Thursday, October 6, 2011

Stay Hungry, Stay Foolish : Wong Wonogiri Mengenang Steve Jobs

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id




Supir truk,Walter Raleigh dan Steve Jobs.
Mereka memiliki bahasa dan aksi yang berbeda tentang cinta sejati.

Walter Raleigh (1552-1618), penjelajah dan kerabat Istana Inggris, mengatakan bahwa "true love is a durable fire, in the mind ever burning, never sick, never old, never dead". Cinta sejati adalah api abadi, selalu membara di hati, tanpa pernah sakit, uzur, atau pun mati.

Supir truk memasang slogan di bak truknya : "Aku tunggu jandamu."

Steve Jobs, pendiri perusahaan Apple Corporation., dengan aksi.

"Apple adalah kekasih tercinta Jobs ketika kuliah dan kini mereka bertemu kembali dalam pesta reuni setelah 20 tahun berpisah. Steve Jobs kini telah menikah, mempunyai anak dan hidupnya bahagia.

Ketika bertemu kembali dengan kekasihnya itu, ia lihat gadisnya telah kecanduan berat alkohol, dikelilingi konco-konco yang begundal dan preman serta menghancurkan hidupnya sendiri. Walau pun demikian, nurani Jobs menilai mantan kekasihnya itu adalah seorang gadis cantik yang pernah membuainya dengan kalimat bahwa dialah satu-satunya cintanya di dunia.

Lalu apa yang Jobs kerjakan ? Tentu saja ia tak ingin menikahinya. Tetapi dirinya tidak bisa lepas tangan begitu saja karena ia masih menyayanginya. Maka ia ajak kekasihnya itu ke panti rehabilitasi korban alkohol, membantunya untuk bergaul dengan teman-teman baru yang yang lebih baik, dan mengharap yang terbaik bagi masa depannya."

Demikianlah pelukisan dengan kias yang romantis dari Larry Ellison, CEO Oracle dan sahabat karib Jobs, mengenai hubungan emosional antara Jobs dengan Apple. Cerita itu terdapat dalam artikel "Geger Kisah Cinta Ulang Apple dan Jobs" yang dimuat di harian Media Indonesia, 11 September 1997 : 12.

Dari struk kwitansi honorarium tulisan yang ditandatangani redaktur bidang Wicaksono ("di dunia blogger Indonesia kini ia lebih dikenal sebagai nDoro Kakung”), saya memperoleh honor Rp. 166.700,00. Dipotong pajak 10 persen, Rp. 16.700,00. Honor bersih : Rp. 150.000,00.

Setelah sempat ditendang selama 12 tahun dari kursi direksi Apple, kisah cinta ulang Steve Paul Jobs dan Apple yang diteguhkan kembali di pentas MacWorld di Boston 6 Agustus 1997, akhir ceritanya ibarat dalam dongeng semata.

Apple yang didirikan oleh putra mahasiswa asal Syria yang kemudian menjadi ilmuwan politik, Abdulfattah Jandali dan Joanne Carole Schieble, tetapi diadopsi dan diasuh keluarga Paul dan Clara Jobs di Mountain View, California, kini tersohor menghasilkan produk-produk yang inovatif. Dunia pun kemudian mengenal iTunes, iPods, iPhones, MacBook Air dan lain sebagainya.

Menurut koran Inggris, The Guardian, di bawah komando Jobs yang masa mudanya pernah memadu cinta dengan penyanyi ballada Joan Baez itu, pada tahun 2000 Apple bernilai 5 milyar dollar dan kini senilai 170 milyar dollar.

Artikel ini saya tulis 7 November 2010 dengan judul Like waking up, like coming home. Hampir genap setahun, sore tadi (6/10/2011) saya memperoleh kabar dari televisi, bahwa Steve Jobs telah meninggal dunia.

Kabar itu sungguh menyedihkan, walau pun saya belum pernah memiliki komputer iMac, perangkat musik iPod, telepon canggih iPhone atau pun sabak elektronik iPad. Saya hanya mampu menghimpun beberapa pendapat dan kisah penggal-penggal kisah hidupnya. Sejak 1995 hingga kini.


Termasuk di bulan Agustus 2011 yang lalu tokoh penggerak revolusi mesin, Wael Ghonim melalui akun Twitternya berbagi informasi mengenai pidato Steve Jobs di saat dies natalis ke 114 dari Universitas Stanford, 12 Juni, 2005.

Steve Jobs membagi topik hidupnya dalam tiga subjek. “ The first story is about connecting the dots. My second story is about love and loss. My third story is about death.

Untuk topik yang terakhir ini, ia bilang bahwa ketika di umur 17 tahun ia mendapati sebuah kata mutiara : “Apabila Anda menjalani hidup Anda setiap hari seperti hari itu merupakan hari terakhir hidup Anda, suatu saat hidup Anda pasti berada dalam jalur yang benar.”


Lanjutnya : “Mengingat bahwa saya akan mati suatu saat nanti, hal itu menjadi sarana paling penting yang membantu saya dalam melakukan pilihan-pilihan besar dalam hidup saya. Sebab semua hal, seperti harapan, kebanggaan, ketakutan menanggung malu atau menderita kegagalan, semua hal itu akan rontok dihadapan kematian, dan hanya meninggalkan hal yang paling penting saja.

Ingatlah bahwa Anda akan meninggal merupakan cara terbaik yang saya yakini untuk menghindari perangkap pikiran bahwa Anda akan mengalami kekalahan. Anda sudah benar-benar telanjang. Dan tidak ada alasan lain lagi untuk mengikuti kata hati.

Hampir setahun lalu saya didiagnosa mengidap kanker. Ada tumor di pankreas saya. Saya tidak tahu apa pankreas itu. Dokter mengatakan bahwa tipe kanker ini tidak dapat disembuhkan dan peluang hdup saya hanya tinggal tiga sampai enam bulan.”

Steve Jobs kemudian menjalani operasi. Lalu ia katakan dalam orasi itu bahwa dirinya baik-baik saja. Lanjutnya : “Itu adalah momen terdekat diri saya menghadapi kematian dan saya harap sebagai momen yang terdekat yang akan saya jalani beberapa dekade mendatang. Menjalani hidup seperti itu kini saya dapat berkata kepada Anda dengan yakin bahwa kematian itu berguna sebagai sebuah konsep intelektual :

Tidak seorang pun ingin mati. Bahkan seseorang yang ingin masuk surga juga tidak ingin mati. Tetapi kematian adalah tujuan yang kita semua dapat berbagi. Tak seorang pun mampu menghindarinya. Dan itu merupakan keharusan, karena kematian nampaknya merupakan temuan terbaik dari kehidupan. Ini cara untuk menghilangkan yang tua untuk memberi jalan bagi yang baru. Saat ini yang baru adalah Anda, tetapi tidak lama lagi Anda pelan-pelan menjadi tua dan tersingkirkan. Maaf, mungkin terlalu dramatis, tetapi itulah kebenaran.”

Kepada mahasiswa Universitas Stanford, Steve Jobs memberikan petuah yang kiranya juga patut menjadi renungan kita semua. Ujarnya : “Waktu Anda terbatas, sehingga jangan menghabiskan waktu untuk menjadi budak hidup orang lain. Jangan terperangkap oleh dogma, menjalani hidup hasil pemikiran orang lain. Janganlah kegaduhan opini milik orang lain itu menenggelamkan kata hati Anda. Dan yang paling penting, milikilah keberanian untuk mengikuti suara hati dan intuisi Anda. Suatu saat mereka akan mengetahui apa yang Anda cita-citakan. Hal-hal lainnya hanyalah hal sekunder adanya.

Dalam penutup pidatonya, ia bernostalgia tentang majalah edisi terakhir The Whole Earth Catalog yang diterbitkan oleh Stewart Brand di tahun 1960-an yang menjadi inspirasi hidup Steve Jobs. “Di sampul belakang tersaji foto jalan pedesaan di waktu pagi, jalanan tempat Anda tertarik untuk menjelajahinya bila Anda memiliki jiwa petualang.

Disana tersaji kalimat berbunyi, ‘Stay Hungry. Stay Foolish.’ Itulah kalimat perpisahan majalah itu. Stay Hungry. Stay Foolish. Dan saya tetap berharap hal yang sama untuk hidup saya. Sekarang, ketika diwisuda Anda akan membuka lembaran baru hidup Anda, dan saya berharap hal yang sama juga untuk Anda.

Stay Hungry. Stay Foolish.”

Sugeng tindak, Mas Steve Jobs.
Mugi panjengengan sakpuniko tentrem ing pangayunanipun Gusti Allah.



Wonogiri, 7 Oktober 2011

Tuesday, August 2, 2011

Selamat Jalan, Plomponk : Kenangan Dari Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id



Hari Selasa (2/8/2011), hari puasa kedua, saya memutuskan untuk mengunjungi perpustakaan umum Wonogiri.

Berarti ada pekerjaan rumah yang harus dirampungkan dalam kunjungan itu. Membaca-baca koran terbitan hari Minggu, Senin dan Selasa.

Ini hari keluar rumah saya, selain ke pasar, yang pertama di bulan puasa ini. Dari Kajen, melewati utara Kodim, lalu ke selatan. Melewati sebelah barat Gudangseng, ke selatan. Karena di utara bagian belakang gedung SMK Pancasila I ada kajang dan bendera merah terpasang, tanda ada kesripahan, saya menuju perpustakaan melalui bekas jalan rel kereta api Wonogiri-Batu.

Setelah tiba di perpustakaan, saya ambil surat kabar Kompas edisi Minggu dan Senin. Saya baca-baca sambil menghidupkan komputer, untuk akses ke Internet. Karena, seperti dua kali bulan puasa sebelumnya, saya memutuskan untuk libur mengakses Facebook, saya hanya membuka akun 2-3 email saja. Lainnya : membaca-baca situs koran The Jakarta Post dan The Jakarta Globe..

Ketika membolak-balik koran Kompas edisi Minggu itu, saya terperangkap oleh sebuah iklan duka cita. Yang meninggal dunia : Djoko Poernomo. Fotonya, tidak lagi saya kenali.

Tetapi ketika membaca nama-nama yang ikut berdukacita, terutama nama pertama yang muncul adalah Julius Pour, wartawan senior Kompas dan biografer terkenal, segera saya tahu siapa dirinya.

Innallilahi wa ina ilaihi rojiun.

Teman saya ketika sama-sama meniti karier kepenulisan di Solo, sekitar tahun 1977-an, rupanya kini telah dipanggil menghadap Tuhan Yang Maha Esa.

Masa lalu pun tertayang di benak. Tahun-tahun itu, saya sebagai “wartawan Kuncung” (lelucon di antara kita, untuk merujuk posisi diri-diri kita sebagai wartawan freelance) dengan nama Hariteksi, bersama Efix Mulyadi dan Plomponk, sebut saja merupakan trio generasi baru (calon) wartawan Solo saat itu.

Kami seolah “membayangi” nama-nama wartawan Solo yang resmi. Misalnya, Achmad DS (Pikiran Rakyat), Soebianto (Kompas), L. Djono (Sinar Harapan), Agus Susanto (Berita Buana), Imam "Maesuna" Muafik (Hai dan banyak lagi lainnya.

Merasa tahu diri sebagai yunior, kami bertiga saat itu hanya menulis berita, reportase atau features yang berada di luar jangkauan para wartawan resmi tersebut. Misalnya semata melaporkan peristiwa-peristiwa budaya yang terjadi di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah (PKJT) Sasonomulyo. Juga menulis reportase tentang konser-konser musik di Solo.

Kebetulan, saat itu Efix Mulyadi dan juga saya menjadi aktivis kesenian di Sanggar Mandungan, Muka Kraton Surakarta. Bermain teater, menyelenggarakan pentas-pentas puisi, diskusi dan musik, dan juga menulis. Saat itu saya kuliah di Jurusan Mesin Fakultas Keguruan Teknik UNS, tetapi ikut berkiprah di Mandungan dan mulai mengasah keterampilan menulis untuk media massa dan kreativitas.

Aktivis lainnya : Moertidjono. Juga Harsoyo Rajiyowiryono. Kadang mampir kakaknya yang saat itu kuliah di Geologi UGM, Hardoyo, untuk berbagi cerita tentang isi majalah Horison dan Budaja Djaja. Atau pun berbagi tawa seputar humor tentang ulah julig Nasarudin Hoja yang jenaka.

Connie Suprapto. Marsudi. Mas Lis. Bambang Permaidi. Mas Mansur RRI. Broto “UGM” Dompu. Chosani. Mamok. Urip. Kentrung. Budoyo Sumarsono. Yohanes Yantono. Yoyok “Dablir” Mugiyatno. Wati. Dewi Elisawati. Tinuk. Juga “Ialah,” pria gelandangan yang ikut tidur di serambi sanggar dan gemar berpidato a la Bung Karno (menyebut-nyebut “munawaroh”) di waktu malam.



Ketika mahasiswa Seni Rupa UNS, di bawah komando dosennya, (almarhum) Prof. Heribertus Soetopo, ikut bergabung di Mandungan, saya tergerak mendirikan Workshop Melukis Anak-Anak dan Remaja (foto,1979-1980) bersama mereka. Dengan para mentor melukis anak-anak terdiri Anang Syahroni, Putut Handoko Pramono, Seno "Crukupul" Soebroto, Soetarto, Wahyu Soekirno. Mance Harman. Didik Soehardi. Calon istri Plomponk adalah juga mahasiswi Seni Rupa UNS. Ia tak jarang main ke Mandungan. Namanya Harri Kinasih, tetapi populer dipanggil Mimin.

Trio Kuncung berpisah. Suatu saat saya pernah diajak berkolaborasi dengan Plomponk. Melakukan wawancara dan meliput profil serta kegiatan SMKI di Patehan. Tulisan ini, kalau tidak salah, muncul di majalah Hai. Adiknya Plomponk, perempuan, Th S Purwaningsih juga kuliah bersama saya di FKT. Ia mengambil jurusan arsitektur, seangkatan dengan Gembong Muria Hadi (adik dari Sumantri dan Sutopo) dan pernah menjabat di DPU Wonogiri.

Tahun 1978, Efix Mulyadi hijrah ke Jakarta, menjadi wartawan budaya Kompas. Plomponk makin serius menjadi wartawan harian yang sama, dengan area liputan daerah Yogyakarta. Kemudian juga berpindah ke Jakarta.

Tahun 1980, saya memutuskan untuk belajar lagi, di Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Trio “wartawan Kuncung” Solo era 70-an itu menjalani panggilan hidup masing-masing. Belum ada Internet, kontak antara kita kemudian seperti terputus lama.

Tanggal 27 Januari 2007, artikel saya dimuat di kolom Teroka, Kompas edisi Sabtu yang dijaga oleh budayawan Radhar Panca Dahana. Judul aslinya adalah “Dosa-dosa Komedian Kita,” tetapi dalam pemuatannya menjadi : “Komedi dan Komedian : Kejujuran Mengolok Diri Sendiri. “

Tulisan yang sama kemudian ikut menghiasi buku saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010) dengan judul baru : “In Memoriam Gus Dur (1940-2009) : ‘Hanya Kita Saja yang Masih Waras.’” ( Hal. 25-30).

Gara-gara artikel itu, yang mencantumkan nama blog komedi saya, saya memperoleh email tidak terduga. Dari Plomponk. Ia tinggal di Jakarta, dan saya (sejak 1998) pulang kampung, di Wonogiri. Ia menanyakan judul-judul buku humor yang sudah saya tulis dan apakah masih tersedia di toko-toko buku.

Plomponk pun menambahi bahwa tulisan saya itu, ia sebut : “Luar biasa.”Saya pun menjawab, bahwa dua buku humor itu saya tulis di tahun 1987. Out of print. Tak ada lagi di toko buku mana pun.

Kabar tentang Plomponk, pria bertubuh besar, yang mudah tergelak dan suka memakai kacamata rayban seperti penerbang (kakaknya adalah penerbang dan analis militer, F. Djoko Poerwoko), saya pergoki dengan rasa duka di kolom obituari yang saya temukan dengan bantuan Google. Antara lain terbaca :

Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas St Sularto, antara ln mengatakan, sebagai orang beriman, Mas Pom sudah membongkar kemah dan kini almarhum sudah disediakan rumah abadi.

"Sebagai orang beriman, kita yakin ini jalan satu-satunya untuk mendapatkan kehidupan kekal. Dan kita percaya Mas Pom sudah mendapatkan kehidupan kekal," kata Sularto.

Dari kejauhan, dari Wonogiri, saya ucapkan : “Selamat jalan, Plomponk. Semoga kau kini senantiasa sejahtera dan tenteram abadi disisiNya.”


Wonogiri, 3/8/2011

Tuesday, July 26, 2011

Hummer, Penis Kecil dan Polusi Demokrasi

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id



Mobil Hummer hijau lumut itu nampak macho dan garang.
Terparkir di Wonogiri.
Jumat siang (22/7/2011).

Nomor polisinya menunjukkan mobil Jakarta. Saya amati ban yang kekar, juga membelai-belai bodinya dengan rasa takjub. Membayangkan mobil serupa yang konon dimiliki eksekutif CitiBank yang terlibat penggelapan uang nasabahnya, Malinda Dee.

Syukurlah, pemiliknya tak ada di tempat.

Sempat muncul impuls untuk mengambil kamera dari tas, lalu jepret sana-sini. Termasuk menjepret diri sendiri di depan mobil garang itu, lalu misalnya untuk kemudian diunggah ke Facebook. Desakan nafsu kecil itu, tidak saya hiraukan. Sudahlah.

Tidak perlu. Walau saya menyukai tontonan balapan F-1 sebagai fans Ferrari, pernah bersekolah di STM jurusan mesin, tetapi saya tidak begitu bernafsu untuk dikenal atau dikenang (?), sebagai maniak mobil. Apalagi kemudian sempat pula terlintas guyonan komedian top AS, Andy Borowitz, yang menyatakan bahwa kepemilikan mobil Hummer itu merupakan aksi kompensasi diri dari sang empunya.

Dalam kolom humornya 25/2/2010 ia menulis : “Keputusan General Motors kemarin untuk menghentikan produksi mobil Hummer telah mengunjam hati sekelompok pencinta fanatik mobil ini : kaum brengsek (aslinya ia tulis sebagai : assholes) Amerika.

Di seluruh negara, kaum brengsek itu menyatakan rasa kehilangan dan dukanya yang mendalam akibat keputusan itu. Mereka pun menyarankan para sesamanya agar mencari cara-cara baru untuk mengkompensasikan kepemilikan penis mereka yang kecil-kecil.

Terima kasih, Andy.

Humor Anda ini mengingatkan ucapan nyelekit dari Gus Dur bahwa anggota DPR itu seperti murid taman kanak-kanak. Suka ribut, getol mementingkan dirinya sendiri, dan tentu saja pantas (ini menurut saya dan tertulis di buku Komedikus Erektus) mereka memiliki penis yang kecil-kecil juga.

Penuh warna. Bisa memergoki mobil Hummer itu lumayan memperkaya rona hari Jumat saya ini. Pagi hari, berangkat jam 04.50, bisa melakukan ritus jalan kaki pagi. Bertemu dan berbagi ucapan selamat pagi, ritus rutin, dengan trio ladies menawan dari Toko Bangunan Metro Jaya.

Dua di antaranya nampak sambil jalan tangannya memegang dan mengayun-ayunkan dumble untuk memperkuat otot-otot tangan mereka. Apakah mereka akan ikut lomba pancho seperti Sylvester Stallone ? Saya tidak tahu.

Pulangnya, mampir pasar. Bertanya tentang harga ayam babon yang siap bertelur, sekitar 40 ribuan. Kemudian menuju kios yang pemiliknya saya beri nama kode “mbak cantik selatan.” Beberapa saat lalu saya melihat matanya berkilau-kilau, persis seperti kata-kata Sunyahni dalam lagu “Tak Eling-Eling” : “Ing naliko iku, candik ayu sumunar netramu.”

Kepadanya, saya berikan foto dirinya, yang saya jepret tahun 2009. Tawanya yang renyah berderai mengisi pagi.

Sesudah mandi, menuju Perpustakaan Umum Wonogiri. Membaca-baca Kompas dan tiga koran lainnya. Akses Internet untuk menemukan gambar teknografi profil pemakai media sosial dari Forester Research dan memajangnya di catatan saya di Facebook.

Dapat SMS, mantan teman kuliah saya di UI, Bakhuri Jamaluddin. Warga Pamulang, Tangerang Selatan ini lagi berada di Sragen. Lagi nyadran. Ia mengajak ketemuan di Solo, Sabtu malam, untuk menonton Wayang Orang Sriwedari.

Aduh, seingat saya, saya nonton wayang orang ini yang terakhir kali adalah pada abad yang lalu. Tepatnya tahun 1974. Atau tahun 1975. Saat itu malam inaugurasi IKIP Surakarta. Mahasiswi baru yang menjadi buah bibir saat itu adalah, antara lain Rosana, Anik dan Ratih. Dua nama terakhir itu mahasiswi Pendidikan Sosial, satu angkatan dengan Ravik Karsidi yang kini menjabat sebagai rektor UNS Sebelas Maret.

Saat itu saya mengajak tetangga saya di Tamtaman, Baluwarti, Solo. Orang Australia, yang suka melukis, guru bahasa Inggris, dan punya matanya biru kehijauan.Victory Monk.

Undangan Bakhuri itu bikin nostalgia tahun 1986. Saat kami sama-sama menonton Srimulat di Taman Ria Senayan, dan membuat undangan dari Gus Muh (Muhidin Dahlan)-Yogyakarta terpaksa tidak bisa saya penuhi. Pagi-pagi Gus Muh (semalam sebagai peneliti sejarah LEKRA, ia muncul di tvOne) kirim SMS tentang acara bedah buku.

Yang ditampilkan adalah novel karya Wina Bojonegoro berjudul The Soul : Moonlight Sonata. (Btw, “kok bikin saya mudah ingat cerita tentang Bella dan Edward”-nya Stephenie Meyer) Tempat : Indonesia Buku, Jl. Patehan Wetan 3, Yogyakarta. Pembicara : Diana AV Sasa, Wina Bojonegoro dan Dyah Merta. Moderator Endah Sr. Waktu : Sabtu, 23/7/2011. Jam 15.00.

Makasih, Gus Muh.
Moga acaranya sukses.

Sesudah Jumatan, menemani adik saya Nuning yang ulang tahun hari ini (22/7) dan juga suaminya, Nano, ke warung makan ayam goreng kampung Bu Paryanti. Di Wonokarto. Warung ini dipenuhi spanduk. Yang mencolok spanduk promosi sepeda motor Yamaha dan ada juga Suzuki. Bersama produk rokok, promosi sepeda motor memang lagi “menggila” di Wonogiri.

Bye Facebook. Malam, bisa akses Internet, untuk menulis status berisi ucapan politikus Partai Demokrat dari AS yang menjadi Gubernur Texas ke 45, Ann Richards. Ucapannya itu relevan terkait atmosfir perseteruan teman yang kemudian menjadi musuh, antara M. Nazaruddin vs Anas Urbangingrum.

Ann Richards bilang : “Senantiasa saya katakan bahwa dalam politik, lawan-lawan Anda tidak akan melukai Anda, tetapi justru teman-teman sendiri yang mampu membunuh Anda.”

Status saya yang kedua tentang hasil penelitian menarik yang mengisahkan perbedaan profil pendidikan antara mereka yang memiliki akun Facebook, Twitter dan LinkedIn.

Dibeberkan, pendidikan rata-rata pemilik akun Twitter lebih tinggi dibanding pemilik akun Facebook. Tetapi keduanya jeblok bila dibandingkan tingkat pendidikan mereka yang memiliki akun LinkedIn. Apakah kini saatnya untuk mengucap good bye untuk Facebook ?

Malamnya, melalui layar MetroTV, saya menonton sajian rekaman percakapan antara Iwan Piliang yang blogger PressTalk dengan M. Nazaruddin melalui fasilitas video chatting-nya Skype. Kalau dalam pembelaannya Anas Urbaningrum selalu menuduh M. Nazaruddin sedang berhalusinasi, melakukan fitnah tanpa data, maka di wawancara itu kita disodori data dari Nazaruddin betapa politik uang benar-benar telah mencengkeram Partai Demokrat. Juga melumpuhkan Indonesia.

Di buku Komedikus Erektus saya telah menulis di halaman 94, mengutip penulis dan wartawan AS Theodore H. White (1915-1986) yang bilang bahwa banjir uang yang digelontorkan dalam arena politik merupakan polusi bagi demokrasi. Kemudian bila polusi ini meruyak kemana-mana, kita akan segera (atau justru sudah dan sudah lama !) mendapati negeri kita ini sebagaimana gambaran dari tokoh serba bisa Benyamin Franklin (1706-1790) :

“Di aliran sungai dan pada pemerintahan yang jelek, benda yang paling ringan saja yang mengapung di atasnya.”

Siapa yang paling top ?


Wonogiri, 23/7/2011

Monday, April 11, 2011

Buku Wonogiri Di Canberra dan Washington

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Anda kenal Perpustakaan Konggres, perpustakaan terbesar di dunia ?

Misi keberadaannya adalah untuk memenuhi tugas konstitusional untuk mendorong kemajuan pengetahuan dan kreativitas bagi kemaslahatan bangsa Amerika.

Misi yang hebat dan mulia.

Ketika saya berselancar di situsnya,dan pada katalog onlinenya iseng-iseng saya ketikkan nama saya, Amerika pun membalas. Ternyata buku humor politik saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010), telah menjadi koleksi mereka.

Menggembirakan.
Buku karya wong Wonogiri sudah nongkrong di Washington, DC.

Ringkasan yang mereka buat untuk buku tersebut adalah : Aspek humor tentang kondisi sosial dan politik di Indonesia

Klasifikasinya : LC Classification: MLCSE 2010/02873 (H)
Alamat data bibliografisnya di : http://lccn.loc.gov/2010441503
No kontrol : LC Control No.: 2010441503
Lokasi : Asian Reading Room (Jefferson, LJ150).

Di Perpustakaan Nasional Australia yang berada di Canberra, rincian subjeknya lebih kaya :

Political satire, Indonesian,
Indonesian wit and humor,
Indonesia-Politics and government-Humor.

Nomor induk : Bib ID 5017471.
Lokasi : YY 2011-105 Main Reading Room (Overseas Monograph Collection).

URL : http://catalogue.nla.gov.au/Record/5017471.

Tergerak oleh penemuan ini, saya melakukan hal yang sama di situs Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Hasilnya silakan Anda klik disini. Kejutan ?

Dari Salemba, saya lanjutkan ke Depok, ke Perpustakaan Universitas Indonesia. Alma mater saya.

Ternyata ditemukan 45 bahan pustaka yang relevan dengan kata kunci "haryanto,"tetapi tak satu pun yang cocok dengan nama saya.

Silakan mengambil hikmah dan kesimpulan sendiri atas realitas ini.

Kalau Anda pernah menulis buku, silakan kunjungi situs Library of Congress atau The National Library of Australia itu.Siapa tahu katalog onlinenya memberikan kejutan kecil kepada Anda.

Nikmati saja impuls yang manusiawi ketika karya kita dihargai.
Dilestarikan. Diapresiasi.

Silakan mencobanya !


Wonogiri, 11/4/2011

Thursday, January 20, 2011

Revolusi Locavore, Tercekik Harga Cabe dan Wonogiri Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id

Locavore.
Sudahkah Anda kenal istilah eksot ni ?
Saya ketabrak istilah itu gara-gara cabe.

Ceritanya, kemarin (19/1/2011) saya memperoleh kabar mutakhir tentang cabe itu dari penjual mi ayam Mas Djan di Wonogiri. mBaknya baru pulang dari pasar, dan mengeluh. Ia baru saja membeli cabe seperempat kilogram dengan harga gila-gilaan.

"Satu kilogram cabe rawit,harganya masih seratus ribu rupiah," katanya.Beberapa hari sebelumnya, koran lokal mewartakan : harga cabe satu klethus senilai rupiah sebanyak tiga ratus !

Pagi ini (20/1/2011), mungkin karena terus dihantui harga cabe itu, ketika membuka-buka situs koran The Jakarta Globe, saya menemukan istilah locavore itu dalam artikel yang inspiratif. Artikel tentang revolusi upaya memperkuat ketahanan pangan bagi warga Indonesia.

Disitu, penulisnya, Magfirah Dahlan-Taylor yang kandidat PhD bidang perencanaan, tatalaksana dan globalisasi dari Virginia Tech (AS), mewedar gagasan revolusi memperkuat daya tahan pengadaan pangan di negara kita ini melalui upaya pemanfaatan halaman kebun rumah-rumah kita.Kunci keberhasilan gagasan mulia ini harus dimulai dari pola pikir, mindset kita-kita semua.

Ia lalu merujuk ikhtiar Michelle Obama, yang berkebun tanaman sayuran di kompleks Gedung Putih. Aksi mulia Ibu Negara AS itu, menurutnya, sejalan dengan tren gerakan masyarakat di AS yang berlabel locavore, walau ada juga yang menyebut localvore.

Gerakan itu pada intinya berusaha mendekatkan sumber makanan kepada konsumen yang selama ini terbiasa mengambil makanan dari rak-rak di pasar-pasar swalayan ketimbang langsung dari tanaman. Dengan gerakan ini kita diajak mengonsumsi makanan-makanan hasil budi daya lokal.

Selain lebih murah, karena tidak terbebani biaya pajak sampai transportasi [baca kisah mBak Bea, warga Indonesia yang kini tinggal di Perancis ketika kangen makanan asal Indonesia], kita juga diajak/diajar untuk mengetahui ikhtiar apa saja yang membuat tanaman itu tumbuh.

Misalnya, apakah memakai pupuk kimia ataukah pupuk organik ? Merujuk hal itu, jelaslah pula bila gerakan locavore itu juga berimpit dengan misi gerakan pelestarian lingkungan hidup. Dan menurutnya, harus digairahkan sejak dini di bangku-bangku pendidikan kita.

Terima kasih, Ibu Magfirah Dahlan-Taylor.

Bagaimana sikap kita ? Mumpung kita semua masih merasakan shock, termasuk bila Anda membaca berita yang mengabarkan harga cabe mampu mencapai seperempat juta rupiah per kilogramnya, semoga tanda bahaya itu, yang juga bisa menjalar ke komoditas pertanian lainnya, mampu menginspirasi kita untuk mulai bergerak. Dimulai dari hal kecil, dari diri kita, dari rumah kita, dan sebaiknya kita lakukan sekarang juga.

Bertani modal kaleng. Bagi saya, imbauan di atas itu ibarat memutar kembali lagu lama dengan aransemen baru. Sedikit bernostalgia, di tahun 1998 ketika badai krisis moneter menggebuk Indonesia yang membuat saya harus pulang kampung ke Wonogiri setelah ngendon di Jakarta lebih dari 18 tahun, saya sempat membuat isu dan gerakan berkebun tanaman sayuran di halaman rumah sendiri.

Saya mengajak warga, misalnya dengan memanfaatkan lahan terbatas dan bahkan kaleng-kaleng bekas cat, untuk berkebun tanaman cabe, sawi, kangkung, sampai kacang panjang. Saya bahkan berbisnis benih-benih tanaman sayuran itu, juga pupuk organik, dengan label Optimis melalui jasa pos. Gagasan itu saya sebarkan dan promosikan melalui kolom-kolom surat pembaca di pelbagai surat kabar.

Cerita jadul itu sempat juga saya tulis di blog Esai Epistoholica pada bulan Agustus 2005. Potongannya : "Bisnis pertanian melalui surat pembaca juga pernah saya terjuni. Akibat krismon di awal 1998, saya pun harus hengkang dari Jakarta. Kembali mudik ke Wonogiri.

Dalam perjalanan bis Solo-Wonogiri, saya temukan penjaja asongan yang menawarkan produk unik. Yaitu paket kecil berisi sepuluh jenis biji-bijian, benih tanaman sayuran. Ada bayam, kangkung, lombok, sawi, tomat, gambas sampai mentimun. Saya membeli dan minta alamat penjualnya. Dirinya tinggal di daerah Sukoharjo. Harga satu paket, Rp. 1.000. Kalau belinya banyak, harganya Rp. 600 per paket.

Pertanian adalah subjek yang saya buta sama sekali. Saya anak tentara, bukan anak petani. Selama 18 tahun saya pun tinggal di Jakarta. Kini tiba saatnya, pikir saya, untuk belajar menjadi petani. Saya segera mencari info ke Departemen Pertanian. Bahkan kemudian menemukan tempat yang menjual pupuk organik. Juga membaca-baca majalah pertanian Trubus yang terkenal itu.

Di masa krisis moneter itu cabe harganya mencapai puluhan ribu per kilogram, aku pikir, gerakan swadesi alias mencukupi kebutuhan diri sendiri model Mahatma Gandhi (foto di atas) sebaiknya dicoba untuk dipromosikan."

Revolusi kita bersama. Apakah Anda sebagai warga Wonogiri, di mana pun Anda berada, kira-kira kini menjadi ikut tertarik dan kemudian tergerak untuk ikut dalam revolusi locavore yang inspiratif ini ? Hanya Anda yang bisa memastikannya.

Harapan saya : semoga obrolan tentang cekikan harga cabe, gerakan locavore, dan inspirasi dari Mahatma Gandhi ini mampu membawa manfaat bagi kita semua.

Mari kita mulai beraksi.
Demi kesejahteraan Anda pribadi, keluarga Anda, dan kita semua.

Anda punya pendapat menarik tentang hal ini ?
Saya menantikannya.
Terima kasih sebelumnya saya haturkan kepada Anda.


Wonogiri, 19-21/1/2011

PS : Saat ini saya memelihara 6-7 tanaman cabe. Walau tak begitu lebat, saya masih bisa mengonsumsi sayuran favorit ini, untuk diganyang menemani tempe mendoan.

Silakan akses artikel menarik ini dari Bapak Kusmayanto Kadiman, Locavore - Jurus Pamungkas Michelle Obama Menyiasati Globalisasi.

tmw

Saturday, December 18, 2010

Danar, Jamasan Keris dan Perang Budaya Di Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Bupati Danar Rahmanto kini sibuk.
Melunasi hutang-hutang dan janjinya.
Kegegeran pun terjadi.

Surat kabar berbahasa Inggris The Jakarta Globe (25/11/2010), telah menulis berita terkait keputusan mas bupati baru kita itu.

Bahkan berita ini berhari-hari menjadi topik favorit pembacanya.

"Tunduk kepada tekanan organisasi berbasis Islam konservatif lokal, bupati baru Wonogiri di Jawa Tengah telah mencabut dukungan pemerintahannya sebagai penyedia dana dan hal lainnya bagi penyelenggaraan peristiwa budaya tradisional setempat."

Alasan Danar, ia melakukan hal itu sebagai wujud pelunasan hutang secara moral dan memenuhi kontrak politik yang ia sepakati dengan pelbagai organisasi Islam dan tiga partai politik, yaitu Partai Gerindra, PAN dan juga PPP.

"Saya hanya akan menghapus tiga penyelenggaraan peristiwa budaya dari anggaran pemerintah, tetapi tidak akan melarang warga Wonogiri yang akan menyelenggakannya dengan dana mereka sendiri," tegas Danar Rahmanto.

Tiga peristiwa budaya itu adalah Tradisi Jamasan Pusaka yang rutin diadakan setiap bulan Sura/Muharam di Waduk Gajah Mungkur (WGM). Demikian pula acara tradisi seperti Larung Ageng di Pantai Sembukan dan Sedekah Bumi di Kahyangan, Tirtomoyo.

Jawa lagi bunuh diri. Seorang pembaca bernama "John Kramer" menulis pendapat yang sinis atas keputusan itu.

"Danar dan orang-orang dibelakangnya adalah mereka yang kacau dalam memahami mana yang bagian dari agama dan mana yang bagian dari adat istiadat suatu tradisi. Kami semua mampu melihatnya secara jernih. Mereka itu seharusnya juga mempromosikan Pancasila tetapi tanpa slogan 'Bhinneka Tunggal Ika' sejak sekarang, karena ini akan membingungkan orang dalam melaksanakan perintah 'satu agama sejati' mereka."

Pembaca lainnya "jeprince977" nimbrung berkomentar. Lebih galak. "Inilah tanda-tanda bahwa Indonesia mengalami pelemahan dan pembusukan dari dalam. Dan penyebab utamanya, sebagaimana orang melihat pelbagai bukti yang tersaji, adalah Islam radikal.

Siapa lagi yang mempromosikan kekerasan, pengrusakan, kebencian, dan terutama upaya mereka untuk menghancurkan keindahan khasanah budaya yang ada."

Muncul pendapat menarik, yang berupa kritikan tajam dan pedas kepada orang Jawa sendiri. Adalah "MoGei" yang menulis : "Sungguh menyedihkan melihat banyak dan banyak lagi orang Jawa yang nyingkur, membelakangi akar budaya mereka sendiri.

Secara pribadi saya tidak menyalahkan Islam dalam hal ini. Masalahnya adalah semakin banyak orang Jawa menelantarkan dan menolak identitas budaya mereka sendiri. Tentu saja selalu ada pengaruh dari luar, tetapi sisi internal, mentalitas (kebanggaan diri) akan selalu menentukan ketangguhan bangsa bersangkutan.

Apakah atas nama agama atau globalisasi, melalui cara kekerasan atau cara damai, orang-orang Jawa sekarang ini sedang membunuh warisan budaya mereka sendiri. Dalam pendapat saya, sebagian besar orang Jawa memang tidak memiliki kebanggaan sama sekali terhadap budaya mereka sendiri."

Wonogiri bergolak. Keputusan Danar Rahmanto itu memicu gejolak. Mantan Kepala Dinas Pariwisata (Diparta) Wonogiri, H Mulyadi menilai prosesi jamasan pusaka sudah telanjur dikenal di luar negeri. Karenanya dia menyayangkan penghapusan tradisi budaya jamasan dan ruwatan tiap bulan Muharram atau Sura di Wonogiri.

Seperti dilaporkan oleh koran lokal Solopos, Mulyadi yang juga mantan Sekretaris Daerah itu mengaku kegiatan jamasan dan ruwatan di Waduk Gajah Mungkur (WGM) telah dipromosikan ke lima negara, yakni Australia, Malaysia, Singapura, Thailand dan AS.

"Turis mancanegara tertarik soal budaya dan kegiatan jamasan atau ruwatan pusaka Mangkunegoro I di WGM telah kami usulkan sebagai event internasional," ujarnya.

Diskusi yang sempat membuat "hawa panas" di Wonogiri itu akhirnya memperoleh solusi. Acara itu akhirnya tetap akan dilangsungkan, hari ini. Minggu, 19 Desember 2010.

Tetapi sebagaimana diwartakan oleh situs Radio Komunitas Gunung Gandul, berbeda dengan saat Begug Poernomosidi masih menjabat dengan terjun sendiri untuk memimpin kirab, kini bupati dan jajarannya hanya sebagai penonton di panggung kehormatan. Acara itu diselenggarakan oleh Himpunan Keluarga Mangkunegaran (HKMN).

Citra Wonogiri. Sebagaimana kata presiden AS ke-15 James Buchanan (1791-1868), "I like the noise of democracy" , saya menyukai gaduhnya demokrasi, saya juga tertarik mengikuti kegaduhan dan "perang budaya" di Wonogiri ini.

Berbeda dibanding era Begug yang kemratu-ratu, yang dirinya suka memposisikan diri sebagai raja kecil, antara lain yang oleh para pegawai pemkab sering didaulat dengan sebutan feodal seperti Gusti Kanjeng, nampaknya Danar ingin menghapus citra-citra feodal itu. Seperti dalam spanduk-spanduk kampanyenya, ia ingin mencitrakan diri sebagai bupati yang merakyat.

Danar Rahmanto, sebagaimana tindakan biasa penguasa baru, memang senantiasa berusaha menghapus bayang-bayang pemerintahan sebelumnya. Aksi "de-begug-isasi" itu sedang ia gencarkan mulai saat ini. Termasuk yang segera nampak : mengubah tampilan bangunan di depan halaman kabupaten Wonogiri.

Bagi saya, penghapusan dukungan Pemkab Wonogiri bagi penyelenggaraan peristiwa budaya, dalam satu sisi, merupakan kabar baik. Inilah saatnya, walau mungkin harus tertatih terlebih dahulu, kekuatan sipil yang harus tampil ke depan sebagai motor untuk gerakan yang mereka antepi sendiri.

Lupakan pemerintah. Jangan tergantung melulu kepada pemerintah. Sebab seperti kata David Cameron, PM Inggris saat ini, "pemerintah itu makin lemah dan makin lemah, dan rakyat dengan dukungan teknologi komunikasi dan informasi, akan semakin menguat dan menguat posisinya."

Kirab 1000 Komputer. Teknologi komunikasi dan informasi. Itulah salah satu obsesi yang selalu mengusik saya, ketika bupati lama setiap kali menyelenggarakan acara-acara budaya yang menjadi klangenan dirinya.

Sebagai warga Wonogiri yang ingin ikut urun rembug, saya telah menulis surat pembaca ("itu yang bisa saya lakukan"), terkait bobot kecenderungan dirinya yang berorientasi ke masa lalu dan tabrakan dengan pemikiran pentingnya orientasi warga Wonogiri dalam melangkah menuju masa depan.


Kirab 1000 Komputer
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah,
Kamis, 13 April 2006

Setelah wayang, tahun ini UNESCO menetapkan keris Indonesia sebagai maha karya dunia. Saya tidak tahu apa dengan alasan itu Pemkab Wonogiri (12/2) menyelenggakan ritus jamasan pusaka dan diikuti kirab 1.000 keris. Pelaku kirab adalah siswa SLTP/SLTA Wonogiri yang hanya berbaris pasif, tanpa seni happening, dengan masing-masing membawa sebilah keris.

Kirab itu berkesan hanya sebagai acara tempelan. Jauh dari praksis memberikan penyadaran atau edukasi. Karena sama sekali tidak ditunjang dengan kegiatan ceramah, diskusi, pemutaran film, lomba karya tulis sampai workshop pembuatan keris sebagai karya seni dan warisan budaya.

Intinya, merupakan kegiatan edukatif menjauhkan generasi muda Wonogiri dari pemikiran gugon tuhon seputar keris yang kental berselimutkan aura mistis, misterius, yang disebarluaskan dari mulut ke mulut atau sinetron. Ingat kasus penipuan menyangkut jual-beli keris yang dianggap sakti dan bertuah yang menimpa seorang cerdik pandai asal Semarang.

Alangkah idealnya bila selain kirab 1.000 keris juga disertai kirab 1.000 buku favorit pelajar, sampai kirab 1000 komputer di Wonogiri. Generasi muda Wonogiri harus pula diajak untuk berorientasi ke masa depan.

Kalau kirab keris hanya sebagai tempelan acara ritus jamasan pusaka yang disukai generasi-generasi tua, apalagi kental bernuansa aura mistis, generasi muda Wonogiri tidak memperoleh manfaat apa-apa.

Terutama lagi bila dikaitkan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Wonogiri. Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal tanggal 7 Desember 2004 telah menyajikan data pahit : dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah ternyata Wonogiri termasuk sebagai daerah tertinggal.

Ngelus-elus dan menjamas keris saja jelas tidak menyumbang perubahan apa-apa !

Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612


Anda sebagai Warga Wonogiri, bagaimana pendapat Anda ?
Setelah gebrakan seperti ini, apa saja harapan Anda terhadap Mas Bupati kita itu terkait program untuk meningkatkan SDM Warga Wonogiri, yang selalu ia katakan ingin meningkatkan martabat warga Wonogiri ?


Wonogiri, 19 Desember 2010

Wonogiri, BBC London dan Buku Lelucon

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id



Selamat hari Rabu.
Semoga Anda sehat-sehat selalu.
Apa aktivitas khas Anda di hari Rabu ?

Kalau saya, hari Rabu adalah hari wajib untuk mengikuti kursus komedi. Mentornya, John Cantu. Dan itu berlangsung di Perpustakaan Umum Wonogiri.

Jadi, setiap hari Rabu saya mewajibkan diri untuk mengunjungi gedung yang terletak di Donoarjo, kompleks GOR tersebut. Pergi dan pulang, cukup dengan jalan kaki.

Pelajaran John Cantu itu saya akses lewat Internet, satu dari lima komputer yang tersedia di perpustakaan yang dipimpin Pak Marmo, dengan pustakawati mBak Dewi Werdiningsih itu.

Pengunjung lain yang rada tetap, adalah Pak Budi Prasetyo, pensiunan guru. Juga Mas Muhammad Yulianto, aktivis LSM hukum Wonogiri dan pengajar Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, Kartasura.

Dulu Pak Mufid, guru bahasa Inggris saya di SMP Negeri 1 Wonogiri, juga sering ketemu. Dengan alasan penglihatan yang beliau sebut menurun, ia mengurangi aktivitas kunjungan.

Aktivitas ikut kursus lelucon via Internet ini sudah saya lakukan sejak tahun 2008. Tetapi tetap saja, aktivitas mengkreasi humor, lelucon, lawakan, merupakan petualangan yang selalu saja tidak mudah. Hard fun.

Walau pun demikian, syukurlah ada juga encouragement. Dorongan moral. Seorang Effendi Gazali, telah berbaik hati menulis :

"Bambang Haryanto, selain sama, ternyata ia juga berbeda dengan saya.Dia ini orangnya serius di panggung belakang maupun di panggung depan. Ketika ia belum juga dikenal relatif luas sebagai komedian cerdas, hingga hari ini, pastilah karena dia relatif too serious untuk front stage.

Tapi kalau untuk "humor kuliner", dia jago analisis serta jago masaknya! Indonesia perlu puluhan orang seperti Bambang Haryanto, baru kemudian ada kemajuan di negeri ini. Di sanalah nantinya dunia humor kita akan lebih kaya, pluralis, dan makin cerdas!"

Thanks boss EG. Dorongan dia itu ikut mewarnai buku saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010). Oh ya, kursus komedi saya itu lewat Internet. Tertarik ? Silakan klik : disini.

Mawar London. Kabar lain dari Wonogiri, semalam (14/12/2010) saya mendapat telepon kejutan. Dari London.

"Oh, London," desis saya.

Saya pernah memperoleh hadiah dua buku, berupa peta kota penyelenggara Olimpiade 2012 ini. Dari warga London. Di bagian tenggara kota ini, di kawasan Bromley, di tahun 2006,dirinya pernah berbaik hati menanam tujuh pohon mawar.

Empat di halaman depan rumah.
Tiga di halaman belakang.

Penanamnya bilang, bila saatnya tiba, saya diminta untuk memberikan nama bagi empat tanaman mawar itu, yang suatu saat akan ikut menyambut saya di halamannya.

Telepon itu bukan dari si penanam pohon mawar tersebut.
Ia dan pohon mawar itu telah menjadi sejarah.

Telepon kejutan itu dari Endang Nurdin, penyiar Radio BBC Siaran Indonesia. Kalau dalam tradisi kaum epistoholik, kaum pemabuk penulis surat-surat pembaca, telepon mBak Endang Nurdin itu identik dengan pemberitahuan, kabar baik : "Surat pembaca Anda (akan) dimuat, besok hari Kamis."

Sekadar cerita : di Radio BBC itu ada acara Forum/Ungkapan Pendapat. Seperti kolom surat pembaca di koran, tetapi setiap minggunya ada tema-tema tertentu. Minggu ini tentang naik daunnya timnas Indonesia di Piala AFF 2010, yang hari Kamis (16/12) nanti akan menghadapi Filipina di semi final leg pertama.

Untuk ikut meng-kuncoro-kan nama Wonogiri, saya ikut mengisi, hari Minggu lalu. Rupanya isu yang saya tuliskan, lolos, dan semalam itu mBak Endang meminta saya untuk menyuarakannya. Hari Kamis 16 Desember 2010, 18.15, akan ia siarkan.

Pernahkah Anda mengalami momen seperti itu, mendapat kontak dari pengelola media massa, ketika menulis surat-surat pembaca ? Saya tidak pernah.

Isu tersebut kebetulan ikut pula muncul ketika cerita tentang komunitas Epistoholik Indonesia terpajang ceritanya di harian Solopos Minggu, 5 Desember 2010, yang lalu. Satu halaman. Silakan klik :

  • Gairah Epistoholik Indonesia
  • Bermula dari hal sederhana
  • Bermimpi jadi anak emas kembali
  • Ingin kopi darat


  • Memang tidak eksplisit, yaitu ketika saya mengatakan bahwa kaum epistoholik merupakan anak tiri dari media massa.

    Sudahlah.

    Saya sekarang tidak begitu menjadikan masalah akan status seperti itu. Toh lanskap media kini tidak sama seperti dulu. Tetapi menurut saya, orang-orang atau awak media massa utama itu ["kecuali Mas Bambang Tri Subeno, warga Donoarjo, yang kini wartawan Suara Merdeka"], rupanya banyak yang belum ngeh bila konstelasi galaksi media itu sudah berubah, bahkan posisinya sudah balik jungkir.

    Ringkasnya : karena sudah ada email atau SMS, mengapa tidak sehari atau dua hari sebelum surat pembaca atau artikel itu dimuat, sang penulisnya sudah diberi tahu tentang kabar gembira itu ?

    Kalau mereka bertanya : apa pentingnya ?
    Jawaban saya : untuk kebaikan dan masa depan medianya sendiri, silakan baca bukunya Seth Godin, Unleashing The IdeaVirus (2001).

    Kalau Anda dan mereka belum pernah membacanya, semoga Anda bisa merasakan dan menyimaki apa yang saya lakukan setelah saya memperoleh telepon dari Radio BBC Siaran Indonesia semalam itu.

    Semoga Anda ingat, BBC bukan media kelas teri.
    Bukan berstatus cekeremes. Ini media raksasa dan berpengaruh.

    Mungkin semua reputasi itu ia peroleh, antara lain, karena BBC sangat memperhatikan separo dari jiwanya sendiri, yaitu para audien-nya. Bahkan bersedia menelponnya secara langsung, seperti yang saya alami untuk ketiga kalinya ini.

    Selamat hari Rabu, sahabat.
    Semoga Anda meraih sukses sepanjang hari indah ini.
    Salam episto ergo sum !


    Bambang Haryanto

    PS : Untuk komunitas humor Indonesia, saya baru saja mengusulkan agar tanggal 30 Desember (2010) didaulat sebagai Hari Humor Nasional. Bila senggang, silakan ceritanya bisa Anda klik : disini.

    Diskusi para pemangku kepentingan dunia humor Indonesia terkait usulan Wong Wonogiiri ini, berlangsung riuh-rendah : disini.

    Kalau ada waktu, bacalah gossip baru, sekaligus berita palsu (fake news) bila pendukung fanatik Wikileaks setelah menyerang Paypal, MasterCard dan Amazon, kini segera menyerang humor Indonesia. Kasak-kusuknya ada : disini.

    Matur nuwun.


    Wonogiri, 19 Desember 2010