Thursday, December 1, 2011

Solo Cyber Day 2011, Wong Wonogiri dan Indonesia Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id



IndoWLI.
Anda sudah akrab dengan singkatan ini ?

Sedang Onno W. Purbo ?
Ini nama tokoh.
Agak kebangeten bila Anda belum mengenal beliau.

Untuk warga Solo yang belum tahu dan belum kenal, silakan berkenalan dengan beliau. Tempatnya di depan Plaza Sriwedari. Minggu Pagi, 4 Desember 2011. Jam 7-an. Beliau akan memberikan orasi dalam acara Solo Cyber Day 2011.

Acara siber-siberan semacam ini bikin saya agak bernostalgia.

Karena tiga tahun lalu,2008, Walikota Solo Jokowi sudah mencanangkan bahwa tanggal 30 Juli sebagai Solo Cyberholicday. Hari mabuk dunia cyber. Hari kasmaran Internet. Saking ikut-ikutan mabuk saya sempat membuat blog khusus untuk momen itu.

Di blog tersebut Anda dapat melihat secuplik sajian kelompok keroncong siswa-siswi SMA St Yosef yang memanggungkan lagu "Solo Cyberholicday" dengan lirik yang cerdas. Juga dilantunkan secara penuh semangat dalam balutan lagu "It's a Holy Holyday"-nya Boney M, kelompok musik asal Jerman.

Apakah deklarasi oleh Pak Wali hari Minggu esok itu secara resmi menghapus deklarasi dia 3 tahun yang lalu ? Ataukah akan ada dua hari mabuk cyber secara resmi di Solo, yaitu setiap 30 Juli dan 4 Desember ?

Cerita keluarga. Yang pasti,dalam acara tanggal 4 Desember 2011 itu komunitas saya berdasarkan keturunan Trah Martowirono akan ikut ambil bagian. Stan kami bernomor 18, berkat pilihan eksklusif oleh Presiden Republik Aeng-Aeng Mayor Haristanto, tempatnya jadi dekat panggung. Berseberangan dengan stan organisasinya Mas Donny Budi Utoyo, Internet Sehat yang terkenal itu.

Ada sekitar 50 stan yang memunculkan beragam komunitas di Solo dan Indonesia yang memanfaatkan Internet untuk mempertegas eksistensi dan krida-krida mereka yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Stan Trah Martowirono mengusung misi ingin berbagi cerita, bahwa tiap-tiap keluarga itu punya kisah menarik dan hero, walau kelas kampung sekali pun, yang pantas untuk dituliskan. Karena seperti kata Stephen R. Covey, kini saatnya di era Internet ini masing-masing pribadi memberikan "suara"-nya bagi dunia. Ia merujuk setiap insan adalah istimewa. Pakar Internet Dave Wiener lalu menimpali, bila 6 milyar umat manusia bisa saling terhubung, dunia akan menjadi lebih baik adanya.

Modal "unjuk dada" kami di acara SCD 2011 itu hanya blog. Itu pun blog gratisan, yang kami sebut sebagai keuntungan sebagai sarana berbagi pesan betapa keluarga lain, keluarga Anda pun pasti bisa melakukan hal yang sama. Yaitu memiliki blog, untuk menyambungkan silaturahmi (selain Facebook, Twitter dan media sosial lainnya) antarkeluarga Anda. Juga sebagai media untuk mencatat sejarah keluarga Anda.

Kembali ke Mas Onno. Walau hanya lewat email, saya mengenal beliau. Saat acara Jagongan Media Rakyat 2010 di Yogya, Juli 2010, saya sempat berfoto-ria di halaman Jogja Museum.

Juga minta tanda tangan dalam artikel majalah Esquire Indonesia edisi Juni 2010. Profil Onno W. Purbo dimuat di majalah gaya hidup pria tersebut, dan nama saya ikut muncul di halaman lain yang membahas tentang wabah tindak kekerasan di kancah suporter ("saya pencetus Hari Suporter Nasional, 12 Juli 2000") sepakbola Indonesia.

Membincangkan masa depan Indonesia Kita. Sebagai warga Wonogiri, pagi ini sesudah jalan kaki pagi, melalui milis IndoWLI (IndoWireLessIndonesia) yang digerakkan oleh Dr. Onno W. Purbo,saya ingin mengirimkan email ucapan selamat datang di Solo untuk beliau. Tetapi saya juga terpincut untuk membuka kabar-kabar lain yang masuk. Ada kabar yang ditulis oleh Bapak Ade Kuswandi.Menurut saya menarik.
Di bawah ini saya bagikan untuk Anda :

Cerita mahasiswa Indonesia di Ausie.

Nyata.

Suatu pagi,kami menjemput seseorg klien di bandara.Org itu sdh tua,kisaran 60 thn.Si Bpk adl pengusaha asal Singapura,dgn logat bicara gaya melayu & english,beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kpd kami yg msh muda.

Beliau berkata,"Ur country is so rich!" Ah biasa banget denger kata2 itu. Tapi tunggu dulu."Indonesia doesn't need the world,but the world needs Indonesia,"lanjutnya. "Everything can be found here in Indonesia,U don't need the world."

"Mudah saja,Indonesia paru2 dunia.Tebang saja hutan di kalimantan,dunia pasti kiamat. Dunia yg butuh Indonesia!

Singapura is nothing,we can't be rich without Indonesia. 500.000 org Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan.Bisa terbayang uang yg masuk ke kami,apartemen2 terbaru kami yg beli org2 Indonesia,ga peduli harga selangit, laku keras.

Lihatlah RS kami,org Indonesia semua yg berobat.Trus,kalian tau bgmna kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya,bener2 panik.Sangat terasa,we are nothing.Kalian tau kan kalo Agustus kmrn dunia krisis beras.Termasuk di Singapura dan Malaysia?

Kalian di Indonesia dgn mudah dpt beras.Liatlah negara kalian, air bersih di mana2,liatlah negara kami,air bersih pun kami beli dari Malaysia. Saya ke Kalimantan pun dlm rangka bisnis,krn pasirnya mengandung permata.Terliat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3rb/kg ke pabrik china,di pabrik jual kembali seharga Rp 30rb/kg.Saya liat ini sbg peluang.

Kalian sadar tidak kalo negara2 lain selalu takut mengembargo Indonesia! Ya,karena negara kalian memiliki segalanya.Mereka takut kalau kalian mnjadi mandiri,makanya tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YG MENG- EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah pangan dr petani2 kita sendiri,belilah tekstil garmen dr pabrik2 sendiri.Tak perlu impor klo bs produk sendiri.

Jika kalian bs mandiri,bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA WILL RULE THE WORLD!!

Plis share ya biar sampe ke seluruh bangsa Indonesia...

Wassalam,
Ade Kuswandi

Terima kasih, Pak Ade Kuswandi.
Pembaca, semoga cerita campur-bawur ini ada manfaatnya bagi Anda.Bagi kita semua. Apakah momen Solo Cyber Day 2011 itu juga dapat kita manfaatkan untuk memperteguh rasa nasionalisme kita, lalu membuat kita tergerak sesuai nasehat tokoh bisnis Singapura itu pula ?


Salam saya dari Wonogiri.


Wonogiri, 1 Desember 2011
Bonus dari acara jalan kaki pagi.

Sunday, November 20, 2011

Wong Wonogiri, Ngaco di Kereta Api dan Inspirasi

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id



Anda sempat memperhatikan fasilitas toilet di kereta api ? Atau mungkin sekilas pernah memperhatikan peringatan yang tertera di pintu ruang melepas hajat itu ?

Secara guyon, bila Anda terpaksa menggunakan fasilitas itu untuk membuang isi perut Anda di atas kereta api eksekutif Argolawu jurusan Solo Balapan – Gambir, bayangkan apa yang terjadi. Bisa saja ampas makanan pertama Anda jatuh di Klaten dan yang terakhir jatuhnya di Kutoarjo.

Demikian pula kalau Anda melihat-lihat fasilitas toilet di stasiun Gambir (foto kedua). Apa kira-kira Anda dapat mengaitkannya dengan nama pemain komedi Srimulat era 80-an, Bambang Gentolet ?

Lupakan kedua lelucon scatological terkait kereta api itu. Karena sepanjang ingatan, saya lebih banyak menikmati kesenangan dalam bepergian dengan naik kereta api.

Misalnya, di masa saya kecil, tahun 60-an, kereta api uap dari Stasiun Wonogiri menuju Solo berangkat jam 5 pagi. Suaranya sinyalnya terdengar jelas dari rumah. Tetapi sungguh menyiksa bagi anak kecil untuk bangun pagi.

Hanya karena ingin mengunjungi kakek-nenek saya di Sukoharjo, dan harus naik kereta api, hawa pagi dingin yang menggigit itu terus ditahan-tahan.

Pagi itu, bersama mBah Marto Bangin (adik nenek saya) bersama anak-anaknya Bawarti dan Bhawarto (kini camat Pracimantoro), naik kereta itu pula. Kebetulan ikut naik Atun, anak perempuan manis, tetangga dan teman main. Ia pergi ke Solo menemui ibunya. Saya duduk bersebelahan. Baju hangatnya ikut mengusir hawa dingin yang menerobosi jendela kayu kereta api kuno yang sedang berlari itu.

Kami berpisah di Kepuh. Rombongan mBah Marto Bangin menuju Kedunggudel. Dengan jalan kaki, sekitar 7-8 kilometer, yang bagi saya inilah lelaku untuk bisa untuk menemui kakek-nenek Martowirono.

Ironi burung kasuari. Kereta api yang sama terasa eksotis ketika hampir berhenti di halte Kebon Raja Sriwedari. Anak Wonogiri yang bisa mengunjungi kebun binatang di Solo saat itu adalah suatu kemewahan. Saat itu lokomotif hitamnya selepas Pasar Pon mengeluarkan teriakan dan sekaligus semburan rinai air yang menerpa wajah-wajah kami. “Kereta api akan segera tiba di kebun binatang Sriwedari,” jelas ibu saya.

Ketika memasuki kebun binatang, di bawah menara yang puncaknya menyorotkan lampu berputar, kami segera menemui burung merak dan kasuari. “Burung kasuari itu suka makan kerikil. Seperti kita,” kata ibu saya. Saya tidak mengerti ucapan beliau saat itu.

Tetapi suatu saat, ketika beliau menampi beras jatah sebagai keluarga tentara, saya lihat ibu saya sibuk membuang kerikil-kerikil kecil dari beras tersebut. Ah, lelucon ibu Sukarni (1933-1992, hari ini, 20/11/2011, tepat wafatnya 19 tahun yang lalu) di Sriwedari itu kini baru bisa saya fahami.

Tahun 1978, kereta api komuter Kuda Putih, kini dikenal sebagai Prameks, yang bolak-balik antara Balapan Solo-Tugu Yogyakarta pernah menjadi setting cerita pendek saya yang dimuat di majalah Gadis. Kisah cinta pelajar STM yang sok tahu, dan kena batunya, karena ternyata gadis yang dia taksir sepanjang perjalanan itu seorang mahasiswi psikologi UGM yang sedang melakukan riset untuk skripsinya.

Pada tahun yang sama, sesudah menyaksikan Pekan Wayang Indonesia di TIM Jakarta, saya pulang ke Solo bersama Marlene Heinz, mahasiswi Belanda berambut pirang dengan leher indah, dengan naik kereta Senja.

Keretanya mogok di Klaten. Kami berdua pindah naik colt, turun di Pasar Klewer. Setiap kali bertemu, kejadian pindah-pindah sarana perjalanan itu jadi bahan canda kita. Marlene kini sudah jadi warga Solo, suaminya juga warga Solo, tetapi sejak 1980 (ia kembali ke Belanda dan saya pindah dari Solo ke Jakarta) saya belum pernah ketemuan dengannya lagi.

Masih pula di tahun yang sama, sebagai mahasiswa Jurusan Mesin, Fakultas Keguruan Teknik UNS, saya melakukan praktek kerja di Balai Yasa Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), Madiun. Sekitar satu bulan. Untuk pertama kali, saya memperoleh surat balasan dari wanita indah yang membuat saya tergila-gila, yang punya julukan Miduk. Saat itu ia belajar Administrasi Negara Fisip UNS. SMA-nya di Ursulin.

Ia mencantumkan dalam suratnya satu judul lagu dari The Bee Gees yang hadir dalam album bergaya disko : “How Deep Is Your Love.” Tahun 2002 ketika naik kereta api Argodwipangga, lagu itu kembali menyapa. Sejarah tentang dirinya telah saya tulis di blog, dengan harapan nantinya bisa dibaca oleh anak atau cucunya.

Harapan itu justru tidak kesampaian.

“MDK (Miduk) senyum-senyum,” kata adik perempuannya di telepon. Adiknya ini adalah bekas murid sanggar melukis saya, di mana kami terpisah sejak 1980 (dan ia sempat tinggal lama di AS) dan tiba-tiba tahun 2010 (ya gara-gara ia memergoki isi blog itu) ia menelepon saya. Cerita di blog itu kini sudah menjadi pengetahuan umum untuk seluruh keluarga besarnya.

Menjemput calon presiden. Tahun 1998, lebih seru dalam aksi berkereta api. Pagi dari Solo naik Argo Lawu, tiba di Jakarta jam 16-an, lalu menuju ke salah satu gedung Fakultas Ekonomi UI di Salemba. Di tahun 1985 gedung ini adalah perpustakaan tempat saya, AC Sungkana Hadi dan Hartadi Wibowo ikut rapat sebagai petugas survei guna persiapan perpustakaan pusat UI di Depok.

Sore itu saya menemui asisten dari Dr. Sri Mulyani Indrawati, menyerahkan biaya transpor, sehingga ahli ekonomi (sekaligus Capres 2014 dari Partai SRI) itu bisa menjadi pembicara pada seminar ekonomi, 14 Agustus 1998, di Solo. Saya bersama adik saya Mayor Haristanto, di bawah bendera Forbis (Forum Bisnis Surakarta), sebagai event organizer yang didanai oleh PPK Bimo International yang dipimpin oleh Ir. Joko Widodo, kini Walikota Solo.

Urusan di FEUI selesai, mampir untuk membeli majalah Fortune, Newsweek sampai Time di lapak majalah bekasnya Pak Yono yang asal Sragen di depan Gedung Dewan Dakwah, Kramat [“seorang wanita inspiratif dari Inggris moga tidak lupa makna tempat ini”], saya harus segera kembali ke Stasiun Gambir.

Malam telah memeluk Jakarta. Saya segera masuk barisan pengantri untuk membeli tiket kereta api Argo Lawu yang berangkat menuju Solo jam 8 malam. Harga tiket saat itu, 125 ribu.

Tiket ternyata habis. Saya menelpon adik saya, Broto Happy W. di Tabloid BOLA, bahwa saya akan menginap di rumahnya, di Bogor. Ia menyarankan agar segera memesan tiket untuk esok hari. Tidak jadi. Malam itu saya beruntung. Ada seorang anak muda menghampiri, ia hendak menjual tiket, karena yang berhak menggunakannya berhalangan berangkat malam ini. Harga yang ia kehendaki 100 ribu rupiah.

Saya setuju. Di atas kereta saya duduk berdampingan dengan seorang insinyur metalurgi dari India. “Are you a snake charmer ?” canda saya. Ia tertawa. India kan terkenal dengan kaum fakir, tiupan serulingnya dan liukan ular kobra. Ini perjalanan pertamanya di Jawa.

Ia menuju Cilacap untuk memeriksa dinding kilang minyak yang jebol atau terbakar beberapa saat lalu. Ia meminta tolong untuk diberitahu ketika kereta sudah sampai di tempat tujuan turun dia, Purwokerto. Kami berbagi alamat email malam itu.

Stres versus humor. Tanggal 20 Oktober 2011, muncul perasaan tak nyaman ketika saya berada dalam antrian tiket di Stasiun Balapan, Solo. Pemesanan tiket melalui biro jasa di Wonogiri sehari sebelumnya [“petugasnya yang cantik, Isma, saya candai kalau tidak kerja ia akan sibuk menggunakan fasilitas online-nya untuk main Facebook dan ia tertawa”], rupanya rada bermasalah.

Petugas tiket berkali-kali mencek data secara online, tetapi nama saya tidak muncul. Kereta api berangkat jam 8 pagi dan saat itu jam sudah menunjuk 07.15. Apalagi kemudian saya diharuskan menemui bagian layanan pelanggan.

Ruangan berpendingin itu terasa gerah. Petugas layanan pelanggan sudah dua kali menelepon kantor pusat biro jasa tempat saya membeli tiket itu. Tak jua terdengar telepon masuk. Jam sudah menunjuk 07.30. Pengeras suara berbunyi bahwa penumpang Argodwipangga sudah diminta naik ke kereta api.

“Kamu kan suka humor. Masa sih untuk masalah sesepele semacam ini kamu malah menjadi stres ? Mana selera humormu, untuk mengejek diri sendiri ?”

Itu kata hati kecil saya. Saya lalu ambil nafas dalam-dalam. Stres pun tereduksi. Termasuk ketika mBak Dina, petugas layanan itu malah pergi meninggalkan saya di ruangannya. Terasa lama. Saat ia kembali, saya memperoleh tiket bukan yang asli. Tetapi tiket pengganti, tulisan tangan.

Saya segera berlari, bisa naik ke atas kereta api, dan kerisauan muncul lagi. Bagaimana bila tiket ini tidak diakui oleh kondektur ? Paling banter saya akan diturunkan di Yogya !

Early bird, early worm. Begitu kereta api berjalan, pandangan saya tertarik melihat-lihat papan pengumuman yang tertera di interior gerbong. Tertera nama petugas manager on duty kereta ini bernama Adicahyo Nugroho. Disertakan nomor telepon selularnya yang bisa dihubungi. Data itu saya simpan di HP saya.

Muncul keisengan kreatif. Kalau dalam penyelenggaraan seminar-seminar sering dikenalkan istilah early bird, yaitu mereka yang mendaftar lebih awal sebagai peserta. Kepada mereka, mungkin 50-100 peserta awal, justru diiming-imingi potongan harga. Tetapi mengapa pemesan awal tiket kereta api justru memperoleh surcharge, alias penambahan biaya ?

Melihat sekeliling, ternyata gerbong saya hanya diisi 15-an penumpang. Saat masuk pertama kali, hanya saya saja dan seorang wanita muda yang sosoknya mirip teman kuliah saya dulu, Siti Rabyah Parvati, mahasiswi Sastra Inggris UI (1979) yang putrinya Sutan Syahrir.

Perbedaan perlakuan antara peserta seminar dan pemesan tiket kereta api itu saya saya kirim sms-nya kepada Adicahyo Nugroho. Juga saya kirim ke teman saya yang stand-up comedian, penyunting buku dan penulis humor di Bandung, Isman H. Suryaman. Keduanya memberikan balasan.

Adicahyo menyebut bahwa biaya tambahan itu sebagai penjamin bahwa pemesan akan memperoleh tiket sesuai dengan tanggal dan jam pemberangkatan kereta yang diinginkan. Betul juga ya. Hanya saja, saat saya membaca-baca majalah Rel-nya PT KAI, ternyata biaya tambahan itu dikenakan bila kita memesan tiket melalui biro jasa atau kantorpos. Kalau melalui loket stasiun dan kita lakukan sendiri, tidak ada biaya tambahan itu. Itu yang saya alami di Gambir, 16/11/2001.

Isman menjawab : “Penumpang bukan sebagai early bird tetapi sebagai early worm.” Pesan jenakanya : cacing yang lebih duluan muncul justru bernasib sial, karena segara dipatuk oleh sang burung yang terbang awal dari sarangnya. Saya tambahi, kalau pun sebagai late worm, dirinya juga akan sial pula. Kena patuk oleh para makelar tiket !

Hari Kamis sore, 17 Oktober 2011, jam 16.30, saya selamat tiba di Stasiun Gambir. Lalu menunggu jemputan rekan saya, Danny, teman Internet yang selama dua tahun ini hanya ketemuan di email dan telepon.

Saya kemudian mengirimkan sms ke seseorang yang spesial dalam hati saya : “Tau ga yank, siapa yang menemani perjalananku ? Kaos London. Travelling bag Borderline. Juga underwear Mark & Spencer :-).” Yang bersangkutan menjawab dengan tawa, walau mengaku telah lupa akan benda-benda itu.

Kembali ke Danny. Ia akan menempatkan saya di rumah yang kosong dan lemari buku. Boleh saya katakan kemudian hampir semua buku bertopik humor, komedi dan kartun yang dijajakan di toko buku maya Amazon.com, berada di lemari bukunya itu. Rumah ini saya beri nama The Hilton Humor.

Dalam foto saya bersama buku Inside Jokes (2011) terbitan perguruan tinggi teknologi elit di AS : The MIT Press. Inilah saatnya berpesta-pora, untuk foya-foya berhumor-intelektual-ria !

Fast forward : Kamis, 17 November 2011. Hampir satu bulan, kurang 3 hari, saya tinggal di Jakarta. Bisa menemui “yank” dua kali dan melepas dengan sedih saat ia harus kembali ke London. Bisa pula ketemuan dengan sebagian teman-teman kuliah di UI tahun 1980-an : Bakhuri Jamaluddin (belakang, kanan), Hartadi Wibowo (depan,kanan) dan Subagyo Ramelan (belakang, kiri).

Saya juga dapat kenangan inspiratif dari saya, Broto Happy Wondomisnowo yang bukunya Baktiku Bagi Indonesia : 60 Tahun Tiada Henti Mencetak Juara, 9 Juara Dunia dan 4 Peraih Medali Olimpiade diluncurkan bertepatan dengan Hari Pahlawan 2011 di Jakarta.

Juga ketemu rekan sesama suporter, Arista Budiyono yang kini menjadi social media specialist di perusahaan iklan besar kelompok Dwi Sapta Group dan Aji Wibowo, alumnus Sosiologi Gajah Mada, pengelola majalah kelompok suporter klub Liverpool di Jakarta.

Keduanya saya temui lagi di Istora Senayan, Minggu 13/11/2011, untuk menanda tangani buku saya Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010) yang mereka koleksi.

Kenangan Desember. Hari yang sama bisa sowan pula Bapak Taufik Rachman Soedarbo di Cilandak. Atas bantuan putra sulungnya, Mas Anto dan istrinya, mBak Devi (“juga Axel yang spontan dan jenaka”), mantan diplomat senior untuk pelbagai negara Afrika, Vietnam, Kamboja, dan tokoh diplomat kunci saat penyerahan Timor Leste ke PBB, bisa saya temui pagi itu.

Membuncah perasaan emosional ketika bisa duduk di seputar meja makan yang sama, di mana di tempat ini pada tahun 1986 beliau banyak bercerita tentang masakan Senegal. Malam itu Ibu Bintari Taufik Tjokroamidjojo, putrinya yang cantik, artistik dan karismatis Widhiana Laneza, dan diri saya, takjim sebagai pendengarnya.

Minggu pagi itu tetap saja, tidak bisa disamarkan, betapa rumah ini masih berselubung rasa kehilangan. Ibu Bintari Taufik Tjokroamidjojo,Widhiana Laneza dan adiknya Liana Rasanti, sebelumnya saya ziarahi makamnya di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Ketiganya sudah menghadap Sang Khalik. Masing-masing wafat tahun 2007, 2005 dan 1965. Sama-sama di bulan Desember.

"Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang senantiasa melimpahkan berkah dan ampunan bagi ketiganya di alam kelanggengan."

Bertambah teman. Hari Kamis pagi,17/11/2011, saya sudah tiba di Gambir. Bersiap meninggalkan Jakarta. Saya tidak bisa mengelak untuk harus duduk di depan seorang perokok, ketika kursi warung soto Lamongan itu penuh terisi. Untunglah, lima menit kemudian, ada kursi kosong. Saya bergeser tempat. Sumber asap rokok kini agak menjauh.

Tetapi dasar dunia ini memang sempit. Ketika naik ke gerbong, bapak perokok itu ternyata memperoleh kursi di belakang saya. Kami pun bertegur sapa. Ia akan turun di Yogya. Kursi depan saya dihuni turis backpack bule muda, laki dan perempuan. Mereka juga turun di Yogya. Kok engga bablas ke Solo sih ?

Hampir sepanjang perjalanan, bapak perokok tadi menelepon. Isunya tentang pencabutan usulan proyek. Nama-nama pejabat top daerah Yogyakarta muncul dalam obrolan. Ketika kereta api selepas Purwokerto, selepas saya pergi ke toilet, kami bisa mengobrol. Ia mengaku sebagai pegawai negeri, “duitnya habis untuk di jalan,mas” keluhnya. Aku menduga, ia bekerja di Jakarta tetapi keluarganya di Yogya ?

Tidak begitu jelas. Tapi, akunya, ia banyak dekat dengan pemimpin-pemimpin daerah di Yogyakarta. Sayang, ketika aku menyebut asalku dari Wonogiri ia justru mengomentari masalah kalahnya “mbak Yuni.”

Siapa Yuni ? “Ia kan anaknya Pak Untung ?,” jelasnya kemudian. Saya mengerti. Saya dari Wonogiri dan rupanya ia berbicara tentang Sragen. Diskusi menjadi tidak berlanjut lagi.

Yang berpotensi berlanjut adalah silaturahmi saya dengan Adicahyo Nugroho. Saat di Gambir, gara-gara asyik membaca buku Teach Yourself : Stand-Up Comedy (2007)-nya Logan Murray (“hadiah dari Danny”) saya telah melakukan kesalahan fatal. Mengirim sms yang keliru untuk Adicahyo.

Anehnya, ia membalas. Bahkan ia secara persis merujuk isu tentang early bird yang saya kirimkan kepadanya tanggal 17 Oktober 2011, hampir tepat sebulan yang lalu. Saya pun membalas. Saya meminta maaf atas diterimanya sms yang salah sasaran itu. Saya memperkenalkan nama saya, dan berharap bisa bereuni di kereta api Argodwipangga pagi ini.

Adicahyo menjawab : dia telah pindah tugas, di kereta api Bangunkarta, jurusan Senen-Jombang. Sedang manager on duty di kereta saya saat ini adalah Mas Sugeng. Ketika pemeriksaan karcis, saya sempat menyalami Mas Sugeng, juga mengobrol selintasan.

Saya merasa tersanjung karena sms saya sebulan lalu masih mengeram di HPnya Adicahyo Nugroho. Kita akhirnya menutup obrolan via sms dengan harapan masing-masing kita akan sukses dalam pekerjaan. Saya merasa kaya, karena lagi-lagi bertambah teman dan kenalan.

Jam 16.54, kereta api Argo Dwipangga, sampai di Stasiun Balapan Solo. Pengeras suara menyampaikan pesan berisi permohonan maaf atas keterlambatan yang hampir satu jam itu. Bagi saya, untung masih ada bis Raya senja itu, yang kemudian membawa saya dari Solo untuk tiba kembali rumah, di Kajen. Di Wonogiri.

“Perjalanan,” demikian simpul novelis dan penyair Inggris Lawrence George Durrell (1912–1990), “merupakan salah satu bentuk berkah terbaik dari introspeksi.”

Siapa yang tidak setuju ?
Saya menyetujuinya.
Manifestasinya adalah dengan menuliskannya.


Wonogiri, 21 November 2011

Thursday, November 10, 2011

Broto Happy W., Anak Wonogiri dan Bulutangkis Indonesia

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews(at) yahoo.co.id



Sembilan Juara Dunia. Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2011 kiranya memiliki makna mendalam bagi seluruh warga trah Trah Martowirono. Karena salah satu warga kita dari Taler Ke-4 berusaha ikut merayakan hari itu dengan mempersembahkan karyanya bagi bangsa dan negara Indonesia.

Selamat untuk Broto Happy Wondomisnowo !

Wartawan Tabloid BOLA, suami dari Ayu Broto Happy dan ayah dari Ega dan Adis, malam ini (10/11/2011) akan ikut aktif menjadi pelaku sejarah perkembangan dunia olahraga Indonesia. Khususnya dunia perbulutangkisan Indonesia.

Buku karyanya akan diluncurka berbarengan dengan perayaan HUT Ke-60 PB Tangkas Alfamart di Ballroom Hotel Mulia, Kamis, 10 November 2011, malam. Perkumpulan Bulutangkis (PB) Tangkas Alfamart yang didirikan oleh Keluarga Besar Soehandinata yang pencinta berat olahraga bulutangkis, telah tercatat menelurkan atlet-atlet bulutangkis Indonesia dengan prestasi dunia.

Antara lain, tercatat 9 Juara Dunia, meliputi Ade Chandra (1980), Verawaty Fajrin (1980), Icuk Sugiarto (1983), Joko Suprianto (1993), Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky (1995), Hendrawan (2001), Nova Widianto/Lilyana Natsir (2005 dan 2007).

Untuk peraihan medali Olimpiade : Hermawan Susanto (Barcelona, 1992, perunggu), Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky (Atlanta, 1996, emas), Hendrawan (Sydney,2000, perak) dan Nova Widianto/Lilyana Natsir (Beijing, 2008, perak).

Pena anak Wonogiri. Semua prestasi dan perjuangan mereka itu dan tokoh terkait lainnya demi mengharumkan nama Indonesia akan diabadikan oleh tulisan Broto Happy Wondomisnowo, yang anak Kajen Wonogiri dan anak ke-enam keluarga Kastanto Hendrowiharso-Sukarni, dalam buku berjudul Baktiku Bagi Indonesia : 60 Tahun Tiada Henti Mencetak Juara, 9 Juara Dunia dan 4 Peraih Medali Olimpiade . Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, 2011. 498 halaman.

“Pengerjaan buku ini mungkin bisa masuk Rekor MURI,” kata Broto Happy W. Karena dengan hampir 500 halaman, dikerjakan dalam tempo pendek, sekitar 3 bulan mulai April sampai deadline naskah tanggal 10 Juli. Apalagi penulisan buku ini dikerjakan disela-sela tugas jurnalistik di Tabloid BOLA.

Buku ini merupakan buku bulutangkis ketiga yang ia tulis. Sebelumnya menulis biografi pebulutangkis kontroversial Taufik Hidayat, Magnet di Bulutangkis (2003) dan biografi Hariyanto Arbi, Smash 100 Watt. (2006).

”Buku ini merupakan dedikasi saya untuk dunia bulutangkis Indonesia. Karena sering bergaul dengan para pemain bulutangkis, saya pun termotivasi untuk berbuat sesuatu untuk dunia bulutangkis Indonesia.

Kalau para atlet berjuang demi Merah Putih dengan ayunan raket di tengah lapangan, sedangkan saya lewat kemampuan yang saya miliki, yaitu menulis buku,” tegas Broto Happy W.

Lewat buku pula ia bertekad mengajak dan memotivasi semua warga keluarga besar Trah Martowirono untuk berlomba-lomba dalam mengukir prestasi sesuai dengan bidang dan kemampuannya masing-masing. ”Mari terus berkarya, kreatif, dan tiada henti berinovasi untuk ikut mengharumkan keluarga Trah Martowirono,” pungkasnya.

Acara peluncuran dan hari ulang tahun PB Tangkas Alfamart tersebut konon akan direkam dan disiarkan ulang di MetroTV. Ayo kita siap-siap untuk menontonnya, sekaligus menjadikannya sebagai inspirasi bagi semua warga Trah Martowirono tercinta kita.

Begitu, bukan ?
Salam sukses untuk Anda semua.


Kramat Jaya Baru, Jakarta, 10 November 2011

Thursday, October 6, 2011

Stay Hungry, Stay Foolish : Wong Wonogiri Mengenang Steve Jobs

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id




Supir truk,Walter Raleigh dan Steve Jobs.
Mereka memiliki bahasa dan aksi yang berbeda tentang cinta sejati.

Walter Raleigh (1552-1618), penjelajah dan kerabat Istana Inggris, mengatakan bahwa "true love is a durable fire, in the mind ever burning, never sick, never old, never dead". Cinta sejati adalah api abadi, selalu membara di hati, tanpa pernah sakit, uzur, atau pun mati.

Supir truk memasang slogan di bak truknya : "Aku tunggu jandamu."

Steve Jobs, pendiri perusahaan Apple Corporation., dengan aksi.

"Apple adalah kekasih tercinta Jobs ketika kuliah dan kini mereka bertemu kembali dalam pesta reuni setelah 20 tahun berpisah. Steve Jobs kini telah menikah, mempunyai anak dan hidupnya bahagia.

Ketika bertemu kembali dengan kekasihnya itu, ia lihat gadisnya telah kecanduan berat alkohol, dikelilingi konco-konco yang begundal dan preman serta menghancurkan hidupnya sendiri. Walau pun demikian, nurani Jobs menilai mantan kekasihnya itu adalah seorang gadis cantik yang pernah membuainya dengan kalimat bahwa dialah satu-satunya cintanya di dunia.

Lalu apa yang Jobs kerjakan ? Tentu saja ia tak ingin menikahinya. Tetapi dirinya tidak bisa lepas tangan begitu saja karena ia masih menyayanginya. Maka ia ajak kekasihnya itu ke panti rehabilitasi korban alkohol, membantunya untuk bergaul dengan teman-teman baru yang yang lebih baik, dan mengharap yang terbaik bagi masa depannya."

Demikianlah pelukisan dengan kias yang romantis dari Larry Ellison, CEO Oracle dan sahabat karib Jobs, mengenai hubungan emosional antara Jobs dengan Apple. Cerita itu terdapat dalam artikel "Geger Kisah Cinta Ulang Apple dan Jobs" yang dimuat di harian Media Indonesia, 11 September 1997 : 12.

Dari struk kwitansi honorarium tulisan yang ditandatangani redaktur bidang Wicaksono ("di dunia blogger Indonesia kini ia lebih dikenal sebagai nDoro Kakung”), saya memperoleh honor Rp. 166.700,00. Dipotong pajak 10 persen, Rp. 16.700,00. Honor bersih : Rp. 150.000,00.

Setelah sempat ditendang selama 12 tahun dari kursi direksi Apple, kisah cinta ulang Steve Paul Jobs dan Apple yang diteguhkan kembali di pentas MacWorld di Boston 6 Agustus 1997, akhir ceritanya ibarat dalam dongeng semata.

Apple yang didirikan oleh putra mahasiswa asal Syria yang kemudian menjadi ilmuwan politik, Abdulfattah Jandali dan Joanne Carole Schieble, tetapi diadopsi dan diasuh keluarga Paul dan Clara Jobs di Mountain View, California, kini tersohor menghasilkan produk-produk yang inovatif. Dunia pun kemudian mengenal iTunes, iPods, iPhones, MacBook Air dan lain sebagainya.

Menurut koran Inggris, The Guardian, di bawah komando Jobs yang masa mudanya pernah memadu cinta dengan penyanyi ballada Joan Baez itu, pada tahun 2000 Apple bernilai 5 milyar dollar dan kini senilai 170 milyar dollar.

Artikel ini saya tulis 7 November 2010 dengan judul Like waking up, like coming home. Hampir genap setahun, sore tadi (6/10/2011) saya memperoleh kabar dari televisi, bahwa Steve Jobs telah meninggal dunia.

Kabar itu sungguh menyedihkan, walau pun saya belum pernah memiliki komputer iMac, perangkat musik iPod, telepon canggih iPhone atau pun sabak elektronik iPad. Saya hanya mampu menghimpun beberapa pendapat dan kisah penggal-penggal kisah hidupnya. Sejak 1995 hingga kini.


Termasuk di bulan Agustus 2011 yang lalu tokoh penggerak revolusi mesin, Wael Ghonim melalui akun Twitternya berbagi informasi mengenai pidato Steve Jobs di saat dies natalis ke 114 dari Universitas Stanford, 12 Juni, 2005.

Steve Jobs membagi topik hidupnya dalam tiga subjek. “ The first story is about connecting the dots. My second story is about love and loss. My third story is about death.

Untuk topik yang terakhir ini, ia bilang bahwa ketika di umur 17 tahun ia mendapati sebuah kata mutiara : “Apabila Anda menjalani hidup Anda setiap hari seperti hari itu merupakan hari terakhir hidup Anda, suatu saat hidup Anda pasti berada dalam jalur yang benar.”


Lanjutnya : “Mengingat bahwa saya akan mati suatu saat nanti, hal itu menjadi sarana paling penting yang membantu saya dalam melakukan pilihan-pilihan besar dalam hidup saya. Sebab semua hal, seperti harapan, kebanggaan, ketakutan menanggung malu atau menderita kegagalan, semua hal itu akan rontok dihadapan kematian, dan hanya meninggalkan hal yang paling penting saja.

Ingatlah bahwa Anda akan meninggal merupakan cara terbaik yang saya yakini untuk menghindari perangkap pikiran bahwa Anda akan mengalami kekalahan. Anda sudah benar-benar telanjang. Dan tidak ada alasan lain lagi untuk mengikuti kata hati.

Hampir setahun lalu saya didiagnosa mengidap kanker. Ada tumor di pankreas saya. Saya tidak tahu apa pankreas itu. Dokter mengatakan bahwa tipe kanker ini tidak dapat disembuhkan dan peluang hdup saya hanya tinggal tiga sampai enam bulan.”

Steve Jobs kemudian menjalani operasi. Lalu ia katakan dalam orasi itu bahwa dirinya baik-baik saja. Lanjutnya : “Itu adalah momen terdekat diri saya menghadapi kematian dan saya harap sebagai momen yang terdekat yang akan saya jalani beberapa dekade mendatang. Menjalani hidup seperti itu kini saya dapat berkata kepada Anda dengan yakin bahwa kematian itu berguna sebagai sebuah konsep intelektual :

Tidak seorang pun ingin mati. Bahkan seseorang yang ingin masuk surga juga tidak ingin mati. Tetapi kematian adalah tujuan yang kita semua dapat berbagi. Tak seorang pun mampu menghindarinya. Dan itu merupakan keharusan, karena kematian nampaknya merupakan temuan terbaik dari kehidupan. Ini cara untuk menghilangkan yang tua untuk memberi jalan bagi yang baru. Saat ini yang baru adalah Anda, tetapi tidak lama lagi Anda pelan-pelan menjadi tua dan tersingkirkan. Maaf, mungkin terlalu dramatis, tetapi itulah kebenaran.”

Kepada mahasiswa Universitas Stanford, Steve Jobs memberikan petuah yang kiranya juga patut menjadi renungan kita semua. Ujarnya : “Waktu Anda terbatas, sehingga jangan menghabiskan waktu untuk menjadi budak hidup orang lain. Jangan terperangkap oleh dogma, menjalani hidup hasil pemikiran orang lain. Janganlah kegaduhan opini milik orang lain itu menenggelamkan kata hati Anda. Dan yang paling penting, milikilah keberanian untuk mengikuti suara hati dan intuisi Anda. Suatu saat mereka akan mengetahui apa yang Anda cita-citakan. Hal-hal lainnya hanyalah hal sekunder adanya.

Dalam penutup pidatonya, ia bernostalgia tentang majalah edisi terakhir The Whole Earth Catalog yang diterbitkan oleh Stewart Brand di tahun 1960-an yang menjadi inspirasi hidup Steve Jobs. “Di sampul belakang tersaji foto jalan pedesaan di waktu pagi, jalanan tempat Anda tertarik untuk menjelajahinya bila Anda memiliki jiwa petualang.

Disana tersaji kalimat berbunyi, ‘Stay Hungry. Stay Foolish.’ Itulah kalimat perpisahan majalah itu. Stay Hungry. Stay Foolish. Dan saya tetap berharap hal yang sama untuk hidup saya. Sekarang, ketika diwisuda Anda akan membuka lembaran baru hidup Anda, dan saya berharap hal yang sama juga untuk Anda.

Stay Hungry. Stay Foolish.”

Sugeng tindak, Mas Steve Jobs.
Mugi panjengengan sakpuniko tentrem ing pangayunanipun Gusti Allah.



Wonogiri, 7 Oktober 2011

Tuesday, August 2, 2011

Selamat Jalan, Plomponk : Kenangan Dari Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id



Hari Selasa (2/8/2011), hari puasa kedua, saya memutuskan untuk mengunjungi perpustakaan umum Wonogiri.

Berarti ada pekerjaan rumah yang harus dirampungkan dalam kunjungan itu. Membaca-baca koran terbitan hari Minggu, Senin dan Selasa.

Ini hari keluar rumah saya, selain ke pasar, yang pertama di bulan puasa ini. Dari Kajen, melewati utara Kodim, lalu ke selatan. Melewati sebelah barat Gudangseng, ke selatan. Karena di utara bagian belakang gedung SMK Pancasila I ada kajang dan bendera merah terpasang, tanda ada kesripahan, saya menuju perpustakaan melalui bekas jalan rel kereta api Wonogiri-Batu.

Setelah tiba di perpustakaan, saya ambil surat kabar Kompas edisi Minggu dan Senin. Saya baca-baca sambil menghidupkan komputer, untuk akses ke Internet. Karena, seperti dua kali bulan puasa sebelumnya, saya memutuskan untuk libur mengakses Facebook, saya hanya membuka akun 2-3 email saja. Lainnya : membaca-baca situs koran The Jakarta Post dan The Jakarta Globe..

Ketika membolak-balik koran Kompas edisi Minggu itu, saya terperangkap oleh sebuah iklan duka cita. Yang meninggal dunia : Djoko Poernomo. Fotonya, tidak lagi saya kenali.

Tetapi ketika membaca nama-nama yang ikut berdukacita, terutama nama pertama yang muncul adalah Julius Pour, wartawan senior Kompas dan biografer terkenal, segera saya tahu siapa dirinya.

Innallilahi wa ina ilaihi rojiun.

Teman saya ketika sama-sama meniti karier kepenulisan di Solo, sekitar tahun 1977-an, rupanya kini telah dipanggil menghadap Tuhan Yang Maha Esa.

Masa lalu pun tertayang di benak. Tahun-tahun itu, saya sebagai “wartawan Kuncung” (lelucon di antara kita, untuk merujuk posisi diri-diri kita sebagai wartawan freelance) dengan nama Hariteksi, bersama Efix Mulyadi dan Plomponk, sebut saja merupakan trio generasi baru (calon) wartawan Solo saat itu.

Kami seolah “membayangi” nama-nama wartawan Solo yang resmi. Misalnya, Achmad DS (Pikiran Rakyat), Soebianto (Kompas), L. Djono (Sinar Harapan), Agus Susanto (Berita Buana), Imam "Maesuna" Muafik (Hai dan banyak lagi lainnya.

Merasa tahu diri sebagai yunior, kami bertiga saat itu hanya menulis berita, reportase atau features yang berada di luar jangkauan para wartawan resmi tersebut. Misalnya semata melaporkan peristiwa-peristiwa budaya yang terjadi di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah (PKJT) Sasonomulyo. Juga menulis reportase tentang konser-konser musik di Solo.

Kebetulan, saat itu Efix Mulyadi dan juga saya menjadi aktivis kesenian di Sanggar Mandungan, Muka Kraton Surakarta. Bermain teater, menyelenggarakan pentas-pentas puisi, diskusi dan musik, dan juga menulis. Saat itu saya kuliah di Jurusan Mesin Fakultas Keguruan Teknik UNS, tetapi ikut berkiprah di Mandungan dan mulai mengasah keterampilan menulis untuk media massa dan kreativitas.

Aktivis lainnya : Moertidjono. Juga Harsoyo Rajiyowiryono. Kadang mampir kakaknya yang saat itu kuliah di Geologi UGM, Hardoyo, untuk berbagi cerita tentang isi majalah Horison dan Budaja Djaja. Atau pun berbagi tawa seputar humor tentang ulah julig Nasarudin Hoja yang jenaka.

Connie Suprapto. Marsudi. Mas Lis. Bambang Permaidi. Mas Mansur RRI. Broto “UGM” Dompu. Chosani. Mamok. Urip. Kentrung. Budoyo Sumarsono. Yohanes Yantono. Yoyok “Dablir” Mugiyatno. Wati. Dewi Elisawati. Tinuk. Juga “Ialah,” pria gelandangan yang ikut tidur di serambi sanggar dan gemar berpidato a la Bung Karno (menyebut-nyebut “munawaroh”) di waktu malam.



Ketika mahasiswa Seni Rupa UNS, di bawah komando dosennya, (almarhum) Prof. Heribertus Soetopo, ikut bergabung di Mandungan, saya tergerak mendirikan Workshop Melukis Anak-Anak dan Remaja (foto,1979-1980) bersama mereka. Dengan para mentor melukis anak-anak terdiri Anang Syahroni, Putut Handoko Pramono, Seno "Crukupul" Soebroto, Soetarto, Wahyu Soekirno. Mance Harman. Didik Soehardi. Calon istri Plomponk adalah juga mahasiswi Seni Rupa UNS. Ia tak jarang main ke Mandungan. Namanya Harri Kinasih, tetapi populer dipanggil Mimin.

Trio Kuncung berpisah. Suatu saat saya pernah diajak berkolaborasi dengan Plomponk. Melakukan wawancara dan meliput profil serta kegiatan SMKI di Patehan. Tulisan ini, kalau tidak salah, muncul di majalah Hai. Adiknya Plomponk, perempuan, Th S Purwaningsih juga kuliah bersama saya di FKT. Ia mengambil jurusan arsitektur, seangkatan dengan Gembong Muria Hadi (adik dari Sumantri dan Sutopo) dan pernah menjabat di DPU Wonogiri.

Tahun 1978, Efix Mulyadi hijrah ke Jakarta, menjadi wartawan budaya Kompas. Plomponk makin serius menjadi wartawan harian yang sama, dengan area liputan daerah Yogyakarta. Kemudian juga berpindah ke Jakarta.

Tahun 1980, saya memutuskan untuk belajar lagi, di Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Trio “wartawan Kuncung” Solo era 70-an itu menjalani panggilan hidup masing-masing. Belum ada Internet, kontak antara kita kemudian seperti terputus lama.

Tanggal 27 Januari 2007, artikel saya dimuat di kolom Teroka, Kompas edisi Sabtu yang dijaga oleh budayawan Radhar Panca Dahana. Judul aslinya adalah “Dosa-dosa Komedian Kita,” tetapi dalam pemuatannya menjadi : “Komedi dan Komedian : Kejujuran Mengolok Diri Sendiri. “

Tulisan yang sama kemudian ikut menghiasi buku saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010) dengan judul baru : “In Memoriam Gus Dur (1940-2009) : ‘Hanya Kita Saja yang Masih Waras.’” ( Hal. 25-30).

Gara-gara artikel itu, yang mencantumkan nama blog komedi saya, saya memperoleh email tidak terduga. Dari Plomponk. Ia tinggal di Jakarta, dan saya (sejak 1998) pulang kampung, di Wonogiri. Ia menanyakan judul-judul buku humor yang sudah saya tulis dan apakah masih tersedia di toko-toko buku.

Plomponk pun menambahi bahwa tulisan saya itu, ia sebut : “Luar biasa.”Saya pun menjawab, bahwa dua buku humor itu saya tulis di tahun 1987. Out of print. Tak ada lagi di toko buku mana pun.

Kabar tentang Plomponk, pria bertubuh besar, yang mudah tergelak dan suka memakai kacamata rayban seperti penerbang (kakaknya adalah penerbang dan analis militer, F. Djoko Poerwoko), saya pergoki dengan rasa duka di kolom obituari yang saya temukan dengan bantuan Google. Antara lain terbaca :

Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas St Sularto, antara ln mengatakan, sebagai orang beriman, Mas Pom sudah membongkar kemah dan kini almarhum sudah disediakan rumah abadi.

"Sebagai orang beriman, kita yakin ini jalan satu-satunya untuk mendapatkan kehidupan kekal. Dan kita percaya Mas Pom sudah mendapatkan kehidupan kekal," kata Sularto.

Dari kejauhan, dari Wonogiri, saya ucapkan : “Selamat jalan, Plomponk. Semoga kau kini senantiasa sejahtera dan tenteram abadi disisiNya.”


Wonogiri, 3/8/2011

Tuesday, July 26, 2011

Hummer, Penis Kecil dan Polusi Demokrasi

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id



Mobil Hummer hijau lumut itu nampak macho dan garang.
Terparkir di Wonogiri.
Jumat siang (22/7/2011).

Nomor polisinya menunjukkan mobil Jakarta. Saya amati ban yang kekar, juga membelai-belai bodinya dengan rasa takjub. Membayangkan mobil serupa yang konon dimiliki eksekutif CitiBank yang terlibat penggelapan uang nasabahnya, Malinda Dee.

Syukurlah, pemiliknya tak ada di tempat.

Sempat muncul impuls untuk mengambil kamera dari tas, lalu jepret sana-sini. Termasuk menjepret diri sendiri di depan mobil garang itu, lalu misalnya untuk kemudian diunggah ke Facebook. Desakan nafsu kecil itu, tidak saya hiraukan. Sudahlah.

Tidak perlu. Walau saya menyukai tontonan balapan F-1 sebagai fans Ferrari, pernah bersekolah di STM jurusan mesin, tetapi saya tidak begitu bernafsu untuk dikenal atau dikenang (?), sebagai maniak mobil. Apalagi kemudian sempat pula terlintas guyonan komedian top AS, Andy Borowitz, yang menyatakan bahwa kepemilikan mobil Hummer itu merupakan aksi kompensasi diri dari sang empunya.

Dalam kolom humornya 25/2/2010 ia menulis : “Keputusan General Motors kemarin untuk menghentikan produksi mobil Hummer telah mengunjam hati sekelompok pencinta fanatik mobil ini : kaum brengsek (aslinya ia tulis sebagai : assholes) Amerika.

Di seluruh negara, kaum brengsek itu menyatakan rasa kehilangan dan dukanya yang mendalam akibat keputusan itu. Mereka pun menyarankan para sesamanya agar mencari cara-cara baru untuk mengkompensasikan kepemilikan penis mereka yang kecil-kecil.

Terima kasih, Andy.

Humor Anda ini mengingatkan ucapan nyelekit dari Gus Dur bahwa anggota DPR itu seperti murid taman kanak-kanak. Suka ribut, getol mementingkan dirinya sendiri, dan tentu saja pantas (ini menurut saya dan tertulis di buku Komedikus Erektus) mereka memiliki penis yang kecil-kecil juga.

Penuh warna. Bisa memergoki mobil Hummer itu lumayan memperkaya rona hari Jumat saya ini. Pagi hari, berangkat jam 04.50, bisa melakukan ritus jalan kaki pagi. Bertemu dan berbagi ucapan selamat pagi, ritus rutin, dengan trio ladies menawan dari Toko Bangunan Metro Jaya.

Dua di antaranya nampak sambil jalan tangannya memegang dan mengayun-ayunkan dumble untuk memperkuat otot-otot tangan mereka. Apakah mereka akan ikut lomba pancho seperti Sylvester Stallone ? Saya tidak tahu.

Pulangnya, mampir pasar. Bertanya tentang harga ayam babon yang siap bertelur, sekitar 40 ribuan. Kemudian menuju kios yang pemiliknya saya beri nama kode “mbak cantik selatan.” Beberapa saat lalu saya melihat matanya berkilau-kilau, persis seperti kata-kata Sunyahni dalam lagu “Tak Eling-Eling” : “Ing naliko iku, candik ayu sumunar netramu.”

Kepadanya, saya berikan foto dirinya, yang saya jepret tahun 2009. Tawanya yang renyah berderai mengisi pagi.

Sesudah mandi, menuju Perpustakaan Umum Wonogiri. Membaca-baca Kompas dan tiga koran lainnya. Akses Internet untuk menemukan gambar teknografi profil pemakai media sosial dari Forester Research dan memajangnya di catatan saya di Facebook.

Dapat SMS, mantan teman kuliah saya di UI, Bakhuri Jamaluddin. Warga Pamulang, Tangerang Selatan ini lagi berada di Sragen. Lagi nyadran. Ia mengajak ketemuan di Solo, Sabtu malam, untuk menonton Wayang Orang Sriwedari.

Aduh, seingat saya, saya nonton wayang orang ini yang terakhir kali adalah pada abad yang lalu. Tepatnya tahun 1974. Atau tahun 1975. Saat itu malam inaugurasi IKIP Surakarta. Mahasiswi baru yang menjadi buah bibir saat itu adalah, antara lain Rosana, Anik dan Ratih. Dua nama terakhir itu mahasiswi Pendidikan Sosial, satu angkatan dengan Ravik Karsidi yang kini menjabat sebagai rektor UNS Sebelas Maret.

Saat itu saya mengajak tetangga saya di Tamtaman, Baluwarti, Solo. Orang Australia, yang suka melukis, guru bahasa Inggris, dan punya matanya biru kehijauan.Victory Monk.

Undangan Bakhuri itu bikin nostalgia tahun 1986. Saat kami sama-sama menonton Srimulat di Taman Ria Senayan, dan membuat undangan dari Gus Muh (Muhidin Dahlan)-Yogyakarta terpaksa tidak bisa saya penuhi. Pagi-pagi Gus Muh (semalam sebagai peneliti sejarah LEKRA, ia muncul di tvOne) kirim SMS tentang acara bedah buku.

Yang ditampilkan adalah novel karya Wina Bojonegoro berjudul The Soul : Moonlight Sonata. (Btw, “kok bikin saya mudah ingat cerita tentang Bella dan Edward”-nya Stephenie Meyer) Tempat : Indonesia Buku, Jl. Patehan Wetan 3, Yogyakarta. Pembicara : Diana AV Sasa, Wina Bojonegoro dan Dyah Merta. Moderator Endah Sr. Waktu : Sabtu, 23/7/2011. Jam 15.00.

Makasih, Gus Muh.
Moga acaranya sukses.

Sesudah Jumatan, menemani adik saya Nuning yang ulang tahun hari ini (22/7) dan juga suaminya, Nano, ke warung makan ayam goreng kampung Bu Paryanti. Di Wonokarto. Warung ini dipenuhi spanduk. Yang mencolok spanduk promosi sepeda motor Yamaha dan ada juga Suzuki. Bersama produk rokok, promosi sepeda motor memang lagi “menggila” di Wonogiri.

Bye Facebook. Malam, bisa akses Internet, untuk menulis status berisi ucapan politikus Partai Demokrat dari AS yang menjadi Gubernur Texas ke 45, Ann Richards. Ucapannya itu relevan terkait atmosfir perseteruan teman yang kemudian menjadi musuh, antara M. Nazaruddin vs Anas Urbangingrum.

Ann Richards bilang : “Senantiasa saya katakan bahwa dalam politik, lawan-lawan Anda tidak akan melukai Anda, tetapi justru teman-teman sendiri yang mampu membunuh Anda.”

Status saya yang kedua tentang hasil penelitian menarik yang mengisahkan perbedaan profil pendidikan antara mereka yang memiliki akun Facebook, Twitter dan LinkedIn.

Dibeberkan, pendidikan rata-rata pemilik akun Twitter lebih tinggi dibanding pemilik akun Facebook. Tetapi keduanya jeblok bila dibandingkan tingkat pendidikan mereka yang memiliki akun LinkedIn. Apakah kini saatnya untuk mengucap good bye untuk Facebook ?

Malamnya, melalui layar MetroTV, saya menonton sajian rekaman percakapan antara Iwan Piliang yang blogger PressTalk dengan M. Nazaruddin melalui fasilitas video chatting-nya Skype. Kalau dalam pembelaannya Anas Urbaningrum selalu menuduh M. Nazaruddin sedang berhalusinasi, melakukan fitnah tanpa data, maka di wawancara itu kita disodori data dari Nazaruddin betapa politik uang benar-benar telah mencengkeram Partai Demokrat. Juga melumpuhkan Indonesia.

Di buku Komedikus Erektus saya telah menulis di halaman 94, mengutip penulis dan wartawan AS Theodore H. White (1915-1986) yang bilang bahwa banjir uang yang digelontorkan dalam arena politik merupakan polusi bagi demokrasi. Kemudian bila polusi ini meruyak kemana-mana, kita akan segera (atau justru sudah dan sudah lama !) mendapati negeri kita ini sebagaimana gambaran dari tokoh serba bisa Benyamin Franklin (1706-1790) :

“Di aliran sungai dan pada pemerintahan yang jelek, benda yang paling ringan saja yang mengapung di atasnya.”

Siapa yang paling top ?


Wonogiri, 23/7/2011

Monday, April 11, 2011

Buku Wonogiri Di Canberra dan Washington

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Anda kenal Perpustakaan Konggres, perpustakaan terbesar di dunia ?

Misi keberadaannya adalah untuk memenuhi tugas konstitusional untuk mendorong kemajuan pengetahuan dan kreativitas bagi kemaslahatan bangsa Amerika.

Misi yang hebat dan mulia.

Ketika saya berselancar di situsnya,dan pada katalog onlinenya iseng-iseng saya ketikkan nama saya, Amerika pun membalas. Ternyata buku humor politik saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010), telah menjadi koleksi mereka.

Menggembirakan.
Buku karya wong Wonogiri sudah nongkrong di Washington, DC.

Ringkasan yang mereka buat untuk buku tersebut adalah : Aspek humor tentang kondisi sosial dan politik di Indonesia

Klasifikasinya : LC Classification: MLCSE 2010/02873 (H)
Alamat data bibliografisnya di : http://lccn.loc.gov/2010441503
No kontrol : LC Control No.: 2010441503
Lokasi : Asian Reading Room (Jefferson, LJ150).

Di Perpustakaan Nasional Australia yang berada di Canberra, rincian subjeknya lebih kaya :

Political satire, Indonesian,
Indonesian wit and humor,
Indonesia-Politics and government-Humor.

Nomor induk : Bib ID 5017471.
Lokasi : YY 2011-105 Main Reading Room (Overseas Monograph Collection).

URL : http://catalogue.nla.gov.au/Record/5017471.

Tergerak oleh penemuan ini, saya melakukan hal yang sama di situs Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Hasilnya silakan Anda klik disini. Kejutan ?

Dari Salemba, saya lanjutkan ke Depok, ke Perpustakaan Universitas Indonesia. Alma mater saya.

Ternyata ditemukan 45 bahan pustaka yang relevan dengan kata kunci "haryanto,"tetapi tak satu pun yang cocok dengan nama saya.

Silakan mengambil hikmah dan kesimpulan sendiri atas realitas ini.

Kalau Anda pernah menulis buku, silakan kunjungi situs Library of Congress atau The National Library of Australia itu.Siapa tahu katalog onlinenya memberikan kejutan kecil kepada Anda.

Nikmati saja impuls yang manusiawi ketika karya kita dihargai.
Dilestarikan. Diapresiasi.

Silakan mencobanya !


Wonogiri, 11/4/2011

Thursday, January 20, 2011

Revolusi Locavore, Tercekik Harga Cabe dan Wonogiri Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id

Locavore.
Sudahkah Anda kenal istilah eksot ni ?
Saya ketabrak istilah itu gara-gara cabe.

Ceritanya, kemarin (19/1/2011) saya memperoleh kabar mutakhir tentang cabe itu dari penjual mi ayam Mas Djan di Wonogiri. mBaknya baru pulang dari pasar, dan mengeluh. Ia baru saja membeli cabe seperempat kilogram dengan harga gila-gilaan.

"Satu kilogram cabe rawit,harganya masih seratus ribu rupiah," katanya.Beberapa hari sebelumnya, koran lokal mewartakan : harga cabe satu klethus senilai rupiah sebanyak tiga ratus !

Pagi ini (20/1/2011), mungkin karena terus dihantui harga cabe itu, ketika membuka-buka situs koran The Jakarta Globe, saya menemukan istilah locavore itu dalam artikel yang inspiratif. Artikel tentang revolusi upaya memperkuat ketahanan pangan bagi warga Indonesia.

Disitu, penulisnya, Magfirah Dahlan-Taylor yang kandidat PhD bidang perencanaan, tatalaksana dan globalisasi dari Virginia Tech (AS), mewedar gagasan revolusi memperkuat daya tahan pengadaan pangan di negara kita ini melalui upaya pemanfaatan halaman kebun rumah-rumah kita.Kunci keberhasilan gagasan mulia ini harus dimulai dari pola pikir, mindset kita-kita semua.

Ia lalu merujuk ikhtiar Michelle Obama, yang berkebun tanaman sayuran di kompleks Gedung Putih. Aksi mulia Ibu Negara AS itu, menurutnya, sejalan dengan tren gerakan masyarakat di AS yang berlabel locavore, walau ada juga yang menyebut localvore.

Gerakan itu pada intinya berusaha mendekatkan sumber makanan kepada konsumen yang selama ini terbiasa mengambil makanan dari rak-rak di pasar-pasar swalayan ketimbang langsung dari tanaman. Dengan gerakan ini kita diajak mengonsumsi makanan-makanan hasil budi daya lokal.

Selain lebih murah, karena tidak terbebani biaya pajak sampai transportasi [baca kisah mBak Bea, warga Indonesia yang kini tinggal di Perancis ketika kangen makanan asal Indonesia], kita juga diajak/diajar untuk mengetahui ikhtiar apa saja yang membuat tanaman itu tumbuh.

Misalnya, apakah memakai pupuk kimia ataukah pupuk organik ? Merujuk hal itu, jelaslah pula bila gerakan locavore itu juga berimpit dengan misi gerakan pelestarian lingkungan hidup. Dan menurutnya, harus digairahkan sejak dini di bangku-bangku pendidikan kita.

Terima kasih, Ibu Magfirah Dahlan-Taylor.

Bagaimana sikap kita ? Mumpung kita semua masih merasakan shock, termasuk bila Anda membaca berita yang mengabarkan harga cabe mampu mencapai seperempat juta rupiah per kilogramnya, semoga tanda bahaya itu, yang juga bisa menjalar ke komoditas pertanian lainnya, mampu menginspirasi kita untuk mulai bergerak. Dimulai dari hal kecil, dari diri kita, dari rumah kita, dan sebaiknya kita lakukan sekarang juga.

Bertani modal kaleng. Bagi saya, imbauan di atas itu ibarat memutar kembali lagu lama dengan aransemen baru. Sedikit bernostalgia, di tahun 1998 ketika badai krisis moneter menggebuk Indonesia yang membuat saya harus pulang kampung ke Wonogiri setelah ngendon di Jakarta lebih dari 18 tahun, saya sempat membuat isu dan gerakan berkebun tanaman sayuran di halaman rumah sendiri.

Saya mengajak warga, misalnya dengan memanfaatkan lahan terbatas dan bahkan kaleng-kaleng bekas cat, untuk berkebun tanaman cabe, sawi, kangkung, sampai kacang panjang. Saya bahkan berbisnis benih-benih tanaman sayuran itu, juga pupuk organik, dengan label Optimis melalui jasa pos. Gagasan itu saya sebarkan dan promosikan melalui kolom-kolom surat pembaca di pelbagai surat kabar.

Cerita jadul itu sempat juga saya tulis di blog Esai Epistoholica pada bulan Agustus 2005. Potongannya : "Bisnis pertanian melalui surat pembaca juga pernah saya terjuni. Akibat krismon di awal 1998, saya pun harus hengkang dari Jakarta. Kembali mudik ke Wonogiri.

Dalam perjalanan bis Solo-Wonogiri, saya temukan penjaja asongan yang menawarkan produk unik. Yaitu paket kecil berisi sepuluh jenis biji-bijian, benih tanaman sayuran. Ada bayam, kangkung, lombok, sawi, tomat, gambas sampai mentimun. Saya membeli dan minta alamat penjualnya. Dirinya tinggal di daerah Sukoharjo. Harga satu paket, Rp. 1.000. Kalau belinya banyak, harganya Rp. 600 per paket.

Pertanian adalah subjek yang saya buta sama sekali. Saya anak tentara, bukan anak petani. Selama 18 tahun saya pun tinggal di Jakarta. Kini tiba saatnya, pikir saya, untuk belajar menjadi petani. Saya segera mencari info ke Departemen Pertanian. Bahkan kemudian menemukan tempat yang menjual pupuk organik. Juga membaca-baca majalah pertanian Trubus yang terkenal itu.

Di masa krisis moneter itu cabe harganya mencapai puluhan ribu per kilogram, aku pikir, gerakan swadesi alias mencukupi kebutuhan diri sendiri model Mahatma Gandhi (foto di atas) sebaiknya dicoba untuk dipromosikan."

Revolusi kita bersama. Apakah Anda sebagai warga Wonogiri, di mana pun Anda berada, kira-kira kini menjadi ikut tertarik dan kemudian tergerak untuk ikut dalam revolusi locavore yang inspiratif ini ? Hanya Anda yang bisa memastikannya.

Harapan saya : semoga obrolan tentang cekikan harga cabe, gerakan locavore, dan inspirasi dari Mahatma Gandhi ini mampu membawa manfaat bagi kita semua.

Mari kita mulai beraksi.
Demi kesejahteraan Anda pribadi, keluarga Anda, dan kita semua.

Anda punya pendapat menarik tentang hal ini ?
Saya menantikannya.
Terima kasih sebelumnya saya haturkan kepada Anda.


Wonogiri, 19-21/1/2011

PS : Saat ini saya memelihara 6-7 tanaman cabe. Walau tak begitu lebat, saya masih bisa mengonsumsi sayuran favorit ini, untuk diganyang menemani tempe mendoan.

Silakan akses artikel menarik ini dari Bapak Kusmayanto Kadiman, Locavore - Jurus Pamungkas Michelle Obama Menyiasati Globalisasi.

tmw