Monday, February 4, 2008

Setelah Amuk Bengawan Solo

Rasanya belum terhapus dari ingatan pelbagai rekomendasi penting hasil Ekspedisi Bengawan Solo Kompas 2007 terhadap penyelamatan masa depan sungai legendaris itu. Isu-isu tersebut beberapa hari ini telah diungkap kembali oleh wartawan Kompas, pelaku ekspedisi sekaligus saksi hidup yang mencatat pelbagai kerusakan sungai kita itu dari hulu sampai hilir.

Photobucket

Sebelum cahaya. Beberapa siluet pengunjung nampak sedang melintas di tepian waduk Gajah Mungkur sebelum matahari muncul di ufuk. Tepian waduk ini menjadi salah satu rekreasi dan berolah raga ringan bagi warga Wonogiri di hari Minggu pagi.

Photobucket

Benteng penahan air. Tanggul waduk Gajah Mungkur di lihat dari sisi utara bangunan. Garis yang melintang di bawah adalah pipa yang digunakan untuk menyalurkan lumpur waduk ke penampungan. Objek yang nampak kecil adalah pengunjung waduk di pagi hari.

Saya sebagai warga Wonogiri dan kebetulan jadi saksi peresmian ekspedisi itu pada tanggal 9 Juni 2007, di kolom ini telah mengusulkan agar tanggal itu dijadikan sebagai hari peduli dan cinta Bengawan Solo. Rasanya usulan saya itu harus dicabut, atau direvisi. Karena setelah Bengawan Solo mengamuk dan mengakibatkan banjir yang konon lebih besar dibanding tahun 1966 melanda Solo hingga Bojonegoro, kepedulian dan aksi terhadap upaya penyelamatan bengawan itu harus dilakukan setiap hari.

Mulai saat ini.

Semua fihak harus terus saling mengingatkan, terlebih karena kita adalah bangsa yang sangat pelupa dan sangat mudah alpa mengerjakan pekerjaan rumahnya.



Bambang Haryanto
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
Warga Epistoholik Indonesia

Catatan : Surat pembaca ini dengan penyuntingan redaksi telah dimuat di Kompas Jawa Tengah, Senin, 12 Januari 2008.

No comments: