Sunday, June 20, 2010

Kabar dari Kajen : Ora Nonton Piala Dunia, Ora Pateken !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Galilah sumur sebelum haus.
Sukses masa lalu pegangan jelek sukses masa depan.
Kedua nasehat mulia itu saya abaikan.

Dampaknya, hari-hari ini saya terkena hukumannya : sebagai penggemar sepakbola tetapi tidak bisa menonton helat akbar Piala Dunia 2010 Afrika Selatan itu pula.

Nasehat pertama itu merupakan pepatah Cina. Terkait Piala Dunia 2010, jauh-jauh hari saya tidak menggali sumur itu terlebih dahulu. Saya abai terhadap realitas bahwa akses siaran televisi dari kota saya, Wonogiri, memiliki kendala yang kronis. Masuk area blank spot. Karena topografi Wonogiri kota yang terkepung gunung, membuat akses siaran itu mengalami kendala berat.

Selama ini, entah mengapa, pemerintah daerah tak hirau akan hal itu. Mereka nampak tidak ada prakarsa untuk misalnya, mendesak fihak televisi swasta agar membangun pemancar penguat di gunung-gunung sekitar pusat Kota Gaplek ini. Kemungkinan lain, karena rakyat sudah dianggap mampu menemukan solusinya sendiri : dengan memakai jasa operator televisi kabel lokal.

Operator televisi kabel ini oleh bos media raksasa Rupert Murdoch disebut sebagai splendid entrepreneur. Lima tahun lalu saya telah menulis surat pembaca, tentang hal itu seperti di bawah ini :


Murdoch vs SCTV dan TV7
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah
Jumat, 23 Desember 2005

Berita majalah Gatra (8/10/2005) mengenai kiprah raja media Rupert Murdoch memiliki sebagian saham televisi swasta AnTV, mengingatkan kiat bisnisnya yang unik. Seperti diceritakan oleh majalah Business Week (6/3/1995) saat siaran televisi satelitnya Star TV dicuri oleh penduduk di India dan dijual kembali melalui jaringan kabel, Murdoch justru membiarkan hal itu.

Para pencuri siarannya tersebut justru ia sebut sebagai wiraswastawan yang cerdas, splendid entrepreneur. Karena dengan semakin meluasnya jangkauan siaran bagi Star TV membuka peluang Murdoch untuk menaikkan biaya pemasangan iklan di stasiunnya tersebut.

Kiat cerdas Murdoch itu di dalam negeri justru disingkiri oleh stasiun televisi SCTV dan TV 7 yang masing-masing memiliki hak eksklusif dalam menyiarkan Piala Dunia Sepakbola 2006 dan Liga Inggris. Seperti di daerah saya, yang topografinya terkepung pegunungan membuat sebagian besar siaran televisi nasional sulit masuk. Termasuk SCTV dan TV 7.

Kami sedikit berlega hati ketika muncul wiraswastawan cerdas yang membisniskan siaran satelit seperti yang disebut Rupert Murdoch. Dengan biaya ringan, tiap rumah tangga kini dapat lebih jelas menonton televisi lewat jaringan kabel. Tetapi untuk acara sepakbola pada kedua stasiun tersebut telah dilakukan pengacakan, yang membuat kami tidak bisa menonton Liga Inggris dan terancam besar kemungkinan tidak bisa nonton Piala Dunia 2006 nanti.

Bisakah kedua stasiun televisi tersebut segera membangun stasiun penguat sehingga membuka akses warga kota kami untuk bisa nonton siaran sepakbola yang mereka pancarkan ?


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


Syukurlah, siaran Piala Dunia 2006 Jerman di Wonogiri saat itu bisa terakses melalui jasa operator televisi kabel lokal. Dari awal sampai saat Italia berjaya sebagai juara. Tetapi sukses di masa lalu itu, ternyata kemungkinan tidak terulang pada Piala Dunia 2010 Afrika Selatan kali ini. Gelagatnya sudah tercium sejak hari pertama Piala Dunia 2010 digulirkan.

Lanjutnya silakan klik : Gagal nonton Piala Dunia 2010

Matur nuwun.

No comments: