendirikan lembaga pengajaran komputer secara gratis sehingga anak-anak Indonesia di lingkungannya bisa melek teknologi. Atau, menjelang 17 Agustus sengaja memasang bendera di stang spion motor dan memekikkan kata “Merdeka !” untuk pengendara motor lain yang memajang bendera Merah Putih pula.

Itulah sebagian dari 62 pendapat pembaca Kompas dalam mengeskpresikan “Ini nasionalismeku !” yang dimuat dalam edisi16 Agustus 2007. Bagi warga RT 01/RW XI Lingkungan Kajen Giripurwo, Wonogiri, ekspresi nasionalisme itu kiranya bisa direntang lebih panjang dan memunculkan gambaran warna-warni.

Antara lain : Bapak Ketua RT, Haji Oemartopo, budayawan terkenal yang kenyang njajah desa milang kori dengan mendalang di kota-kota di Amerika Serikat, lalu masa revolusi tergabung resimen Sunan Lawu di daerah Sragen dan ikut menyerang kedudukan pasukan Belanda di pabrik Mojo, malam 16 Agustus 2007 nampak menyanyikan lagu “Padamu Negeri” bersama anak-anak kecil Kampung Kajen dengan heroik dan bersemangat. Inilah sepotong adegan ekspresi “Ini Nasionalismeku !” dari peristiwa Malam Tirakatan Memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-62 di kampung Kajen.


Anda Ingin Mengenal Kajen ? Betul ? Pergilah dahulu ke Paris, kota cahaya, yang ibukota Perancis. Kunjungilah kantor kedutaan besar Republik Indonesia, dan temuilah salah seorang pegawai lokalnya. Ia bernama : Jeff Francois Coctaz. Kepada mantan anggota angkatan laut dan lulusan antropologi ini, sapalah dengan bahasa Jawa.

Atau bila ingin cepat lebih akrab, panggil saja dengan sebutan Mas Paimin. Lalu tanyakanlah hal seputar Kajen kepadanya. Tanyakan apa ia masih ingat nama Bapak Oemartopo. Nama mBak Nur. Bapak Suroto yang Kaling Kajen. Juga masing-masing nama anak keluarga almarhum Kastanto Hendrowiharso. Tahun 70-an Jeff Coctaz, pernah agak lama tinggal di rumah keluarga Kastanto sebagai sahabat Barry Hendriatmo, salah satu anak keluarga ini. Sejak itu Jeff ibarat sebagai warga Kajen yang kini sedang mengembara di Perancis.

Memang di halaman rumah keluarga almarhum Kastanto inilah acara malam tirakatan 17 Agustus-an tahun 2007 digelar oleh warga Kajen. Secara lesehan. Di sisi barat halaman berukuran 6 x 12 meter ini dipakai sebagai panggung dengan dekor tulisan yang dirancang oleh Jumplong dari Biro Iklan JDI, juga warga Kajen. Lengkung-lengkung kain warna merah-putih di lisplang rumah menjadi aksen yang kental dalam menggugah semangat kebangsaan.

Penjor atau umbul-umbul warna-warni siangnya telah dipasang oleh Mas Parno. Ia punya sebutan angker, yaitu si Jack of All Trades alias McGyver-nya Kajen. Karena suami mBak Tien dan pria peramah asal Cepogo Boyolali yang sudah ajur-ajer sebagai wong Kajen sejak 1974 ini memang memiliki keperampilan serba bisa dalam krida pertukangan. Tetapi tukang santet dan tukang tenung tidak termasuk dalam keterampilannya.

Di pinggiran tempat duduk para pengunjung malam itu dikepung deretan tanaman adenium yang sedang mekar berbunga, koleksi Ibu Iwin M. Taufik, sang tuan rumah. Fasilitas pengeras suara dioperatori oleh Mas Giyadi, warga setempat. Pembawa acara adalah Suharto, tokoh karismatis dan flamboyan dengan sebutan gaul sebagai fish hunter yang sangat terkenal di Pasar Wonogiri.

Memang ia tidak atau belum memiliki kapal pukat harimau atau kesana-kemari selalu membawa harpoon seperti orang Eskimo, tetapi label pemburu ikan yang tertera dalam mobilnya menunjukkan siapa dia. Yaitu entrepreneur kelas kakap urusan kakap, walau sering yang ia urusi untuk bisnis sehari-harinya kebanyakan tongkol, gereh dan juga bandeng. Di Kajen ia memiliki jabatan resmi : Ketua K3.

Kakap, Kerapu dan Kepiting ?

Oh, bukan. Menurut Haryono, Sekretaris RT 01/RW XI, K3 merupakan kepanjangan dari kebersihan, ketertiban dan keamanan. Tema serupa K3 itu ternyata juga menjadi landasan dasar bagi penyelenggaraan beragam kegiatan merayakan hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-62 di Kampung Kajen.


Meretas Tesis Clifford Geertz. Hal di atas diungkapkan oleh tokoh masyarakat yang terpandang di Kampung Kajen, Bapak H. Wiloso, BA, yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia HUT RI Ke-62 Lingkungan Kajen. Bahkan beliau memiliki cerita menarik yang selama ini seolah terpendam di bawah karpet. “Kampung Kajen kita ini, disadari atau tidak, penduduknya selama ini telah terbelah oleh hal-hal yang sebenarnya tidak perlu,” kata beliau kepada “wartawan” blog Kajenku, Bambang Haryanto (20/8/2007).

Sekadar gambaran : lingkungan Kajen ini terdiri atas 6 RT. Ada 3 RT di bagian barat dan sisanya di bagian timur. Batas demarkasi yang “membelah” keduanya adalah Jl. Ahmad Dahlan yang merupakan jalan besar untuk bus jurusan Solo-Pracimantoro melintas. Pembelahan antar keduanya sepertinya sesuai dengan tesisnya antropolog terkenal Clifford Geertz.

Kita lihat, untuk Kajen Kulon (Barat) populasinya didominasi oleh kaum santri, tetapi di Kajen Wetan (Timur) oleh kaum abangan. Kajen Barat adalah masyarakat golongan elit, para pegawai negeri, sementara di Kajen Timur kebanyakan kalangan buruh tani. Kalau Pemilu, maka yang menang di Kajen Barat adalah PAN dan di Kajen Timur adalah PDIP atau Golkar. Ada pula perbedaan lain dari segi profil demografi penduduknya : di Kajen Barat relatif sedikit warganya yang berusia anak-anak dan remaja, sementara di Kajen Timur penduduk usia golongan ini berjubelan.

“Kajen adalah Kajen ! Nasionalisme untuk Kajen yang satu,” demikian tegas Pak Loso. Beliau menginginkan adanya ukhuwah alias persaudaraan untuk sesama warga Kajen tanpa adanya pembedaan-pembedaan yang tidak prinsip. Sosok beliau memang dapat dijadikan sebagai contoh. Ia berasal dari Kajen Kulon, tetapi karena luwes, ia pun bisa dengan enak berbicara dan bergaul dengan warga Kajen Wetan. Untuk mengikis kendala di atas, ia optimis akan teratasi oleh generasi-generasi yang akan datang. Sekadar contoh, sudah banyak anak-anak Kajen Timur yang bersekolah, misalnya TK Aisyiyah sampai SD dan juga SMA atau SMK Muhammadiyah yang terletak di Kajen Barat. “Tahun depan, sebaiknya lomba untuk anak-anak bisa memakai halaman sekolah-sekolah itu,” usul Bapak Wiloso. “Memanglah, menyemaikan kebaikan itu butuh sabar, karena untuk memetik buahnya memang dibutuhkan waktu,” tutur beliau dengan bijak.


Kajen Semarak ! Kebijakan itulah yang memandu panitia dalam memilih kegiatan lomba. “Jangan memilih lomba atau pertandingan yang mampu memicu tindakan kekerasan,” demikian angger-angger atau pedoman yang beliau gariskan. Pembiayaannya jangan memberatkan warga di tengah perekonomian yang masih sulit. Jangan sampai ada resiko cedera.

Awal Agustus 2007, pelbagai lomba mulai diselenggarakan. Baik untuk anak-anak, kaum remaja, kaum ibu dan juga kaum bapak. Sebagian besar diselenggarakan di venue utama, yaitu lapangan voli mBelik (Kajen Timur, Rt 01/XI), yang hanya beberapa belas meter dari tepian Bengawan Solo yang airnya di bulan Agustus mengalir tenang.


Perlombaan Anak-Anak (TK-SD).

Dengan arahan koordinasi Fajar Hartanto (Rt 3/RW X), tanggal 5 Agustus 2007, dibuka dengan lomba pukul air perorangan. Adik-adik kita yang bersukaria dan berbasah-basah ini akhirnya menelurkan Juara I – Bestin (1/XI), Juara II – Dila (2/X) dan Juara III – Diki (2/X).

Mayasari (bukan nama bis di Jakarta) dari Rt 02/RW XI kemudian memimpin lomba unik : memasukkan pensil ke dalam botol. Kembali kita sebut nama Bestin (1/XI) karena ia tampil sebagai juaranya, disusul Krisna (1/XI) dan Vian (1/XI) sebagai juara ketiga. Selanjutnya ajang lomba menjadi arena gelak tawa akibat kemunculan beragam badut dengan cemong-cemong warna hitam di wajah mereka. Dengan koordinasi Fandi (Rt 3/XI) belasan anak-anak mengadu kekuatan giginya untuk mengambil koin dari buah melon. Sokurlah buahnya melon, bayangkan bila yang dipilih panitia adalah buah durian. Bisa wajah-wajah mereka godres getih ya ? Ah, kasihan. Inilah juaranya : Krisna (1/XI), Ninis (3/X) dan disusul Nanda (1/XI).

Masih dalam suasana hari yang cerah di Kajen, Minggu sore itu diramaikan dengan anak-anak yang berlarian, sambil mengundang deg-degan para orang tua mereka. Mereka sedang ikut lomba lari kelereng, walau bukan ke lereng bukit. Tetapi yang dimaksud adalah biji kelereng atau sebutan lainnya adalah gundu, yang ditaruh di dalam sendok yang tergigit di mulut-mulut mereka. Lomba seru di bawah koordinator Dito (1/X) kembali memunculkan nama Bestin (1/XI) sebagai juara pertama. Ia melakukan hattrick setelah memenangkan lomba pukul air, memasukkan pensil ke botol dan kemudian lari kelereng. Juara keduanya, Angga (1/XI) dan disusul Yogya (2/X).

Lomba makan kerupuk, yang bila diartikan secara harafiah entah berapa tombong kerupuk yang bakal habis diserbu oleh puluhan anak-anak Kajen, akhirnya memunculkan lagi nama Ninis (3/X) sebagai juara pertama, disusul Arin (1/XI) dan Galih (2/XI) sebagai juara ketiga. Kriuk, kriuk, kriuk.




(Bersambung)




tmw

Monday, August 6, 2007

Reinventing Indonesia, Bengawan Solo dan Ide Wong Wonogiri Yang Tidak Mengalir Sampai Jauh

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews@yahoo.co.id


Huruf E Yang Hilang. Bapak Ambijo seorang e-pleis-toholik sejati. Bukan epistoholik yang biasa. Beliau berasal dari Kebumen. Surat-surat pembacanya sering muncul di koran Suara Merdeka. Bahkan juga menulis artikel pada koran yang sama.

Sampai di sini, apakah Anda menemukan sesuatu keganjilan dari teks dalam alinea tersebut di atas ? Ketahuilah, saya sengaja menulis huruf “e” dengan huruf miring. Karena saya ingin merekonstruksi bagaimana surat yang dikirimkan oleh Bapak Ambijo (foto) kepada saya (9/7/2007). Surat beliau berupa fotokopi, isinya menanggapi isi surat pembaca saya yang telah dimuat di harian Suara Merdeka (Sabtu, 7/7/2007) :


Epistoholik : Spesialis atau Generalis

Industrialis mobil terkenal Henry Ford pernah bilang, “Jangan hanya mencari-cari penyakitnya, tetapi juga carilah pengobatnya.” Nasehat itu pantas dicamkan oleh kaum epistoholik, yaitu mereka yang mencandu penulisan surat-surat pembaca.

Karena menurut hemat saya, selama ini terlalu banyak penulis surat pembaca yang piawai menemukan pelbagai penyakit tetapi sedikit sekali memberikan solusi. Indikasinya adalah, terlalu banyak mereka yang generalis, tidak fokus, modalnya hanya mudah gatal lalu terjun mengomentari SEGALA macam hal.

Godaan semacam memang sulit dihindari, karena juga menjadi penyakit pribadi saya sendiri selama ini. Akibatnya, isi surat pembaca seperti itu hanya seperti balsem, panas-panas sebentar di kulit, sebentar kemudian hilang khasiatnya.

Menurut hemat saya, kini sudah tiba saatnya kaum epistoholik berusaha menjadi penulis surat pembaca spesialis untuk topik atau subjek tertentu. Jadilah pakar. Bagi diri saya pribadi, usaha ke arah spesialisasi itu saya tempuh dengan mengelola situs-situs blog di Internet dengan topik-topik yang khusus pula.

Menurut keyakinan saya, dengan menjadi spesialis membuat sumbangan tulisan saya semoga lebih kredibel, lebih berbobot, dan lebih berguna. Paling tidak bila dibandingkan surat-surat pembaca yang menu utamanya selalu ungkapan marah kepada pemerintah atau keadaan, karena menu semacam memang memudahkan untuk dimuat. Tetapi sebenarnya juga mudah untuk segera terlupakan !

Bambang Haryanto (EI)
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri


Bapak Ambijo (65) yang memiliki hobi membaca, menulis dan melukis, rupanya sepakat dengan isi tulisan saya. Dalam suratnya, beliau yang pensiunan Bank BNI 1946 itu mengibarkan bendera sebagai epistoholik spesialis, karena khusus memfokuskan tulisan-tulisannya untuk membahas seluk-beluk kota beliau. “Contohnya, lihat dan baca Suara Merdeka tanggal 6 Maret 2007 dan tanggal 24 April 2007 pada rubrik Wacana Lokal,” tulis beliau.

Surat beliau ini mengingatkan saya akan isi artikel Steven Johnson di majalah TIME (25/12/2006) berjudul “It’s All About Us” dalam edisi khusus yang menobatkan Anda, pembaca, sebagai Tokoh Tahun 2006 majalah bersangkutan. Steven Johnson sembari merujuk era meledaknya blog dewasa ini, melukiskan hadirnya fenomena placebloggers, yaitu para penulis blog yang isi tulisan-tulisannya mengungkap segala macam hal atau problem yang terjadi di sekitar tempat tinggalnya, terkait dengan segala macam isu yang paling penting bagi hidup mereka.

Mengikuti istilah di atas, tiba-tiba muncul begitu saja di benak saya, kiranya sosok dan krida Pak Ambijo itu pantas diberi gelar atau julukan sebagai e-place-toholic. Bacanya : e-pleis-toholik. Artinya, tentu saja, penulis surat pembaca yang isinya berfokus pada isu-isu tempat mereka berada.

Kembali ke soal pada awal tulisan ini. Tentang huruf “e” tadi. Dalam surat Pak Ambijo, yang diketik dengan mesin tulis manual itu, tidak akan Anda temui huruf “e.” Karena tuts untuk huruf “e” itu sudah rusak. Dalam teks kemudian beliau ganti dengan “titik” (contoh : K..bum.n) atau ditindas dengan tulisan tangan.

Secara humor, kita dapat berandai-andai : betapa susahnya bila Pak Ambijo itu sebagai penulis berbahasa Inggris. Guyonan lainnya, tuts huruf “e” dari mesin ketik beliau yang rusak menunjukkan beliau sebagai pengguna berat huruf e, yang sekaligus menunjukkan dirinya sebagai sosok epistoholik dan epleistoholik sejati.

Ada pikiran lain menyeruak. Barangkali huruf “e” yang hilang itu juga mengisyaratkan ada sesuatu yang juga hilang dalam langkah gerak kaum epistoholik selama ini ? Dan bahkan juga dalam media cetak yang selama ini menampung karya-karya mereka !



Mesin Tulis dan Somasi. Sejak kapan Anda mengenal mesin tulis ? Mesin ciptaan Christopher Latham Scholes yang patennya ia peroleh 23 Juni 1868 itu mulai memikat saya ketika saya duduk di Sekolah Dasar, kelas 3 atau 4, tahun1963. Ayah saya yang bekerja di Kodim O728 Wonogiri sering membawa mesin tulis kantornya untuk merampungkan pekerjaannya di rumah.


Tahun 1968 ketika duduk di kelas 2A SMP Negeri 1 Wonogiri, untuk pertama kalinya tulisan lelucon saya dimuat di majalah Kancana, Jakarta. Ini majalah Persit (Persatuan Istri Tentara) Kartika Chandra Kirana, organisasi ibu saya sebagai istri anggota TNI-AD.

Saya sudah lupa, apakah saya mengirimnya dengan ketikan atau tidak. Sebab saat itu ayah saya dinasnya sudah pindah ke Kodim 0734 di Yogyakarta, sehingga tidak bisa lagi membawa pulang barang inventaris tempat bekerjanya yang lama. Dua lelucon saya itu diberi honor Rp. 200,00. Walau rada malu-malu, tetapi sungguh menyenangkan setiap kali dalam obrolan keluarga, ibu saya sering menyebut-nyebut atau menceritakan kembali lelucon saya itu.

Saat duduk di bangku SMP, saya bersentuhan kembali dengan mesin tulis dengan cara meminjam milik teman sekelas saya. Teman itu bernama Bambang Niyoko, saya lupa apa paman atau ayahnya yang seorang pendeta, yang dirumahnya memiliki mesin tulis itu. Ketika tergerak mengikuti sayembara menulis yang diadakan Poltabes Surabaya (atau Semarang ?), Bambang Niyoko yang rumahnya di belakang Kodim Wonogiri itu sudi membantu mengetikkan untuk saya.

Karangan saya tidak menang, tetapi saya memperoleh surat pemberitahuan yang memberikan apresiasi atas keikutsertaan saya. Setelah sama-sama lulus SMP, 1969, Bambang Niyoko berpindah ke Yogya. Saya juga meneruskan sekolah di STM Negeri 2 Yogyakarta, tetapi sejak itu di antara kita tak pernah ada kontak. Sampai kini.

Mesin tulis baru bisa saya miliki di tahun 1977. Untunglah saya dan Anda tidak tinggal di Rumania. Sebab mesin tulis pernah dibatasi penggunaannya ketika negara itu, 1965-1989, diperintah oleh diktator Nicolae Ceausescu. Presiden kelahiran 26 Januari 1918 di Scornicesti, Rumania dan tewas di depan regu tembak bersama istrinya Elena, 25 Desember 1989 di Bukarest, menandatangni dekrit yang melarang kepemilikan dan penggunaan mesin tulis bagi mereka yang berpotensi “membahayakan ketertiban masyarakat dan keamanan negara.”

Seperti dikutip majalah Reader’s Digest (4/1984), warga Rumania harus mendaftarkan mesin tulis mereka ke kantor polisi dan menyerahkan contoh hasil ketikan yang menunjukkan jenis huruf mesin tulis bersangkutan. Siapa saja yang ingin membeli mesin tulis harus memperoleh ijin dari negara.

Sebelum memiliki mesin tulis itu, ketika berkiprah sebagai aktivis kesenian di Sanggar Mandungan Muka Kraton Surakarta, Solo, atas kebaikan hati Mas Darto PKJT, saya selalu meminjam pakai mesin tulis milik Pusat Kebudayaan Jawa Tengah (PKJT) di Sasonomulyo. Mereknya Remington, besar, yang enak dipakai.

Pemakai lain saat itu adalah Efix Mulyadi, yang kini wartawan senior Harian Kompas. Juga Ardian Syamsudin, novelis yang kemudian berkarier sebagai tokoh dunia periklanan yang mapan di Jakarta. Saat itu Murtidjono, yang kemudian menjabat sebagai Kepala Taman Budaya Surakarta (TBS), memberi tips untuk memperpanjang usia pemakaian pita mesin tulis. Yaitu dengan melumasi pita dengan minyak sereh. ”Sukma siri”, demikian canda Harsoyo “Arjo” Rajiyowiryono, yang kini adalah pakar bahasa dan kebudayaan Jawa di TBS. Ketika mengetik, aroma yang teruar seperti kita sedang pijat !


Newsletter Diatas Bus. Mesin tulis saya berjenis portable, abu-abu metalik, mereknya Silver Reed. Sampai kini masih bisa dipakai. Salah satu pemakaiannya yang tidak terlupakan, selain untuk menulis surat-surat pembaca ketika saya tinggal di Jakarta, 1980-1997, adalah ketika mengikuti karya wisata mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI ke Jawa Tengah dan Yogyakarta (1981).

Selama dalam perjalanan, dengan dibantu Bakhuri Jamaluddin dan Hartadi Wibowo, saya (dikenal sebagai “pusat bursa ide”) berprakarsa menerbitkan newsletter perjalanan. Dari Jakarta sudah disiapkan kopnya, kemudian isi redaksional dirundingkan dan diketik di atas bis yang berjalan. Ketika sampai di pemberhentian, di kota Bogor, Bandung, Purwokerto, Yogya , Salatiga dan Semarang, naskah itu digandakan di kedai fotokopi dan segera dibagikan kepada seluruh peserta tur.

Isi edisi Jakarta-Bogor, sempat membuat panitia bagian logistik tersinggung. Bagian yang menyiapkan makanan/minuman, yaitu Sri Mulungsih (kini eksekutif di Majalah Tempo) dan Arlima “Ipit” Mulyono (adiknya Nanu “Warkop” Mulyono), marah ketika diwartakan bahwa sakit pileknya saat itu dikuatirkan menulari semua peserta tur melalui makanan/minuman yang ia siapkan. Saya sebagai pemimpin redaksi kena somasi darinya, berupa wajah cemberut dan gerundelan sana-sini. Akhirnya saya dengan ikhlas meminta maaf kepada Sri Mulungsih ketika rombongan tiba di Yogya.

Edisi Bandung-Purwokerto menceritakan nasib “sial” bagi Bapak Ahmad Royani, dosen senior kami. Beliau adalah teman ngobrol saya bertopik persenjataan mutakhir di dunia. Pasalnya, ketika tiba di Perpustakaan Unpad atau ITB, beliau langsung mengikuti serombongan mahasiswa yang ia kira akan menuju ruang penyambutan. Ternyata rombongan yang bergegas ramai-ramai itu menuju kamar kecil !

Gagasan untuk melaporkan peristiwa ketika sedang berlangsung mendapat momen historis ketika meletus Perang Teluk Pertama (1990-1991). Pada tanggal 2 Agustus 1990 itu pasukan Irak menyerbu Kuwait. AS kemudian terjun dalam Operasi Badai Gurun di mana liputan secara langsung dari tengah-tengah kecamuk perang oleh wartawan Peter Arnett dari CNN menjadi tonggak peristiwa jurnalistik.

Kini, di era blog, laporan detik demi detik situasi medan perang dari garis depan secara teoritis tidak membutuhkan wartawan lagi. Karena di dunia blog sekarang dikenal sebutan mil-blogger atau military blogger, yaitu tentara yang melaporkan situasi dan perasaannya di tengah kecamuk peperangan melalui blog mereka masing-masing.

Jika Vietnam adalah perang pertama yang masuk televisi, maka perang Irak saat ini adalah yang pertama dilaporkan melalui media blog dan YouTube. Para military blogger itu selain mengirim kabar bagi keluarganya, pada kenyataannya mereka sedang menulis sejarah. Karena memang tidak seorang pun tahu hal sebenarnya yang terjadi di garis depan dibanding serdadu yang benar-benar sedang terjun berperang !



Virus Cinta Bengawan Solo. Rangkaian angan-angan di atas melintas ketika saya memperoleh undangan dari Harian Kompas, melalui kantor Biro Jawa Tengah di Semarang. Undangan itu dikirimkan atas nama Panitia Ekspedisi Bengawan Solo Kompas 2007 (EBSK 2007). Ditandatangani oleh ketua, Subur Tjahjono dan sekretarisnya, Andreas Maryoto.

Sebagai warga komunitas Epistoholik Indonesia dan sekaligus warga Wonogiri saya merasa terhormat diundang untuk hadir dalam acara peresmian ekspedisi bersangkutan. Harinya Sabtu, 9 Juni 2007, di Obyek Wisata Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri.

Surat itu saya terima tanggal 7 Juni 2007. Terpicu keberadaan layanan wireless local area network dari penyedia jasa akses Internet, SoloNet, di Wonogiri, saya tergerak mengobrol dengan Doni, operator warnet SoloNet. Sebelumnya saya membayangkan, di atas perahu karet EBSK 2007 itu dapat terpasang antena parabola mini sehingga laptop yang dibawa rombongan ekspedisi dapat terakses ke Internet. Dengan meluncurkan blog khusus, begitulah lanjut angan-angan saya, berarti dapat dilangsungkannya siaran secara online atau laporan perjalanan ekspedisi tersebut secara real time, dari detik ke detiknya, ke seluruh penjuru dunia.

Kemudian diperkaya dengan jurus-jurus kehumasan dan aksi pelibatan masyarakat yang melek Internet di kota-kota yang dilewati Bengawan Solo, lanjut impian saya, virus kesadaran mengenai nilai penting Bengawan Solo dan segala problematiknya akan mampu menjadi bahan diskusi, sehingga perhatian terhadap sungai yang panjangnya 527 km itu mampu mengalir sampai jauh dan meruyak kemana-mana.

Ternyata, menurut Doni, angan-angan saya itu mendapatkan kendala teknis. Karena antena bersangkutan harus berkedudukan statis, senantiasa tertuju kepada menara penguat. “Bila berubah sedikit, misalnya karena kena angin,” kata Doni, “akan terjadi gangguan serius dalam akses Internet.” OK-lah, saya telan kembali angan-angan itu.Walau saya yakin kendala semacam akan teratasi secara mudah pada suatu saat nanti.


Kaki Melik Telah Hilang. Yang pasti, undangan dan peristiwa Ekspedisi Bengawan Solo Kompas 2007 itu, di sisi lain, juga menyentakkan diri saya terhadap eksistensi Bengawan Solo. Ucapan nabi media dari Kanada, Marshall McLuhan (1911–1980) langsung tergambar di benak. Ia bilang, kalau ingin tahu tentang air janganlah bertanya kepada ikan.

Demikian pula, kalau Anda ingin tahu tentang Bengawan Solo maka jangan bertanya kepada saya, sebagai wong Wonogiri. Mengapa ? Karena kedekatan atau kemelekatan justru membutakan. Membuat kita tidak kritis, tidak lagi peka atau bahkan akhirnya juga tidak hirau sama sekali.

Rumah saya hanya sekitar 200 meter dari Bengawan Solo. Tetapi saya hanya bisa melihat aliran sungai itu kalau ada warga kampung saya yang meninggal dunia. Karena pekuburan kampung saya terletak di tepian bengawan itu. Dalam obrolan sambil lalu di pekuburan pernah saya tanyakan kepada Mas Parno, tetangga saya. “Bagaimana kabarnya Kaki Melik ?,” tanya saya. Sambil tertawa, Mas Parno bilang, bahwa Kaki Melik telah minggat entah ke mana. Kali ilang kedunge, sungai yang sekarang menjadi dangkal semua, mungkin yang menjadi penyebab perginya sang Kaki Melik itu.

Di tahun 1960-1966, saat saya duduk di SD Negeri 3 Wonogiri, yang gedungnya hanya 50 meter dari Bengawan Solo, sebutan Kaki Melik bagi anak-anak seusia saya saat itu cukup menakutkan. Bahkan juga membuat was-was teman sekolah saya, almarhum Timbul Susanto (rumahnya di Puthukrejo, hanya 10 m dari tepian Bengawan Solo), Slamet Hartanto dan Sukatno (almarhum). Padahal mereka adalah jago-jago renang di antara kami murid SDN 3 Wonogiri. Kalau jam istirahat tiba, kami memang sering menghambur ke kali untuk jeguran, mandi dan bermain di kali. Saya bukan perenang yang baik, sehingga saya pun punya rasa takut terhadap Kaki Melik.

Kaki Melik saat itu kami percayai sebagai danyang, roh halus penunggu kedung, bagian dalam dari Bengawan Solo. Ia dikabarkan setiap periode tertentu suka mengambil nyawa anak-anak sebagai tumbalnya. Saat itu aliran Bengawan Solo belum dibendung, permukaannya masih lebar dan cukup dalam. Merujuk keadaan seperti ini, Bengawan Solo memang masih mampu mengundang bahaya. Hal ini pulalah yang membuat saya selalu kena marah ibu dan bapak saya, dengan mendapat hukuman dimandikan, bila ketahuan telah mandi di sungai.

Legenda tentang Kaki Melik dan hukuman yang saya terima dari orang tua saya itu mungkin yang membuat bawah sadar saya, barangkali juga anak-anak segenerasi saya, menganggap bahwa Bengawan Solo bukanlah obyek alam yang pantas untuk diakrabi dan dicintai. Tetapi harus disingkiri. Cerita-cerita pewayangan mengenai ritus larung atau labuhan, yang artinya menghanyutkan atau membuang sesuatu yang sudah meninggal atau yang membawa sial, menunjukkan sungai memiliki konotasi negatif dalam budaya orang Jawa.

Lagu indah tentang Bengawan Solo yang diciptakan tahun 1940 oleh Pak Gesang Martohartono, belum pula menjadi sentuhan kuat yang mampu menggerakkan nurani untuk membuat Bengawan Solo menjadi sesuatu yang berarti bagi saya. Lagu keroncong yang diwarnai nuansa Portugis itu ketika di tengah kecamuk Perang Dunia Kedua telah memincut serdadu-serdadu Jepang. Juga orang-orang Belanda yang menjadi tawanan mereka saat itu. Bahkan serdadu Jepang itu membawanya pulang, hingga beberapa tahun kemudian memunculkan rekaman lagu Bengawan Solo dalam versi Jepang yang dinyanyikan oleh Toshi Matsuda. “Bengawan Sorro,” begitukah ia menyanyikannya ?


Menyaksikan Tempat Sampah Raksasa. Tahun 2002, saya bisa ikut mempromosikan bagian dari Bengawan Solo, yaitu Waduk Gajah Mungkur. Aktivitas rutin jalan kaki pagi saya kadang memang sampai ke tepian waduk ini. Kemudian berhenti sejenak untuk membaca-baca buku. Ritus ini kemudian sengaja saya masukkan dalam skrip ketika saya menjadi aktor utama film dokudrama, The Power of Dreams 2002 Documentary. Dalam foto (saya bertopi merah) nampak sedang diambil gambar yang dilakukan kru rumah produksi Sendok Satu Jakarta. Film ini telah ditayangkan di TransTV, 29 Juli 2002.

Di depan saya terbentang air waduk yang didalamnya mengalami proses sedimentasi atau pelumpuran yang parah. Ketika kemarau dan airnya surut, saya pernah berjalan menuju pulau yang berada di tengah waduk. Mengamati benda-benda yang bergumpalan di lumpur yang mengering, Anda bisa menemukan beragam sampah rumah tangga. Potongan sandal, sikat gigi, bungkus deterjen, botol air dalam kemasan, botol kosmetik, juga tas-tas plastik. Apa yang bisa saya kerjakan terhadap hal-hal seperti ini ?

“Sungai memang masih sebagai halaman belakang rumah kita,” tutur Maria Ambesa. Beliau kiranya seorang arsitek tata ruang yang saya temui tanggal 6-8 April 2002 di Jakarta. Saat itu kami sama-sama mengikuti The Power of Dreams Contest 2002 yang diadakan oleh pabrik mobil Honda di Indonesia. Dalam kontes itu ia mengajukan gagasan dan impiannya mengenai sungai dan bantarannya sebagai wahana kehidupan.


“Let’s create space for living,” demikian tulis Maria Ambesa di kanvas putih yang saya sediakan untuk menampung tanda tangan kenangan dari peserta kontes lainnya. Begitulah, sungai dalam kesadaran kosmis masyarakat kita rupanya masih merupakan tempat sampah raksasa. Tidak seperti Sungai Gangga, misalnya, yang dianggap sebagai sungai suci bagi pemeluk Hindu di India.

Dalam kesempatan lain, ketika jalan kaki pagi ke lokasi yang sama, saya membaca pengumuman mengenai proyek pengerukan waduk yang dibiayai oleh Pemerintah Jepang. Dalam papan pengumuman proyek pengerukan itu terbaca kalimat yang menohok : “Proyek Ini Dibiayai Oleh Pajak Yang Dibayarkan Oleh Warga Jepang.” Saya sebagai warga Wonogiri, warga Indonesia, yang sarana penunjang kehidupan saya telah dibantu diperbaiki oleh warga Jepang, lalu apa yang harus saya lakukan ?

Terlintas gagasan keinginan mengajak anak-anak sekolah di Wonogiri untuk menulis surat, atau membuat lukisan, dan kemudian dipublikasikan di Internet. Isinya berupa ucapan terima kasih kepada warga Jepang yang telah merelakan uang pajaknya untuk memelihara waduk Gajak Mungkur dan juga menjaga kelestarian Bengawan Solo.

Gagasan yang masih terhenti sebagai tabungan gagasan.

Yang pasti, gagasan pemanfaatan Internet untuk merangkul sebanyak mungkin warga guna menumbuhkan kesadaran sekaligus mengajak mereka untuk melakukan aksi bersama, sering muncul kembali. Demikian pula ia kembali menjadi landasan pemikiran ketika saya melambungkan angan-angan mengenai pemanfaatan media blog sebagai sarana publikasi secara online dari Ekspedisi Bengawan Solo Kompas 2007.

Karena terbentur kendala teknis, di mana membuat siaran secara real time melalui Internet itu belum dimungkinkan, bagaimana bila modusnya dilakukan seperti ketika saya menerbitkan newsletter saat melakukan karya wisata di tahun 1981 itu ? Karena ekspedisi ini dilakukan oleh penerbit surat kabar ternama di negeri ini, saya sempat berharap gagasan itu sudah dieksploitasi oleh edisi online nya, yaitu Kompas Cybermedia.

Sayang, harapan itu juga pupus adanya.

Karena media maya Kompas Cybermedia nampak cukup puas menjadi shovelware : informasi tentang ekspedisi yang termuat dalam edisi cetak kemudian “dicongkel” seutuhnya untuk dimuat lagi dalam edisi onlinenya. Jadi media online tersebut hanya sebagai kuburan informasi dan karakternya sebagai media Internet yang interaktif pun dimatikan.

Apalagi situs ini rupanya memang tidak memandang istimewa ekspedisi tersebut. Tak ada greget untuk merancangnya sebagai isu yang penting, seperti dikatakan sebagai ikhtiar menemukan kembali Indonesia lewat Bengawan Solo, sehingga sepantasnya terbuka untuk dibuat menarik sebagai publikasi online yang mampu menggerakkan dialog dengan para pengunjungnya.

Media maya di Indonesia memang belum terbiasa mengeksploitasi unsur “e” yang penting dalam kosmologi komunikasi di dunia maya. Yaitu engagement, keterlibatan, atau membuka dialog dengan pembacanya sebagai bagian yang penting dalam kebijakan redaksionalnya.


Reinventing Indonesia. Upacara peresmian EBSK 2007 berlangsung dalam balutan musik campur sari. Ada Gubernur Jawa Tengah, Mardiyanto, yang menyanyi. Juga Bupati Wonogiri, Begug Purnomisidi, dengan “Sewu Kutho”-nya Didi Kempot yang terkenal.

Di tengah upacara yang banyak dihadiri birokrat Wonogiri, tetapi tak ada kalangan guru, aktivis lingkungan atau pun murid-murid sekolah asal Wonogiri, saya sempat bertukar alamat dengan M. Dwi Cahyono, M.Hum., dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Ia peserta ekspedisi dan ahli arkeologi sungai, yang menjadi juru penerang dalam menguak riwayat masa lalu pelbagai situs arkeologis yang ditemui pada sepanjang aliran Bengawan Solo.

Saya juga bertukar kartu nama dengan Eka Budianta, sastrawan, aktifis lingkungan hidup, yang saat itu menjabat sebagai Advisor to Board of Director Jababeka, salah satu sponsor ekspedisi. Saya menyapa dengan memperkenalkan diri sebagai memiliki alma mater yang sama dengannya, Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia. Jababeka melalui Mas Eka telah menyumbangkan 1333 tanaman langka untuk Wonogiri.

Selain menebarkan ribuan benih ikan ke waduk, Mardiyanto, Begug dan Perwakilan Kompas Gramedia juga menanam pohon peringatan di lingkungan obyek wisata Waduk Gajah Mungkur. Saya mengaku, sebagai penduduk Wonogiri, baru kali inilah saya menjejakkan kaki ke obyek wisata tersebut. Beberapa hari kemudian, saya menulis surat pembaca seperti berikut ini :


Peduli dan Cinta Bengawan Solo
Dimuat di Kompas Jawa Tengah
Kamis, 21 Juni 2007


Menemukan kembali Indonesia dari dan melalui Bengawan Solo. Saya tergetar dengan penjelasan Rikard Bagun, Wapemred harian Kompas ketika menjelaskan misi Ekspedisi Bengawan Solo Kompas 2007 di obyek wisata Waduk Gajah Mungkur, 9 Juni 2007.

Sebagai warga Wonogiri saya bangga sekaligus prihatin. Apalagi menyimak penjelasan Gubernur Mardiyanto yang meresmikan ekspedisi Kompas itu, betapa sungai legendaries itu kini terlilit masalah berat dan harus segera diselamatkan.

Bukti-bukti temuan eskpedisi menegaskan hal itu, selain ancaman sedimentasi juga beragam pencemaran yang mengancam masa depan sungai dan warga yang memanfaatkan sungai itu.

Ekspedisi Kompas itu merupakan tonggak penyadaran yang bermakna. Kini di masa depan, semangat pelestarian Bengawan Solo harus terus didengungkan. Merujuk hal itu, saya usulkan agar tanggal 9 Juni didaulat sebagai Hari Peduli atau Hari Cinta Bengawan Solo.

Kalau ancaman terhadap Bengawan Solo kini telah “mengalir sampai jauh,” maka tiba saatnya kita membangkitkan kepedulian dan cinta bangsa Indonesia terhadap sungai itu hingga kelestarian dan keasriannya tetap mampu mengalir sampai jauh, melintasi generasi demi generasi. Semoga.


Bambang Haryanto
Jalan Kajen Timur 72 Wonogiri
Warga Epistoholik Indonesia



Tukang Bersin-Bersin Virus. Dengan menulis surat pembaca itu saya telah merasa melakukan kuajiban saya sebagai kaum epistoholik dan warga Wonogiri. Bila menurut paradigmanya Seth Godin dalam wacana penyebaran virus gagasan, kiranya saya telah menjadi tukang bersin-bersin atau sneezers yang menyebarkan virus kepada orang lain. Sedang bila menurut Malcolm Gladwell dalam wacana menularkan epidemi sosial, bolehlah saya didaulat sebagai market maven, alias pemasar (tetapi masih kelas teri) dari Wonogiri.

Tetapi saya merasa belum berhasil. Mungkin karena yang menulis surat pembaca tentang ekspedisi itu hanya saya sendirian. Ekspedisinya pun tidak memiliki blog. Apalagi para kolega saya, sesama kaum epistoholik dan warga Wonogiri sendiri, masih belum banyak yang tertarik memiliki dan mengelola blog, membuat virus itu sulit menyebar.

Akhir-akhir ini banyak orang berwacana mengenai penyebaran virus gagasan sampai virus pemasaran. Wacana yang menarik. Tetapi bila yang bersangkutan sama sekali tidak mengaplikasikannya melalui situs web atau blog di Internet, sama saja omong kosong. Di luar media Internet, penyebaran virus semacam tidak smooth, sulit meruyak kemana-mana.

Merujuk pentingnya penyebaran virus gagasan itu, kalau boleh memutar ulang, saya angankan bahwa ekspedisi tersebut selain menyertakan para ahli arkeologi, ahli tanah, ahli kimia dan lingkungan (termasuk dosen UNS, Drs. Pranoto, M.Sc, yang teman saya seangkatan waktu di SMP Negeri 1 Wonogiri) seyogyanya juga menyertakan anak-anak Wonogiri. Katakanlah para pemimpin redaksi majalah dinding SLTP dan SLTA di Wonogiri dan dari kota-kota lain yang dilewati aliran Bengawan Solo. Tidak harus ikut berperahu dari awal sampai akhir, tetapi pada etape-etape tertentu saja.

Kepada peserta generasi muda itu diwajibkan menulis buku harian, yang kemudian dipajang pada majalah dinding, blog sekolah atau blog pribadi masing-masing. Kemudian dilakukan penilaian. Dengan demikian, tukang bersin-bersin yang bertugas menularkan virus kepedulian mengenai masa depan Bengawan Solo semakin banyak dan lintas generasi.

Bagaimana kalau tukang bersin-bersin itu berusaha dihadirkan ketika seluruh ekspedisi itu justru telah berakhir ? Gagasan lanjutan mengenai penyebaran virus makna pentingnya ekspedisi itu telah saya tuangkan kembali dalam surat pembaca berikut ini :


Hari Cinta Bengawan Solo


Menemukan kembali Indonesia dari dan melalui Bengawan Solo. Saya tergetar dengan penuturan Rikard Bagun, Wapemred harian Kompas ketika menjelaskan misi Ekspedisi Bengawan Solo Kompas 2007 di obyek wisata Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, 9 Juni 2007.

Sebagai warga Wonogiri saya bangga sekaligus prihatin. Apalagi menyimak penjelasan Gubernur Mardiyanto yang meresmikan ekspedisi Kompas itu, betapa sungai legendaris itu kini terlilit masalah berat dan harus segera diselamatkan. Bukti-bukti temuan eskpedisi kemudian menegaskan hal itu, selain ancaman sedimentasi juga beragam pencemaran yang mengancam masa depan sungai dan warga yang memanfaatkan sungai itu.

Ekspedisi Kompas merupakan tonggak penyadaran yang bermakna. Kini dan di masa depan, semangat pelestarian Bengawan Solo harus terus didengungkan. Utamanya bagi warga Jawa Tengah dan Jawa Timur, tempat sungai itu abadi mengalir. Merujuk hal tersebut, saya usulkan agar tanggal 9 Juni didaulat sebagai Hari Peduli atau Hari Cinta Bengawan Solo.

Sebaiknya di situs pohon kenangan yang saat itu ditanam oleh Gubernur Mardiyanto, Bupati Wonogiri, Kompas Gramedia dan Jababeka, dibuatkan prasasti yang memadai. Atau idealnya dibuatkan ruang pamer untuk memajang dokumentasi segala pernik dan seluk-beluk ekspedisi, biodata para pelaku, temuan dan rekomendasinya yang mampu menginspirasi pengunjung lokasi wisata itu.

Sebab ketika saya tengok (24/6/2007), kondisi tanaman-tanaman itu memprihatinkan. Masih hidup, tetapi kondisinya natural, dalam arti dibiarkan hidup atau mati tanpa ada kepedulian ekstra. Entah siapa yang harus ambil prakarsa, tetapi pengelola lokasi wisata itu merasa ‘”tidak berdosa” dengan keadaan yang ada. Tak ada anggaran untuk hal seperti itu, kilahnya. Saya prihatin karena pada hari biasa sekitar pohon-pohon itu merupakan tempat lalu lalang pengunjung, ia terancam mati terinjak-injak, karena juga terkepung oleh penjaja kali lima.

Kalau ancaman terhadap Bengawan Solo kini telah “mengalir sampai jauh,” maka tiba saatnya kita membangkitkan kepedulian dan cinta bangsa Indonesia terhadap sungai itu hingga kelestarian, keasrian dan kemanfaatannya tetap mampu mengalir sampai jauh, melintasi generasi demi generasi. Semoga.


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Jalan Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
Email : humorliner@yahoo.com


Surat pembaca ini saya kirimkan via email, kali ini ke Harian Kompas Jawa Timur. Karena Bengawan Solo juga melintasi Jawa Timur dan Kepala Biro Kompas Jawa Timur, Subkhan SD, juga hadir dan membacakan laporan mengenai ekspedisi bersangkutan di saat peremian.. Saya kirimkan pada tanggal 26 Juni 2007. Juga saya tembuskan kepada Eka Budianta di Jakarta dan M. Dwi Cahyono di Malang. Sepertinya, tidak dimuat. Juga tidak ada balasan.


Hari Cinta Bengawan Solo. Dalam impian saya, dipicu isi artikel tentang virtual value chain di majalah Harvard Business Review beberapa waktu lalu, pohon-pohon dan prasasti penanda peresmian ekspedisi bersejarah itu, sokur-sokur kalau dibangun gedung perpustakaan misalnya, dapat dijadikan sebagai titik wisata di dunia maya. Yaitu titik rendezvous atau titik pertemuan, kongkow, dialog, bagi mereka, di mana pun kini di dunia, yang memiliki kepedulian tentang masa depan Bengawan Solo.

Tentu saja pada setiap tanggal 9 Juni sebagai Hari Cinta dan Peduli Bengawan Solo, berusaha terus dikobarkan rasa kepedulian masyarakat Indonesia terhadap masa depan Bengawan Solo, agar tetap membara sepanjang waktu. Apakah impian saya ini hanya impian kosong di siang bolong ?

Setelah kunjungan kedua ke Obyek Wisata Waduk Gajah Mungkur (24/6/2007), saya belum menengok lagi bagaimana nasib tanaman yang dijadikan tonggak upacara peresmian ekspedisi tersebut. Saya hanya mampu bergumam : kalau Harian Kompas/Gramedia tidak peduli, sementara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah atau pun Pemerintah Kabupaten Wonogiri merasa tidak punya kuajiban untuk memelihara monumen hidup itu secara sebaik-baiknya, lalu siapa yang peduli ?

Ketika jalan kaki pagi di tepiannya dan memandangi aliran Bengawan Solo yang tenang, saya mudah teringat kata mutiara dari pakar kreativitas asal Malta yang terkenal, tetapi buku-bukunya sulit difahami, Edward de Bono. Ia bilang, banyak orang dalam kehidupan terhanyut seperti gabus yang mengapung di sungai, merasa bahwa mereka tidak dapat melakukan sesuatu kecuali hanya ikut terhanyut, waktu demi waktu. Ini menyangkut sikap mental atau pikiran. Karena sebenarnya setiap orang mampu berbuat sesuatu yang konstruktif, walau sekecil apa pun yang bisa ia kerjakan.

Terima kasih, Pak Bono.

Syukurlah, saya merasa tidak seperti seonggok gabus yang hanya mampu terapung-apung di permukaan Bengawan Solo. Walau harus saya akui, mungkin ibarat mesin tulis milik Pak Ambijo yang kehilangan huruf “e”-nya, maka eksplorasi, elaborasi, ekstensifikasi sampai eksekusi ide-ide kecil saya untuk ikut membangunkan kesadaran masyarakat kita tentang eksistensi Bengawan Solo, nampaknya sejauh ini memang belum mampu mengalir sampai jauh.


Wonogiri, 9/6-3/8/2007

tmw