Showing posts with label islam radikal. Show all posts
Showing posts with label islam radikal. Show all posts

Saturday, December 18, 2010

Danar, Jamasan Keris dan Perang Budaya Di Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Bupati Danar Rahmanto kini sibuk.
Melunasi hutang-hutang dan janjinya.
Kegegeran pun terjadi.

Surat kabar berbahasa Inggris The Jakarta Globe (25/11/2010), telah menulis berita terkait keputusan mas bupati baru kita itu.

Bahkan berita ini berhari-hari menjadi topik favorit pembacanya.

"Tunduk kepada tekanan organisasi berbasis Islam konservatif lokal, bupati baru Wonogiri di Jawa Tengah telah mencabut dukungan pemerintahannya sebagai penyedia dana dan hal lainnya bagi penyelenggaraan peristiwa budaya tradisional setempat."

Alasan Danar, ia melakukan hal itu sebagai wujud pelunasan hutang secara moral dan memenuhi kontrak politik yang ia sepakati dengan pelbagai organisasi Islam dan tiga partai politik, yaitu Partai Gerindra, PAN dan juga PPP.

"Saya hanya akan menghapus tiga penyelenggaraan peristiwa budaya dari anggaran pemerintah, tetapi tidak akan melarang warga Wonogiri yang akan menyelenggakannya dengan dana mereka sendiri," tegas Danar Rahmanto.

Tiga peristiwa budaya itu adalah Tradisi Jamasan Pusaka yang rutin diadakan setiap bulan Sura/Muharam di Waduk Gajah Mungkur (WGM). Demikian pula acara tradisi seperti Larung Ageng di Pantai Sembukan dan Sedekah Bumi di Kahyangan, Tirtomoyo.

Jawa lagi bunuh diri. Seorang pembaca bernama "John Kramer" menulis pendapat yang sinis atas keputusan itu.

"Danar dan orang-orang dibelakangnya adalah mereka yang kacau dalam memahami mana yang bagian dari agama dan mana yang bagian dari adat istiadat suatu tradisi. Kami semua mampu melihatnya secara jernih. Mereka itu seharusnya juga mempromosikan Pancasila tetapi tanpa slogan 'Bhinneka Tunggal Ika' sejak sekarang, karena ini akan membingungkan orang dalam melaksanakan perintah 'satu agama sejati' mereka."

Pembaca lainnya "jeprince977" nimbrung berkomentar. Lebih galak. "Inilah tanda-tanda bahwa Indonesia mengalami pelemahan dan pembusukan dari dalam. Dan penyebab utamanya, sebagaimana orang melihat pelbagai bukti yang tersaji, adalah Islam radikal.

Siapa lagi yang mempromosikan kekerasan, pengrusakan, kebencian, dan terutama upaya mereka untuk menghancurkan keindahan khasanah budaya yang ada."

Muncul pendapat menarik, yang berupa kritikan tajam dan pedas kepada orang Jawa sendiri. Adalah "MoGei" yang menulis : "Sungguh menyedihkan melihat banyak dan banyak lagi orang Jawa yang nyingkur, membelakangi akar budaya mereka sendiri.

Secara pribadi saya tidak menyalahkan Islam dalam hal ini. Masalahnya adalah semakin banyak orang Jawa menelantarkan dan menolak identitas budaya mereka sendiri. Tentu saja selalu ada pengaruh dari luar, tetapi sisi internal, mentalitas (kebanggaan diri) akan selalu menentukan ketangguhan bangsa bersangkutan.

Apakah atas nama agama atau globalisasi, melalui cara kekerasan atau cara damai, orang-orang Jawa sekarang ini sedang membunuh warisan budaya mereka sendiri. Dalam pendapat saya, sebagian besar orang Jawa memang tidak memiliki kebanggaan sama sekali terhadap budaya mereka sendiri."

Wonogiri bergolak. Keputusan Danar Rahmanto itu memicu gejolak. Mantan Kepala Dinas Pariwisata (Diparta) Wonogiri, H Mulyadi menilai prosesi jamasan pusaka sudah telanjur dikenal di luar negeri. Karenanya dia menyayangkan penghapusan tradisi budaya jamasan dan ruwatan tiap bulan Muharram atau Sura di Wonogiri.

Seperti dilaporkan oleh koran lokal Solopos, Mulyadi yang juga mantan Sekretaris Daerah itu mengaku kegiatan jamasan dan ruwatan di Waduk Gajah Mungkur (WGM) telah dipromosikan ke lima negara, yakni Australia, Malaysia, Singapura, Thailand dan AS.

"Turis mancanegara tertarik soal budaya dan kegiatan jamasan atau ruwatan pusaka Mangkunegoro I di WGM telah kami usulkan sebagai event internasional," ujarnya.

Diskusi yang sempat membuat "hawa panas" di Wonogiri itu akhirnya memperoleh solusi. Acara itu akhirnya tetap akan dilangsungkan, hari ini. Minggu, 19 Desember 2010.

Tetapi sebagaimana diwartakan oleh situs Radio Komunitas Gunung Gandul, berbeda dengan saat Begug Poernomosidi masih menjabat dengan terjun sendiri untuk memimpin kirab, kini bupati dan jajarannya hanya sebagai penonton di panggung kehormatan. Acara itu diselenggarakan oleh Himpunan Keluarga Mangkunegaran (HKMN).

Citra Wonogiri. Sebagaimana kata presiden AS ke-15 James Buchanan (1791-1868), "I like the noise of democracy" , saya menyukai gaduhnya demokrasi, saya juga tertarik mengikuti kegaduhan dan "perang budaya" di Wonogiri ini.

Berbeda dibanding era Begug yang kemratu-ratu, yang dirinya suka memposisikan diri sebagai raja kecil, antara lain yang oleh para pegawai pemkab sering didaulat dengan sebutan feodal seperti Gusti Kanjeng, nampaknya Danar ingin menghapus citra-citra feodal itu. Seperti dalam spanduk-spanduk kampanyenya, ia ingin mencitrakan diri sebagai bupati yang merakyat.

Danar Rahmanto, sebagaimana tindakan biasa penguasa baru, memang senantiasa berusaha menghapus bayang-bayang pemerintahan sebelumnya. Aksi "de-begug-isasi" itu sedang ia gencarkan mulai saat ini. Termasuk yang segera nampak : mengubah tampilan bangunan di depan halaman kabupaten Wonogiri.

Bagi saya, penghapusan dukungan Pemkab Wonogiri bagi penyelenggaraan peristiwa budaya, dalam satu sisi, merupakan kabar baik. Inilah saatnya, walau mungkin harus tertatih terlebih dahulu, kekuatan sipil yang harus tampil ke depan sebagai motor untuk gerakan yang mereka antepi sendiri.

Lupakan pemerintah. Jangan tergantung melulu kepada pemerintah. Sebab seperti kata David Cameron, PM Inggris saat ini, "pemerintah itu makin lemah dan makin lemah, dan rakyat dengan dukungan teknologi komunikasi dan informasi, akan semakin menguat dan menguat posisinya."

Kirab 1000 Komputer. Teknologi komunikasi dan informasi. Itulah salah satu obsesi yang selalu mengusik saya, ketika bupati lama setiap kali menyelenggarakan acara-acara budaya yang menjadi klangenan dirinya.

Sebagai warga Wonogiri yang ingin ikut urun rembug, saya telah menulis surat pembaca ("itu yang bisa saya lakukan"), terkait bobot kecenderungan dirinya yang berorientasi ke masa lalu dan tabrakan dengan pemikiran pentingnya orientasi warga Wonogiri dalam melangkah menuju masa depan.


Kirab 1000 Komputer
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah,
Kamis, 13 April 2006

Setelah wayang, tahun ini UNESCO menetapkan keris Indonesia sebagai maha karya dunia. Saya tidak tahu apa dengan alasan itu Pemkab Wonogiri (12/2) menyelenggakan ritus jamasan pusaka dan diikuti kirab 1.000 keris. Pelaku kirab adalah siswa SLTP/SLTA Wonogiri yang hanya berbaris pasif, tanpa seni happening, dengan masing-masing membawa sebilah keris.

Kirab itu berkesan hanya sebagai acara tempelan. Jauh dari praksis memberikan penyadaran atau edukasi. Karena sama sekali tidak ditunjang dengan kegiatan ceramah, diskusi, pemutaran film, lomba karya tulis sampai workshop pembuatan keris sebagai karya seni dan warisan budaya.

Intinya, merupakan kegiatan edukatif menjauhkan generasi muda Wonogiri dari pemikiran gugon tuhon seputar keris yang kental berselimutkan aura mistis, misterius, yang disebarluaskan dari mulut ke mulut atau sinetron. Ingat kasus penipuan menyangkut jual-beli keris yang dianggap sakti dan bertuah yang menimpa seorang cerdik pandai asal Semarang.

Alangkah idealnya bila selain kirab 1.000 keris juga disertai kirab 1.000 buku favorit pelajar, sampai kirab 1000 komputer di Wonogiri. Generasi muda Wonogiri harus pula diajak untuk berorientasi ke masa depan.

Kalau kirab keris hanya sebagai tempelan acara ritus jamasan pusaka yang disukai generasi-generasi tua, apalagi kental bernuansa aura mistis, generasi muda Wonogiri tidak memperoleh manfaat apa-apa.

Terutama lagi bila dikaitkan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Wonogiri. Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal tanggal 7 Desember 2004 telah menyajikan data pahit : dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah ternyata Wonogiri termasuk sebagai daerah tertinggal.

Ngelus-elus dan menjamas keris saja jelas tidak menyumbang perubahan apa-apa !

Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612


Anda sebagai Warga Wonogiri, bagaimana pendapat Anda ?
Setelah gebrakan seperti ini, apa saja harapan Anda terhadap Mas Bupati kita itu terkait program untuk meningkatkan SDM Warga Wonogiri, yang selalu ia katakan ingin meningkatkan martabat warga Wonogiri ?


Wonogiri, 19 Desember 2010

Tuesday, August 11, 2009

Monster Hydra, Budaya Jawa dan Terorisme

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinew (at) yahoo.co.id


bambang haryanto,artikel,terorisme,budaya jawa,noordin m top,solopos 10/8/2009


Harmoni orang Jawa. Noordin M Top diduga telah tamat riwayatnya. Yang mengagetkan, gembong aksi terorisme nomor wahid di Asia Tenggara itu tewas dalam serangan Densus 88 di Beji, Temanggung. Sebelumnya, aparat memburunya sampai Cilacap, tempat ia diduga memiliki istri ketiga.

Mengapa teroris asal Malaysia itu nampak nyaman bersembunyi dan sekaligus terus giat merancang aksi-aksi terornya dari Jawa Tengah ?

Sebagai teroris yang licin, tampaknya Noordin tahu benar kelemahan budaya Jawa. Kita tahu, budaya Jawa itu memiliki pandangan ketat mengenai pentingnya harmoni, keselarasan. Perasaan yang terinternalisasi secara mendalam dalam jiwa orang Jawa adalah kepekaan untuk tidak dipermalukan di muka umum.

Perasaan demikian memupuk konformitas, pengendalian tingkah laku dan menjaga ketat harmoni sosial. Konflik yang terjadi diredam sekuat tenaga. Reaksi normal setiap orang Jawa dalam menanggapi konflik adalah penghindaran, wegah rame dan mediasi oleh pihak ketiga.

Sikap wegah rame tersebut, misalnya, mencuat pada kasus ketidakacuhan warga perumahan Jatiasih, Bekasi, terhadap pengontrak baru yang tak pernah bergaul dan berlaku tidak wajar. Ketika penggerebekan terjadi, mereka baru terkaget-kaget karena lingkungannya jadi sarang teroris. Sikap wegah rame itu pula disiratkan Kapolda Jawa Tengah Alex Bambang Riatmodjo (saat) menyatakan teroris telah menjadikan Jateng sebagai persembunyian dan wilayah perekrutan teroris-teroris baru.

Payung perlindungan. Kasus di Cilacap di mana keluarga Bahrudin Latif menikahkan anak gadisnya dengan laki-laki yang dicurigai sebagai Noordin M Top, semoga membuka mata kita betapa taktik penyusupan kaum teroris telah merambah ke ranah yang tidak kita duga sebelumnya.

Ahli intelijen yang khusus mengkaji gerakan Jemaah Islamiyah (JI) Noor Huda Ismail seperti dikutip situs Jakarta Globe (31/7) mengatakan bahwa taktik licin itu dilakukan Noordin M Top di tempat lain sebagai sarana untuk melindungi dirinya. Apalagi taktik serupa diyakini tidak hanya dilakukan oleh Noordin semata.

Sebelum di Cilacap, Noordin menikahi Munfiatun di Surabaya tahun 2004. Munfiatun ditangkap tahun 2005, dihukum tiga tahun, dibebaskan tahun 2007. Sebelumnya, Noordin dipercayai memiliki istri pertama asal Rokan Hilir, Riau. Pada 2003, rumah ini digeberebeg, tetapi dia lolos.

Noordin memang teroris yang julig. Menurut Noor Huda Ismail, ia tahu bagaimana melakukan pendekatan terhadap komunitas yang dapat memberikan perlindungan padanya, utamanya dari komunitas yang mencita-citakan berdirinya negara Islam di Indonesia. Payung budaya perlindungan dalam jaringan Islam radikal itu ia perkokoh melalui jalinan kekerabatan yang diikat tali perkawinan.

Kesetiaan yang tinggi antarmereka akhirnya memudahkan gembongnya melakukan cuci otak dalam mengindoktrinasi anak-anak muda yang terisolasi tersebut untuk menjadi martir bersenjatakan bom bunuh diri.

Penetrasi jaringan teroris kini memasuki ranah yang oleh sebagian besar kebanyakan kita sebagai warga suku Jawa merasa tidak berhak ikut campur karena berada di ranah pribadi, ranah keluarga. Tetapi karena aksi terorisme itu berdampak luas, kini setiap warga negara harus menjadi bagian paling depan untuk ikut aktif memeranginya. Apalagi terorisme sering digambarkan seperti monster Hydra dalam mitologi Yunani. Monster itu memiliki sembilan kepala, bila satu kepala ditebas, akan muncul dua kepala baru menggantikannya.

Jika ternyata tewas, dikhawatirkan Noordin segera digantikan oleh wajah-wajah baru. Monster Hydra itu baru dapat dikalahkan oleh Hercules dengan mencabut akarnya. Perumpamaan itu menunjukkan bahwa aksi penumpasan teroris yang mengandalkan aksi-aksi pihak yang berwajib, tidak akan seratus persen efektif. Solusi idealnya adalah masyarakat harus bekerja sama membuat teroris menjadi “impoten”.


Sindrom jendela pecah. Yang ditakuti teroris bukan kematian, tetapi ketika mereka tidak mampu menyerang. Aksi pencegahan untuk melumpuhkan dan mempersempit ruang gerak teroris itu dapat terjadi bila ada kedekatan, terbinanya rasa percaya, antara warga dengan pihak berwajib, khususnya polisi. Kredo Kapolda Alex Bambang Riatmodjo ketika awal memangku jabatan bertajuk the policing with love, pemolisian dengan pendekatan cinta, kini semakin dinanti realisasinya.

Tanpa realisasi hal itu, apalagi bila pihak berwajib di mata masyarakat malah dicitrakan sebagai korup, berlaku tidak adil, apalagi suka menyakiti rasa keadilan masyarakat, maka rakyat pasti enggan berhubungan dengannya. Rakyat akan menjauh.

Akibatnya, semua gejala dini tindak kejahatan sampai hal-hal yang mencurigakan akan mereka diamkan, tidak dilaporkan kepada polisi. Sehingga, teroris dan penjahat pun akan leluasa meneruskan aksinya.

Gejala dini itu oleh kriminolog James Q Wilson dan George Kelling disebut sebagai sindrom broken windows (jendela pecah), untuk menerangkan asal muasal epidemi tindak kejahatan. Mereka berpendapat, kriminalitas merupakan akibat tak terelakkan dari ketidakteraturan.

Jika jendela sebuah rumah pecah namun dibiarkan saja, siapa pun yang lewat cenderung menyimpulkan pastilah di lingkungan itu tidak ada yang peduli atau bahwa rumah itu tidak berpenghuni. Dalam waktu singkat, akan ada lagi jendelanya yang pecah, dan belakangan berkembang anarki yang menyebar ke sekitar tempat itu.

Menurutnya, di sebuah kota, awal yang remeh seperti corat-coret grafiti, ketidakteraturan dan pemalakan, semua setara dengan jendela pecah, ajakan untuk melakukan kejahatan yang lebih serius lagi.

Awal yang remeh itu juga bisa terjadi dalam atmosfir budaya Jawa, justru ketika kita berusaha menjaga harmoni bertetangga. Harmoni itu pula yang mampu membuat kita terlena, menumpulkan sikap waspada, sehingga tidak tergelitik dalam mengendus ketidakwajaran. Mengambil contoh di Cilacap, jangan sampai kita tidak menyadari bahwa anak gadis tetangga adalah istri seorang teroris berbahaya.


[Artikel ini dimuat di Harian Solopos, Senin, 10 Agustus 2009 : Hal.4].




Wonogiri, 12/8/2009

tmw