Showing posts with label sepakbola indonesia. Show all posts
Showing posts with label sepakbola indonesia. Show all posts

Sunday, February 4, 2007

Perempuan Sidney Sheldon dan Impian Suporter Sepakbola

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com



Kaburnya Empat Biarawati. Spanyol : bumi tempat gairah abadi membuncah dan tak henti-hentinya terjadi pertumpahan darah. Dari aksi balas dendam tiran yang kejam, empat perempuan kabur meninggalkan biara suci, tempat aman mereka berlindung selama ini.

Spain. A land of eternal passion and unceasing bloodshed. From the vengeance of a pitiless tyrant, four women flee the sacred, once-safe walls of the convent.

Empat biarawati itu adalah Graciela, Lucia, Megan dan Teresa. Yang digambarkan memiliki gairah seks membara adalah Lucia. Ia bersembunyi dan masuk biara setelah kabur dari Sisilia, Italia. Ia melarikan diri setelah terlibat dalam aksi pembunuhan yang eksotis dan bergairah, guna membalas dendam atas kematian ayahnya.

Megan adalah anak industrialis kertas Amerika Serikat. Pesawat keluarganya hilang di Spanyol saat ia masih balita. Hanya dia yang selamat. Setelah kabur dari biara yang diobrak-abrik tentara Spanyol, ia terlibat asmara dengan Juan Miro, pentolan pemberontak Basque yang diuber-uber tentara Spanyol.

Kisah indah dan menegangkan dalam novel The Sands of Time (1988) itu seolah mengawang kembali di benak saya, ketika membaca berita di Yahoo News (31/1/2007) bahwa pengarangnya, Sidney Sheldon, telah meninggal dunia.

“Sidney Sheldon yang telah memenangkan penghargaan untuk tiga kariernya, di teater Broadway, film dan televisi, dan pada usia 50 tahun berpindah karier sebagai penulis novel laris tentang perjuangan perempuan yang mampu meraih kejayaan di tengah dunia pria yang kejam, telah meninggal dunia. Ia mencapai usia 89 tahun.”

Karya-karya novelnya menurut Wikipedia antara lain : The Naked Face (1970), The Other Side of Midnight (1973), A Stranger in the Mirror (1976), Bloodline (1977), Rage of Angels (1980), Master of the Game (1982), If Tomorrow Comes (1985), Windmills of the Gods (1987), The Sands of Time (1988), Memories of Midnight (1990), The Doomsday Conspiracy (1991), The Stars Shine Down (1992), Nothing Lasts Forever (1994), Morning, Noon and Night (1995), The Best Laid Plans (1997), Tell Me Your Dreams (1998), The Sky is Falling (2001), Are You Afraid of the Dark? (2004) dan The Other Side Of Me (2005). Sebagian besar sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.


Bergantungan Di Tebing. Novel-novel Sheldon digandrungi kaum perempuan. Menanggapi hal ini ia berkomentar, “saya suka menulis kisah tentang perempuan yang berbakat dan cakap, tetapi yang terutama bahwa mereka mempertahankan feminitasnya. Perempuan memiliki kekuatan dahsyat, yaitu feminitasnya, sebab kaum pria tidak memilikinya.”

Sidney Sheldon yang lahir 11 Februari 1917 terkenal piawai mengemas alur ceritanya. Meramunya antara ketegangan tinggi dan sensualitas. “Saya mencoba menulis buku di mana pembaca tidak dapat berhenti untuk merampungkannya,” katanya di tahun 1982. “Saya mencoba mengonstruksi cerita sehingga ketika pembaca sampai di akhir bab, mereka tergerak untuk membaca bab berikutnya. Ini merupakan teknik seri televisi kuno Sabtu malam : meninggalkan sang tokoh bergantungan di bibir tebing pada akhir bab cerita.”

Sheldon membanggakan dirinya terkait otensitas karya-karyanya. Pada tahun 1987 ia berujar : “Kalau saya ingin menulis sesuatu tempat, saya harus mengunjunginya. Apabila saya ingin menulis makanan di Indonesia, saya harus menyantap makanan itu di restoran Indonesia pula. Saya tidak berpikir untuk membohongi pembaca.”

Untuk novelnya Windmills of the Gods, yang menceritakan seluk-beluk CIA, ia melakukan wawncara dengan mantan bos CIA, Richard Helms. Juga melakukan perjalanan ke Argentina dan Rumania, menginap seminggu di Junction City, Kan., di mana tokoh perempuan novelnya itu tinggal.


Pacuan Banteng Gila. Saya bukan penggemar Sidney Sheldon. Saya belum pernah membaca buku-bukunya. Di perpustakaan umum Wonogiri, terdapat setengah lusin novelnya. Satu-satunya novel karya kreator dan sekaligus produser film seri I Dream of Jeannie (1965-1970, di Indonesia ada plagiatnya, “Jinny oh Jinny), saya baca dari cerita bersambung di Harian Kompas. Yaitu The Sands of Time (1988), yang diterjemahkan sebagai Butir-Butir Waktu. Jalinan cerita dalam novel ini ternyata ikut mampu mengantar diri saya memenangkan salah satu penghargaan di tahun 2002.

Salah satu bagian dari Butir-Butir Waktu yang paling saya ingat adalah adegan festival San Fermin di Pamplona, bagian daerah Navarre di Spanyol Utara. Festival seru tersebut yang diselenggarakan setiap bulan Juli diisi dengan aktivitas melepaskan banteng-banteng berlarian ke jalanan kota.

Photobucket - Video and Image Hosting

Menabuh Drum Impian. Di tengah syuting pembuatan film dokudrama The Power of Dreams Documentary, saya menabuh drum di tengah suasana menjelang pertandingan sepakbola di Stadion Manahan, Solo, 2002.


Dalam esai berjudul “The Power Of Dreams : Revolusi Mengubah Budaya Suporter Sepakbola Yang Destruktif Menjadi Penghibur Kolosal Yang Atraktif,” untuk mengikuti The Power of Dreams Contest 2002 yang diadakan pabrikan mobil Honda di Indonesia, PT Honda Prospect Motor, telah saya tuliskan impian saya :


“Dengan mengambil tamsil pagelaran adu banteng di Spanyol, banteng dan matador adalah ibarat dua kubu tim sepakbola yang bertanding. Para pemain sepakbola merupakan aktor utama. Sementara penonton tetaplah berstatus sebagai penonton. Mereka bukanlah pemain.

Tetapi di Spanyol juga dikenal atraksi massal, tidak kalah sensasional, yang melibatkan banteng dan massa. Uniknya disini, massa tidak hanya berstatus sebagai penonton, melainkan juga sebagai pemain.

Novelis Sidney Sheldon dalam novel indah dan menegangkan, The Sands of Time, secara memikat menggambarkan operasi pembebasan pentolan gerilyawan separatis Basque dari penjara Spanyol dengan latar belakang adegan pacuan massa dengan banteng “gila” ini. Pembaca disodori panorama eksotis berbau darah, kematian dan juga ruap gairah hidup, saat gemuruh massa dibalut rasa gembira bercampur ngeri, ramai-ramai berlarian di gang-gang sempit kota Pamplona sambil merecoki, menggoda, sekaligus menghindari amukan banteng ganas yang siap menginjak atau menyeruduknya secara buas.

Teater adu banteng di Pamplona ini rasanya klop sebagai presentasi roh teater sepakbola kontemporer, utamanya tren yang menggelombang dan sedang mencari bentuknya yang terbaik di Tanah Air dewasa ini. Penonton, juga suporter, yang dulu hanya duduk manis di bangku-bangku stadion, kini bangkit sebagai aktor yang ikut bermain.

Pada pelbagai kota sepakbola di Tanah Air seperti kota Solo, Jakarta, Malang, Bandung, Makassar, Surabaya, Semarang, Sleman, Tangerang, Gresik dan Medan, kini mewabah tren suporter sepakbola membentuk organisasi untuk tampil sebagai sosok entertainer, penghibur, dalam konser sepakbola. Secara atraktif kerumunan massa itu kompak meneriakkan yel-yel, melakukan koor, juga menampilkan koreografi yang gigantik.

Akibatnya perbedaan status sebagai entertainer, antara pemain sepakbola dan suporter, kini tak lagi kontras. Keduanya berbaur, saling berdialog, guna “membakar” atmosfir pertandingan sepakbola sehingga menjadi tontonan yang benar-benar menggairahkan. Atensi publik yang semula menjadi privilege pemain, kini sebagiannya terenggut oleh aksi suporter yang melakukan konser di pinggir lapangan secara signifikan !

Paradigma baru ini membuka harapan baru, sebagai salah satu antidote, penangkal, bagi rentannya sepakbola dengan aksi-aksi rusuh suporter. Peningkatan status suporter dari sekadar properti menjadi aktor harus disadari merupakan outlet, penyaluran, yang sehat dan rasional guna mensubstitusi fokus perhatian suporter yang mudah meledak terpicu oleh perolehan skor akhir, atau status kalah-menang dari tim yang didukungnya. Pemikiran ini bukankah sejalan dengan nilai-nilai yang dipromosikan oleh gerakan Olimpiade, bahwa partisipasi itu lebih penting dibandingkan dengan kemenangan ?

Para suporter dalam status sebagai entertainer pada langkah berikutnya didorong agar bertanggung jawab secara profesional terhadap kualitas konsernya. Sedang kalah atau menang, itu urusan profesional tim kesebelasan bersangkutan. Dalam konteks ini kelompok suporter harus terus memacu kreativitas, hingga suguhan konsernya menghibur, tak kalah sensasional dari pertandingan sepakbolanya. Mereka juga harus terampil menjual diri sehingga mampu merenggut atensi dan liputan media !”


Impian Belum Berakhir. Di Jakarta, tanggal 6-8 April 2002, di hadapan dewan juri yang terdiri Arswendo Atmowiloto, Mien Uno, Riri Riza, Susi Susanti, Kusnadi Budiman dan Satoshi Okamoto, saya mempresentasikan impian besar saya sebagai suporter sepakbola Indonesia.

Adalah suatu kehormatan besar, sebagai pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli (2000) dan tercatat di Museum Rekor Indonesia (“semoga foto saya masih terpajang di museum tersebut di Srondol, Semarang”), saya bisa meresapi makna kekuatan impian yang dikukuhi oleh Soichiro Honda, pendiri kerajaan otomotif Honda. Saya memenangkan kontes tersebut. Profil diri saya sebagai suporter sepakbola kemudian ditayangkan di TransTV, 29 Juli 2002.

Di Wonogiri sekarang ini, hiruk pikuk dunia suporter sepakbola sudah saya tinggalkan. Tetapi saya masih memikirkannya, mengaduk-aduk gagasan, dan menuliskannya. Sejak tahun 2003 saya mengelola blog Suporter Indonesia, sebagai kontributor untuk majalah sepakbola Freekick (Jakarta), menulis untuk tabloid Liga Indonesia, dan bulan lalu (5/1/2007) sempat menjadi nara sumber via telepon untuk perbincangan seputar suporter sepakbola di Radio Utan Kayu (Jakarta).

Dalam perbincangan radio tersebut saya mengatakan bahwa kelompok suporter sepakbola Indonesia masih memiliki cakrawala yang sempit. Mereka terlalu fanatik untuk membela daerahnya, tetapi tidak melihat kanvas besar dunia sepakbola Indonesia yang terus terpuruk prestasinya di tataran regional, apalagi di tingkat dunia.

Impian saya untuk mengubah paradigma suporter sepakbola yang antara lain embrio gagasannya dipantik oleh sebagian isi novelnya Sidney Sheldon, masih dibutuhkan lagi ribuan sampai jutaan butir-butir waktu untuk realisasinya.


Wonogiri, 4-5 Februari 2007


tmw

Tuesday, January 2, 2007

Splendid Entrepreneur Dan Masa Indah Pencinta Sepakbola Dari Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews@yahoo.co.id



The Technology Paradox merupakan judul sampul yang provokatif dari majalah Business Week, 6/3/1995. Majalah ini saya beli di Solo hampir dua belas tahun yang lalu. Subjudulnya pun inspiratif :

“Telepon seluler menjadi hadiah gratisan. Peranti lunak dijajakan secara cuma-cuma. Komputer laptop berkemampuan sebesar komputer mainframe. Tatkala teknologi tinggi menjadi teramat murah, produsernya pun harus mencari cara-cara baru untuk meraup keuntungan. Mereka telah mendapatkannya.”

Salah satu penganut pemakaian cara-cara baru berbisnis itu antara lain taipan media, Rupert Murdoch. Bos News Corp. ini, demikian kutip Business Week, telah memunculkan istilah splendid entrepreneur untuk merujuk orang-orang yang bersenjatakan antena parabola di India untuk membajak siaran televisi satelit global StarTV milik sang baron media itu. Kemudian para wiraswastawan cerdas itu menjual siaran StarTV tersebut kepada tetangganya melalui saluran kabel.

“Kalangan yang sinis berkata bahwa pembajakan itu akan berakibat fatal bagi kelangsungan hidup Star. Kami berpendapat lain,” cetus Murdoch. Apa logikanya ? Menurutnya, para splendid entrepreneur tersebut justru berjasa memperluas pasar StarTV sehingga membuka peluang bagi Murdoch untuk menaikkan biaya pemasangan iklan di medianya.

Jalan pikiran Murdoch yang mencengangkan. Dan sungguh menyenangkan ketika isi laporan utama Business Week dua belas tahun lalu itu kini menggaung kembali di kepala saya hari-hari ini. Bahkan memunculkan rasa gelitik tersendiri ketika realitas dari kasus yang sama telah melibatkan hidup saya sehari-hari. Yaitu tatkala bisa menikmati buah karya warga Wonogiri, yang sekaligus splendid entrepreneur, yang telah mengikuti logika Murdoch tersebut.

Photobucket - Video and Image Hosting

Dua Belas Tahun Kemudian. Paradoks teknologi telah menjungkirbalikkan norma berbisnis dalam kancah teknologi informasi masa kini. Semua inovasi kini cenderung “dijual” secara gratisan, dari layanan email seperti Hotmail dan Yahoo, fasilitas blog sampai fasilitas tayangan video YouTube. Laporan majalah ini dua belas tahun lalu itu telah memunculkan istilah ekonomi atensi, di mana semua produk gratisan kini berlomba-lomba diobral secara cerdik guna memperebutkan komoditas paling berharga di era digital saat ini : atensi manusia. Fenomena itu marak di masa kini.


Sosok splendid entrepreneur asal Wonogiri itu Totok namanya. Tanpa kreasi Totok tersebut dapat dipastikan penduduk kota Wonogiri sangat terbatas pilihan saluran, termasuk juga kualitas gambarnya, dalam memperoleh akses siaran televisi yang ada. Topografi kota Wonogiri yang terkepung gunung memang menjadi kendala serius bagi penangkapan siaran televisi. Bagi saya pribadi, kendala itu pasti mengisolasi saya dari peluang menonton siaran televisi yang saya sukai : pertandingan sepakbola.

Walau pun demikian, bisnis televisi kabelnya Totok dan kawan-kawan ini kadang juga perlu diingatkan. Entah karena tidak tahu, atau teledor, sekadar contoh, pada hari Selasa malam (26/12/2006) hampir saja saya tidak bisa menonton pertandingan Liga Inggris sehari sesudah Natal.

Sebenarnya pada siang harinya saya sudah berusaha ke rumahnya Totok itu. Ingin mengingatkan bahwa nanti malam ada pertandingan sepakbola. Sepulang dari Perpustakaan Umum Wonogiri, saya ingin mampir. Tetapi saya salah masuk rumah. Yang saya masuki adalah rumah yang pintunya tertutup dan salam saya tiada berbalas. Di sekitar tidak ada yang bisa saya tanyai. Saya memutuskan pulang siang itu.

Selasa malam itu Wonogiri sedang diguyur hujan deras. Tetapi sekitar 15 menit menjelang kick-off, saluran ESPN Star Sports belum muncul. Saya memutuskan untuk ke rumahnya Totok lagi. Dengan memakai payung kecil, saya memaksakan diri menembus hujan untuk menuju rumah pusat penyiaran televisi kabel a la Wonogiri ini. Payung untuk menahan sinar matahari itu agak terlalu kecil, membuat sebagian tubuh saya terciprat air hujan. Tak apalah.

Payung itu berwarna merah dan biru, di mana pada warna birunya ditaburi bintang-bintang warna putih. Pada blok warna merah dihiasi tulisan putih, “USA Atlanta 1996.” Payung ini adalah merchandise yang dibawa adik saya, Broto Happy W. ketika ia meliput Olimpiade Atlanta 1996. Jadi payung itu sudah berumur 10 tahun.

Sokurlah, di malam hari itu saya bisa menemukan rumahnya Totok. Dari balik pagar saya hanya memberikan pesan, harap saluran 7 yang kini diisi oleh stasiun televisi Trans 7, dipindah ke ESPN Star Sports. Ketika saya tiba kembali ke rumah, perjalanan menembus hujan sepanjang satu kilometer itu membawa hasil maksimal. Bisnis Totok memenuhi permintaan pelanggannya.

Sambil menikmati gorengan tempe dan tahu, juga cabai, saya bisa menikmati pertandingan yang dikenal sebagai Boxing Day itu. Baik antara Chelsea vs Reading yang seru, 2-2, mau pun Manchester United yang menekuk Wigan dengan skor akhir 3-1.


Moment of Glory. Mengikuti pertandingan sepakbola melalui media elektronik kiranya merupakan pengalaman hidup yang tidak luar biasa bagi banyak orang. Mengilas balik, ketika saya duduk di bangku SD hingga SMP, sekitar tahun 1965-1968, saya mengikutinya melalui radio. Bukan di rumah, karena keluarga kami tidak memiliki radio. Tetapi di rumah Pak Maryomo.

Ayah dari mBak Mutmainah, mas Gembuk (Bambang Sadoyo), mBak Entuk dan mBak Uci ini, termasuk orang terpandang di kampung kami dengan memiliki radio saat itu. Di depan rumahnya terdapat pohon asam yang besar, hanya sekitar 15 meter dari rumah saya. Radionya masih memakai tabung, kuno, dan belum memakai transistor. Bentuknya besar. Mereknya Philips. Setelah pertandingan usai, saya senantiasa merekonstruksi pertandingan yang terjadi dalam bentuk tulisan. Mirip perilaku wartawan olahraga.

Lewat radio pula, di tahun 1966, saya diberitahu oleh teman SD saya, Sugeng Sudewo, mengenai hasil akhir pertandingan final Piala Dunia 1966. Saat itu Inggris menjadi juara dunia setelah menaklukkan Jerman Barat. Dewo, putra dari Pak Hadisubroto ini, ketika duduk di kelas 6 SD Negeri 3 Wonogiri, adalah teman saya berbagi cerita. Saya rutin membaca serial Nogososro-Sabukinten karya SH Mintardjo dan Dewo mengikuti serial Bende Mataram, karya Herman Pratikto. Saya sering bermain ping pong di rumahnya.

Di kelas 6 yang diampu oleh Pak Narwoto, ia mendapat gurauan perjodohan model anak-anak sebagai Dewo-Karsih. Sukarsih berasal dari Bauresan. Pasangan lain yang juga dijodoh-jodohkan, yang bisa saya ingat, adalah Bodong-Anna. Bahkan merek sepeda motor BSA, dimaknai sebagai singkatan Bodong Seneng Anna.

Bodong adalah sebutan gaul untuk Priambodo. Pengalaman masa kecil yang berkesan dengannya adalah ketika saya ia bolehkan menitipkan sebutir telur bebek agar bisa ikut dierami oleh ayam babon milik Bodong ini. Ketika telur itu benar-benar menetas, saya bisa membawa pulang anak bebek itu dengan perasaan takjub sekaligus gembira.

Sementara itu Anna atau Dwianna Warpinyuliastuti, adalah putri Bapak/Ibu Suwarso. Bapak Suwarso adalah seorang tentara TNI-AD di Kodim 0728 Wonogiri, kolega ayah saya. Saya ingat, setiap kali Anna yang hitam manis dan inosen itu mendapat giliran mendongeng atau bercerita di depan kelas, ia melakukan hal yang tidak bisa saya lupakan. Saat ia diharuskan menunjuk murid lain sebagai pendongeng berikutnya, Anna selalu menunjuk diri saya. Saya tak tahu alasan Anna melakukan hal itu.

Selepas SD, kami berpisah sekolah. Ia meneruskan ke SMP Negeri 2 di Bantarangin, yang hanya sekitar 50 meter dari rumahnya yang kini menjadi agen genteng Soka Kebumen dan warung soto. Hanya kakak perempuannya, Johar, yang bersekolah di SMPN 1 Wonogiri. Bodong sepertinya juga masuk ke SMPN 2.


Kembali tentang Dewo. Ketika sama-sama meneruskan ke SMP Negeri 1 Wonogiri, kami berbeda kelas. Ia duduk di klas 1A dan saya di 1 B. Ketika bermain sepakbola, Dewo tampil sebagai penjaga gawang, sementara saya sebagai penyerang. Setiap kali saya jalan kaki pagi dan melewati lapangan Sukorejo, terutama di gawang sebelah barat, kenangan masa kecil itu seolah tertayang kembali.

Saat itu saya telah melakukan solo run, ibarat Jorge Buruchaga setelah memperoleh umpan jarak jauh kaki kiri sang jenius Maradona pada Piala Dunia 1986, saya berhasil menaklukkan gawang yang dikawal Dewo, teman saya tersebut. Peristiwa ini merupakan moment of glory, mungkin satu-satunya, yang masih berbekas ketika saya mampu bermain sepakbola. Setelah itu, kiranya saya tidak bermain sepakbola lagi.

Dari enam anak laki-laki keluarga Kastanto Hendrowiharso yang pernah menekuni sepakbola hanyalah Bari, anak ketiga, dan anak nomor enam, Broto Happy W., yang kini masih bermain sepakbola untuk membela tim Tabloid BOLA, tempatnya ia bekerja. Anak kesepuluh, Basnendar HPS, menekuni basket. Saya dan Mayor Haristanto, anak keempat, sejak tahun 2000 menjadi aktivis kelompok suporter sepakbola Pasoepati, dari Solo.

Photobucket - Video and Image Hosting

Orang Wonogiri Masuk Televisi. Sebagai suporter sepakbola, saya (nomor dua dari kanan) dan Mayor Haristanto (nomor tiga dari kanan) dan Sengkut Pandega, pernah menjadi nara sumber acara One Stop Football dari stasiun televisi TV7 Jakarta. Dengan dipandu host Deasy Noviyanti, kiri, kami membincangkan peranan suporter Indonesia dalam pertandingan leg I Final Piala Tiger 2004/2005 antara tuan rumah Indonesia vs Singapura, 8 Januari 2005. Seminggu kemudian, saya dan Mayor meneruskan dukungan kepada timnas Indonesia pada leg 2 di Stadion Kallang, Singapura.


Peringatan dari Wonogiri. Bukti kecil kecintaan dan atensi saya terhadap sepakbola, selain meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli (2000), mengelola blog Suporter Indonesia, dan sebagai pencetus komunitas Epistoholik Indonesia dan menulis esai tentang aktivitas ini, saya juga terus menulis surat-surat pembaca. Sebagai contoh di bawah ini :


Hancurnya Sepakbola Melayu
Dimuat Koran Tempo, Rabu, 22 November 2006


Tim nasional Indonesia di bawah umur 23 tahun digunduli 6-0 di penyisihan sepakbola Asian Games 2006 di Qatar. Padahal mereka sempat berlatih 4 bulan, menghabiskan biaya 28 milyar rupiah di Belanda. Asisten pelatih Bambang Nurdiansyah seperti dikutip wartawan Kompas, Samsul Hadi, yang ditanyai oleh BBC (20/11) mengabarkan bahwa Ferry Rotinsulu dan kawan-kawan itu bermain dengan “gaya sepakbola Melayu, bukan sepakbola Eropa.”

Apa yang ia maksud sebagai sepakbola Melayu ? Perlu penjelasan lebih lanjut. Yang pasti, dalam pertandingan tersebut dua pemain kita kena kartu merah dan enam pemain kena kartu kuning. Itukah cerminan “sepakbola Melayu” yang berarti pemain-pemain kita tidak mengindahkan peraturan bermain sepakbola yang berlaku secara universal ?

Tanggal 6/11/2006, di Solo, saya mewawancarai Ponaryo Astaman, kapten timnas senior kita, terkait pernyataan dia yang juga pernah dikutip oleh BBC. Kata Ponaryo, sepanjang menjadi pemain sepakbola dirinya tidak pernah sama sekali memperoleh sosialisasi mengenai pelbagai peraturan dalam bermain sepakbola. Para pemain kita, ujarnya lebih lanjut dan bagi saya sangat mengherankan, mematuhi peraturan bermain sepakbola hanya berdasar pengalaman dan instink masing-masing pribadi, yaitu ketika mereka memperoleh hukuman dari wasit. Realitas yang memprihatinkan !

Hancurnya timnas U-23 di ajang Asian Games 2006 antara lain akibat hukuman dua kartu merah dan enam kartu kuning, walau mereka berlatih di Belanda 4 bulan sekali pun, hanya menunjukkan bahwa mengubah teknik dan mental pesepakbola kita bukan hal yang bisa dilakukan secara instan. Sikap mental suka ambil jalan pintas yang dianut para petinggi PSSI, terutama yang memiliki pendekatan bahwa uang menentukan segalanya, kini terantuk oleh bukti kegagalan yang benar-benar nyata. Uang bukan segala-galanya, Bung Nurdin Halid dan Bung Nirwan Bakrie. Selamat berintrospeksi.


Bambang Haryanto
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612


Ketika hendak merampungkan tulisan ini, saya memperoleh telepon tak terduga dari Hilman, dari Kantor Berita Radio 68H, Jakarta. Ia meminta saya untuk menjadi salah satu nara sumber dalam acara perbincangan radio bertopik sepakbola Indonesia, Jumat malam, 5 Januari 2007 mendatang. Kalau acara ini jadi berlangsung, berarti akan dua kali warga Wonogiri yang masih tinggal di Wonogiri ini, mendapat kehormatan untuk ikut berbicara di forum nasional.

Bagi saya, fenomena di atas senantiasa mengingatkan kesaktian ucapan sejarawan dan Pustakawan Konggres AS, Daniel Boorstin, bahwa setiap kemajuan teknologi komunikasi akan mendekatkan yang jauh tetapi menjauhkan yang dekat. Apakah hal yang saya lakoni sekarang ini bisa termasuk sebagai fenomena the technology paradox juga ?


Wonogiri, 1-3 Januari 2007

tmw