Showing posts with label smpn 1 wonogiri. Show all posts
Showing posts with label smpn 1 wonogiri. Show all posts

Sunday, February 10, 2008

Iklan Rokok Mengepung Kota Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews@yahoo.co.id



Duit rokok, birokrat cadok. Bilbor tak begitu besar itu pernah dipasang di Krisak, dari arah Solo di sisi kiri sesudah monumen. Isi pesannya luhur : mengampanyekan Wonogiri Menuju Sehat 2010. Bilbor di Krisak itu kini hilang, entah mengapa. Tetapi bila pun tetap terpasang, akhirnya hanya menjadi ikon ironi besar bagi Wonogiri. Sebab ketika Anda memasuki kota yang memiliki wakil bupati seorang dokter, pelbagai bilbor yang lebih besar dan berisi iklan-iklan produk yang mengancam kesehatan justru amat dominan di kota kecil ini.

Photobucket

PROMOSI NIKOTIN ! Lanskap Kota Gaplek ini senyatanya sudah sumpek oleh centang-perenangnya iklan-iklan rokok. Dalam rangka meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), para birokrat di Pemkab Wonogiri sepertinya tega menyiksa isi otak warganya untuk setiap harinya dijejali iklan-iklan rokok.

Penetrasi iklan-iklan rokok itu begitu merajalela dan nyaris tidak menyisakan pertimbangan estetika. Para birokrat itu jelas mengidap sakit myopia, cadok, sehingga tidak mampu memikirkan dampak ancaman terhadap kesehatan yang serius akibat rokok yang bakal harus dibayar lunas oleh generasi muda Wonogiri di masa depan.

Sebagai ilustrasi, silakan simak gambaran mengejutkan di balik iklan-iklan rokok itu sebagaimana berita di harian Jawa Pos Radar Yogya yang dikutip BBC (14/12/2007). Harian itu ketika melaporkan hasil seminar “Studi Kelayakan Penyusunan Perda Pembatasan Rokok” di Yogyakarta (13/12/07), mengajukan fakta bahwa dua pertiga dari 19 juta penduduk miskin Indonesia adalah perokok.

Bayangkan kemudian : untuk kebiasaan buruk yang mencandu itu pada sepanjang tahun 2006 saja mereka telah rela menghabiskan uangnya untuk membeli rokok sebesar 23 trilyun rupiah. Angka pemborosan uang itu bisa untuk membeli 5,8 juta ton beras. Dana yang sama juga lebih besar dibanding dana APBN untuk subsidi BBM yang diperuntukkan bagi mereka.


Perang Nikotin di Wonogiri. Indonesia dan termasuk pula Wonogiri, sekarang memang menjadi medan perang industri rokok. Baik yang berasal dari dalam negeri atau pun dari luar negeri. Hampir empat tahun lalu saya telah menulis surat pembaca berikut ini :


Bonus rokok di tiket olahraga
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, 20 Agustus 2004


Pengumuman aneh tertera di loket penjualan tiket kejuaraan bola voli yunior se-Jawa Tengah yang berlangsung di GOR Wonogiri, 7/8/2004 yang lalu. Tertulis harga tiket Rp. 3.000 dan pembeli dapat bonus sebungkus rokok. Saya batal nonton dan berpikir, bukankah pabrik rokok itu curang, melakukan dumping harga untuk mempromosikan produknya ?

Bukankah ini rekayasa bisnis tak etis, untuk produk yang berpotensi besar mengakibatkan kecanduan dan sekaligus membahayakan kesehatan ? Apalagi sasarannya anak-anak muda, di pentas yang tujuannya mempromosikan pentingnya kesehatan, yaitu ajang olahraga ?

Rokok, produk yang membahayakan kesehatan, tampil sebagai sponsor pertandingan olahraga sudah lumrah di tanah air kita. Modus serupa juga gencar dalam pertunjukan musik dan acara lain yang diperkirakan menyedot kehadiran anak-anak muda. Memang, anak-anak muda seumuran SMP-SMA kini jadi target utama produsen rokok. Sebab sekali mereka kecanduan rokok di usia rawan itu, kebiasaan buruk tersebut akan sulit hilang sampai dewasa atau meninggal di usia muda.

Peristiwa di GOR Wonogiri itu, dalam skala besar, mencerminkan pribadi bangsa kita yang terbelah. Kita adakan ajang untuk mempromosikan kesehatan, tapi sponsornya produk yang membahayakan kesehatan. Semakin banyak dibangun tempat-tempat ibadah, tetapi seperti kasus ramai di DPRD-DPRD, mereka pun tak malu berkorupsi secara berjamaah.

Kita mengaku mendukung reformasi, tapi sosok-sosok Orde Baru tetap berjaya di panggung. Gembar-gembor tak tergiur kembali terjun ke politik, tapi tetap glibat-glibet dan ngotot mengajukan RUU yang bertabiat sebaliknya. Mengaku harus netral dalam pemilu, tapi bukti VCD yang bocor ke masyarakat berkata sebaliknya pula. Itulah anomali kepribadian kita sebagai bangsa.

Photobucket

NALAR TIDAK GATHUK. Pesan dalam bilbor iklan rokok ini dan pesan yang ada di bawahnya senyata-nyatanya sangat kontradiktif. Tidak masuk akal sehat. Bagaimana bisa produk rokok mampu mempromosikan sehat bagi warga Wonogiri ?


Anomali yang sama juga diperlihatkan oleh pucuk pimpinan bangsa kita, saat itu. Untuk mengedepankan potretnya, saya telah pula menulis surat pembaca berjudul “Nalar Yang Masih Tidak Gathuk,” dan dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, Sabtu, 18 September 2004. Silakan menyimaknya di bawah ini :

Sivitas akademika Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang pantas dipuji ketika menempuh kebijakan melarang segala bentuk iklan rokok di lingkungan kampusnya. Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) di Purwokerto berdemo menuntut dicabutnya sarana reklame rokok dalam suatu kegiatan di kampus. Lebih hebat lagi, Universitas Petra Surabaya menetapkan larangan merokok di lingkungan kampusnya sejak pertengahan Agustus 2004.

Berapa banyak institusi pendidikan kita dan warganya berlaku cerdas seperti ketiga kampus tadi ? Tidak banyak. Banyak kepala sekolah atau rektor yang tidak merasa bersalah bila ring basket, bangku taman di lingkungannya, terpampang merek rokok. Tidak sedikit mahasiswa yang mengadakan kegiatan di kampus, turnamen olahraga misalnya, dengan alasan lebih mudah mencari duit sponsor maka dikirimi proposal utama adalah pabrik-pabrik rokok.

Realitas yang menyedihkan. Insan-insan cendekia kita itu begitu tertabrak upaya memperoleh uang, maka mudah saja terjadi apa yang disebut sebagai cognitive dissonance (CD), kesadaran yang tak nyambung. Demi uang, mereka seolah melupakan dampak bahaya yang ditimbulkan oleh rokok dan kebiasaan merokok yang mereka kampanyekan itu. Nalar rancu, tidak gathuk (Jawa) ini, dikuatirkan akan mudah berlanjut bila mereka telah terjun di masyarakat. Dengan berpendapat demi uang maka apa pun suara hati, suara kesadaran, boleh dipinggirkan. Ini benih korupsi, bukan ?

Nalar rancu itu tak hanya diidap oleh insan-insan kampus kita. Pada tanggal 19/8/2004, Presiden kita mengunjungi pasukan TNI-Polri yang bertugas di Aceh, di lembah Aloe Gintong, Kecamatan Jantho, Kabupaten Aceh Besar. Kepada para prajurit, seperti dilaporkan Kompas (20/8/04 :1), Presiden (Megawati-BH) berpesan : Jaga kesehatanmu dan berhati-hatilah dalam bertempur. Berita yang sama telah dimuat di Solopos (20/8/04 :2) bertajuk : Di Aceh, Presiden bagikan rokok kepada prajurit.


Anak-anak sebagai korban. Nalar yang rancu itu mampu mengakibatkan dampak yang serius. Mari kita ikuti cerita dari wartawan William Ecenbarger dalam artikelnya yang berjudul America’s New Merchants of Death, Saudagar-Saudagar Kematian Baru dari Amerika Serikat di majalah Reader’s Digest, 4/1993 : 17-24.

Ia menyebutkan, raksasa industri rokok Amerika sebagai saudagar-saudagar kematian baru semakin agresif memindahkan pasarnya ke luar negeri. Karena sebagai negara maju dengan penduduknya berpendidikan, berkesadaran tinggi menjaga kesehatan, membuat konsumsi rokok semakin menurun. Apalagi perangkat hukumnya ketat dan tegas.

Sasaran perpindahannya justru negara miskin dan berkembang. Indonesia dengan penduduk ratusan juta, dengan sbagian besar penduduknya berusia muda, jelas merupakan pasar sangat menggiurkan. Sadisnya lagi, anak-anak dan kaum muda yang menjadi sasaran bidik utama mereka.

Mengapa anak-anak ?

Ketika perokok tua berhenti merokok atau meninggal, masa depan industri rokok bergantung kepada keberhasilan perekrutan konsumen baru mereka, yaitu anak-anak dan kaum muda. Terlebih lagi dari hasil kajian didapat data bahwa seseorang mulai merokok rata-rata pada umur 12 – 16 tahun. Mereka yang tidak merokok ketika berumur 18 tahun akan tidak kecanduan merokok.

Ketika serbuan rokok Amerika mengganas di Indonesia, reaksi apa yang dilakukan oleh industri rokok Indonesia ? Melawan dengan sengit. Terjadilah perang iklan secara sengit antarsaudagar kematian, baik melalui acara musik, olahraga, kegiatan tradisional, pemberian beasiswa, bahkan lomba karya tulis untuk wartawan. Ujung dari itu semua adalah : anak-anak muda kita yang jadi korban. Apalagi bom-bom nikotin itu mereka poles sebagai citra gaya hidup muda, gaul, gaya, funky, masa kini.

Sampai-sampai mahasiswa dan dosen dua perguruan tinggi negeri, UNS di Solo dan Undip di Semarang Jawa Tengah (Kompas Jawa Tengah, 17/9/2004), mau termehek-mehek dan terbius sihir promosi rokok berselubung seminar pendidikan akibat julignya kreator iklan mengemas produk yang berbahaya untuk dikonsumsi anak-anak muda kita.


Orang miskin korban utama. Perang antarsaudagar kematian di atas mirip fenomena perang melawan teroris di negeri kita, pasca 11 September 2001. Saat itu Amerika Serikat bangkit, bergegas menata diri memerangi terorisme. Peraturan imigrasi yang ketat sampai kewaspadaan tinggi, mampu mempersempit ancaman teroris. Akibatnya, teroris memindahkan teaternya melawan AS dan sekutunya di negara-negara luar AS. Termasuk ke Indonesia, di mana teror bom di Bali, Hotel Mariott Jakarta dan di depan Kedubes Australia adalah contoh aktualnya.

Sebagaimana contoh terorisme di atas, perang perebutan pasar rokok merembet ke negara kita. Indonesia karena perangkat hukum relatif lemah dalam regulasi rokok, bahkan presiden kita enggan menandatangani FCTC (WHO Framework Convention on Tobacco Control) atau Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian Tembakau, menjadikan negeri ini ideal dijadikan arena perang antarpara penjaja bom-bom nikotin itu.

Korbannya ?

Menteri Kesehatan AS Richard Carmona mengutip isi Laporan Pemerintah AS No. 28 (Deutsche Presse-Agentur, 27/5/2004) menyatakan bahwa merokok mengakibatkan penyakit untuk semua organ tubuh, pada semua tingkatan usia, di seluruh dunia. Tercatat 440.000 warga AS meninggal tiap tahun akibat penyakit yang terkait dengan merokok dan menghamburkan biaya 157 milyar dollar per tahun, di mana 75 milyar untuk pengobatan dan 82 milyar dollar untuk produktivitas kerja yang hilang.

Itu di Amerika Serikat, sebuah negeri kaya yang penduduknya kebanyakan berpendidikan dan memiliki kesadaran kesehatan yang tinggi. Bagaimana jumlah korban dan kerugian akibat bom-bom nikotin di Indonesia ? Siapa saja mereka ?

Memanglah, konsumen rokok justru sebagian besar adalah orang-orang miskin. Juga anak-anaknya. Termasuk mereka adalah pula warga miskin yang terdaftar sebagai warga Wonogiri, di mana menurut laporan koran Seputar Indonesia (19/1/2008 : hal. 13) disebutkan bahwa Wonogiri termasuk sebagai tiga besar daerah tertinggal di Jawa Tengah.

Photobucket

MENGANCAM SEJAK DINI. Sebuah persewaan playstation di Wonokarto, Wonogiri. Arena permainan yang disukai anak-anak ini ikut diincar sebagai ajang untuk mengajak anak-anak berkenalan dengan rokok.

Sebagai ilustrasi, saya memiliki tetangga yang berusaha warung makan dan juga ada yang mengelola persewaan play station. Antara lain konsumennya adalah sebagian siswa sekolah kejuruan swasta yang lokasinya ada di kampung saya. Mereka itu sering nampak jajan, juga main games, sambil menikmati merokok.

Sementara itu saya pernah meliwati warung-warung yang berada di sekitar sekolah kejuruan swasta, di sekitar Kaloran, Wonogiri Kota. Saat itu jam istirahat, dan saya saksikan sekitar 30-50 persen siswa yang memenuhi warung-warung itu sedang merokok.


Photobucket

GURU KITA TUTUP MATA ? Iklan-iklan rokok juga hadir secara demonstratif di depan hidung komplek sekolah. Nampak dalam foto warung-warung yang berada di sekitar gedung SMP Negeri I Wonogiri terdapat 5 dari 7 warung yang ada memakai kain tabir penutup warungnya yang berisi iklan-iklan rokok.

Sepertinya para guru bekas sekolah saya ini, sudah tak peka akan hal semacam itu ? Apakah fenomena pelajar merokok di sekitar lingkungan sekolah sekarang ini tidak lagi menjadi perhatian para guru-guru mereka ?

Kalau para birokrat, bahkan juga kalangan guru atau orang tua siswa di Wonogiri seolah menutup mata rapat-rapat, juga membutakan nuraninya terhadap fenomena makin gencarnya iklan-iklan rokok dan budaya merokok di kalangan anak didik mereka, lalu siapa lagi yang hirau terhadap masa depan generasi muda kita di Wonogiri ini ?

Hanya Tuhan Yang Maha Tahu.


Wonogiri, 9/2/2008

tmw

Tuesday, January 2, 2007

Splendid Entrepreneur Dan Masa Indah Pencinta Sepakbola Dari Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews@yahoo.co.id



The Technology Paradox merupakan judul sampul yang provokatif dari majalah Business Week, 6/3/1995. Majalah ini saya beli di Solo hampir dua belas tahun yang lalu. Subjudulnya pun inspiratif :

“Telepon seluler menjadi hadiah gratisan. Peranti lunak dijajakan secara cuma-cuma. Komputer laptop berkemampuan sebesar komputer mainframe. Tatkala teknologi tinggi menjadi teramat murah, produsernya pun harus mencari cara-cara baru untuk meraup keuntungan. Mereka telah mendapatkannya.”

Salah satu penganut pemakaian cara-cara baru berbisnis itu antara lain taipan media, Rupert Murdoch. Bos News Corp. ini, demikian kutip Business Week, telah memunculkan istilah splendid entrepreneur untuk merujuk orang-orang yang bersenjatakan antena parabola di India untuk membajak siaran televisi satelit global StarTV milik sang baron media itu. Kemudian para wiraswastawan cerdas itu menjual siaran StarTV tersebut kepada tetangganya melalui saluran kabel.

“Kalangan yang sinis berkata bahwa pembajakan itu akan berakibat fatal bagi kelangsungan hidup Star. Kami berpendapat lain,” cetus Murdoch. Apa logikanya ? Menurutnya, para splendid entrepreneur tersebut justru berjasa memperluas pasar StarTV sehingga membuka peluang bagi Murdoch untuk menaikkan biaya pemasangan iklan di medianya.

Jalan pikiran Murdoch yang mencengangkan. Dan sungguh menyenangkan ketika isi laporan utama Business Week dua belas tahun lalu itu kini menggaung kembali di kepala saya hari-hari ini. Bahkan memunculkan rasa gelitik tersendiri ketika realitas dari kasus yang sama telah melibatkan hidup saya sehari-hari. Yaitu tatkala bisa menikmati buah karya warga Wonogiri, yang sekaligus splendid entrepreneur, yang telah mengikuti logika Murdoch tersebut.

Photobucket - Video and Image Hosting

Dua Belas Tahun Kemudian. Paradoks teknologi telah menjungkirbalikkan norma berbisnis dalam kancah teknologi informasi masa kini. Semua inovasi kini cenderung “dijual” secara gratisan, dari layanan email seperti Hotmail dan Yahoo, fasilitas blog sampai fasilitas tayangan video YouTube. Laporan majalah ini dua belas tahun lalu itu telah memunculkan istilah ekonomi atensi, di mana semua produk gratisan kini berlomba-lomba diobral secara cerdik guna memperebutkan komoditas paling berharga di era digital saat ini : atensi manusia. Fenomena itu marak di masa kini.


Sosok splendid entrepreneur asal Wonogiri itu Totok namanya. Tanpa kreasi Totok tersebut dapat dipastikan penduduk kota Wonogiri sangat terbatas pilihan saluran, termasuk juga kualitas gambarnya, dalam memperoleh akses siaran televisi yang ada. Topografi kota Wonogiri yang terkepung gunung memang menjadi kendala serius bagi penangkapan siaran televisi. Bagi saya pribadi, kendala itu pasti mengisolasi saya dari peluang menonton siaran televisi yang saya sukai : pertandingan sepakbola.

Walau pun demikian, bisnis televisi kabelnya Totok dan kawan-kawan ini kadang juga perlu diingatkan. Entah karena tidak tahu, atau teledor, sekadar contoh, pada hari Selasa malam (26/12/2006) hampir saja saya tidak bisa menonton pertandingan Liga Inggris sehari sesudah Natal.

Sebenarnya pada siang harinya saya sudah berusaha ke rumahnya Totok itu. Ingin mengingatkan bahwa nanti malam ada pertandingan sepakbola. Sepulang dari Perpustakaan Umum Wonogiri, saya ingin mampir. Tetapi saya salah masuk rumah. Yang saya masuki adalah rumah yang pintunya tertutup dan salam saya tiada berbalas. Di sekitar tidak ada yang bisa saya tanyai. Saya memutuskan pulang siang itu.

Selasa malam itu Wonogiri sedang diguyur hujan deras. Tetapi sekitar 15 menit menjelang kick-off, saluran ESPN Star Sports belum muncul. Saya memutuskan untuk ke rumahnya Totok lagi. Dengan memakai payung kecil, saya memaksakan diri menembus hujan untuk menuju rumah pusat penyiaran televisi kabel a la Wonogiri ini. Payung untuk menahan sinar matahari itu agak terlalu kecil, membuat sebagian tubuh saya terciprat air hujan. Tak apalah.

Payung itu berwarna merah dan biru, di mana pada warna birunya ditaburi bintang-bintang warna putih. Pada blok warna merah dihiasi tulisan putih, “USA Atlanta 1996.” Payung ini adalah merchandise yang dibawa adik saya, Broto Happy W. ketika ia meliput Olimpiade Atlanta 1996. Jadi payung itu sudah berumur 10 tahun.

Sokurlah, di malam hari itu saya bisa menemukan rumahnya Totok. Dari balik pagar saya hanya memberikan pesan, harap saluran 7 yang kini diisi oleh stasiun televisi Trans 7, dipindah ke ESPN Star Sports. Ketika saya tiba kembali ke rumah, perjalanan menembus hujan sepanjang satu kilometer itu membawa hasil maksimal. Bisnis Totok memenuhi permintaan pelanggannya.

Sambil menikmati gorengan tempe dan tahu, juga cabai, saya bisa menikmati pertandingan yang dikenal sebagai Boxing Day itu. Baik antara Chelsea vs Reading yang seru, 2-2, mau pun Manchester United yang menekuk Wigan dengan skor akhir 3-1.


Moment of Glory. Mengikuti pertandingan sepakbola melalui media elektronik kiranya merupakan pengalaman hidup yang tidak luar biasa bagi banyak orang. Mengilas balik, ketika saya duduk di bangku SD hingga SMP, sekitar tahun 1965-1968, saya mengikutinya melalui radio. Bukan di rumah, karena keluarga kami tidak memiliki radio. Tetapi di rumah Pak Maryomo.

Ayah dari mBak Mutmainah, mas Gembuk (Bambang Sadoyo), mBak Entuk dan mBak Uci ini, termasuk orang terpandang di kampung kami dengan memiliki radio saat itu. Di depan rumahnya terdapat pohon asam yang besar, hanya sekitar 15 meter dari rumah saya. Radionya masih memakai tabung, kuno, dan belum memakai transistor. Bentuknya besar. Mereknya Philips. Setelah pertandingan usai, saya senantiasa merekonstruksi pertandingan yang terjadi dalam bentuk tulisan. Mirip perilaku wartawan olahraga.

Lewat radio pula, di tahun 1966, saya diberitahu oleh teman SD saya, Sugeng Sudewo, mengenai hasil akhir pertandingan final Piala Dunia 1966. Saat itu Inggris menjadi juara dunia setelah menaklukkan Jerman Barat. Dewo, putra dari Pak Hadisubroto ini, ketika duduk di kelas 6 SD Negeri 3 Wonogiri, adalah teman saya berbagi cerita. Saya rutin membaca serial Nogososro-Sabukinten karya SH Mintardjo dan Dewo mengikuti serial Bende Mataram, karya Herman Pratikto. Saya sering bermain ping pong di rumahnya.

Di kelas 6 yang diampu oleh Pak Narwoto, ia mendapat gurauan perjodohan model anak-anak sebagai Dewo-Karsih. Sukarsih berasal dari Bauresan. Pasangan lain yang juga dijodoh-jodohkan, yang bisa saya ingat, adalah Bodong-Anna. Bahkan merek sepeda motor BSA, dimaknai sebagai singkatan Bodong Seneng Anna.

Bodong adalah sebutan gaul untuk Priambodo. Pengalaman masa kecil yang berkesan dengannya adalah ketika saya ia bolehkan menitipkan sebutir telur bebek agar bisa ikut dierami oleh ayam babon milik Bodong ini. Ketika telur itu benar-benar menetas, saya bisa membawa pulang anak bebek itu dengan perasaan takjub sekaligus gembira.

Sementara itu Anna atau Dwianna Warpinyuliastuti, adalah putri Bapak/Ibu Suwarso. Bapak Suwarso adalah seorang tentara TNI-AD di Kodim 0728 Wonogiri, kolega ayah saya. Saya ingat, setiap kali Anna yang hitam manis dan inosen itu mendapat giliran mendongeng atau bercerita di depan kelas, ia melakukan hal yang tidak bisa saya lupakan. Saat ia diharuskan menunjuk murid lain sebagai pendongeng berikutnya, Anna selalu menunjuk diri saya. Saya tak tahu alasan Anna melakukan hal itu.

Selepas SD, kami berpisah sekolah. Ia meneruskan ke SMP Negeri 2 di Bantarangin, yang hanya sekitar 50 meter dari rumahnya yang kini menjadi agen genteng Soka Kebumen dan warung soto. Hanya kakak perempuannya, Johar, yang bersekolah di SMPN 1 Wonogiri. Bodong sepertinya juga masuk ke SMPN 2.


Kembali tentang Dewo. Ketika sama-sama meneruskan ke SMP Negeri 1 Wonogiri, kami berbeda kelas. Ia duduk di klas 1A dan saya di 1 B. Ketika bermain sepakbola, Dewo tampil sebagai penjaga gawang, sementara saya sebagai penyerang. Setiap kali saya jalan kaki pagi dan melewati lapangan Sukorejo, terutama di gawang sebelah barat, kenangan masa kecil itu seolah tertayang kembali.

Saat itu saya telah melakukan solo run, ibarat Jorge Buruchaga setelah memperoleh umpan jarak jauh kaki kiri sang jenius Maradona pada Piala Dunia 1986, saya berhasil menaklukkan gawang yang dikawal Dewo, teman saya tersebut. Peristiwa ini merupakan moment of glory, mungkin satu-satunya, yang masih berbekas ketika saya mampu bermain sepakbola. Setelah itu, kiranya saya tidak bermain sepakbola lagi.

Dari enam anak laki-laki keluarga Kastanto Hendrowiharso yang pernah menekuni sepakbola hanyalah Bari, anak ketiga, dan anak nomor enam, Broto Happy W., yang kini masih bermain sepakbola untuk membela tim Tabloid BOLA, tempatnya ia bekerja. Anak kesepuluh, Basnendar HPS, menekuni basket. Saya dan Mayor Haristanto, anak keempat, sejak tahun 2000 menjadi aktivis kelompok suporter sepakbola Pasoepati, dari Solo.

Photobucket - Video and Image Hosting

Orang Wonogiri Masuk Televisi. Sebagai suporter sepakbola, saya (nomor dua dari kanan) dan Mayor Haristanto (nomor tiga dari kanan) dan Sengkut Pandega, pernah menjadi nara sumber acara One Stop Football dari stasiun televisi TV7 Jakarta. Dengan dipandu host Deasy Noviyanti, kiri, kami membincangkan peranan suporter Indonesia dalam pertandingan leg I Final Piala Tiger 2004/2005 antara tuan rumah Indonesia vs Singapura, 8 Januari 2005. Seminggu kemudian, saya dan Mayor meneruskan dukungan kepada timnas Indonesia pada leg 2 di Stadion Kallang, Singapura.


Peringatan dari Wonogiri. Bukti kecil kecintaan dan atensi saya terhadap sepakbola, selain meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli (2000), mengelola blog Suporter Indonesia, dan sebagai pencetus komunitas Epistoholik Indonesia dan menulis esai tentang aktivitas ini, saya juga terus menulis surat-surat pembaca. Sebagai contoh di bawah ini :


Hancurnya Sepakbola Melayu
Dimuat Koran Tempo, Rabu, 22 November 2006


Tim nasional Indonesia di bawah umur 23 tahun digunduli 6-0 di penyisihan sepakbola Asian Games 2006 di Qatar. Padahal mereka sempat berlatih 4 bulan, menghabiskan biaya 28 milyar rupiah di Belanda. Asisten pelatih Bambang Nurdiansyah seperti dikutip wartawan Kompas, Samsul Hadi, yang ditanyai oleh BBC (20/11) mengabarkan bahwa Ferry Rotinsulu dan kawan-kawan itu bermain dengan “gaya sepakbola Melayu, bukan sepakbola Eropa.”

Apa yang ia maksud sebagai sepakbola Melayu ? Perlu penjelasan lebih lanjut. Yang pasti, dalam pertandingan tersebut dua pemain kita kena kartu merah dan enam pemain kena kartu kuning. Itukah cerminan “sepakbola Melayu” yang berarti pemain-pemain kita tidak mengindahkan peraturan bermain sepakbola yang berlaku secara universal ?

Tanggal 6/11/2006, di Solo, saya mewawancarai Ponaryo Astaman, kapten timnas senior kita, terkait pernyataan dia yang juga pernah dikutip oleh BBC. Kata Ponaryo, sepanjang menjadi pemain sepakbola dirinya tidak pernah sama sekali memperoleh sosialisasi mengenai pelbagai peraturan dalam bermain sepakbola. Para pemain kita, ujarnya lebih lanjut dan bagi saya sangat mengherankan, mematuhi peraturan bermain sepakbola hanya berdasar pengalaman dan instink masing-masing pribadi, yaitu ketika mereka memperoleh hukuman dari wasit. Realitas yang memprihatinkan !

Hancurnya timnas U-23 di ajang Asian Games 2006 antara lain akibat hukuman dua kartu merah dan enam kartu kuning, walau mereka berlatih di Belanda 4 bulan sekali pun, hanya menunjukkan bahwa mengubah teknik dan mental pesepakbola kita bukan hal yang bisa dilakukan secara instan. Sikap mental suka ambil jalan pintas yang dianut para petinggi PSSI, terutama yang memiliki pendekatan bahwa uang menentukan segalanya, kini terantuk oleh bukti kegagalan yang benar-benar nyata. Uang bukan segala-galanya, Bung Nurdin Halid dan Bung Nirwan Bakrie. Selamat berintrospeksi.


Bambang Haryanto
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612


Ketika hendak merampungkan tulisan ini, saya memperoleh telepon tak terduga dari Hilman, dari Kantor Berita Radio 68H, Jakarta. Ia meminta saya untuk menjadi salah satu nara sumber dalam acara perbincangan radio bertopik sepakbola Indonesia, Jumat malam, 5 Januari 2007 mendatang. Kalau acara ini jadi berlangsung, berarti akan dua kali warga Wonogiri yang masih tinggal di Wonogiri ini, mendapat kehormatan untuk ikut berbicara di forum nasional.

Bagi saya, fenomena di atas senantiasa mengingatkan kesaktian ucapan sejarawan dan Pustakawan Konggres AS, Daniel Boorstin, bahwa setiap kemajuan teknologi komunikasi akan mendekatkan yang jauh tetapi menjauhkan yang dekat. Apakah hal yang saya lakoni sekarang ini bisa termasuk sebagai fenomena the technology paradox juga ?


Wonogiri, 1-3 Januari 2007

tmw