Friday, July 10, 2009

Beethoven, Internet, Bupati Wonogiri 2010

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id



Ikon dua singa. Radio Voice of America mengudara jam 5 pagi di Wonogiri. Saat itu ritus jalan kaki pagi saya dari Kajen baru mencapai perempatan ponten. Saya menyebut perjalanan pagi itu dengan rute utara.

Salah satu bagian dari jalan raya Kota Gaplek ini dulu merupakan pertigaan. Di tengah terdapat kolam berbentuk bundar dengan air mancur, fountain, ditengahnya. Untuk lidah Jawa, lokasi itu kemudian disebut sebagai ponten. Sampai saat ini. Walau bangunan kolam dan air mancur itu kini sudah lama tiada lagi di sana.

Di bagian barat jalan, agak ke selatan, terdapat toko tukang gigi. Di tempat ini terdapat ikon yang bagi saya amat melekat bagi warga Wonogiri : dua patung singa. Di belakang toko ini terdapat kampung Jagalan, di mana waktu saya kecil pernah tinggal di sana.

Rumah kontrak orangtua saya, Kastanto Hendrowiharso, kini menjadi Hotel Cendrawasih. Persis di depan rumah mBah Sari, jagal dan pebisnis daging sapi terkenal. Dua patung singa itu saya kenal, kiranya sejak saat itu, tahun 1959. Jadi sudah setengah abad lebih keduanya setia berjaga di sana.

Dari patung singa arah ke utara, terdapat rumah tempat tinggal juragan bis, Pak Kamto. Walau tidak kenal akrab, saya mengenal putri dan putranya. Antara lain Mas Tantyo, Endang (Kempong), Bambang dan Eddy (Gembrot).

Nama terakhir ini sempat saya potret secara mencuri-curi saat kita sama-sama menghadiri pemakaman ulama terkenal KH Abdullah Sadjad, di pemakaman Kajen, 16 Desember 2008. Di bulan akhir Juni 2009, Eddy yang sama-sama bersekolah (adik kelas) di SD Wonogiri 3 dan SMP Negeri 1 Wonogiri itu, telah dipanggil Yang Maha Pencipta di Serang. Dimakamkan di Solo.


Candu Wonogiri. Saya meliwati jalan di sebelah utara rumah almarhum Eddy yang kini disewa untuk toko kacamata Pranoto Optik. Ke arah barat, naik, menyeberangi rel, lalu mendaki kampung Gerdu. Jalan terjal menanjak sepanjang 100-an meter itu membuat terengah. Tetapi selepasnya, badan ini menjadi agak berkeringat. Kemudian disusul hembusan lembut udara pagi Wonogiri yang ramah membelai sekujur badan. Kesegaran semacam ini memang candu.

Sayang, candu semacam ini tak punya banyak pengikutnya yang fanatik di Wonogiri. Di antara yang sedikit sebagai the morning walker itu adalah Pak Mufid Martohadmojo, mantan guru bahasa Inggris saya di SMP Negeri 1 Wonogiri. Beliau dan kawan-kawan sebaya saya temui bila dalam perjalanan rute selatan. Pak Mufid masih sehat dan bugar, tetapi tidak mau mengatakan ketika saya tanya usianya. Kini kami memang rada sering bertemu di Perpustakaan Wonogiri.

Dulu saya juga sering berpapasan dengan rombongan para lady, terdiri ibu, kenalan dan putrinya, yang juga berolahraga jalan kaki pagi. Tempat awal berangkat mereka adalah toko keramik dan bahan bangunan Metropolitan, di ujung jalan arah dari Gununggiri. Selain kadang bertukar senyum, juga berucap selamat pagi, ketika kita berpapasan. Kini encounter semacam itu sangat jarang terjadi.

Pedang keadilan. Rute saya akhirnya sampai ke jalan raya di kawasan Wonokarto. Saya belok ke kiri ketika sampai di perempatan pos polisi.Kalau terus ke utara, arah menuju Solo, saya akan melewati di Gedung Pengadilan Negeri Wonogiri.

Di gedung tersebut akhir-akhir ini mencuat kasus persidangan mirip yang terjadi dengan Prita Mulyasari vs RS Omni di Tangerang dan Khoe Seng Seng dkk di Jakarta. Nama terakhir ini, sekitar setahun ini, menggalang kontak SMS dan email dengan saya terkait kasus pencemaran nama baik yang dituduhkan raksasa properti Jakarta terhadapnya. Tanggal 5/7/2009, Khoe Seng Seng sempat tampil di acara Democrazy, di MetroTV.

Kasus di Wonogiri itu adalah tentang 6 warga yang dipidanakan oleh bidan desa Wahyu Kristiani. Keenam terdakwa itu penduduk Dusun Parangjoho, Desa/Kecamatan Eromoko, yakni Komari, Sukijo, Mardi, Sukardi, Sugeng Riyanto dan Supadi. Keenamnya disidang karena membuat laporan bersama, berisi keluhan yang dikirimkan ke Kepala Puskesmas Kecamatan Eromoko dengan tujuan agar pelayanan kesehatan makin baik.

Warga mengeluh, karena bidan Wahyu tidak senantiasa siap di Poliklinik Desa Eromoko, membuat warga kesulitan saat membutuhkan jasa pelayanannya, terutama ibu hamil tua yang akan melahirkan. Bidan itu juga dilaporkan sebagai ingkar janji dalam mengurus akta kelahiran enam anak. Dia juga diduga tidak menyalurkan bantuan stimulan untuk posyandu.

Menurut laporan wartawan Bambang Purnomo Untung Sabdodadi (“beliau teman saya satu kelas II-A di SMP Negeri 1 Wonogiri”) dari Suara Merdeka (30/6/2009), para terdakwa membuat surat secara kolektif itu sampai dua kali.

Surat kedua itu dibuat atas saran pimpinan Puskesmas Eromoko, dokter Supriyadi, dengan dukungan warga dari 10 RT di empat dusun, yakni Parangjoho, Bon Agung, Geritan, dan Gedong. Keenam warga yang kritis itu justru dituntut hukuman masing-masing enam bulan penjara dengan masa percobaan selama 12 bulan.

Kisah belum berakhir. Pada pembelaan (6/7/2009), mereka ingin dibebaskan. Semoga pedang hukum yang memihak akal sehat, demi menopang sendi-sendi kehidupan berdemokrasi dan rasa keadilan bagi rakyat, sebagaimana yang dialami oleh Prita Mulyasari, nantinya juga bisa berhembus di Wonogiri. Bebaskan Komari dan teman-teman !

Photobucket

Photobucket


Viva forever ! Angan-angan tentang bebasnya Pak Komari dkk. membuat saya menengadah ke awan biru. Di sana, sebelum belok kiri menyusuri Jl. Tentara Pelajar, pandangan saya terantuk kepada papan iklan raksasa yang kosong di dekat pos polisi kota itu.

Papan tersebut sebelumnya diisi informasi dan promosi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Baliho itu mereka eksekusi seperti sajian brosur. Orang perlu berhenti berlama-lama untuk membacanya. Padahal, menurut ilmu komunikasi pemasaran, isi baliho dirancang agar mampu memiliki daya pikat magis dalam dua-tiga detik bagi warga yang melintas jalan raya itu. At highway speeds, you only have about two seconds to deliver your message and make it stick.

Daya pikat magis itu memang menyergap saya pagi itu. Saya nikmati. Sambil senyum-senyum. Agak kecut. Karena di halaman kosong dari baliho tersebut tertulis kalimat : “Spice Iklan Disewakan.” Pada kesempatan lain, pada spanduk yang memromosikan acara jalan santai memeringati HUT Wonogiri ke-268, saya baca kalimat berikut : “Rebut Grand Prize Utama 1 Unit Sepeda Motor. Door Price : Kulkas, VCD, TV 14, Dll.”

Kata di baliho itu mengingatkan saya akan kelompok penyanyi cewek asal Inggris, Spice Girls. Salah satu personilnya, Posh Spice, adalah istri David Beckham. Yang lainnya, Emma “Baby Spice” Bunton, memiliki senyum memesona mirip Miduk, salah wanita terindah saya. Kelompok ini saya kenal ketika bergabung Luciano Pavarotti dalam konser penggalangan dana untuk anak-anak korban perang di Liberia,1999.

Penampilannya bersama Pavarotti dalam lagu “Viva Forever” menyertai keheningan yang menawan. Saat itu saya tenggelam di sofa empuk ketika menjelajahi isi buku inspiratifnya John Howkins, The Creative Economy : How People Make Money From Ideas (2001). Lokasinya : toko buku QB, Jalan Sunda Jakarta, 29 Juli tujuh tahun lalu.

Photobucket

Simfoni nomor sembilan. Penggunaan kata bahasa Inggris dalam media luar ruang yang menggelitik itu, akan semakin diperkaya nuansanya bila Anda sedikit jeli membaca-baca bagian luar bis mini yang wira-wiri di Wonogiri.

Misalnya, saya pernah menaiki bis mini yang terdapat tulisan, “Linkin’ Park.” Bis itu saya naiki ketika ikut rombongan mengantar om saya, Sriawan, untuk dimakamkan ke Pokoh. Mungkin karena suasana duka, dalam sepanjang perjalanan di bis itu tidak terdengar, misalnya lagu “In The End” yang berisi rapnya Mike Shinoda dan teriakan melodius dari Chester Bannington yang vokalis utama grup asal California itu.

Bagaimana bila kita menaiki bis mini di Wonogiri (foto) yang bergambar wajah komponis Jerman, Ludwig van Beethoven (1770–1827) ? Keren juga, pikir saya, ketika bisa memotret dua bis bergambar komponis yang kemudian jadi tuli di usia 30 tahun kelahiran Bonn itu di kota Wonogiri ini.

Betapa mengagumkan karena di Wonogiri ada penggemar lagu-lagu klasik yang fanatik, yang bahkan dikesankan merakyat karena wajahnya dipajang di kendaraan umum untuk rakyat.

Tetapi saya pesimis. Bila menaikinya kita tidak akan mendengar sajian simfoni nomor sembilannya yang terkenal itu. Lagu ini dalam versi pop saya kenal tahun 1972, saat saya bersekolah di Yogya. Dibawakan penyanyi Miguel Rios, berjudul “Song of Joy.” Lagu kesayangan Gus Dur itu pada tahun 2000, atas usul saya, juga agak sering dikumandangkan di Stadion Manahan Solo oleh kelompok suporter Pasoepati.


Sewu kutho. Di dalam bis mini Wonogiri, baik yang memajang label Linkin’ Park atau wajah Beethoven itu, mungkin yang justru sering terdengar adalah lagu-lagu campursari. Ketika saya nunut dari Kedungringin ke GOR Donoharjo, di bis mini rute Wonogiri-Manyaran yang disopiri Wiyono (foto), anak om Mulyono dari Cengkal Wuryantoro, yang menggeber di dalamnya adalah juga lagu-lagu campur sari.

Tidak hanya di bis-bis mini atau perhelatan pengantin, bahkan dalam acara peresmian Ekspedisi Bengawan Solo Kompas 2007 (EBSK 2007), 9 Juni 2007, di Obyek Wisata Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, juga menggema lagu-lagu campursari. Yang ikut menyanyi adalah Mardiyanto, Gubernur Jawa Tengah saat itu dan Begug Purnomosidhi, Bupati Wonogiri.

Pak Bupati satu ini punya lagu favorit, Sewu Kutho-nya Didi Kempot. Lagu bertema lelaku pria yang menjelajah seribu kota untuk menemukan cinta itu selalu ia nyanyikan dimana-mana. Isi lagu ini lalu ia wujudkan dengan seringnya main wayang kulit dan membawa misi kesenian Wonogiri ke pelbagai kota. Bahkan sampai Belgia dan Singapura.

Aksi ngelencer-nya ini sering jadi bahan gunjingan tak sedap, dengan dipertanyakan oleh anggota DPRD, baik tujuan sampai siapa yang membiayai. Selalu saja memunculkan kontroversi demi kontroversi. Tapi selalu pula tidak tuntas sampai warga Wonogiri menjadi lupa sendiri.

Dengan demikian apa Pak Begug itu selama ini telah memberi nama jelek bagi misi kesenian Wonogiri, bagi Wonogiri, sekaligus bagi campursari ? Atau sebaliknya ? Kita tunggu sesudah ia lengser pada tahun 2010 nanti.


Hanya pemoles bibir. Yang pasti, campursari, di masa depan bagi warga Wonogiri, nampaknya akan tetap lestari. Karena nampaknya calon-calon bupati Wonogiri masa depan seleranya juga tidak akan jauh-jauh dari campursari.

Dalam Pilbup 2005 lalu, misalnya, ada kandidat yang berkampanye dengan mengedarkan CD campursari. Ia sendiri yang mengarang lagu-lagunya, menyanyikannya, menjadi aktor dalam videonya, sekaligus menjadi produsernya. Tetapi saya tidak tahu apakah ia juga mampu menyanyikan lagu-lagu itu secara live di depan audiens.

Campursari juga jadi senjata dalam Pilbup 2010 mendatang ini. Baru-baru ini, seorang teman yang mengelola kafe, menyodorkan kepada saya CD lagu-lagu campursari. CD tersebut ternyata dirancang oleh sang produser sebagai sarana sosialisasi dirinya guna memperebutkan kursi bupati Wonogiri 2010 mendatang.

Gambar dirinya dalam sampul, dapat diduga sebelumnya, mengenakan beskap Jawa. Memegang keris. Dalam salah satu lagunya, tentu saja ada lirik yang memuja-muji Wonogiri, termasuk Gunung Gandul (saya potret ketika muncul pelangi), aset wisata yang puluhan tahun terbengkalai itu. Hanya jadi buah bibir semata. Dinyanyikan tetapi tidak dipikirkan, tidak diperhatikan.

Tetapi, anehnya, di nomor selanjutnya, entah kenapa, muncul lagu yang memomrosikan Rowo Jombor Klaten sebagai tujuan wisata. Lagu ini, membuat saya sebagai wong Wonogiri, merasa mentah-mentah ia khianati. Sebagai calon bupati Wonogiri, mengapa ia perlu cengkre, ikut-ikut mengurusi Jombor pula ?

Mencerdaskan rakyat. Saya bukan anti lagu-lagu campursari. Saya juga tidak tahu efektivitas media satu ini dalam memengaruhi konstituen ketika berlangsung sebuah pilihan bupati. Yang saya tahu, media ini bersifat searah. Karakternya persis seperti baliho atau spanduk yang riuh dipajang di jalanan saat kampanye Pileg atau Pilpres 2009 yang lalu.

Sarana kampanye satu ini semua seragam berisikan kata-kata sebagai berikut : “Hai rakyat, dengarkanlah dan ikuti kata-kataku. Percayai janji-janjiku, dan pilihlah aku !”

Para politisi itu seolah berada di atas, rakyat berada di bawah mereka, rakyat jadi subordinat mereka, sekaligus mengira rakyat itu bodoh dan mudah mengikuti apa saja kata mereka. Persepsi itu salah besar. Mereka harusnya mau belajar dari ujaran Rebbeca MacKinnon, seorang blogger dan peneliti di Universitas Harvard yang mantan wartawan CNN di Beijing dan Tokyo.

Rebecca MccKinnon bilang, seseorang lebih mampu menyerap dan mengelaborasi kembali informasi secara lebih mendalam bila yang bersangkutan dilibatkan dalam diskusi mengenai materi tersebut. Bahkan mereka akan memiliki pemahaman lebih mendalam lagi bila dirinya mampu menuliskan opini tentang hal bersangkutan di ruangan publik.

Merujuk tesis itu, hemat saya, baik untuk untuk mensosialisasikan pemilu, aturan-aturan baru, juga individu calon legislatif atau calon eksekutif, sudah seharusnya rakyat diajak untuk berdiskusi. Ujung puncaknya mereka diajari untuk menulis di beragam media. Baik berupa surat-surat pembaca, sampai artikel di media massa, atau pun di blog-blog mereka di Internet.

Termasuk membebaskan mereka untuk menuliskan kritik untuk para calon legislatif atau calon eksekutif bersangkutan. Mereka yang kritis jangan sekali-kali dihantam dengan palu hukum seperti yang dialami Pak Komari dan kawan-kawan dari Eromoko dalam cerita di awal tulisan ini.

Dengan demikian, maka papan peraga kampanye di jalanan, juga CD berisi lagu-lagu campursari itu, bukan sebagai media indoktrinasi. Bukan pula media searah, yang merendahkan sekaligus membodohi rakyat. Tetapi lebih merupakan undangan awal bahwa calon legislatif atau calon eksekutif bersangkutan bersedia membuka telinga untuk mendengar aspirasi rakyat. Kemudian terjadilah percakapan, rembugan, diskusi dan interaksi.

Bangkit, blogger Wonogiri ! Media komunikasi yang interaktif tersebut, kini telah tersedia. Internet. Tersaji di sana beragam media sosial sebagai sarana corong warga berbicara. Ada blog, juga Facebook. Terkait media-media sosial ini saya pernah menjual gagasan untuk mengadakan pelatihan ngeblog di Wonogiri.

Saya ajukan gagasan ini kepada dua pengelola warnet di Wonogiri. Tidak berhasil. Ketika itu bulan Puasa, idenya adalah mengadakan acara Ngabuburit with Ngeblog. Saya ajukan ke kepala perpustakaan Wonogiri. Kemudian coba saya hubungi fihak Telkom Wonogiri. Rupanya hari baik untuk gagasan itu belum tiba.

Termasuk ketika saya mencoba mengetahui apa kira-kira pendapat tokoh Wonogiri tentang Internet sebagai sarana mendemokratisasikan dan memakmurkan Wonogiri di masa depan, saya mencoba kontak dengan salah seorang dari calon bupati Wonogiri 2010 mendatang. Kepada salah satu dari mereka yang menjagokan ingin maju, yang memiliki tiga gelar akademis itu, saya mengirimkan SMS kepadanya.

Inti isi SMS saya : untuk menggalang silaturahmi ke depan sebagai sesama warga Wonogiri, saya ingin memperoleh informasi alamat email dan situs tokoh yang bersangkutan. Saya cantumkan juga alamat email saya : wonogirinews (at) yahoo.co.id. Biaya SMS yang habis saya keluarkan memang hanya Rp. 150,00. Biaya untuk membalas SMS standar juga sama, bukan ?

SMS itu saya kirimkan 9 Juni 2009.
Sampai kini sama sekali tidak memperoleh balasan.


Wonogiri, 10-11 Juli 2009


tmw

Thursday, April 23, 2009

Wonogiri, Glasgow, Sepakbola, Cinta

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Tsunami sepakbola. Mie mentah dan dingin campur saus plus sambal. Itu salah satu menu sarapan saya pagi itu. Ini kesalahan pemula. Kesalahan wong ndeso di kota metropolis Singapura. Karena saya tidak sadar bahwa di dekat nampan mie itu ada kompor gas kecil yang diatasnya terdapat kuali tembikar berisi kuah panas untuk menjerang mie tadi. Maklum saja, saya bukan ahli gastronomi.

Sambil sarapan, saya membuka-buka majalah Newsweek edisi terbaru. Salah satu kolomnya ditulis editornya yang cemerlang, Fareed Zakaria. Hari itu, 17 Januari 2005, hanya berselang tiga minggu setelah tsunami dahsyat menghantam Aceh dan negara-negara di tepian Samudera Hindia.

Fareed Zakaria menulis, dalam setiap kejadian bencana, fihak yang diuntungkan adalah justru kaum papa. Kaum miskin. Mereka terbiasa tidak memiliki apa-apa dan sesudah bencana, mereka kembali juga tidak memiliki apa-apa. Tetapi, lanjutnya, bencana tsunami 2004 itu lain. Kaum miskin kali ini juga sangat merasakan akibat fatalnya.

Beberapa hari sebelumnya, saya memimpikan adanya sesisir penghiburan bagi para korban tsunami, juga bagi psyche bangsa Indonesia saat itu. Melalui sepakbola. Di final Piala Tiger 2004. Di semifinal tim kita bisa menghancurkan Malaysia 1-4 di kandang mereka, sungguh menggelorakan.

Tetapi dalam pertandingan final leg pertama di Senayan, 8/1/2005, kita kalah ditekuk Phill Bennet dan kawan-kawan dari Singapura dengan 1-3. Gol tembakan bebas Mahyadi Panggabean tidak menyelamatkan saya, yang duduk di pinggir lapangan, karena nyaris dihantam bom botol air mineral berisi air kecing kekuningan yang dilemparkan oleh penonton kita yang frustrasi dari tribun stadion.

Heal the nation.” Itulah bunyi spanduk besar, rancangan saya dan Mayor Haristanto, yang pada tanggal 16/1/2005, terpampang di sudut timur laut Stadion Kallang, Singapura. Tergurat di sana harapan, melalui sepakbola sembuhkan luka bangsa Indonesia akibat bencana tsunami, dan bangkitlah Indonesia untuk meraih kemenangan dan kejayaan. Kita kalah lagi, 1-2. Agregat : 2-5 untuk kejayaaan Aedi Iskandar dan kawan-kawan dari Negeri Singa itu. Tsunami sepakbola Indonesia kali ini membawa dampak lebih jauh. Mengalir kepedihan sampai kini.

Sepakbola fantasi. Esoknya, ada sedikit penghiburan. Koran utama Singapura, harian The Straits Times (17/1/2005) memuat ucapan saya. Bahwa saya masih punya optimisme terhadap masa depan sepakbola Indonesia. Saya masih mempercayai bahwa Peter Withe, pelatih timnas saat itu, akan mampu membuat timnas kita kembali berjaya.

Optimisme saya itu mungkin optimisme buta. Saya hanya menganalogikan sukses yang dicapai oleh Peter Withe (sampai saya membuat kaos dengan slogan : I Believe The Withe Magic !) ketika melatih tim Thailand, akan juga berbuah sukses ketika melatih Ponaryo Astaman dan kawan-kawan.

Ketika Peter Withe pergi, ketika Nurdin Halid masuk penjara karena tindak pidana korupsi dan ketika Nurdin Halid keluar dari penjara tetapi ia bersama kroninya tetap bersikukuh ingin memegang kendali PSSI, saya kali ini sudah putus harapan. Melalui stasiun televisi antv, beberapa hari lalu, tiba-tiba saya melihat siaran berisi acara peringatan HUT ke-79 PSSI.Dengan tajuk “PSSI Fantasy.” Maka saya pun segera semakin tahu kini : sepakbola Indonesia adalah sepakbola fantasi.

Fantasi-fantasi itu, khayalan demi khayalan itu, memang yang hidup di kepala para pengelola persepakbolaan Indonesia. Berkhayal dengan mengirimkan tim berlatih ke luar negeri akan mampu mendongkrak prestasi. Rumus lama yang selalu didaur ulang walau hasilnya semata kegagalan selama ini. Lalu berkhayal sebagai penyelenggara Piala Dunia 2018 atau 2022. Termasuk mungkin berkhayal, bahwa saat itu ketua PSSI tetap digenggam oleh Nurdin Halid beserta kroni-kroninya.

Mana aksi suporter kita ?. Tulisan Fareed Zakaria, juga cerita yang sering saya ulang mengenai final Piala Tiger 2004 di atas, muncul di benak lagi ketika ngobrol dengan Stuart Bruce. Ia suporter fanatik klub papan atas Skotlandia, Glasgow Rangers. Tempat ngobrolnya : Wonogiri, Kamis, 23 April 2009.

“Sebagai seorang Scotland, Stu itu Rangers sejati, sampai ke tulang dan darahnya :),” demikian bunyi sms dari Ade Soediro, eksekutif Radio Istara FM, Surabaya. Ade adalah tunangan dari Stuart Bruce (foto). Bagaimana ceritanya seorang suporter Glasgow Rangers bisa main ke Wonogiri ? Keajaiban itu bisa terjadi berkat blog di Internet, karena Google, terutama karena keagungan cinta. Hal ini bisa menjadi cerita tersendiri, termasuk menyangkut naskah buku saya Hari-Hari Sepakbola Indonesia Mati.

Stu kini tinggal di Manchester, Inggris. Sebagai seorang billy boys, sebutan bagi suporter Glasgow Rangers, ia pernah melanglang daratan Eropa. Juga sebagai seorang tartan army, sebutan bagi pendukung timnas Skotlandia. Suporter dari bangsa yang kaum prianya suka mengenakan rok kilt dan berbaris meniup alat musik bagpipe ini, tersohor tergolong sebagai kelompok suporter paling suportif dan sopan di Eropa.

The Tartan Army,” kata saya, “ dan juga Roligans dari Denmark, adalah kelompok suporter sepakbola yang perilakunya ingin menjadi suri tauladan kelompok suporter Indonesia.” Karena mereka bersahabat. Saat itu di pojok ruang tamu rumah saya, komputer sedang memutar CD saat kedatangan Pasoepati disambut meriah, gairah dan persahabatan, di tengah gemuruh Aremania di Stadion Gajayana, Malang, 21 Mei 2000. Saat itu tepat satu tahun reformasi di Indonesia !

Stuart Bruce, yang pernah menjadi dosen Sastra Inggris di Unika Sugiyopranoto Semarang, kini mendukung tim divisi 3 Stockport City di Manchester. “Kalau tur keluar kota, saya yang menjadi supir truk untuk membawa rekan-rekan suporter itu,” katanya bangga dan bahagia. Pengalaman hidupnya mendukung tim Skotlandia dan juga Glasgow Rangers yang diakuinya kurang bersinar di kancah Eropa, memberinya kebijakan dan kearifan. “Sebagai suporter tim lemah itu nothing to lose, kita terbiasa mengalami kekalahan, maka kita berusaha menikmati saja proses dan bukan hasilnya,” katanya sambil tertawa.

bambang dan stuart bruce
Suporter sepakbola itu bersaudara. Keajaiban blog, Google, Internet dan keagungan cinta, membawa seorang suporter Glasgow Rangers, Skotlandia, berkunjung ke Wonogiri. Saya dan Stuart bersama kaos tim Glasgow Rangers.

Terima kasih, Stuart. Dalam kunjungan ini Stuart Bruce “membaptis” saya sebagai salah satu bluenoses, sebutan sesama suporter Rangers, asal Wonogiri. Hadiahnya, kaos biru berplisir merah dari yang pernah dikenakan Giovanni van Bronckhorst, keturunan Maluku Selatan dan timnas Belanda sampai Andrei Kanchelskis, pemain sayap Rusia dan mantan MU itu, kini bisa yasa kenakan. Kepada Stuart Bruce, saya berikan buku kliping sejarah Pasoepati dan dokumentasi tur-tur Pasoepati dalam bentuk CD.

“Congrats ! Selamat menjadi fans baru Rangers !,” lagi-lagi sms dari Ade Soediro dan Stuart Bruce dalam perjalanan kereta api Solo-Surabaya. Mungkin Ade dan Stu lupa, rumah saya pun sudah lama menandakan sebagai fans Rangers. Pagar, daun jendela dan daun pintu, semuanya berwarna : biru Rangers. Kedatangan tak terduga dari Stuart dari Glasgow akhirnya itu ibarat sebuah siklus yang sempurna. Karena pada tahun 2007, Broto Happy W., redaktur sepakbola nasional dari Tabloid BOLA, yang adik saya, pernah mengunjungi Ibrox Stadium, markas besar klub Glasgow Rangers.


Teladan Gandhi. Teman-teman baru saya itu kini memang sudah meninggalkan Wonogiri. Tetapi ucapan Stuart Bruce masih membekas. Bahwa proses itu penting, walau hasil juga penting. Perjalanan itu penting, tujuan juga penting.

Menurut hemat saya, insan-insan pemangku kepentingan sepakbola Indonesia harus mau banyak belajar dari pengalaman hidup Stuart Bruce tadi. Menurut hemat saya, kita selama ini semata terobsesi untuk merengkuh hasil tetapi melupakan proses. Bahkan demi merengkuh hasil itu kita tega berbuat menghalakan segala cara, bahkan sampai melakukan tindakan kriminal.

Contoh aktual : aksi mengutak-atik bunyi peraturan FIFA oleh para petinggi PSSI kita, apakah juga perbuatan yang menghalalkan cara, sekaligus sebagai tindak kriminal ? Mungkin ikhtiar semacam ini bisa lolos. Tetapi hasil akhirnya akan dicatat oleh semesta, dan hanya kegagalan yang menyapa pada ujung-ujungnya.

Di tengah carut-marut tindak rekaculika itu, lalu di mana suara para suporter sepakbola Indonesia ? Kalau upaya meluruskan apa yang terjadi dalam tubuh PSSI saat ini dilakukan dengan cara seperti melakukan demo, justru cara seperti ini yang “ditunggu” oleh mereka. Apalagi kalau ada tindak kekerasan. Kita para suporter akan terjebak dalam alunan gendang aksi mereka.

Rekan-rekan suporter, beraksilah dengan metode di luar kotak. Tirulah cara Mahatma Gandhi (1869-1948) dalam menanggapi tindak kekejaman kolonial Inggris saat itu ketika India menjelang kemerdekaannya. Gandhi menyerukan pendukungnya untuk melakukan aksi anti kekerasan. Salah satu aksinya yang terkenal adalah satyagraha, aksi non-koperasi dengan penguasa sipil. Kalau seluruh suporter Indonesia kompak, melupakan dulu konflik semu antarkota, meminggirkan primodialisme, demi masa depan sepakbola Indonesia di tataran terhormat sepakbola dunia, kita mungkin mampu merubah keadaan.

Ketika memperingati sewindu Hari Suporter Nasional, 12 Juli 2008, bersama rekan-rekan suporter Solo, saya merancang melakukan aksi demo berdiam diri di Gladag, Solo. Pesannya adalah, untuk memprotes pengelolaan sepakbola Indonesia saat ini, menurut saya cara yang paling efektif adalah dengan : tidak menonton pertandingan sepakbola Indonesia.


Wonogiri, 24 April 2009

Friday, April 3, 2009

Facebook, Beautiful Girl, Pulomas 1997

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Gadis Pulomas minggu pagi. Awas : berhenti merokok mampu menimbulkan penyakit baru. Penyakit getol membual. Membual karena telah berhasil melepaskan diri dari cengkeraman kecanduan nikotin, yang bagi saya pribadi sudah berlangsung selama hampir 17 tahun.

Saya mampu berhenti merokok tahun 1989. Pada tahun yang sama, saya mulai melakukan olah raga jalan kaki pagi. Sampai kini. Beberapa orang melakukan jalan kaki pagi sebagai waktu untuk berdoa, bermeditasi atau berpikir. Secara sendirian melakukan jalan kaki akan membantu Anda memperoleh perspektif dan keseimbangan.

Jalan kaki bermanfaat untuk mengurangi stres, menjernihkan pikiran, menggali sisi kreatif Anda, menemukan gagasan-gagasan baru dan memecahkan masalah. Demikian kesimpulan situs AARP (American Association of Retired Persons), organisasi kaum pensiunan Amerika Serikat.

Saat itu, saya tinggal di Jalan Belimbing, Balai Pustaka Timur, Rawamangun, Jakarta Timur. Komplek yang dulu bernama Gedung Pola itu, di seberang Apotik Rini, kini sudah menjadi ruko.

Arena favorit jalan kaki pagi saya di hari Minggu adalah lapangan Pulomas. Di bangku tribun lapangan pacuan kuda Pulomas itu pula saya mampu merampungkan buku Being Digital (1995)-nya nabi media dari Media Lab MIT, Nicholas Negroponte. Buku teknologi informasi yang mampu membuat saya menangis karena optimisme yang ia semaikan di dada ini mengenai masa depan dunia digital yang gemilang.

Di sekitar area lapangan pacuan kuda itu terdapat dua lapangan yang diisi dua kelompok senam yang berbeda. Ada senam kesegaran jasmani yang dipandu dengan lagu-lagu pop/disko, yang bergairah, sementara kelompok lain melakukan senam pernafasan dengan iringan musik bernuansa Mandarin yang lebih lamban.

Saya tidak ikut keduanya. Saya memilih memutari lapangan, 3-5 kali, berlawanan arah jarum jam. Dengan cara demikian saya bisa “mengabsen” sosok-sosok asing tetapi terasa akrab di area tersebut, familiar strangers, karena kita senantiasa bertemu di minggu pagi.

Ada sekelompok bapak-bapak yang berbahasa Batak. Ada pasangan setengah baya, 2sementara anak gadisnya dibiarkan berjalan sendirian. Ada keluarga muda, berdua berkeliling dengan mendorong kereta bayi. Kelompok pria bersepeda nampak duduk-duduk di pinggir jalan yang memisahkan kedua lapangan. Mereka mengobrol sambil istirahat dan cuci mata. Ada mobil bak terbuka, di dekat mereka, yang jualan susu kedele. Di sisi utara terdapat warung dengan kursi dan meja yang selalu penuh pembeli.

Beautiful girl. Salah satu di antara familiar strangers yang rasanya ingin selalu saya temui di tiap minggu pagi, antara 1996-1997 itu, adalah si grasshopper. Ah, ini hanya nama kode, nama rekaan, untuk menggambarkan sosok perempuan dengan kaki belalang yang menawan. Ia selalu datang sendirian. Menaiki sepeda. Kemudian kadang menghilang, tahu-tahu sudah mingle di antara peserta senam. Tentu saja bukan pada kelompok senam pernafasan, yang didominasi kaum sepuh, para manula.

Ia ideal untuk sosok pemain bola volley. Atau model. Tingginya sekitar 168-170 cm. Menjulang dan menonjol. Selalu memakai topi baseball warna turquoise, biru kehijauan. Kuncir ekor kuda menyeruak lubang bagian belakang topinya. Kami merasa saling mengenal, ada feeling, walau tanpa tahu nama masing-masing.

Beautiful girl, mungkin demikian seorang Jose Mari Chan akan menyebutnya seperti cerita dalam lirik lagunya yang berjudul sama : mengenai gadis cantik menawan, berkelebat di depan matanya, yang membuatnya jatuh cinta, dan kemudian ia kuatirkan dirinya menghilang selamanya seperti “gita di waktu malam.” Ia memang menghilang sejak minggu pagi 25 Mei 1997.

Mungkin ia kecewa. Gestur yang ia munculkan, yang menandakan keinginannya untuk bisa saling mengenal di saat itu, tidak saya tanggapi secara agresif. Minggu-minggu berikutnya ia tak muncul lagi. Craig Newmark melabeli momen seperti ini sebagai missed connections dan menjadi salah satu layanan dalam situsnya yang terkenal.

Sejak Januari 1998 saya pun meninggalkan Jakarta, sampai kini. Sehingga sang belalang menawan itu tinggal berenang-renang dalam samudera kenangan. “Swimming forever in my head / tangled in my dreams / swimming forever,” meminjam lirik dari “Radio”-nya The Corrs.


Omongan tolol. Keriuhan setiap minggu pagi di lapangan Pulomas itu boleh jadi mirip yang Anda alami dan rasakan bila Anda terjun sebagai warga situs jaringan sosial seperti Facebook. Sebagian dari mereka yang memang Anda kenal sebagai pribadi, baik mantan kekasih sampai teman kuliah dua puluh tahun lalu, tetapi sebagian besar boleh jadi merupakan orang-orang asing yang akrab atau hanya berlaku sok akrab bagi Anda.

“I want to hate Facebook, but it's getting so hard,” tulis Paul J Rose dari Merchandise Mania di blognya, Januari 2009 yang lalu. Ia bertanya : dapatkah Anda membayangkan dalam suatu pesta di mana semua orang mengenalkan dirinya sebagaimana mereka mengenalkan diri di Facebook ? “Hai, saya Paul dan saya akan mengenalkan diri dengan seseorang yang asing sekarang : maukah Anda menjadi teman saya ?” Menurutnya, cara semacam itu bukan networking. It’s drivel, cetusnya.

Terima kasih, Paul. Menarik juga penilaian Anda. Yang saya tahu, setelah omongan tolol itu memperoleh klik konfirmasi sehingga perkawanan baru terjadi, semua warga keriuhan dalam Facebook itu ingin memperebutkan atensi Anda. Bukankah Thomas Mandel dan Gerard Van der Leun dalam bukunya Rules of The Net : Online Operating Instructions for Human Beings (1996) telah menyimpulkan, the hard currency of cyberspace is attention ?

Bila kita memperoleh atensi, kita merasa baik. Semakin banyak atensi yang kita peroleh, semakin kita merasa berharga di depan teman-teman Facebook lainnya. Hal itu mencandu (baca : 10 Tanda Kecanduan Facebook), juga diam-diam bisa menjengkangkan kita terjun bebas menghuni lonely planet, istilah dari Elizabeth M. Johnson, karena hubungan yang terjadi bukanlah hubungan yang autentik. Mudah-mudahan saya bisa menuliskan topik ini secara rinci di lain kali.

Mana untuk saya ? Facebook juga membuat kita menjadi insan-insan pengintip dan penguping. Walau sejatinya, menurut saya, apa yang kita kuping atau yang kita intip dari foto-foto sampai video mereka tersebut sebagian besar seringkali hanya bermakna bagi mereka yang memajangnya.

Dengan demikian, bila setiap kali kita membuka akun Facebook dengan berbekal WIIFM, What’s In It For Me, mungkin kebanyakan kita akan kecewa. Mungkin rentetan kekecewaan semacam itulah yang membuat seseorang teman memposting di wall-nya bahwa ia ada niatan ingin mundur dari jaringan Facebook. Tak ada nilai tambah yang ia peroleh, begitu alasannya. Alasan yang sah. Juga patut dihargai. Walau mungkin ia kurang bersabar. Atau memang terlalu menuntut dalam memperoleh kue-kue pergaulan dunia maya, yaitu atensi tadi.

Dalam kerumunan familiar strangers semacam Facebook memang telah dibuka peluang bagi kita untuk berhimpun dalam kelompok, group, yang memiliki minat tertentu. Layanan yang bagus. Sayang, pengalaman pahit saya, yang terasa menjengkelkan, adalah ketika mendapatkan rentetan message dari pemilik kelompok itu yang isinya tidak sesuai dengan visi-misi sampai jati diri kelompok bersangkutan.

Saya, tentu saja melayangkan protes. Bila protes ini tidak digubris, maka meninggalkan kelompok bersangkutan merupakan pilihan yang mungkin segera saya lakukan. Seperti halnya suasana kerumunan di lapangan Pulomas di minggu pagi, semua orang memang boleh datang dan juga boleh pula pergi.

Facebook adalah media jaringan sosial yang baru bagi saya. Saya bergabung berkat diajak Rdanz Kusuma dari Malang. Tanggal 19 Juli 2008. Teman pertama yang mengkonfirm drivel saya adalah : Petty Tunjung Sari.

Masih banyak hal yang harus saya pelajari dari Facebook. Untuk itu saya telah membuat folder tersendiri dalam file, di mana info yang terbaru antara lain Facebook can ruin your life sampai berita bahwa Birmingham City University di Inggris telah menawarkan gelar master di bidang media sosial. Di sini, para mahasiswa bakal diajar intensif dengan materi kuliah mengenai situs jejaring seperti Facebook, Twitter dan Bebo.

Facebook, dahsyat.

Tetapi kali ini saya tidak ingin muluk-muluk berharap mengenai kedigdayaan Facebook tersebut. Mengutip lirik lagunya Jose Mari Chan, ”Beautiful girl, wherever you are /I knew when I saw you, you had opened the door /I knew that I'd love again after a long, long while/I'd love again,” siapa tahu pesan ini mampu melambung ke kosmis, menyeruak di antara jutaan pengguna Facebook di dunia, sehingga sampai kepada yang berhak menerimanya.

Mungkin ini sebuah kekonyolan. OK. Tetapi itulah satu sisi kehidupan, di mana Carpenters dalam “Those Good Old Dreams” telah bersenandung indah tentangnya :


As a child I was known for make-believing
All alone I created fantasies
As I grew people called it self-deceiving
But my heart helped me hold the memories.


Wonogiri, 3-4/4/2009

Sunday, February 22, 2009

Lelucon Dari Jalanan

Majemuk. Pakar psikologi dari Universitas Harvard, Howard Gardner, memiliki tesis mengenai kecerdasan majemuk pada setiap orang. Kalau selama ini kita mengenal IQ, indeks kecerdasan yang diperoleh dari pengukuran kemampuan orang dalam bidang matematika dan bahasa, Gardner menjajar ada delapan jenis kecerdasan

Selain matematika dan bahasa, juga terdapat kecerdasan personal (memahami diri sendiri), interpersonal (memahami orang lain), kinestesia (olah tubuh), visual-spatial (pemahaman terhadap ruang dan bentuk), musikal, dan natural (memahami alam). Semua kecerdasan itu terdapat dalam diri seseorang, yang berbeda hanyalah kadar masing-masing.

Kaidah dari Howard Gardner itu berkelebat di benak, ketika mengamati pelbagai papan iklan yang bertebaran di pinggir jalan. Saya telah memotretnya, dan siap mendiskusikannya dengan Anda. Saya tunggu komentar Anda.



Promosi cewek. Di sebuah toserba di Wonogiri terdapat salon kecantikan yang nampaknya juga merangkap sebagai agen model disamping kegiatan lain sejenisnya. Silakan simak papan namanya di atas. Yang saya herankan, apa kira-kira yang mereka maksud dengan kegiatan female promotion itu ? Untuk apa mereka dipromosikan ?



Bedil dingin. Foto ini saya ambil di Karanganyar. Mungkinkah pembeli sesudah makan soto kwali atau kare, mereka boleh meminum bedil campur es ? Atau es kelapa muda ?



It’s a long way to go. Pijat kini menjadi kebutuhan banyak orang. Karena tuntutan kerja keras, mengakibatkan kecapekan (kesel dalam bahasa Jawa), membuat orang ingin relaks dan menyegarkan tubuh dengan pijat. Panti pijat pun marak, termasuk yang diiklankan di Sukorejo, Wonogiri di atas. Saya usulkan papan penunjuk arah itu bisa dibuat lebih kreatif : “Pijat untuk menyembuhkan rasa capek. Anda harus berjalan kaki 25 km lagi.”



Kecerdasan visual-spatial. Mungkin pemilik warung ini sedang menjajakan jenis sop kreasi baru. Sop buntet ? Sop buntit ? Sop buntat ? Sop buntot ? Karena belum terlatih dalam hal kecerdasan visual spatial, jadilah muncul kreasi masakan baru ini ?



Lebih bergengsi Warung di depan GOR Wonogiri ini tampilannya sederhana. Tetapi ketika mempromosikan barang dagangannya, tidaklah sederhana. Mereka menjajakan es dengan bahan jeruk, dari Inggris kah ?

Anda punya komentar ? Saya tunggu.

(BH)

Monday, November 24, 2008

Solo Cyber City Dalam Gugatan Blogger Solo

Oleh : Bambang Haryanto


Senyapnya blogger Solo. “Anda seorang blogger ?” Itulah pertanyaan yang mungkin paling manis bagi telinga seorang blogger. Hal itu saya alami pada sebuah sore hari yang bergairah di kawasan city walk Solo, 30 Juli 2008. Di sisi kanan dan kiri kawasan pedestrian itu ramai berjajar para netters dengan laptop mereka, asyik mengikuti aksi browsing Internet bersama di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, jalan utama kota Solo.

Acara tersebut, yang diikuti 468 peserta, merupakan aksi pemecahan Rekor Museum Indonesia (MURI) kategori browsing Internet bersama-sama. Tanggal 30 Juli kemudian dicanangkan sebagai Solo Cyberholic Day. Solo punya hari mabuk Internet. Solo punya hari gandrung Internet. Kota Solo sedang memamerkan otot kekuatannya di bidang teknologi informasi.

Pertanyaan kejutan “Anda seorang blogger ?” tadi muncul dari Gus Koko. Ia mengaku sebagai blogger dari Bandung. Ia berkalungkan kartu identitas dari Blogger Indonesia. Sore itu ia menyambangi hampir satu demi satu mereka yang sedang asyik dengan laptopnya, dengan pertanyaan serupa. Untuk yang sudah memiliki blog, ia melakukan tukar-menukar URL di secarik kertas bloknotnya. Untuk yang belum ngeblog, ia sarankan agar segera ngeblog.

Kami berdua lalu jalan bareng dan saya membeo saja sapaan dia itu. Saya terkesan dengan ikhtiar Gus Koko itu. Sampai-sampai saya tidak kritis atau skeptis untuk menanyakan cerita atau status organisasi yang tertera di kartu ID-nya itu. Bahkan saya tidak sempat memperhatikannya. Sesama blogger sebaiknya memiliki sangka baik, bukan ? Para blogger adalah bersaudara. Begitu kata hati saya.

Tetapi yang lalu mengusik adalah, ia juga menanyakan eksistensi blogger Solo saat itu. Gus Koko menyentil bahwa banyak peristiwa besar di Solo, tetapi liputannya di dunia maya hanya oleh media online yang standar. Itu pun tidak masif. “Mana blogger Solo ? Mana suara blogger Solo ?”


Urban guerrilla. Sebagai orang Wonogiri, walau kelahiran Solo, saya tidak tahu jawabnya. Rupanya, pertanyaan itu baru bisa agak terjawab empat bulan kemudian. Ketika berlangsung acara Jagongan Blogger a la Solo, 23 November 2008. Mengambil momentum Pesta Blogger Nasional 2008 (22/11/2008), para blogger Solo dapat saling bertemu. Lokasinya di gerai Speedy Hik, lantai 3, Solo Grand Mall.

Dengan dukungan Speedy Solo dan Laptop Solo, komunitas bloggger Pasarsolo.com, menggelar acara jagongan atau ketemuan sesama blogger Solo untuk rembukan. Topiknya kali ini menggugat kelanjutan proklamasi Pemkot Solo untuk merealisasikan diri sebagai sebuah kota cyber di tahun 2010. Juga mendata peran apa saja bagi para blogger Solo dalam mengisi proklamasi bersangkutan.

Dalam acara itu, yang kebetulan sebagai pencetus gagasan 30 Juli sebagai Solo Cyberholic Day, saya didaulat sebagai provokator untuk memancing lalu lintas sumbang saran dan obrolan. Pekerjaan saya relatif mudah ketika seorang blogger Solo (walau asal Makam Haji, Sukoharjo), Haris Firdaus, saya daulat untuk bicara. Karena mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS, fellow pada Kabut Institut, penulis buku dan kolom itu, telah menggugat kelanjutan program Solo Cyber City dalam artikelnya di harian Kompas Jawa Tengah (29 September 2008).

“Apakah konsep kota cyber yang hendak dicapai itu hanya sekadar pemasangan hot spot di tempat-tempat strategis seperti yang telah dilaksanakan sekarang, ataukah juga akan berimbas pada pengelolaan administrasi birokrasi, itu juga tak jelas,” gugatnya.

Ia pun merujuk pernyataan pakar TI internasional Onno W. Purbo, bahwa “tantangan utama membangun cyber city bukanlah pemasangan instalasi fisik teknologi internet. Perangkat fisik teknologi, kata Onno, hanya menjadi satu bagian kecil dari konsepsi kota cyber secara keseluruhan.

Tantangan terbesar justru membangun sebuah komunitas cyber yang berisi sumber daya manusia berkualitas yang mampu memproduksi informasi secara baik. Dalam istilah Onno, sebuah kota cyber hanya akan terwujud dan mampu bertahan hidup tatkala ada knowledge based society, masyarakat berbasis ilmu pengetahuan.”

Pak Jokowi, dengarkanlah. Saya pun tergoda untuk berandai-andai. Di manca negara, wacana sebuah cyber city sering mensyaratkan signifikansi persentase warga kota bersangkutan yang berkiprah dalam bidang teknologi informasi. Sebagai contoh adalah kota Seattle, di bagian utara Amerika Serikat itu. Disana telah bercokol perusahaan-perusaaan kampiun TI kelas dunia, seperti Microsoft, Google, Amazon.com dan belasan perusahaan-perusahaan TI baru yang menyerap tenaga-tenaga kerja baru di bidang teknologi informasi.

Pak Jokowi, pada tahun 2010 nanti sudahkah hadir perusahaan “Microsoft a la Solo”, “Google a la Solo”, atau “Amazon.com a la Solo” di Solo ? Mimpi memang halal dan sah untuk dilambungkan. Juga untuk para blogger Solo. Peserta jagongan kemudian nampak bersepakat kembsali ke bumi. Bahwa, biarlah Pemkot Solo menyelesaikan pekerjaan rumah mereka. Sedang para blogger Solo, yang oleh Haris disebut sebagai gerilyawan urban, harus hadir terus sebagai sumber-sumber suara kritis, dengan pertama kali harus mengasah amunisi terampuh mereka : otak mereka. Memperkaya isi blog-blog mereka.


Pasar gagasan kritis. Sumber-sumber suara kritis itu, yang memperoleh kanal relatif bebas, tentu saja nongkrongnya yang ideal di dunia maya. Internet dan terutama blog memang menjadi tumpuan untuk perjuangan penegakan demokrasi. Sempat saya sebutkan nama-nama Arash Sigarchi di Iran, Raja Petra Kamaruddin di Malaysia, sampai Fuad Al-Farhan di Arab Saudi. Mereka adalah blogger-blogger yang kritis dan kenyang keluar-masuk penjara.


Kritis, tetapi tak usah masuk penjara, itulah semangat dari pendirian portal blog Pasarsolo.com, ko-produser gagasan acara jagongan tadi. “Solo kini sedang naik daun. Sedang menjadi sorotan nasional dan internasional,” kata Sadrah Sumariyarso, motor portal blog Pasarsolo.com ini.

“Tetapi semua itu jangan membuat warga kota menjadi silau. Kebijakan Pemkot harus terus dikawal dengan membangkitkan pemikiran-pemikiran yang kritis pada warganya. Portal Pasarsolo.com hadir untuk menampung suara-suara kritis dari kalangan akar rumput itu,” lanjut Sadrah.

Cita-cita yang hebat. Apalagi memang banyak media massa utama, yang ber-DNA-kan pendekatan atas-bawah, lebih sering sebagai sumber informasi yang bersifat searah. Pendekatannya broadcast, top-down, lebih berfihak kepada para penguasa dan pengusaha. Media massa tradisional itu, yang bersifat oligarki itu, memang senantiasa memposisikan akar rumput berada di pinggiran.

Suara rakyat, suara akar rumput yang otentik dan beragam, memang sering mudah terdengar dalam dengungan sebuah pasar. Semangat pasar itu pula yang kental mengemuka dalam acara jagongan tadi. Mantan wartawan dan eksekutif radio di Solo, Duto Sri Cahyono, misalnya. Ia membuka banyak wacana upaya untuk menumbuh kembangkan komunitas yang kritis dan hidup di blogosfir Solo. Antara lain tentang pembentukan ceruk-ceruk komunitas yang berbasis pada hobi, kegemaran.

Duto banyak cerita menarik tentang hobinya memelihara burung. Dipadu antara kemampuan menulis yang mumpuni dan kejeliannya dalam menangkap peluang pasar, bisnis burung-burung berkicau itu dapat dia rentang “ekor panjang”-nya. Saya juga sempat menyinggung tesisnya Chris Anderson dan the long tail-nya itu. Dalam kiprah Duto, ia menggelarnya sampai ke bisnis sangkar burung, obat-obatan, konsultasi dan bahkan tutorial. “Bersinergi dengan blog, bisnis Anda apa pun, mampu merengkuh dunia,” tegasnya.

Terima kasih, Mas Duto. Masih terkait dengan hobi, Is “Hio” Aryanto, kartunis dan karyawan pers yang berdomilisi di Purwosari, ikut memamerkan blog komunitasnya di Solo yang menampung beragam kreasi dan kegiatan para penggemar penyanyi dan aktivis sosial, Iwan Fals. Taufik menjual beragam merchandise sepakbola terkait kedudukan blognya untuk menampung aktivitas suporter Pasoepati Solo.

Andy, aktivis LSM yang mengkritisi tindakan korupsi di Solo, Patiro, memiliki aktivitas hebat. Tanpa perlu dukungan pemerintah kota, dengan komputer-komputer bekas dan akses Internet tak terbatas bagi kantor LSM-nya, ia telah berusaha meluberkan akses itu sehingga merakyat untuk warga kampungnya di Sodipan, Solo. Salut banget, Mas Andy.

Pasar gagasan yang bergairah. Para blogger Solo lainnya yang hadir, seperti Gabon, Kornelius, I Love Solo, Ladyelen, MySukmana, Hens, Siska, Kusuma, Loso, Yoyo dan belasan simpatisan yang memenuhi gerai Speedy Hik itu, tentu setuju dengan ajakan Mas Khoirul, pengelola gerai menarik ini.

Menurut Mas Khoirul, sarana ini terbuka untuk diisi dengan beragam aktivitas intelektual oleh para blogger Solo. Bahkan tanggal 30 November 2008 di tempat yang sama akan diisi oleh Kurniawan dari UNS Sebelas Maret yang akan membahas topik Trik dan Kiat Mempercantik Blog Anda.

Pasar gagasan yang semoga terus berdengung. Dalam acara itu saya sempat melemparkan wacana bagaimana mensinergikan antara kiprah para blogger Solo dengan potensi-potensi ekonomi kreatif di kota ini. Sebagai tabungan. Kita semua berharap, isi dari lalu-lintas obrolan sore itu dapat menjadi benih-benih yang bisa tumbuh di kemudian hari, untuk menyemarakkan jagat blogsfir dan geliat ekonomi kreatif di Solo masa depan.

Saya senang skali diSolo ad acra seprti td. Sip!” begitulah potongan SMS dari Haris Firdaus, saya terima ketika senja jatuh dan bis Serba Mulya membawa saya pulang ke Wonogiri. Kabar gembira yang sempat memicu rasa sedih. Sebagai blogger memang nasibnya sering ibarat sebagai dukun : Anda seringkali bukan siapa-siapa di lingkungan Anda, tetapi justru dianggap “sakti” oleh mereka yang jauh di luar lingkungan Anda.

Sore itu, di salah satu mall besar di Solo, menjadi saksi kesedihan saya itu. Sebagai blogger saya bisa “mendalang” di Solo. Tetapi di Wonogiri, kota saya, status saya sebagai blogger merupakan status yang masih tidak terdengar.


Wonogiri, 24/11/2008

Wednesday, July 23, 2008

Alas Kethu, Wonogiri dan Pasadena

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (a) yahoo.co.id


Puing masa lalu. “Setelah ke Pasadena, aku akan meluncur ke Alaska.” Kalau ucapan ini terdengar di Wonogiri, Anda jangan bayangkan bahwa si pengucap tersebut akan segera terbang ke Amerika Serikat dan terus ke Kutub Utara.

Pasadena adalah nama warung Internet baru di kawasan Gudang Seng. Sedang Alaska adalah singkatan dari Alas Kethu, kawasan hutan di bagian utara Wonogiri yang kini sedang ramai dibicarakan. Disengketakan.

Antara keinginan bupati Begug Purnomisidi yang ingin menjadikan Alas Kethu sebagai kompleks pabrik etanol, bermitra dengan perusahaan dari Cina. Pabrik dengan bahan baku singkong ini diproyeksikan akan menyerap 15 ribu tenaga kerja. Klaim yang bisa diperdebatkan. Tapi ia bersikukuh, kalau proyek ini gagal, ia akan mundur.

Sementara itu kubu yang menentang adalah mereka yang pro lingkungan hidup, ingin menyelamatkan hutan itu dari keruasakan atau kepunahan, karena berfungsi sebagai paru-paru kota Wonogiri dan sebagai daerah resapan air.

Yang pasti, sekilas cerita tentang Pasadena atau Alaska itu seolah mencitrakan Wonogiri yang sedang bergulat antara masa lalu dan masa depan. Katakanlah, warnet Pasadena merupakan simbol yang mencerminkan orientasi Wonogiri terhadap masa depan. Era informasi.

Karena warnet ini, dan sekitar sepuluh warnet lainnya di kota Wonogiri, menjadi wahana bagi warga kota gaplek yang melek Internet untuk mampu merengkuh dunia. Sementara isu mutakhir tentang Alaska, alias Alas Kethu, yang melibatkan wacana dengan kata-kata kunci pabrik, singkong sampai buruh, jelas mewakili mazhab dari dunia atau era agraris dan industri. Kemana Wonogiri akan melangkah ?

Photobucket

Terancam. Jalanan Alas Kethu masih lengang ketika anak-anak nampak berangkat ke sekolah. Kalau hutan di sekitar mereka lewat itu kelak menjadi industri, jalan diperlebar, mobil lalu lalang, maka keindahan pagi yang sunyi di hutan ini hanya tinggal dalam impian.

Mental kelangkaan. Debat tentang Alas Kethu itu melemparkan saya untuk mengenang isi laporan Harian Kompas tentang profil Wonogiri. Kalau tidak salah ada empat seri tulisan, di tahun 1980-an. Tahun 1980 itu adalah tahun pertama saya menginjak kota Jakarta. Sebagai mahasiswa di kampus Rawamangun, Universitas Indonesia. Artikel itu memercikkan kebanggaan saya sebagai orang Wonogiri.

Sayang, klipingnya sudah tidak lagi saya miliki. Yang cukup menggores di ingatan adalah ilustrasi mengenai dominannya penduduk Wonogiri yang melakukan boro, merantau ke seluruh pojok-pojok tanah air. Mereka meninggalkan Wonogiri yang tandus, berbatu kapur, lahan yang tidak membuahkan kemakmuran baik sandang atau pangan bagi warganya. Gambaran lain dari koran itu adalah mengenai keuletan warga Wonogiri berkarya di perantauan.

Cerita-cerita sukses mereka lalu ditunjukkan saat Lebaran tiba. Para kaum boro itu mudik ke Wonogiri, menularkan virus yang sama kepada generasi mudanya. Sehingga selama ini dikatakan bahwa Wonogiri terus-menerus mengalami brain drain, mereka-mereka yang terbaik dipaksa harus pergi dan sukses di luar kota Wonogiri. Secara sinikal, slogan Wonogiri sebagai Kota Wisata di mana kata-kata ini tertempel hampir semua rumah di Wonogiri, mungkin memang ditujukan kepada kaum boro ini. Berwisatalah ke Wonogiri ketika Lebaran tiba !

Akibat brain drain itu, apakah kemudian yang tinggal di Wonogiri hanya remah-remahnya belaka ? Orang bisa berdebat. Tentu saja tidak mutlak semuanya. Karena Harian Kompas itu juga melaporkan kisah sukses warga Wonogiri, di tanah mereka di kota ini. Sebagai contoh mencolok adalah dinasti-dinasti wiraswastawan yang terjun berwirausaha guna melayani kebutuhan warganya untuk ulang-alik, merantau dan pulang itu. Kisah sukses pengusaha-pengusaha bus Wonogiri kemudian dibabarkan.

Terkait perbincangan tentang atmosfir berusaha di Wonogiri, ada satu dua alinea yang saya ingat saat itu. Dipaparkan bahwa akibat latar belakang alam yang keras, sumber daya yang terbatas, konon membuat perangai pebisnis asal Wonogiri selalu sengit dalam bersaing. Bahkan bersikap tegaan satu sama lainnya. Buntutnya, membuat pebisnis Wonogiri lebih suka bekerja sama dengan pebisnis dari daerah lain, dibanding mereka bekerja sama dengan sesama pebisnis asal Wonogiri sendiri.

Kalau boleh diberi label, persaingan itu terjadi karena bersumber dari pola pikir kelangkaan, scarcity mentality. Dunia ini terbatas. Oleh karena itu sukses orang lain berpotensi mengurangi peluang sukses diri saya sendiri. Roti dunia yang bisa mereka makan akan mengurangi jatah roti yang bisa saya makan.

Hidup akhirnya semata menjadi arena persaingan dan perbandingan. “Ketika orang lain sukses, di mulut saya katakan ucapan selamat padanya, dengan senyum juga, tetapi mengapa ada sebungkah kepedihan dan luka besar menganga di hati saya ?”

Apakah sikap mental suka bersaing dan suka membanding-bandingkan itu juga masih mencengkeram mindset warga Wonogiri, apa pun profesi mereka ?


Kutukan oyot mimang. Wacana tentang kontroversi proyek Alas Kethunya Begug akan terus bergulir di hari-hari mendatang. Ribut-ribut itu membuat saya beberapa hari lalu memutuskan jalan kaki pagi, menyusuri jalan yang membelah Alas Kethu itu. Sebelah kiri terdapat area hutan yang dibabat ketika Begug terpilih pertama kali, lalu mencita-citakan area itu sebagai replika Taman Mini Indonesia. Impiannya itu hanya impian, sampai kini. Lalu muncul impian barunya mengenai pabrik etanol tadi.

Jalan kaki saya hanya sampai pertigaan, yang kalau belok ke kanan menuju Seneng Kata “Seneng” itu tertanam di kepala saya sejak Sekolah Dasar. Tahun 1960-an. Muncul dari mulut teman saya, (almarhum) Sri Wahyono. Setiap liburan, ia bilang, selalu ke Seneng. Dengan melintasi hutan, ya Alas Kethu itu, yang jauh lebih lebat dibandingkan saat ini.

Kata dan cerita mengenai hutan atau alas saat itu dari Sri Wahyono (bapak dan ibunya, Sidin Wirotenoyo adalah sahabat ayah dan ibu saya) mampu memberikan eksotika tersendiri di kepala seorang murid SD yang belum pernah mengenal bagaimana hutan itu sebenarnya. Hutan menjadi sesuatu yang hidup dan menawan di dalam kepalanya akibat membaca-baca komik Wiro, Tarzan Jawa.

Atau mendengar cerita dari tetangga, dari anak yang lebih besar. Dari Mas Marino, tetangga saya yang waktu kecil suka mencari kayu bakar ke Alas Kethu, muncul dongengan. Bahwa konon di Alas Kethu itu ada yang namanya oyot mimang. Akar mimang. Akar kutukan.

Ceritanya, kalau Anda melangkahi akar kutukan itu maka Anda akan hanya berjalan melingkar-lingkar di hutan bersangkutan. Tersesat. Tidak mampu menemukan jalan pulang. Kalau tidak ditemukan oleh para pencari, akhirnya kelaparan dan ngenas di hutan. Apakah bupati Begug Purnomisidi kelak juga bernasib menerima “kutukan” serupa, akibat ia berani melangkahi atau bahkan merusak habitat akar kutukan Alas Kethu itu ?


Dunia ini berkelimpahan. “Kutukan” itu sebenarnya sudah terjadi. Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal tanggal 7 Desember 2004 menyajikan data pahit : dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah ternyata Wonogiri termasuk sebagai daerah tertinggal. Status itu mungkin telah menjebak warganya untuk hanya berkubang dalam masalah yang dalam piramida kebutuhan manusia-nya Abraham Maslow disebut kebutuhan primitif. Kebutuhan penyambung hidup. Walau Wonogiri, jelas, tidak sendiri di negeri serba terpuruk saat ini.

Masalahnya, apakah Wonogiri mampu meretas keterbatasan dan keterkungkungannya itu ? Tergantung kepada warga Wonogiri yang tinggal, juga diasporanya yang tersebar di seluruh dunia dalam ikut berwacana membangun Wonogiri. Terlebih lagi, berkat revolusi digital, semua sumber daya (brainware ) itu, di mana pun berada, kini semakin mudah untuk diintegrasikan guna menghadirkan pasar diskusi atau bursa ide yang hidup tentang masa depan Wonogiri.

Sekadar provokasi gagasan : kalau Bupati Sragen kini melangkah dengan membangun sebuah technopark, guna memberdayakan brainware warganya, apakah benak warga Wonogiri hanya puas dijejali udreg-udregan dengan masalah yang berorientasi ke dunia manufaktur, yang menuju senja ?

Kalau di dunia fisik yang terbatas itu sesama warga Wonogiri dikondisikan berpuluh tahun untuk halal saling sikut, atau saling jegal guna memperebutkan jatah roti yang terbatas, maka di dunia digital yang berkelimpahan itu sudah saatnya warga Wonogiri mampu membangun kolaborasi. Semua dapat memperoleh bagian. Semua mampu meraih kemenangan.

“If cyberspace is a nation, it is probably of the most benevolent nations that has ever existed,” kata nabi media digital dari MIT, Nicholas Negroponte dalam wawancara dengan Newsweek (8/1/1998). Dunia maya, dunia digital, adalah dunia penuh kebajikan, penuh berkah. Karena warganya saling tolong-menolong. “It is a place where people help each other,” demikian tutur Negroponte menutup wawancaranya.

Warga Wonogiri, dengan semangat saling tolong-menolong, marilah kita pindah persneling sikap mental yang melatarbelakangi kemelut Alas Kethu, Alaska. Mari kita ramai-ramai menuju Pasadena.


Wonogiri, 24 Juli 2008

tmw

Friday, June 27, 2008

Radio KaravanFM Solo Kini Tinggal Desisan !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.com


Kabur Koneksi. Sudah seminggu lebih Radio KaravanFM Solo hanya berupa desisan saat ditangkap siarannya di Wonogiri. Jadi akhir Juni 2008 ini praktis saya tidak bisa mendengarkan siaran Radio BBC Siaran Indonesia di pagi hari yang biasa direlai oleh radio Solo itu.

Aneh juga situasi seperti ini. Di negara yang bukan bersifat otoriter, sebuah media justru menghilang dengan sendirinya. Apakah karena kalah bersaing dalam ranah bisnis ? Boleh jadi. Tetapi radio yang punya siaran stereo, bahkan kualitas suaranya terbaik di antara radio-radio Solo yang bisa tertangkap di Wonogiri, nyatanya kini tinggal hanya berupa desisan.

Rasa penasaran itu yang membuat saya mengirimkan SMS kepada Elina. Dia adalah pimpinan Radio BBC Siaran Indonesia yang berkantor di Jakarta. Tepatnya di Jl. Diponegoro. Gedung bank Jerman, seberang Hotel Mandarin. Shelter bis di depannya adalah tempat saya menunggu bis 210 (Rawamangun-Grogol) atau 38 dan 39 (Blok M-Rawamangun) bila hendak pulang setelah mencari-cari buku di Times Book Store di Indonesia Plasa.

Ritus menunggu bis ini terjadi sejak tahun 1980 hingga tahun 1998, saat saya kemudian memutuskan pulang kampung ke Wonogiri. Mengambil slogan kampanye kandidat cagub-cawagub PDIP di Pilgup 2008 Jawa Tengah, Bibit Rustri, yang berbunyi “Bali Deso, Bangun Deso” (Kembali ke desa, membangun desa), maka saya mempraktekkan plesetannya : “Nganggur neng kuto, bali neng deso”. Menganggur di kota, lebih baik kembali ke desa. Slogan plesetan itu juga cocok untuk Bibit Waluyo juga. Ia yang gagal di Pilgub DKI Jakarta, lalu sukses di Jawa Tengah, propinsi asalnya.

Kembali SMS saya ke Elina. Isi SMS saya itu tentu mengeluhkan hilangnya sinyal Radio KaravanFM itu. “Apa mereka bangkrut?” sergah saya. Elina tak menjawab. Saya menemukan jawab ketika tanggal 25 Juni 2008 saya ke Solo. Saya menghidupkan radio di HP saya, ternyata Radio KaravanFM itu masih mengudara.

Yang bikin aneh, kalau saya tak salah, kualitas sinyalnya jauh lebih jelek. Rasanya tidak stereo lagi. Katakanlah, hanya 40 persen dibanding kualitasnya yang lalu. Begitu saya semakin menjauh dari Solo, ke arah selatan, sinyal itu makin memburuk. Sampai di Sukoharjo (16 km dari Solo), sinyal itu hanya berkualitas 25 persen. Sampai di Wonogiri, habis, tinggal desisan semata.

Baiklah. Di pagi hari kini saya harus menerima realitas bahwa tak lagi bisa menguping BBC. Bisa sih, bila mau menghidupkan pesawat radio yang memiliki gelombang pendek. Tetapi radio itu, dengan ukuran 70x20x20 cm dan berat 4 kilogram itu jelas tidak kompatibel bila didengarkan sambil menjalankan ritus jalan kaki pagi. Misalnya dipasang di tas punggung dan sampai rumah, setelah berjalan sepanjang 3-4 kilometer, bisa-bisa tulang belakang saya bisa-bisa malah cedera !

Masih untung, sekitar 1-2 bulan yang lalu, relai siaran BBC itu juga telah disiarkan di Radio SoloposFM, di petang (jam 18.00) dan malam hari (20.00). Walau kualitas suaranya tidak sejernih KaravanFM, tetapi radio yang dibosi Soewarmin (“kami berdua dan rombongan dari Solo pernah sama-sama dilempari batu oleh bonek saat menjadi suporter sepakbola ke Surabaya, 6 April 2000”), tetapi radio ini cukup bisa diandalkan.

Ketepatan waktunya untuk siaran, keajegan, disiplin, jauh lebih baik dibanding radio KaravanFM yang dibosi David Handoko itu ketika mengudarakan BBC Siaran Indonesia selama ini.

Selamat tinggal Radio Caravan FM Solo !


rg