Showing posts with label epistoholik. Show all posts
Showing posts with label epistoholik. Show all posts

Thursday, October 6, 2011

Stay Hungry, Stay Foolish : Wong Wonogiri Mengenang Steve Jobs

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id




Supir truk,Walter Raleigh dan Steve Jobs.
Mereka memiliki bahasa dan aksi yang berbeda tentang cinta sejati.

Walter Raleigh (1552-1618), penjelajah dan kerabat Istana Inggris, mengatakan bahwa "true love is a durable fire, in the mind ever burning, never sick, never old, never dead". Cinta sejati adalah api abadi, selalu membara di hati, tanpa pernah sakit, uzur, atau pun mati.

Supir truk memasang slogan di bak truknya : "Aku tunggu jandamu."

Steve Jobs, pendiri perusahaan Apple Corporation., dengan aksi.

"Apple adalah kekasih tercinta Jobs ketika kuliah dan kini mereka bertemu kembali dalam pesta reuni setelah 20 tahun berpisah. Steve Jobs kini telah menikah, mempunyai anak dan hidupnya bahagia.

Ketika bertemu kembali dengan kekasihnya itu, ia lihat gadisnya telah kecanduan berat alkohol, dikelilingi konco-konco yang begundal dan preman serta menghancurkan hidupnya sendiri. Walau pun demikian, nurani Jobs menilai mantan kekasihnya itu adalah seorang gadis cantik yang pernah membuainya dengan kalimat bahwa dialah satu-satunya cintanya di dunia.

Lalu apa yang Jobs kerjakan ? Tentu saja ia tak ingin menikahinya. Tetapi dirinya tidak bisa lepas tangan begitu saja karena ia masih menyayanginya. Maka ia ajak kekasihnya itu ke panti rehabilitasi korban alkohol, membantunya untuk bergaul dengan teman-teman baru yang yang lebih baik, dan mengharap yang terbaik bagi masa depannya."

Demikianlah pelukisan dengan kias yang romantis dari Larry Ellison, CEO Oracle dan sahabat karib Jobs, mengenai hubungan emosional antara Jobs dengan Apple. Cerita itu terdapat dalam artikel "Geger Kisah Cinta Ulang Apple dan Jobs" yang dimuat di harian Media Indonesia, 11 September 1997 : 12.

Dari struk kwitansi honorarium tulisan yang ditandatangani redaktur bidang Wicaksono ("di dunia blogger Indonesia kini ia lebih dikenal sebagai nDoro Kakung”), saya memperoleh honor Rp. 166.700,00. Dipotong pajak 10 persen, Rp. 16.700,00. Honor bersih : Rp. 150.000,00.

Setelah sempat ditendang selama 12 tahun dari kursi direksi Apple, kisah cinta ulang Steve Paul Jobs dan Apple yang diteguhkan kembali di pentas MacWorld di Boston 6 Agustus 1997, akhir ceritanya ibarat dalam dongeng semata.

Apple yang didirikan oleh putra mahasiswa asal Syria yang kemudian menjadi ilmuwan politik, Abdulfattah Jandali dan Joanne Carole Schieble, tetapi diadopsi dan diasuh keluarga Paul dan Clara Jobs di Mountain View, California, kini tersohor menghasilkan produk-produk yang inovatif. Dunia pun kemudian mengenal iTunes, iPods, iPhones, MacBook Air dan lain sebagainya.

Menurut koran Inggris, The Guardian, di bawah komando Jobs yang masa mudanya pernah memadu cinta dengan penyanyi ballada Joan Baez itu, pada tahun 2000 Apple bernilai 5 milyar dollar dan kini senilai 170 milyar dollar.

Artikel ini saya tulis 7 November 2010 dengan judul Like waking up, like coming home. Hampir genap setahun, sore tadi (6/10/2011) saya memperoleh kabar dari televisi, bahwa Steve Jobs telah meninggal dunia.

Kabar itu sungguh menyedihkan, walau pun saya belum pernah memiliki komputer iMac, perangkat musik iPod, telepon canggih iPhone atau pun sabak elektronik iPad. Saya hanya mampu menghimpun beberapa pendapat dan kisah penggal-penggal kisah hidupnya. Sejak 1995 hingga kini.


Termasuk di bulan Agustus 2011 yang lalu tokoh penggerak revolusi mesin, Wael Ghonim melalui akun Twitternya berbagi informasi mengenai pidato Steve Jobs di saat dies natalis ke 114 dari Universitas Stanford, 12 Juni, 2005.

Steve Jobs membagi topik hidupnya dalam tiga subjek. “ The first story is about connecting the dots. My second story is about love and loss. My third story is about death.

Untuk topik yang terakhir ini, ia bilang bahwa ketika di umur 17 tahun ia mendapati sebuah kata mutiara : “Apabila Anda menjalani hidup Anda setiap hari seperti hari itu merupakan hari terakhir hidup Anda, suatu saat hidup Anda pasti berada dalam jalur yang benar.”


Lanjutnya : “Mengingat bahwa saya akan mati suatu saat nanti, hal itu menjadi sarana paling penting yang membantu saya dalam melakukan pilihan-pilihan besar dalam hidup saya. Sebab semua hal, seperti harapan, kebanggaan, ketakutan menanggung malu atau menderita kegagalan, semua hal itu akan rontok dihadapan kematian, dan hanya meninggalkan hal yang paling penting saja.

Ingatlah bahwa Anda akan meninggal merupakan cara terbaik yang saya yakini untuk menghindari perangkap pikiran bahwa Anda akan mengalami kekalahan. Anda sudah benar-benar telanjang. Dan tidak ada alasan lain lagi untuk mengikuti kata hati.

Hampir setahun lalu saya didiagnosa mengidap kanker. Ada tumor di pankreas saya. Saya tidak tahu apa pankreas itu. Dokter mengatakan bahwa tipe kanker ini tidak dapat disembuhkan dan peluang hdup saya hanya tinggal tiga sampai enam bulan.”

Steve Jobs kemudian menjalani operasi. Lalu ia katakan dalam orasi itu bahwa dirinya baik-baik saja. Lanjutnya : “Itu adalah momen terdekat diri saya menghadapi kematian dan saya harap sebagai momen yang terdekat yang akan saya jalani beberapa dekade mendatang. Menjalani hidup seperti itu kini saya dapat berkata kepada Anda dengan yakin bahwa kematian itu berguna sebagai sebuah konsep intelektual :

Tidak seorang pun ingin mati. Bahkan seseorang yang ingin masuk surga juga tidak ingin mati. Tetapi kematian adalah tujuan yang kita semua dapat berbagi. Tak seorang pun mampu menghindarinya. Dan itu merupakan keharusan, karena kematian nampaknya merupakan temuan terbaik dari kehidupan. Ini cara untuk menghilangkan yang tua untuk memberi jalan bagi yang baru. Saat ini yang baru adalah Anda, tetapi tidak lama lagi Anda pelan-pelan menjadi tua dan tersingkirkan. Maaf, mungkin terlalu dramatis, tetapi itulah kebenaran.”

Kepada mahasiswa Universitas Stanford, Steve Jobs memberikan petuah yang kiranya juga patut menjadi renungan kita semua. Ujarnya : “Waktu Anda terbatas, sehingga jangan menghabiskan waktu untuk menjadi budak hidup orang lain. Jangan terperangkap oleh dogma, menjalani hidup hasil pemikiran orang lain. Janganlah kegaduhan opini milik orang lain itu menenggelamkan kata hati Anda. Dan yang paling penting, milikilah keberanian untuk mengikuti suara hati dan intuisi Anda. Suatu saat mereka akan mengetahui apa yang Anda cita-citakan. Hal-hal lainnya hanyalah hal sekunder adanya.

Dalam penutup pidatonya, ia bernostalgia tentang majalah edisi terakhir The Whole Earth Catalog yang diterbitkan oleh Stewart Brand di tahun 1960-an yang menjadi inspirasi hidup Steve Jobs. “Di sampul belakang tersaji foto jalan pedesaan di waktu pagi, jalanan tempat Anda tertarik untuk menjelajahinya bila Anda memiliki jiwa petualang.

Disana tersaji kalimat berbunyi, ‘Stay Hungry. Stay Foolish.’ Itulah kalimat perpisahan majalah itu. Stay Hungry. Stay Foolish. Dan saya tetap berharap hal yang sama untuk hidup saya. Sekarang, ketika diwisuda Anda akan membuka lembaran baru hidup Anda, dan saya berharap hal yang sama juga untuk Anda.

Stay Hungry. Stay Foolish.”

Sugeng tindak, Mas Steve Jobs.
Mugi panjengengan sakpuniko tentrem ing pangayunanipun Gusti Allah.



Wonogiri, 7 Oktober 2011

Saturday, December 18, 2010

Wonogiri, BBC London dan Buku Lelucon

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id



Selamat hari Rabu.
Semoga Anda sehat-sehat selalu.
Apa aktivitas khas Anda di hari Rabu ?

Kalau saya, hari Rabu adalah hari wajib untuk mengikuti kursus komedi. Mentornya, John Cantu. Dan itu berlangsung di Perpustakaan Umum Wonogiri.

Jadi, setiap hari Rabu saya mewajibkan diri untuk mengunjungi gedung yang terletak di Donoarjo, kompleks GOR tersebut. Pergi dan pulang, cukup dengan jalan kaki.

Pelajaran John Cantu itu saya akses lewat Internet, satu dari lima komputer yang tersedia di perpustakaan yang dipimpin Pak Marmo, dengan pustakawati mBak Dewi Werdiningsih itu.

Pengunjung lain yang rada tetap, adalah Pak Budi Prasetyo, pensiunan guru. Juga Mas Muhammad Yulianto, aktivis LSM hukum Wonogiri dan pengajar Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, Kartasura.

Dulu Pak Mufid, guru bahasa Inggris saya di SMP Negeri 1 Wonogiri, juga sering ketemu. Dengan alasan penglihatan yang beliau sebut menurun, ia mengurangi aktivitas kunjungan.

Aktivitas ikut kursus lelucon via Internet ini sudah saya lakukan sejak tahun 2008. Tetapi tetap saja, aktivitas mengkreasi humor, lelucon, lawakan, merupakan petualangan yang selalu saja tidak mudah. Hard fun.

Walau pun demikian, syukurlah ada juga encouragement. Dorongan moral. Seorang Effendi Gazali, telah berbaik hati menulis :

"Bambang Haryanto, selain sama, ternyata ia juga berbeda dengan saya.Dia ini orangnya serius di panggung belakang maupun di panggung depan. Ketika ia belum juga dikenal relatif luas sebagai komedian cerdas, hingga hari ini, pastilah karena dia relatif too serious untuk front stage.

Tapi kalau untuk "humor kuliner", dia jago analisis serta jago masaknya! Indonesia perlu puluhan orang seperti Bambang Haryanto, baru kemudian ada kemajuan di negeri ini. Di sanalah nantinya dunia humor kita akan lebih kaya, pluralis, dan makin cerdas!"

Thanks boss EG. Dorongan dia itu ikut mewarnai buku saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010). Oh ya, kursus komedi saya itu lewat Internet. Tertarik ? Silakan klik : disini.

Mawar London. Kabar lain dari Wonogiri, semalam (14/12/2010) saya mendapat telepon kejutan. Dari London.

"Oh, London," desis saya.

Saya pernah memperoleh hadiah dua buku, berupa peta kota penyelenggara Olimpiade 2012 ini. Dari warga London. Di bagian tenggara kota ini, di kawasan Bromley, di tahun 2006,dirinya pernah berbaik hati menanam tujuh pohon mawar.

Empat di halaman depan rumah.
Tiga di halaman belakang.

Penanamnya bilang, bila saatnya tiba, saya diminta untuk memberikan nama bagi empat tanaman mawar itu, yang suatu saat akan ikut menyambut saya di halamannya.

Telepon itu bukan dari si penanam pohon mawar tersebut.
Ia dan pohon mawar itu telah menjadi sejarah.

Telepon kejutan itu dari Endang Nurdin, penyiar Radio BBC Siaran Indonesia. Kalau dalam tradisi kaum epistoholik, kaum pemabuk penulis surat-surat pembaca, telepon mBak Endang Nurdin itu identik dengan pemberitahuan, kabar baik : "Surat pembaca Anda (akan) dimuat, besok hari Kamis."

Sekadar cerita : di Radio BBC itu ada acara Forum/Ungkapan Pendapat. Seperti kolom surat pembaca di koran, tetapi setiap minggunya ada tema-tema tertentu. Minggu ini tentang naik daunnya timnas Indonesia di Piala AFF 2010, yang hari Kamis (16/12) nanti akan menghadapi Filipina di semi final leg pertama.

Untuk ikut meng-kuncoro-kan nama Wonogiri, saya ikut mengisi, hari Minggu lalu. Rupanya isu yang saya tuliskan, lolos, dan semalam itu mBak Endang meminta saya untuk menyuarakannya. Hari Kamis 16 Desember 2010, 18.15, akan ia siarkan.

Pernahkah Anda mengalami momen seperti itu, mendapat kontak dari pengelola media massa, ketika menulis surat-surat pembaca ? Saya tidak pernah.

Isu tersebut kebetulan ikut pula muncul ketika cerita tentang komunitas Epistoholik Indonesia terpajang ceritanya di harian Solopos Minggu, 5 Desember 2010, yang lalu. Satu halaman. Silakan klik :

  • Gairah Epistoholik Indonesia
  • Bermula dari hal sederhana
  • Bermimpi jadi anak emas kembali
  • Ingin kopi darat


  • Memang tidak eksplisit, yaitu ketika saya mengatakan bahwa kaum epistoholik merupakan anak tiri dari media massa.

    Sudahlah.

    Saya sekarang tidak begitu menjadikan masalah akan status seperti itu. Toh lanskap media kini tidak sama seperti dulu. Tetapi menurut saya, orang-orang atau awak media massa utama itu ["kecuali Mas Bambang Tri Subeno, warga Donoarjo, yang kini wartawan Suara Merdeka"], rupanya banyak yang belum ngeh bila konstelasi galaksi media itu sudah berubah, bahkan posisinya sudah balik jungkir.

    Ringkasnya : karena sudah ada email atau SMS, mengapa tidak sehari atau dua hari sebelum surat pembaca atau artikel itu dimuat, sang penulisnya sudah diberi tahu tentang kabar gembira itu ?

    Kalau mereka bertanya : apa pentingnya ?
    Jawaban saya : untuk kebaikan dan masa depan medianya sendiri, silakan baca bukunya Seth Godin, Unleashing The IdeaVirus (2001).

    Kalau Anda dan mereka belum pernah membacanya, semoga Anda bisa merasakan dan menyimaki apa yang saya lakukan setelah saya memperoleh telepon dari Radio BBC Siaran Indonesia semalam itu.

    Semoga Anda ingat, BBC bukan media kelas teri.
    Bukan berstatus cekeremes. Ini media raksasa dan berpengaruh.

    Mungkin semua reputasi itu ia peroleh, antara lain, karena BBC sangat memperhatikan separo dari jiwanya sendiri, yaitu para audien-nya. Bahkan bersedia menelponnya secara langsung, seperti yang saya alami untuk ketiga kalinya ini.

    Selamat hari Rabu, sahabat.
    Semoga Anda meraih sukses sepanjang hari indah ini.
    Salam episto ergo sum !


    Bambang Haryanto

    PS : Untuk komunitas humor Indonesia, saya baru saja mengusulkan agar tanggal 30 Desember (2010) didaulat sebagai Hari Humor Nasional. Bila senggang, silakan ceritanya bisa Anda klik : disini.

    Diskusi para pemangku kepentingan dunia humor Indonesia terkait usulan Wong Wonogiiri ini, berlangsung riuh-rendah : disini.

    Kalau ada waktu, bacalah gossip baru, sekaligus berita palsu (fake news) bila pendukung fanatik Wikileaks setelah menyerang Paypal, MasterCard dan Amazon, kini segera menyerang humor Indonesia. Kasak-kusuknya ada : disini.

    Matur nuwun.


    Wonogiri, 19 Desember 2010

    Tuesday, November 16, 2010

    Barack Obama Aslinya Wong Wonogiri

    Oleh : Bambang Haryanto
    Email : wonogirinews (at) yahoo.com


    Barack Obama itu sebenarnya asli wong Wonogiri.
    Cek saja Wikipedia.

    Tetapi sebelum rumah saya di Kajen terancam dikrutuki batu oleh orang Kenya, orang Hawaii dan pendukung fanatik Obama dari Amerika Serikat, saya harus memberikan alasan dulu atas klaim saya di atas.

    Coba ingat, apa saja nama makanan Indonesia yang disebut khusus oleh Obama. Baik waktu di perjamuan makan malam di Istana Negara. Atau pun saat tampil di kampusnya Mas Mujtahid, di Balairung Kampus Universitas Indonesia, Depok.

    Nasi goreng.
    Sate.
    Bakso.
    Emping.
    Krupuk.

    Di Wikipedia, dari lima makanan tersebut ada dua yang disebut menonjol sebagai makanan khas Wonogiri. Bakso dan emping. Bahkan untuk bakso, lema itu berbunyi : "Makanan khas lain adalah bakso dan mie ayam Wonogiri yang memiliki citarasa khas. Makanya di Jakarta banyak sekali tukang bakso atau mie ayam dari Wonogiri, namun sayang kalau membeli di Jakarta rasanya jauh tidak enak."

    Jadi, pidato Obama itu sebenarnya menunjukkan perasaan kerinduan atau keinginan dirinya untuk bernostalgia tentang Wonogiri. Mungkin saja, itu menunjukkan betapa dirinya adalah benar-benar asli wong Wonogiri.

    Untuk klaim terakhir ini, kita bisa menyimak lelucon dari komedian politik AS terkenal, David Letterman. Agar saya tidak dikira sedang berbohong, merekayasa,inilah kutipan aslinya : "President Obama went to India, South Korea, then Japan. He's going to keep traveling until he finds his birth certificate."

    Kalau Anda sempat mengikuti perjalanan karir Obama, banyak warga AS yang meragukan Obama sebagai warga asli AS. Menurut mereka, akta kelahiran Obama itu meragukan. Malah muncul kelompok bernama birther yang secara terang-terangan menyuarakan hal itu. Bahkan seperti dalam foto di bawah ini, keraguan itu dipajang sebagai baliho di jalan-jalan raya.

    Ada yang menduga Obama itu asli kelahiran Kenya, tanah kelahiran bapaknya.

    Yang lain bersikeras bahwa Obama itu " a citizen of Indonesia, or that because he had dual citizenship at birth (British and American), he is not a natural born citizen of the United States, which is a requirement to be President of the United States under Article Two of the United States Constitution."

    Media sosial. Barangkali David Letterman sengaja tidak menyebutkan nama Indonesia. Karena ia tahu :-), sertifikat kelahiran Obama yang asli itu masih tersimpan di Wonogiri. Walau di kelurahan mana, masih rahasia.

    Kalau saja David Letterman menyebut Indonesia, tentu Obama akan mungkin memaksakan datang ke Wonogiri. Sambil makan bakso, sebagai seorang blogger yang serius, saya yakin dirinya akan mau membisiki bupati Wonogiri yang baru agar benar-benar serius, seperti dirinya, benar-benar memanfaatkan media-media sosial secara masif dan efektif dalam memutar roda pemerintahannya.

    Misalnya, contoh mudah, meniru Obama yang tiap minggu wajib berpidato dan mengunggah video pidatonya di Youtube. Sebelumnya, George W. Bush meluncurkan pidatonya dengan fasilitas podcast.

    Semoga saya keliru, Bupati Wonogiri yang baru, Danar Rahmanto, malah nampaknya belum pernah berpidato secara resmi untuk memaparkan visi dan misinya dalam memimpin Wonogiri di masa depan. Ketika dilantik, 1 November 2010, yang banyak berpidato justru gubernur Pak Bibit. Halo Mas Bupati, ayo segera beri kami rakyat Wonogiri informasi dan arahan, bagaimana Wonogiri yang Anda cita-citakan lima tahun mendatang ?

    Ayolah, tak ada jeleknya untuk kebaikan, meniru yang baik dari tradisi di AS itu. Begitu dilantik pada tanggal 20 Januari 2009, Obama langsung menceritakan visi-misinya di hadapan rakyat Amerika Serikat.

    Yang paling menonjol saat itu adalah dicanangkannya oleh Obama tentang era baru, era bertanggung jawab yang baru, di mana setiap warga Amerika Serikat memiliki tugas untuk diri mereka sendiri, untuk bangsanya, dan juga untuk dunia.

    Kangen bakso. Obama kini sudah kembali ke Gedung Putih. Kunjungan singkatnya di Indonesia itu semoga mampu menginspirasi para sedulur Wonogiri yang jualan bakso di Jakarta. Pertama, siapa tahu, mungkin bisa ditelusur secara gethok tular, tentang kemungkinan ada bakul bakso asal Wonogiri yang pernah melayani Obama kecil di Menteng Dalam saat dirinya bersekolah SD di Jakarta tahun 1967-1970-an itu.

    Kedua, siapa tahu pula, muncul inspirasi jenius lainnya : bakso Wonogiri segera membuka pasar baru di Washington. Juga kota-kota besar lainnya di dunia.

    Ini bukan ide asli saya. Tetapi menuruti advis ekonom Hendri Saparini, saat di televisi mengomentari isi pidato Obama di UI, kampus saya jua, yang memunculkan wacana mengekspansikan nama-nama makanan asli Indonesia yang disebut oleh Obama sebagai "enak ya" tadi ke seluruh dunia.

    Alangkah menariknya, bila nanti angkring bakso asli Wonogiri bisa sliwar-sliwer, wira-wiri, di Pennsylvania Avenue, jalan di depan Gedung Putih. Siapa tahu di balik pagar akan selalu muncul teriakan panggilan : "Bakso !" Itulah suara presiden AS Barack Obama yang kangen sama bakso asli Wonogiri, dari Indonesia.

    Seribu kali lebih hebat. Obama telah pergi. Tetapi gaya pidatonya dan isinya masih akan lama untuk bisa kita kenang. Saya kecipratan manfaatnya.

    Sekadar cerita, kebetulan saya diundang untuk menjadi nara sumber dalam pertemuan mahasiswa se-Indonesia yang diadakan oleh Stube-HEMAT, 6-7 November 2010 di Yogyakarta. Saya diminta membawakan lima makalah. Ada tentang revolusi media, media sosial dan epistoholik, kiat menulis surat lamaran/resume, merancang yel-yel a la suporter sepakbola dan juga kiat-kiat dalam merancang pidato yang hebat.

    Gara-gara Merapi meletus, acara itu ditunda. Ada berkah terselubung, ketika Obama datang dan berpidato hebat. Saking hebatnya, Lasma Siregar, teman Internet saya di Melbourne Australia kirim email menarik. Ia cerita tentang Greg Sheridan, editor luar negeri surat kabar "The Australia," yang telah menulis di edisi Kamis 11 November 2010 tentang pidato Obama di Jakarta :

    "This speech was a thousand times better than Obama's first big effort with the Muslim world, in Cairo in June last year. In Indonesia, he could credibly talk about democracy and human right, about pluralism and open civil society. These were not things Obama could say in Cairo or to the Arab world more generally".

    Teman saya menimpali : "(Pidato) Obama di Jakarta 1000 kali lebih hebat daripada di Cairo ! (Karena) Indonesia punya demokrasi, HAM, reformasi dan kebebasan bersuara, sementara dunia Arab masih sibuk membicarakannya!"

    Ethos, pathos dan logos. Kalau saja pertemuan dengan mahasiswa se-Indonesia di Yogyakarta tadi bisa benar terjadi, untuk menyampaikan makalah saya akan tinggal memutar video pidatonya Obama di UI tadi. Lalu bersama-sama membedahnya. Saya ingin meniliknya seperti isi surat pembaca yang saya kirim ke koran Kompas Jawa Tengah kemarin (15/11/2010) :


    Dibalik Pidato Obama

    Pidato Presiden Amerika Serikat Barack Obama (10/11/2010) memang memesona. Mungkin karena ia merasa nyaman ketika "pulang kampung," membuat pidatonya terasa menyambung dengan apa yang dipikirkan dan apa yang menjadi problema bangsa Indonesia saat ini.

    Dalam ilmu berpidato Obama mempraktekkan formula ampuh, yang dikenal dengan pendekatan ethos (kredibilitas), pathos (empati) dan logos (logika). Kredibilitasnya, tentu tak diragukan lagi. Lalu dengan menyebut "Indonesia bagian dari diri saya," "sate," "bakso," "Bhinneka Tunggal Ika" sampai "Pancasila," Obama berhasil menunjukkan empati, dalam merangkul audiennya.

    Setelah sukses dengan dua jurus itu, barulah ia memasukkan logika, antara lain membicarakan pelbagai isu tentang masa depan hubungan AS-Indonesia yang membutuhkan sumbangan dan peran masing-masing warganya.

    Berkaca pada gaya berpidato tokoh-tokoh kita, bahkan juga pidato rutin di tempat-tempat peribadatan, yang sering lebih menonjol menomorsatukan logos. Audien dianggap sebagai botol kosong yang hanya bisa menerima jejalan pemikiran dari sang orator.

    Pidato seperti itu jelas membosankan, membuat audien mengantuk, pesannya pun tidak pula masuk ke kalbu. Dampak sampingnya sering malah lucu, di mana sang orator menjadi tersinggung, lalu marah-marah.

    Gaya pidato semacam ini nampaknya mencerminkan gaya kepemimpinan kuno dari pemimpin-pemimpin kita selama ini, yang merasa dirinya paling penting, paling pintar dan paling berkuasa, sementara rakyat yang harus melayani kepentingan-kepentingan mereka pula !

    Bambang Haryanto
    Warga Epistoholik Indonesia
    Wonogiri 57612


    Moga-moga bisa dimuat.

    Lalu bisa menginspirasi bupati Wonogiri yang baru, untuk segera berpidato. Menyapa rakyatnya. Mengajaknya. Nguwongke warganya di mana pun berada.

    Alangkah hebatnya bila dirinya mampu mengikuti keteladanan luhur dari pemimpin demokrasi asal Birma, Aung San Suu Kyi. Lihatlah, begitu bebas dari penjara rumahnya selama belasan tahun, yang pertama dia sampaikan adalah adalah pernyataan : "Saya akan mendengar apa kata rakyat dahulu, sebelum memutuskan langkah kita ke masa depan."


    Wonogiri, 16 November 2010

    tmw

    Sunday, October 10, 2010

    Jalan Kaki : Gadis Cantik, Politik, Epistoholik

    Oleh : Bambang Haryanto
    Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


    Semua nabi adalah pengembara.
    Pejalan kaki.

    Boleh jadi itulah yang mengilhami penyair Inggris William Cowper (1731-1800) menulis puisinya yang berjudul "Walking with God" (1779). Tetapi orang masa kini dapat melucukan tabiat para nabi itu, dengan pendapat : "Wajar-wajar sajalah mereka itu. Saat itu kan belum ada mobil ?"

    Anda boleh tidak tertawa.

    Juga boleh tidak terbahak ketika mendengar seorang komediene Ellen DeGeneres (foto) yang pernah melucukan neneknya yang hobi jalan kaki. Inilah katanya : "My grandmother started walking five miles a day when she was 60. She's 97 now, and we don't know where the hell she is."

    Jalan kaki. Saya hampir melakukan semua perjalanan keluyuran di kota Wonogiri, kota saya ini, dengan jalan kaki. Termasuk, ya itulah, saat olah raga jalan kaki pagi. Juga saat ke perpustakaan, ke pasar, ke warnet, sampai main ke kafenya teman di Pokoh.

    Secara hitung-hitungan kasar, aktivitas jalan kaki (pagi) itu saya mulai tahun 1989. Saat itu saya tinggal di Rawamangun, Jakarta Timur. Dimulai ketika saya bisa berhenti dari kebiasaan merokok. Barangkali itu salah satu prestasi terbaik dalam hidup saya. Kemudian hampir tiap pagi, dari Jl. Balai Pustaka Timur saya bisa jalan, kadang berlari, mampu mencapai stadion Pacuan Kuda Pulomas, atau sampai ujung Jl. Jatinegara Kaum.

    Sedang bila di Bogor, mengelilingi Kebun Raya Bogor di pagi hari, dipayungi kanopi dedaunan pohon-pohon raksasa, merupakan pengalaman yang selalu menakjubkan. Di Wonogiri, kalau ke utara sampai Wonokarto. Ke timur, sampai SMP Negeri 2 Wonogiri. Bila ke arah selatan, sampai tepian Waduk Gajah Mungkur.

    Tak jarang membawa buku, menyempatkan membaca-baca di tepian waduk sekitar 20-30 menit dengan dibelai udara pagi. Adegan ini :-) pernah diabadikan dalam film The Power of Dreams Documentary 2002, ditayangkan di TransTV, 29 Juli 2002.

    Jalan kaki pagi bermanfaat untuk melemaskan sendi-sendi tubuh. Membentuk postur yang ideal. Menguatkan massa tulang sehingga terhindar dari ancaman pengeroposan. Membakar lemak sehingga tubuh tetap langsing. Menstabilkan tekanan darah.

    Majalah Reader's Digest pernah pula menulis bahwa jalan kaki pagi mampu membuat pelakunya berpikir secara lebih jernih, menetralisir stres, sehingga juga mampu membuat pelakunya awet muda.

    Di kota saya, Wonogiri, aktivitas jalan kaki hura-hura berhadiah selalu ramai dibanjiri ribuan peserta. Frekuensi acara semacam agak meningkat akhir-akhir ini ketika menjelang berlangsungnya Pemilukada 2010 di Wonogiri. Harap maklum, acara itu dijadikan sebagai wahana berkampanye sebagian kandidat yang bertarung merebut kursi bupati. Entah kenapa, walau dengan label gerakan "Aku Cinta Wonogiri," kandidat pasangan Sumaryoto-Begug Poernomosidi yang gencar mengadakan acara jalan kaki hura-hura berhadiah itu akhirnya yang justru kalah.

    Begitulah adanya, di luar acara hura-hura semacam itu, saya jarang menemui individu atau kelompok yang secara rutin melakukan olah raga jalan kaki pagi. Bahkan kemarin (10/10/2010) ketika di Jakarta sampai Yogya berlangsung pencanangan (?) sebagai Hari Jalan Kaki Sedunia (World Walking Day) di Wonogiri tak ada kegiatan serupa.

    Tak apalah. Syukurlah saya masih bisa memergoki kelompok ibu-ibu dan juga putrinya ("yang ramah, yang murah senyum") yang pemilik toko bangunan Metro Jaya, Kerdukepik, Wonogiri, saat jalan kaki pagi. Titik rendez-vous kami adalah di jalan samping RSUD dr. Soediran Mangunsumarso ("ini nama almarhum dokter keluarga, favorit ibu saya di tahun 1960-an").

    Mantan guru bahasa Inggris saya saat di SMPN 1 Wonogiri, Pak Mufid Martohadmodjo dan kawan-kawan, juga saya pergoki berolah raga jalan kaki pagi. Bapak A.K. Djaelani, pimpinan Permadani (kursus pembawa acara berbahasa Jawa), juga kadang saya temui ketika beliau hendak membeli koran pagi. Bah Jomo, juga demikian. Sementara itu kelompok bersepeda yang aktif adalah Pak Sarono (Kedungringin) dan kawan-kawan.

    Kampanye saya tentang manfaat jalan kaki ini pernah dimuat di kolom surat pembaca harian Suara Merdeka, Senin, 24 Desember 2007. Antara lain saya tuliskan, bahwa sebagai seorang epistoholik, alias pencandu penulisan surat-surat pembaca, olah raga jalan kaki pagi memberi manfaat besar bagi diri saya pribadi.

    Seperti dikatakan Raymond Inman, bila Anda mencari ide-ide kreatif, lakukan olahraga jalan kaki. Karena, menurutnya, para malaikat akan senang berbisik kepada seseorang yang berjalan kaki.

    Saya selalu membawa bloknot dan bolpoin kemana pun pergi. Sehingga ketika bisikan malaikat itu terdengar, segera saja saya tulis di bloknot ide-ide yang bermunculan itu. Embrio beberapa topik tulisan telah mulai saya semaikan.

    Saya selalu berjalan kaki pagi sendirian. Moga-moga seperti itulah gambaran ritus yang ideal untuk jalan kaki, seperti yang digurat oleh William Cowper dalam puisinya berjudul "Walking with God" tadi.

    Tetapi mungkinkah saya malah menyalahi apa yang seperti ditulis oleh penyair Inggris lainnya, Alexander Pope (1688-1744) : "And men must walk at least before they dance ?"



    Wonogiri, 11 Oktober 2010