Showing posts with label wonogiri. Show all posts
Showing posts with label wonogiri. Show all posts

Monday, July 16, 2012

Leiden, Illinois dan Wonogiri : Dunia Yang Mengecil

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Dunia ini sempit.
Kecil.

Apalagi berkat Internet yang mampu membuat hubungan antarsesama yang dipisahkan oleh jarak geografis, kini senyatanya hanya dipisahkan oleh beberapa ketukan tombol komputer belaka.

Di bawah ini terjadi obrolan antara saya yang berdomisili di Wonogiri dengan teman saya Tinuk Yampolsky (foto) yang tinggal di Illinois, Amerika Serikat. 

Ikut nimbrung teman saya lainnya, Mas Najib Azca, dosen UGM di Yogyakarta. Antara kami bertiga ternyata memiliki jalinan pertemanan yang sungguh tidak saya duga sebelumnya.  


Bambang Haryanto
(Minggu, 15 Juli 2012 : pukul 12:36) : 

Sugeng tanggap warsa,mBak Tinuk Yampolsky. 
Saya pikir dulu akan dirayakan di Indonesia :-). 
Sluman,slumun, slamet. 
Bahagia senantiasa.

Najib Azca
(Minggu, 15 Juli 2012 :pukul 12:46) : 

Nunut mengucapkan selamat hari jadi. 
Semoga ciamik selalu mbakyu Tinuk. 
Konco lawas kah mbak Tinuk dengan mas Bambang? :)  

Bambang Haryanto
(Minggu, 15 Juli 2012 : pukul 13:04) : 

Dunia itu sempit ya, Mas Najib Azca. 
Kalau panjenengan dan saya bisa masuk dalam satu kotak, maka saya pernah satu RW dengan mBak Tinuk Yampolsky. 

Sama-sama dikepung benteng Baluwarti di Solo, 1975-1980. Juga satu sanggar, Sanggar Mandungan, dalam berseniman-ria.

Dalam novel beliau Candik Ala 1965 kata beliau konon ada sosok diri saya disitu.  Saya baca, kok modifikasinya terlalu kreatif,ekstrim bin kejam, sampai2 saya tak bisa memirip-miripkannya. Wokelah,itu memang hak asasi novelis, dimana saya tak bisa mengganggu gugat :-(.

Moga mBak Tinuk tambah bahagia mendapatkan ucapan dari kita yang bisa bersama-sama ini. Dong-dingnya Mas Najib bisa ketemu Tinuk, apa pas di Amerika ?  

Tinuk Yampolsky
(Minggu, 15 Juli 2012 : pukul 15:24) : 

Maturnuwun, mas Hary dan mas Najib. It is small world, isn't it?!  Saya ketemu mas Najib tidak di Amerika, mas Hary, tapi di Leiden-Belanda. Dan yang paling saya ingat, adalah rawonnya.

Waktu itu, saya dan Hasif Amini (adiknya mas Najib) menyusuri dari museum satu ke museum lain di Amsterdam (Reijks Museum dan Van Gogh diantaranya) ketika tiba-tiba cell-phone Hasif berdering dari mas Najib yang bilang lagi masak rawon untuk kami. 

Dan meluncurlah saya ke apartemen mas Najib dan makan rawon, yum! di tengah kesibukannya menyelesaikan disertasi masih sempat-sempatnya masak rawon buat kita.

Kalau ketemu di Yogya belum tentu saya dimasakin rawon, ya mas Najib?! hehe. Anyway, tengkyu untuk ucapannya, ini saya terbangun di tengah malam, dan senang mendapat ucapan dari banyak teman. 

Sekali lagi maturnuwun buat anda berdua.  


Najib Azca
(Minggu, 15 Juli 2012 :pukul 16:06) : 

Betul, perkenalan dan perjumpaan saya dengan dua tokoh Baluwarti ini memang istimewa dan tak terlupakan.

"Rawon" menjadi simpul perjumpaan saya dengan mbak Tinuk Yampolsky; sementara "Kick Andy" menjadi tautan yang merajut perjumpaan saya dengan tokoh supporter sepakbola Nusantara mas Bambang Haryanto.

Sungguh senang dan bangga mengenal kalian.
Salam hangat dari Jogja:).


Wonogiri, 17 Juli 2012

Tuesday, June 19, 2012

Wong Wonogiri Menggebrak Acara Kick Andy

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Warisan Anda. "Saya suka mengamati contrail, aliran gas buang berwarna putih yang ditinggalkan oleh pesawat jet.

Ia merupakan jejak sementara yang tergurat di pasir dan kemudian sinar matahari akan menghapusnya untuk selamanya.

Pergilah ke Montana dan mungkin Anda akan menemukan bekas-bekas jejak kaki dinosaurus yang tertoreh sejak ribuan tahun yang lalu."

Awal tulisan yang menarik dari Seth Godin dalam blognya. Ia membicakan topik universal dan menarik, tentang macam apa warisan yang kita tinggalkan sesudah nanti kita tiada.

"Sepanjang hari kita menulis email, status, men-twit atau membubuhkan tanda like, sementara orang lain berkarya secara lebih konkrit. Adakah sesuatu jejak yang bakal Anda tinggalkan dari hidup Anda ?"

Sebagai suporter sepakbola, saya berusaha ikut pula meninggalkan sesuatu jejak sejak sepuluh tahun lalu. Ketika bergabung dalam Pasoepati di tahun 2000 bersama Mayor Haristanto. Saya kemudian menulis pandangan, cita-cita dan juga gagasan tentang suporter sepakbola. Menulis di surat kabar, tabloid, milis dan juga blog.

Tanggal 12 Juli 2000, saat berlangsungnya pertemuan kelompok suporter di kantor redaksi Tabloid BOLA, saya mencetuskan hari itu sebagai Hari Suporter Nasional. Tahun 2002, impian saya tentang masa depan suporter sepakbola memenangkan The Power of Dreams Contest 2002 yang diselenggarakan oleh Honda Prospect Motor.


Jejak belum terkubur. Karena harus bekerja di perusahaan Internet di Jakarta, akhir tahun 2001 saya undur dari kegiatan di Pasoepati di Solo. Ternyata di Jakarta, sampai tahun 2002, masih ada tugas menanti. Berkiprah membidani lahirnya Asosiasi Suporter Sepakbola Indonesia (ASSI). Bahkan didaulat untuk menjabat sebagai Sekretaris Jenderal.

Sesudahnya, saya pensiun. Tetapi tetap menulis di blog ini. Bahkan masih sempat mendukung timnas dalam final Piala Tiger 2004/2005, baik di Jakarta atau pun di Singapura. Foto menunjukkan komentar saya yang dimuat di surat kabar utama Singapura, The Straits Times (17/1/2005). Mayor juga pensiun dari kegiatan suporter, walau dengan wadah Republik Aeng Aeng  ia masih sering bersinggungan untuk beraktifria bersama anak-anak Pasoepati di Solo.

Jejak lama saya itu, syukurlah, masih ada yang mau mengingat. Pada tanggal 10 Maret 2009, Arista Budiyono, sekretaris Pasoepati Jabodetabek, punya ide brilyan. Ia telah menulis surat ke penanggung jawab acara pamer cakap Kick Andy, agar acara populer itu menampilkan pentolan suporter dan pencinta sepakbola dengan kreasinya untuk menggairahkan dunia sepakbola.

Surat Arista Budiyono itu dia pajang di blognya sendiri, berjudul :  Suporter Menendang Kick Andy. Ia mengusulkan nama-nama sineas Andibachtiar "Ucup" Yusuf, Yuli Soempil Sugiarto (dirijen Aremania), Bambang Haryanto, Mayor Haristanto, Yan Tuheryanto (Singa Mania) dan situs Ongisnade.net.

Surat Arista itu tidak terkubur di arsip Kick Andy, tetapi menunggu dibangkitkan pada momen yang tepat.

Testimoni seorang Ibu. Momen itu hadir ketika wajah sepakbola kita harus menitikkan air mata. Yaitu ketika ada penggemar, yang merupakan roh sekaligus pendukung industrinya, tewas karena tingkah kebrutalan suporter brandal yang dibelit oleh fanatisme sempit.

Pada pertandingan Persija Jakarta melawan Persib Bandung di Gelora Bung Karno Senayan, Minggu, 27 Mei 2012, memakan korban dengan tewasnya Lazuardi (28), Rangga Cipta Nugraha (22) dan Dani Maulana (17). Pengeroyoknya berjumlah enam orang yang merupakan suporter The Jakmania telah tertangkap dan menanti untuk disidangkan.

Terenggutnya nyawa suporter sepakbola itu telah mendorong tayangan pamer cakap Kick Andy dari MetroTV untuk membicarakannya. Mengulik akar permasalahan dan menyerap aspirasi dari pelbagai fihak untuk memperoleh solusinya.

Sebagian besar nama yang diusulkan dalam email Arista Budiyono tiga tahun lalu yang kemudian menjadi nara sumber acara yang rekamannya berlangsung Rabu, 13 Juni 2012.


Kick Andy Show 22 Juni 2012 : Fanatisme Berujung Maut, Nara sumber acara Kick Andy, 22 Juni 2012, ki-ka : Cakra Wibawa,Iip Saripah, Mayor Haristanto, Yuli Sugiarto (bertopi), Bambang Haryanto dan Andibachtiar Yusuf

Nara sumberDari kiri ke kanan : Cakra Wibawa (adik almarhum Rangga Cipta Nugraha), Ibu Iip Saripah (ibu Rangga), Mayor Haristanto, Yuli Soempil Sugiarto (bertopi), Bambang Haryanto dan Andibachtiar "Ucup" Yusuf.

Dalam mimbar itu Ibu Iip Saripah mengatakan : "Keluarga memang sudah mengikhlaskan kepergian Rangga. Tapi, cara kepergian yang seperti itu kami masih tidak bisa terima. Kami minta pihak yang berwajib mengusut tuntas kasus penganiayaan yang menyebabkan tewasnya Rangga.”


Kick Andy, 22 Juni 2012 : Kerusuhan Suporter dan Solusinya, Acara bertajuk "Fanatisme Berujung Maut" menghadirkan ki-ka : Sineas Andibachtiar Yusuf, Yuli Sugiarto, Cakra Wibawa dan Iip Saripah, Bambang Haryanto dan Mayor Haristanto. Penonton yang bersemangat (kanan bawah).  

Suasana kental bernuansa sepakbola. Sineas Andibactiar "Ucup" Yusuf, Yuli Soempil Sugiarto, Cakra Wibawa dan Ibu Iip Saripah, Bambang Haryanto, Mayor Haristanto, dan penonton yang bersemangat.

Pada segmen terakhir, pada awal acara Mayor dan saya berusaha membuat studio Kick Andy layaknya suasana pertandingan di stadion sepakbola. Kami menyulap audien sebagai suporter yang bergairah, rileks, damai, bergembira dengan yel-yel dan lagu-lagu penggugah semangat yang bergelora.


Bambang Haryanto, Mayor Haristanto dan host Andy F. Noya, Kick Andy, 22 Juni 2012, Bambang Haryanto mengangkat topik rekayasa sosial suporter sepakbola  Mayor Haristanto berbagi pengalaman mengelola kelompok suporter cinta damai dan atraktif di Solo, Makasar, Pekanbaru dan Manado.

Duta suporter damai dan kreatif dari Solo. Saya dan Mayor, tampil di segmen terakhir. Kami berdua seolah harus menaiki mesin waktu, surut ke belakang di tahun 2000 guna membongkar-bongkar cerita dan kenangan saat Pasoepati berdiri dan mencari bentuk. Saat itu saya menggores sebuah tagline atau semboyan "Revolusi Citra Baru Suporter Indonesia."

Nara sumber yang tidak kalah penting dalam acara Kick Andy kali ini adalah dosen Sosiologi Universitas Gajah Mada (UGM), Muhammad Najib Azca, Ph.D. "Saya hanya menyumbang sedikit bagian penutup, melihat isu rusuh suporter sebagai  bagian budaya anak muda perkotaan yang dihimpit oleh sistem sosial yang tidak ramah," tulis beliau dalam obrolan di akun Facebooknya.

Saya berdua baru bertemu menjelang naik panggung, tetapi kimianya cocok, seolah kami merupakan teman lama. Itu terbukti ketika saya perkenalkan bahwa Mayor adalah lulusan Ilmu Pemerintahan UGM, yang bernaung pada fakultas yang sama dengan Mas Najib.

Sementara beliau adalah pembimbing dan penguji skripsi sobat saya, Aji Wibowo (yang bertopik suporter sepakbola ; Aji kini redaksi majalah fans Liverpool FC, Walk On, di Jakarta).  Dalam proses penulisan skripsi Aji melakukan korespondensi via email dengan saya.

Jejak langkah kami berdua, malam itu kami torehkan lagi. Di panggung acara Kick Andy. Mendengar pendapat Mas Najib Azca bahwa apa yang kami berdua gagas dan kerjakan selama ini sebaiknya direplikasikan kepada kelompok-kelompok suporter lain di Indonesia, barangkali itu menjadi mimpi berikutnya yang menantang untuk direalisasikan.

Tentu saja saya, Mayor, atau kami berdua,dalam mewujudkan mimpi itu tidak bisa melakukannya secara sendirian. Semua sobat saya suporter sepakbola Indonesia, harus juga mengambil prakarsa.

Semua itu dapat dimulai, seperti harapan penutup saya dalam acara itu dengan tekad : "Jadikanlah kita semua sebagai energi positif bagi dunia suporter sepakbola dan sepakbola Indonesia."

Insya Allah, jejak kita semua bukan seperti nasib asap pesawat jet yang melintas. Yang mudah menghilang dalam waktu cepat dan dilupakan oleh sejarah.


Wonogiri,19-20 Juni 2012
 

Saturday, May 19, 2012

The Cabuk Story

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id



Si Hitam. Diplomasi mengenalkan cabuk Wonogiri rupanya butuh waktu puluhan tahun.

“Apa makanan khas Wonogiri ?” itu tanya Pak Taufik Soedarbo, diplomat yang malang melintang di Afrika, Eropa, dan terakhir di Timor Timur menjelang kemerdekaannya. 

Bersama dengan Ibu Bintari Tjokroamijoyo, istrinya, dan Anez, putrinya yang cantik dan kharismatik yang mahasiswi Arkeologi UI, kami ngobrol sambil makan malam. Ada sambal trasi di cobek, dan Pak Dubes makannya secara dipuluk.

“Cabuk,” jawab saya.

Mereka semua tidak faham.Tidak mudah menjelaskan makanan berbentuk pasta, hitam pekat, terbungkus daun pisang yang dipanggang api, beraoma daun kemangi, gurih, lumer dan bisa juga terasa pedas. Disantap bersama nasi hangat, terasa nikmat sekali.

Itu kejadian tahun 1986 di Cilandak, Jakarta.
Sejarah berulang.
Desember 2011 yang lalu.

Kini saya sengaja membawa cabuk langsung dari Wonogiri. Bisa kembali mengobrol lama dengan Pak Taufik, tetapi Ibu Bintari dan Anez tidak bersama kita lagi. Ibu wafat tahun 2007 dan Anez, kelahiran Brussels itu meninggal dunia di Bali, 2005. Saya sempat ziarah ke makamnya, di TPU Jeruk Purut.

Kembali ke cabuk. Yang kemudian memberi komentar justru kakaknya Anez, Mas Anto dan mBak Devi, istrinya. Mereka menyebutnya enak dan bertanya-tanya : “Di manakah bisa dibeli di toko Jakarta ?”

Apakah Anda masih sering kangen menyantap cabuk ?

Di Wikipedia, cerita tentang Wonogiri juga menyebut makanan cabuk, yang “akan lebih nikmat apabila disantap bersama-sama dengan  gudangan, yakni makanan yang berupa sayur-sayuran yang telah direbus dicampur dengan sambal dari parutan kelapa.”

Bahan dasar cabuk adalah wijen, dimana wijen dikenal sebagai ratunya minyak yang berasal dari tumbuhan biji-bijian (queen of the oil seed crop) karena keunggulan nilai gizi dan manfaat kesehatannya.

Untuk keluarga Pak Taufik, Mas Anto & mBak Devi, ada keinginan mengirimkan cabuk kepada mereka. Yang masih mengganjal : apakah tidak terjadi perubahan kimiawi selama dalam perjalanan bila dikirim via jasa kurir ? Jangan-jangan nanti membusuk, dan bahkan beracun :-( ? Bagaimana pengepakan yang terbaik ?

Apakah Anda punya pengalaman yang bisa Anda bagikan ?
Matur nuwun. Saya nantikan.

Wonogiri, 20 Mei 2012

Tuesday, May 8, 2012

Skandal “Mark Up” di Gedung DPRD Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
 Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Badai gugatan. Orang satu ini kalau cangkemane tidak bikin risi orang lain mungkin akan sakit mag atau ambeyen. Dialah : Marzuki Alie.

Saat berbicara di acara bertajuk “Masa Depan Pendidikan Tinggi di Indonesia,” di kampus UI, Marzuki Alie ngablak bahwa koruptor itu adalah orang-orang pintar, bahkan lulusan perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

 “Para koruptor itu bisa dari anggota Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, anggota Himpunan Mahasiswa Islam, lulusan Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan lainnya. Tidak ada orang bodoh,” katanya.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Arindra A. Zainal tak setuju dengan cara berpikir Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie. Dengan pernyataan Marzuki Alie itu, kata dia, sama halnya dengan menganalogikan bahwa semua maling di Indonesia yang berada di penjara adalah orang Islam. Atau misalnya di negara lain Eropa seperti Italia, yang penghuni penjaranya warga beragama Katolik.

"Lalu, apa yang disalahkan agamanya? Kan tidak demikian," ujar dia. Ketua Program Studi Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik (MPKP) UI ini menuturkan, "Korupsi itu kan tergantung pada orang-orangnya. Jangan menggeneralisasi," kata dia.  

Vonis teroris. Logika berpikirnya politikus Partai Demokrat itu bikin saya ingat isi lelucon komedian muslim AS, Azhar Usman. Dalam akun Twitternya 13 April 2012 yang lalu, di mana saya jadi makmumnya ia, bilang : “Menvonis Islam berdasar tingkah laku para teroris seperti menghakimi kapitalisme berdasar kelakuan Bernie Maddoff. Goblog.”

Ulah Marzuki Alie itu kini menebar badai. Panen gugatan. Sementara itu KPK justru menyatakan, betapa wakil rakyat alias anggota DPR-DPRD, ternyata memuncaki daftar mereka yang diindikasikan melakukan tindak korupsi di tahun 2012 ini.

Halo, Marzuki Alie sang Ketua DPR, omongan Anda tentang alumni PTN yang terlibat korupsi itu apa trik sulap Anda untuk membelokkan perhatian, bukan ? Kapan-kapan Anda silakan datang di gedung DPRD Wonogiri, karena di sini terjadi tindak “korupsi” besar-besaran.

Padahal kantor ini sepertinya setiap hari menjadi jujugan dan pula jadi tongkrongan para wartawan, tetapi mereka sepertinya tetap engga “ngeh” juga. Kenapa ya ? Mungkin ini ilustrasi yang cocok, mencocoki, karena dicoba dicocok-cocokkan untuk fenomena itu. Alkisah, suatu hari saya pernah di sebuah warnet menemukan amplop kosong. Kop amplopnya : DPRD Wonogiri. Lalu ada tulisan tangan, bahwa amplop itu diberikan kepada seorang wartawan.

Saya tersenyum kecil, dan bersyukur sedikit. “Untung saya hanya seorang blogger, fesbuker, dan bukan seorang wartawan.” Di benak lalu tergambar ucapan pengacara muda idealis Rudy Baylor yang dibintangi Matt Damon dalam film The Rainmaker (1997) :

 “Setiap pengacara, minimal dalam satu kasus, dirinya merasa telah menyeberangi batas yang tidak sengaja ia lakukan. Itu terjadi begitu saja. Tetapi apabila Anda kemudian ternyata berkali-kali menyeberangi batas itu, maka batas tersebut akan lenyap selamanya. Dan Anda kemudian akan menjadi bukan siapa-siapa lagi, kecuali menjadi pengacara dagelan. Anda masuk barisan sebagai seekor hiu lainnya lagi untuk berenang-renang dalam air comberan.”  

Mark-up 6 digit. Tapi ngomong-ngomong, apa sih bentuk “korupsi” di kantor DPRD Wonogiri ? Saya ingin tanya Mas Bambang Tri Subeno, kode pos kelurahan Anda, Wuryorejo, 57614. Kelurahane mas bupati, di mana warna cat rumahnya dan cat pagar garasi bisnya kini “menulari” habis-habisan pohon-pohon dan tempat sampah di pelbagai lokasi di Wonogiri, punya kode pos : 57681.

 Lalu Wonokarto, rumahnya Mas Anto (yang masih waris sama saya), adalah : 57612. Ternyata masih sama dengan kodepos rumahnya Mas Mujtahid dan kampung saya yang sama-sama masuk Kalurahan Giripurwo.

Lalu kantor DPRD Wonogiri (foto) yang juga masuk Giripurwo, mengapa punya kode pos tersendiri ? Aturan normalnya, se-Indonesia, kode pos itu 5 digit, kok di kantor para wakil rakyat Kota Gaplek ini justru pethakilan menjadi 6 digit ? Menjadi : 576551 !

Mungkin itu kode pos untuk daerah eksotis Wonogiri yang tidak terjangkau oleh pengawasan rakyat, di mana uang, politik, kekuasaan dan keserakahan, bergelut dan terpilin menjadi menu mereka sehari-hari.

Wakil rakyat, wakil rakyat.
Kodepos wae melu-melu keno mark-up !


Wonogiri, 8 Mei 2012

Thursday, April 19, 2012

Wong Wonogiri, Bismar dan Darah Syuhada

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Bismar Siregar telah dipanggil Sang Khalik.
Lahir : 15 September 1928.
Wafat : 19 April 2012.

Mantan Hakim Agung ini dikenal sebagai sosok pribadi yang jujur, bersahaja, dan sederhana. Pria kelahiran 15 September 1928 ini menjabat Hakim Agung dan pensiun sejak 17 tahun silam.

Beberapa pegiat antikorupsi mensejajarkan Bismar Siregar dengan mendiang Menteri Kehakiman dan Jaksa Agung Baharuddin Lopa, dan almarhum Hoegeng Imam Santoso, Kepala Polri era 1968-1971.

Saya mengenal secara tatap muka untuk pertama dan terakhir kali, di tahun 1999. Tepatnya pada tanggal 17 Desember 1999, di Gedung Indosat, Jakarta Pusat. Saat itu berlangsung pengumuman pemenang Lomba Karya Tulis Teknologi Telekomunikasi dan Informasi (LKT3I) III/1999 yang diselenggarakan oleh PT Indosat.

Sebagai salah satu finalis saya memasukkan artikel saya yang sebelumnya pernah dimuat di harian Solopos (25/9/1999), berjudul “Bila Demam Bisnis Internet Makan Korban.”

Artikel ini membedah fenomena mabuk bisnis dotcom yang menggila saat itu, yang asal tubruk untuk mendigitalkan segala macam hal, sembari tidak mengacuhkan perbedaan antara model berbisnis di alam nyata, brick and mortar, dengan model bisnis di alam maya. Bisnis digital para pemabuk itu akhirnya bertumbangan dan Internet sempat mendapatkan reputasi buruk.

Kini kehadiran blog, yang tidak banyak membuat orang dibakar eforia, justru menjadikan Internet benar-benar sebagai ancaman konkrit bagi bisnis mainstream media, sekaligus membukakan wacana demokratisasi media yang berada di tangan warga.

Pada malam pengumuman, saya meraih Juara Harapan I Kategori Kelompok Umum dalam lomba karya tulis yang juga didukung oleh Harian Kompas, Republika, Gatra dan LIPI.

Darah syuhada. Saat itu bertepatan dengan bulan puasa. Sebelum pengumuman pemenang, ditampilkan pidato siraman rohani yang diberikan oleh Bapak Bismar Siregar. Ucapan beliau yang nampak menyemangati para peserta lomba, antara lain dengan mengutip pendapat yang bagi saya terasa sakral.

Bismar Siregar mengatakan, “Setetes tinta penulis lebih mulia daripada darah syuhada."

Ucapan yang menggetarkan. Tidak terlupakan. Semula saya kira ucapan tersebut bersumber dari kitab suci Al-Quran. Syukurlah, beberapa tahun kemudian saya memperoleh informasi bahwa itu merupakan ucapan salah seeorang ulama klasik asal Siria, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, 1292-1350.

Terima kasih, Bapak Bismar Siregar.
Selamat jalan. Semoga Anda sejahtera disisiNya.


Wonogiri, 19 April 2012

Sunday, March 11, 2012

Ir Hardoyo Rajiyowiryono,M.Sc, Museum Karst Dunia Wonogiri dan Kenangan Mandungan

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Selamat jalan, Mas Hardoyo Rajiyowiryono,
untuk kembali kepada Sang Khalik.

Kabar mengejutkan kemarin malam (10/3/2012) dari Harsoyo Rajiyowiryono, segera melambungkan kenangan saat kita sering guyon di Sanggar Mandungan, Solo, tahun 1970-an.

Saat itu sampeyan kuliah di Geologi UGM (lulus 1980), tetapi sering membawa majalah sastra Horison dan Budaya Jaya, untuk bahan mengobrol. Juga berbagi lelucon tentang Nasarudin Hoja.

Dalam album foto online yang memajang suasana reuni alumni Teknik Geologi UGM (Hardoyo di sebelah kanan) yang diselenggarakan tanggal 8 Agustus 2009, tersaji ulasan berbunyi :

r hardoyo rajiyowiryono,m.sc, r hardoyo rajiyowiryono,m.sc (kanan) slumnus teknik geologi ugm, reuni tahun 2009, meninggal dunia di bandung, 10 maret 2012

Pendekar Kembar. Tahun 70-an di Geologi UGM ada 3 orang yang sangat nyeni di bidang tulis menulis di antaranya Hardoyo Rajiyowiryono, Harlianto Toto Sudibyo (HTS/Totok) dan Widiyandito (almarhum).

Mereka bertiga membuat Mading HMTG yang terbit sebulan sekali (maklum waktu itu tdk bisa berlangganan koran, baru akhir 70an Geologi berlangganan KR yang bisa dibaca oleh mahasiswa). Puisi-puisi Hardoyo dan Totok sering dimuat di majalah remaja Aktuil (Remi Silado). Sedangkan karikatur-karikatur Widiandito yang menggelitik sering mucul di bulletin board HMTG/Geologi.

Waktu malam ramah tamah kemarin Hardoyo sempat membacakan Puisi2 HTS yang bagus dan seperti gaya puisi2 penyair mabuk Sutarji KB. Foto ini adalah mutakhir penyair Rendra dan Putu Wijaya Geologi UGM yang sudah membengkak tapi juga mulai keropos (Deskripsinya Wak Mufti 71).


Puisi mbeling karya Hardoyo juga akan terus dikenang karena sarat humor dan pesan ironi yang mengunjam. Dalam buku Puisi mBeling: Kitsch dan Sastra Sepintas susunan Soedjarwo,Th. Sri Rahayu Prihatmi dan Yudiono K.S. (Yayasan IndonesiaTera, 2001) telah tersaji dua karyamu :


Cultural Shock

dalam sebuah pesta
polos
seorang anak
berkata :
"mami,
"e-ek!"


Religi

pernah kuangankan
tuan bersujud
bagai manusia
lalu membuang airseni dari
langit dan aku
menganga di bawahnya.


Heboh piramid. Kontak terakhir saya dengan Mas Hardoyo terjadi via SMS bulan lalu. Saat itu saya tanyakan pendapat Mas Doyo tentang heboh piramid Sadahurip. Anda mengeluh, "itulah Indonesia kita," dan lalu berharap bisa mudik ke Solo untuk berbagi kabar dengan Si Benk (Mas Noyo) dan juga dengan saya.

Tuhan ternyata berkehendak lain.
Mas Doyo lahir di Solo, 30 Oktober 1950.
Wafat di Bandung, 10 Maret 2012.

Beliau menempuh pendidikannya di SMA Negeri 1 Solo, kemudian di Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gajah Mada dan selesai sebagai sarjana geologi pada Tahun 1980. Kemudian beliau melanjutkan studinya di Department of Geology, University of Wollongong, Australia dengan meraih gelar master science (honours) in geology, majoring in environmental geology, tahun 1990.

Saya ikut berdoa semoga arwah Mas Doyo diterima dengan sejahtera di sisiNya. Semoga pula, istri beliau mBak Endang Lestari, kedua putranya Aditio Baskoro Hardoyo dan Pradipto Isworo Hardoyo, diberi ketegaran dan ketabahan, untuk terus melanjutkan cita-cita luhur Mas Hardoyo.

Wonogiri tidak akan lupa jasamu. Saya sebagai warga Wonogiri tidak akan melupakan jasa besar Mas Hardoyo. Monumen karya abadinya, Museum Karst Dunia, akan selalu menjadi kenangan atas jasa-jasa beliau dan juga Badan Geologi tempat beliau berkarier. Sebuah situs berita menegaskan hal tersebut :

Publik Wonogiri Berduka
Tokoh Pembangunan Museum Karst Dunia Tutup Usia

Aris Arianto - Timlo.net
Minggu, 11 Maret 2012 | 13:55 WIB

Wonogiri – Salah seorang tokoh yang ikut aktif dalam pembangunan Museum Karst Dunia (MKD) Wonogiri Hardoyo Rajiyowiryono menghembuskan nafas terakhir tadi malam, Sabtu (10/3). Dia meninggal dunia lantaran menjadi korban kecelakaan di Bandung Jawa Barat.

Jenazah saat ini disemayamkan di rumah duka Bandung. Dan akan dikebumikan, Minggu (11/3) selepas sholat Dzuhur.

Harsoyo-adik kandung almarhum- ketika dihubungi Timlo.net melalui sambungan telepon seluler mengatakan kakaknya akan dimakamkan di TPU (Tempat Pemakaman Umum) Nagrog Bandung. ”Rencananya (pemakaman-red) setelah Dzuhur, atau paling lambat sekitar pukul 14.00 WIB siang ini juga “ tuturnya.

Kepergian sosok penting dalam pembangunan MKD meninggalkan kesedihan terutama bagi masyarakat Pracimantoro, lokasi berdirinya museum. Triyono Rahardjo tokoh masyarakat sekaligus Direktur Cabang LSM Gagasan Anak Negeri (GAN) Wonogiri berujar nama Hardoyo lekat di hati warga Pracimantoro.

“Khususnya sejak wacana hingga usai pembangunan MKD, nama almarhum begitu dikenal warga, sebab apa yang dikerjakannya sangat nyata, sehingga publik memiliki sebuah ikon kebanggaan yang mendunia,” Triyono menuturkan.

Tautan lanjut. Biodata Mas Hardoyo dan cita-citanya tentang masa depan Indonesia dapat Anda simak dalam artikel menarik berjudul Mengenalkan Geo-risk Sebagai Bagian Dari Mitigasi Bencana, Warta Geologi, Juli 2006 dan Memposisikan Kembali Kedudukan Geopolitik Indonesia, Warta Geologi, Juni 2008.



Wonogiri, 10-12 Maret 2012

Thursday, December 1, 2011

Solo Cyber Day 2011, Wong Wonogiri dan Indonesia Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id



IndoWLI.
Anda sudah akrab dengan singkatan ini ?

Sedang Onno W. Purbo ?
Ini nama tokoh.
Agak kebangeten bila Anda belum mengenal beliau.

Untuk warga Solo yang belum tahu dan belum kenal, silakan berkenalan dengan beliau. Tempatnya di depan Plaza Sriwedari. Minggu Pagi, 4 Desember 2011. Jam 7-an. Beliau akan memberikan orasi dalam acara Solo Cyber Day 2011.

Acara siber-siberan semacam ini bikin saya agak bernostalgia.

Karena tiga tahun lalu,2008, Walikota Solo Jokowi sudah mencanangkan bahwa tanggal 30 Juli sebagai Solo Cyberholicday. Hari mabuk dunia cyber. Hari kasmaran Internet. Saking ikut-ikutan mabuk saya sempat membuat blog khusus untuk momen itu.

Di blog tersebut Anda dapat melihat secuplik sajian kelompok keroncong siswa-siswi SMA St Yosef yang memanggungkan lagu "Solo Cyberholicday" dengan lirik yang cerdas. Juga dilantunkan secara penuh semangat dalam balutan lagu "It's a Holy Holyday"-nya Boney M, kelompok musik asal Jerman.

Apakah deklarasi oleh Pak Wali hari Minggu esok itu secara resmi menghapus deklarasi dia 3 tahun yang lalu ? Ataukah akan ada dua hari mabuk cyber secara resmi di Solo, yaitu setiap 30 Juli dan 4 Desember ?

Cerita keluarga. Yang pasti,dalam acara tanggal 4 Desember 2011 itu komunitas saya berdasarkan keturunan Trah Martowirono akan ikut ambil bagian. Stan kami bernomor 18, berkat pilihan eksklusif oleh Presiden Republik Aeng-Aeng Mayor Haristanto, tempatnya jadi dekat panggung. Berseberangan dengan stan organisasinya Mas Donny Budi Utoyo, Internet Sehat yang terkenal itu.

Ada sekitar 50 stan yang memunculkan beragam komunitas di Solo dan Indonesia yang memanfaatkan Internet untuk mempertegas eksistensi dan krida-krida mereka yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Stan Trah Martowirono mengusung misi ingin berbagi cerita, bahwa tiap-tiap keluarga itu punya kisah menarik dan hero, walau kelas kampung sekali pun, yang pantas untuk dituliskan. Karena seperti kata Stephen R. Covey, kini saatnya di era Internet ini masing-masing pribadi memberikan "suara"-nya bagi dunia. Ia merujuk setiap insan adalah istimewa. Pakar Internet Dave Wiener lalu menimpali, bila 6 milyar umat manusia bisa saling terhubung, dunia akan menjadi lebih baik adanya.

Modal "unjuk dada" kami di acara SCD 2011 itu hanya blog. Itu pun blog gratisan, yang kami sebut sebagai keuntungan sebagai sarana berbagi pesan betapa keluarga lain, keluarga Anda pun pasti bisa melakukan hal yang sama. Yaitu memiliki blog, untuk menyambungkan silaturahmi (selain Facebook, Twitter dan media sosial lainnya) antarkeluarga Anda. Juga sebagai media untuk mencatat sejarah keluarga Anda.

Kembali ke Mas Onno. Walau hanya lewat email, saya mengenal beliau. Saat acara Jagongan Media Rakyat 2010 di Yogya, Juli 2010, saya sempat berfoto-ria di halaman Jogja Museum.

Juga minta tanda tangan dalam artikel majalah Esquire Indonesia edisi Juni 2010. Profil Onno W. Purbo dimuat di majalah gaya hidup pria tersebut, dan nama saya ikut muncul di halaman lain yang membahas tentang wabah tindak kekerasan di kancah suporter ("saya pencetus Hari Suporter Nasional, 12 Juli 2000") sepakbola Indonesia.

Membincangkan masa depan Indonesia Kita. Sebagai warga Wonogiri, pagi ini sesudah jalan kaki pagi, melalui milis IndoWLI (IndoWireLessIndonesia) yang digerakkan oleh Dr. Onno W. Purbo,saya ingin mengirimkan email ucapan selamat datang di Solo untuk beliau. Tetapi saya juga terpincut untuk membuka kabar-kabar lain yang masuk. Ada kabar yang ditulis oleh Bapak Ade Kuswandi.Menurut saya menarik.
Di bawah ini saya bagikan untuk Anda :

Cerita mahasiswa Indonesia di Ausie.

Nyata.

Suatu pagi,kami menjemput seseorg klien di bandara.Org itu sdh tua,kisaran 60 thn.Si Bpk adl pengusaha asal Singapura,dgn logat bicara gaya melayu & english,beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kpd kami yg msh muda.

Beliau berkata,"Ur country is so rich!" Ah biasa banget denger kata2 itu. Tapi tunggu dulu."Indonesia doesn't need the world,but the world needs Indonesia,"lanjutnya. "Everything can be found here in Indonesia,U don't need the world."

"Mudah saja,Indonesia paru2 dunia.Tebang saja hutan di kalimantan,dunia pasti kiamat. Dunia yg butuh Indonesia!

Singapura is nothing,we can't be rich without Indonesia. 500.000 org Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan.Bisa terbayang uang yg masuk ke kami,apartemen2 terbaru kami yg beli org2 Indonesia,ga peduli harga selangit, laku keras.

Lihatlah RS kami,org Indonesia semua yg berobat.Trus,kalian tau bgmna kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya,bener2 panik.Sangat terasa,we are nothing.Kalian tau kan kalo Agustus kmrn dunia krisis beras.Termasuk di Singapura dan Malaysia?

Kalian di Indonesia dgn mudah dpt beras.Liatlah negara kalian, air bersih di mana2,liatlah negara kami,air bersih pun kami beli dari Malaysia. Saya ke Kalimantan pun dlm rangka bisnis,krn pasirnya mengandung permata.Terliat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3rb/kg ke pabrik china,di pabrik jual kembali seharga Rp 30rb/kg.Saya liat ini sbg peluang.

Kalian sadar tidak kalo negara2 lain selalu takut mengembargo Indonesia! Ya,karena negara kalian memiliki segalanya.Mereka takut kalau kalian mnjadi mandiri,makanya tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YG MENG- EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah pangan dr petani2 kita sendiri,belilah tekstil garmen dr pabrik2 sendiri.Tak perlu impor klo bs produk sendiri.

Jika kalian bs mandiri,bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA WILL RULE THE WORLD!!

Plis share ya biar sampe ke seluruh bangsa Indonesia...

Wassalam,
Ade Kuswandi

Terima kasih, Pak Ade Kuswandi.
Pembaca, semoga cerita campur-bawur ini ada manfaatnya bagi Anda.Bagi kita semua. Apakah momen Solo Cyber Day 2011 itu juga dapat kita manfaatkan untuk memperteguh rasa nasionalisme kita, lalu membuat kita tergerak sesuai nasehat tokoh bisnis Singapura itu pula ?


Salam saya dari Wonogiri.


Wonogiri, 1 Desember 2011
Bonus dari acara jalan kaki pagi.

Thursday, November 10, 2011

Broto Happy W., Anak Wonogiri dan Bulutangkis Indonesia

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews(at) yahoo.co.id



Sembilan Juara Dunia. Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2011 kiranya memiliki makna mendalam bagi seluruh warga trah Trah Martowirono. Karena salah satu warga kita dari Taler Ke-4 berusaha ikut merayakan hari itu dengan mempersembahkan karyanya bagi bangsa dan negara Indonesia.

Selamat untuk Broto Happy Wondomisnowo !

Wartawan Tabloid BOLA, suami dari Ayu Broto Happy dan ayah dari Ega dan Adis, malam ini (10/11/2011) akan ikut aktif menjadi pelaku sejarah perkembangan dunia olahraga Indonesia. Khususnya dunia perbulutangkisan Indonesia.

Buku karyanya akan diluncurka berbarengan dengan perayaan HUT Ke-60 PB Tangkas Alfamart di Ballroom Hotel Mulia, Kamis, 10 November 2011, malam. Perkumpulan Bulutangkis (PB) Tangkas Alfamart yang didirikan oleh Keluarga Besar Soehandinata yang pencinta berat olahraga bulutangkis, telah tercatat menelurkan atlet-atlet bulutangkis Indonesia dengan prestasi dunia.

Antara lain, tercatat 9 Juara Dunia, meliputi Ade Chandra (1980), Verawaty Fajrin (1980), Icuk Sugiarto (1983), Joko Suprianto (1993), Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky (1995), Hendrawan (2001), Nova Widianto/Lilyana Natsir (2005 dan 2007).

Untuk peraihan medali Olimpiade : Hermawan Susanto (Barcelona, 1992, perunggu), Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky (Atlanta, 1996, emas), Hendrawan (Sydney,2000, perak) dan Nova Widianto/Lilyana Natsir (Beijing, 2008, perak).

Pena anak Wonogiri. Semua prestasi dan perjuangan mereka itu dan tokoh terkait lainnya demi mengharumkan nama Indonesia akan diabadikan oleh tulisan Broto Happy Wondomisnowo, yang anak Kajen Wonogiri dan anak ke-enam keluarga Kastanto Hendrowiharso-Sukarni, dalam buku berjudul Baktiku Bagi Indonesia : 60 Tahun Tiada Henti Mencetak Juara, 9 Juara Dunia dan 4 Peraih Medali Olimpiade . Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, 2011. 498 halaman.

“Pengerjaan buku ini mungkin bisa masuk Rekor MURI,” kata Broto Happy W. Karena dengan hampir 500 halaman, dikerjakan dalam tempo pendek, sekitar 3 bulan mulai April sampai deadline naskah tanggal 10 Juli. Apalagi penulisan buku ini dikerjakan disela-sela tugas jurnalistik di Tabloid BOLA.

Buku ini merupakan buku bulutangkis ketiga yang ia tulis. Sebelumnya menulis biografi pebulutangkis kontroversial Taufik Hidayat, Magnet di Bulutangkis (2003) dan biografi Hariyanto Arbi, Smash 100 Watt. (2006).

”Buku ini merupakan dedikasi saya untuk dunia bulutangkis Indonesia. Karena sering bergaul dengan para pemain bulutangkis, saya pun termotivasi untuk berbuat sesuatu untuk dunia bulutangkis Indonesia.

Kalau para atlet berjuang demi Merah Putih dengan ayunan raket di tengah lapangan, sedangkan saya lewat kemampuan yang saya miliki, yaitu menulis buku,” tegas Broto Happy W.

Lewat buku pula ia bertekad mengajak dan memotivasi semua warga keluarga besar Trah Martowirono untuk berlomba-lomba dalam mengukir prestasi sesuai dengan bidang dan kemampuannya masing-masing. ”Mari terus berkarya, kreatif, dan tiada henti berinovasi untuk ikut mengharumkan keluarga Trah Martowirono,” pungkasnya.

Acara peluncuran dan hari ulang tahun PB Tangkas Alfamart tersebut konon akan direkam dan disiarkan ulang di MetroTV. Ayo kita siap-siap untuk menontonnya, sekaligus menjadikannya sebagai inspirasi bagi semua warga Trah Martowirono tercinta kita.

Begitu, bukan ?
Salam sukses untuk Anda semua.


Kramat Jaya Baru, Jakarta, 10 November 2011

Tuesday, August 2, 2011

Selamat Jalan, Plomponk : Kenangan Dari Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id



Hari Selasa (2/8/2011), hari puasa kedua, saya memutuskan untuk mengunjungi perpustakaan umum Wonogiri.

Berarti ada pekerjaan rumah yang harus dirampungkan dalam kunjungan itu. Membaca-baca koran terbitan hari Minggu, Senin dan Selasa.

Ini hari keluar rumah saya, selain ke pasar, yang pertama di bulan puasa ini. Dari Kajen, melewati utara Kodim, lalu ke selatan. Melewati sebelah barat Gudangseng, ke selatan. Karena di utara bagian belakang gedung SMK Pancasila I ada kajang dan bendera merah terpasang, tanda ada kesripahan, saya menuju perpustakaan melalui bekas jalan rel kereta api Wonogiri-Batu.

Setelah tiba di perpustakaan, saya ambil surat kabar Kompas edisi Minggu dan Senin. Saya baca-baca sambil menghidupkan komputer, untuk akses ke Internet. Karena, seperti dua kali bulan puasa sebelumnya, saya memutuskan untuk libur mengakses Facebook, saya hanya membuka akun 2-3 email saja. Lainnya : membaca-baca situs koran The Jakarta Post dan The Jakarta Globe..

Ketika membolak-balik koran Kompas edisi Minggu itu, saya terperangkap oleh sebuah iklan duka cita. Yang meninggal dunia : Djoko Poernomo. Fotonya, tidak lagi saya kenali.

Tetapi ketika membaca nama-nama yang ikut berdukacita, terutama nama pertama yang muncul adalah Julius Pour, wartawan senior Kompas dan biografer terkenal, segera saya tahu siapa dirinya.

Innallilahi wa ina ilaihi rojiun.

Teman saya ketika sama-sama meniti karier kepenulisan di Solo, sekitar tahun 1977-an, rupanya kini telah dipanggil menghadap Tuhan Yang Maha Esa.

Masa lalu pun tertayang di benak. Tahun-tahun itu, saya sebagai “wartawan Kuncung” (lelucon di antara kita, untuk merujuk posisi diri-diri kita sebagai wartawan freelance) dengan nama Hariteksi, bersama Efix Mulyadi dan Plomponk, sebut saja merupakan trio generasi baru (calon) wartawan Solo saat itu.

Kami seolah “membayangi” nama-nama wartawan Solo yang resmi. Misalnya, Achmad DS (Pikiran Rakyat), Soebianto (Kompas), L. Djono (Sinar Harapan), Agus Susanto (Berita Buana), Imam "Maesuna" Muafik (Hai dan banyak lagi lainnya.

Merasa tahu diri sebagai yunior, kami bertiga saat itu hanya menulis berita, reportase atau features yang berada di luar jangkauan para wartawan resmi tersebut. Misalnya semata melaporkan peristiwa-peristiwa budaya yang terjadi di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah (PKJT) Sasonomulyo. Juga menulis reportase tentang konser-konser musik di Solo.

Kebetulan, saat itu Efix Mulyadi dan juga saya menjadi aktivis kesenian di Sanggar Mandungan, Muka Kraton Surakarta. Bermain teater, menyelenggarakan pentas-pentas puisi, diskusi dan musik, dan juga menulis. Saat itu saya kuliah di Jurusan Mesin Fakultas Keguruan Teknik UNS, tetapi ikut berkiprah di Mandungan dan mulai mengasah keterampilan menulis untuk media massa dan kreativitas.

Aktivis lainnya : Moertidjono. Juga Harsoyo Rajiyowiryono. Kadang mampir kakaknya yang saat itu kuliah di Geologi UGM, Hardoyo, untuk berbagi cerita tentang isi majalah Horison dan Budaja Djaja. Atau pun berbagi tawa seputar humor tentang ulah julig Nasarudin Hoja yang jenaka.

Connie Suprapto. Marsudi. Mas Lis. Bambang Permaidi. Mas Mansur RRI. Broto “UGM” Dompu. Chosani. Mamok. Urip. Kentrung. Budoyo Sumarsono. Yohanes Yantono. Yoyok “Dablir” Mugiyatno. Wati. Dewi Elisawati. Tinuk. Juga “Ialah,” pria gelandangan yang ikut tidur di serambi sanggar dan gemar berpidato a la Bung Karno (menyebut-nyebut “munawaroh”) di waktu malam.



Ketika mahasiswa Seni Rupa UNS, di bawah komando dosennya, (almarhum) Prof. Heribertus Soetopo, ikut bergabung di Mandungan, saya tergerak mendirikan Workshop Melukis Anak-Anak dan Remaja (foto,1979-1980) bersama mereka. Dengan para mentor melukis anak-anak terdiri Anang Syahroni, Putut Handoko Pramono, Seno "Crukupul" Soebroto, Soetarto, Wahyu Soekirno. Mance Harman. Didik Soehardi. Calon istri Plomponk adalah juga mahasiswi Seni Rupa UNS. Ia tak jarang main ke Mandungan. Namanya Harri Kinasih, tetapi populer dipanggil Mimin.

Trio Kuncung berpisah. Suatu saat saya pernah diajak berkolaborasi dengan Plomponk. Melakukan wawancara dan meliput profil serta kegiatan SMKI di Patehan. Tulisan ini, kalau tidak salah, muncul di majalah Hai. Adiknya Plomponk, perempuan, Th S Purwaningsih juga kuliah bersama saya di FKT. Ia mengambil jurusan arsitektur, seangkatan dengan Gembong Muria Hadi (adik dari Sumantri dan Sutopo) dan pernah menjabat di DPU Wonogiri.

Tahun 1978, Efix Mulyadi hijrah ke Jakarta, menjadi wartawan budaya Kompas. Plomponk makin serius menjadi wartawan harian yang sama, dengan area liputan daerah Yogyakarta. Kemudian juga berpindah ke Jakarta.

Tahun 1980, saya memutuskan untuk belajar lagi, di Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Trio “wartawan Kuncung” Solo era 70-an itu menjalani panggilan hidup masing-masing. Belum ada Internet, kontak antara kita kemudian seperti terputus lama.

Tanggal 27 Januari 2007, artikel saya dimuat di kolom Teroka, Kompas edisi Sabtu yang dijaga oleh budayawan Radhar Panca Dahana. Judul aslinya adalah “Dosa-dosa Komedian Kita,” tetapi dalam pemuatannya menjadi : “Komedi dan Komedian : Kejujuran Mengolok Diri Sendiri. “

Tulisan yang sama kemudian ikut menghiasi buku saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010) dengan judul baru : “In Memoriam Gus Dur (1940-2009) : ‘Hanya Kita Saja yang Masih Waras.’” ( Hal. 25-30).

Gara-gara artikel itu, yang mencantumkan nama blog komedi saya, saya memperoleh email tidak terduga. Dari Plomponk. Ia tinggal di Jakarta, dan saya (sejak 1998) pulang kampung, di Wonogiri. Ia menanyakan judul-judul buku humor yang sudah saya tulis dan apakah masih tersedia di toko-toko buku.

Plomponk pun menambahi bahwa tulisan saya itu, ia sebut : “Luar biasa.”Saya pun menjawab, bahwa dua buku humor itu saya tulis di tahun 1987. Out of print. Tak ada lagi di toko buku mana pun.

Kabar tentang Plomponk, pria bertubuh besar, yang mudah tergelak dan suka memakai kacamata rayban seperti penerbang (kakaknya adalah penerbang dan analis militer, F. Djoko Poerwoko), saya pergoki dengan rasa duka di kolom obituari yang saya temukan dengan bantuan Google. Antara lain terbaca :

Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas St Sularto, antara ln mengatakan, sebagai orang beriman, Mas Pom sudah membongkar kemah dan kini almarhum sudah disediakan rumah abadi.

"Sebagai orang beriman, kita yakin ini jalan satu-satunya untuk mendapatkan kehidupan kekal. Dan kita percaya Mas Pom sudah mendapatkan kehidupan kekal," kata Sularto.

Dari kejauhan, dari Wonogiri, saya ucapkan : “Selamat jalan, Plomponk. Semoga kau kini senantiasa sejahtera dan tenteram abadi disisiNya.”


Wonogiri, 3/8/2011

Thursday, January 20, 2011

Revolusi Locavore, Tercekik Harga Cabe dan Wonogiri Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id

Locavore.
Sudahkah Anda kenal istilah eksot ni ?
Saya ketabrak istilah itu gara-gara cabe.

Ceritanya, kemarin (19/1/2011) saya memperoleh kabar mutakhir tentang cabe itu dari penjual mi ayam Mas Djan di Wonogiri. mBaknya baru pulang dari pasar, dan mengeluh. Ia baru saja membeli cabe seperempat kilogram dengan harga gila-gilaan.

"Satu kilogram cabe rawit,harganya masih seratus ribu rupiah," katanya.Beberapa hari sebelumnya, koran lokal mewartakan : harga cabe satu klethus senilai rupiah sebanyak tiga ratus !

Pagi ini (20/1/2011), mungkin karena terus dihantui harga cabe itu, ketika membuka-buka situs koran The Jakarta Globe, saya menemukan istilah locavore itu dalam artikel yang inspiratif. Artikel tentang revolusi upaya memperkuat ketahanan pangan bagi warga Indonesia.

Disitu, penulisnya, Magfirah Dahlan-Taylor yang kandidat PhD bidang perencanaan, tatalaksana dan globalisasi dari Virginia Tech (AS), mewedar gagasan revolusi memperkuat daya tahan pengadaan pangan di negara kita ini melalui upaya pemanfaatan halaman kebun rumah-rumah kita.Kunci keberhasilan gagasan mulia ini harus dimulai dari pola pikir, mindset kita-kita semua.

Ia lalu merujuk ikhtiar Michelle Obama, yang berkebun tanaman sayuran di kompleks Gedung Putih. Aksi mulia Ibu Negara AS itu, menurutnya, sejalan dengan tren gerakan masyarakat di AS yang berlabel locavore, walau ada juga yang menyebut localvore.

Gerakan itu pada intinya berusaha mendekatkan sumber makanan kepada konsumen yang selama ini terbiasa mengambil makanan dari rak-rak di pasar-pasar swalayan ketimbang langsung dari tanaman. Dengan gerakan ini kita diajak mengonsumsi makanan-makanan hasil budi daya lokal.

Selain lebih murah, karena tidak terbebani biaya pajak sampai transportasi [baca kisah mBak Bea, warga Indonesia yang kini tinggal di Perancis ketika kangen makanan asal Indonesia], kita juga diajak/diajar untuk mengetahui ikhtiar apa saja yang membuat tanaman itu tumbuh.

Misalnya, apakah memakai pupuk kimia ataukah pupuk organik ? Merujuk hal itu, jelaslah pula bila gerakan locavore itu juga berimpit dengan misi gerakan pelestarian lingkungan hidup. Dan menurutnya, harus digairahkan sejak dini di bangku-bangku pendidikan kita.

Terima kasih, Ibu Magfirah Dahlan-Taylor.

Bagaimana sikap kita ? Mumpung kita semua masih merasakan shock, termasuk bila Anda membaca berita yang mengabarkan harga cabe mampu mencapai seperempat juta rupiah per kilogramnya, semoga tanda bahaya itu, yang juga bisa menjalar ke komoditas pertanian lainnya, mampu menginspirasi kita untuk mulai bergerak. Dimulai dari hal kecil, dari diri kita, dari rumah kita, dan sebaiknya kita lakukan sekarang juga.

Bertani modal kaleng. Bagi saya, imbauan di atas itu ibarat memutar kembali lagu lama dengan aransemen baru. Sedikit bernostalgia, di tahun 1998 ketika badai krisis moneter menggebuk Indonesia yang membuat saya harus pulang kampung ke Wonogiri setelah ngendon di Jakarta lebih dari 18 tahun, saya sempat membuat isu dan gerakan berkebun tanaman sayuran di halaman rumah sendiri.

Saya mengajak warga, misalnya dengan memanfaatkan lahan terbatas dan bahkan kaleng-kaleng bekas cat, untuk berkebun tanaman cabe, sawi, kangkung, sampai kacang panjang. Saya bahkan berbisnis benih-benih tanaman sayuran itu, juga pupuk organik, dengan label Optimis melalui jasa pos. Gagasan itu saya sebarkan dan promosikan melalui kolom-kolom surat pembaca di pelbagai surat kabar.

Cerita jadul itu sempat juga saya tulis di blog Esai Epistoholica pada bulan Agustus 2005. Potongannya : "Bisnis pertanian melalui surat pembaca juga pernah saya terjuni. Akibat krismon di awal 1998, saya pun harus hengkang dari Jakarta. Kembali mudik ke Wonogiri.

Dalam perjalanan bis Solo-Wonogiri, saya temukan penjaja asongan yang menawarkan produk unik. Yaitu paket kecil berisi sepuluh jenis biji-bijian, benih tanaman sayuran. Ada bayam, kangkung, lombok, sawi, tomat, gambas sampai mentimun. Saya membeli dan minta alamat penjualnya. Dirinya tinggal di daerah Sukoharjo. Harga satu paket, Rp. 1.000. Kalau belinya banyak, harganya Rp. 600 per paket.

Pertanian adalah subjek yang saya buta sama sekali. Saya anak tentara, bukan anak petani. Selama 18 tahun saya pun tinggal di Jakarta. Kini tiba saatnya, pikir saya, untuk belajar menjadi petani. Saya segera mencari info ke Departemen Pertanian. Bahkan kemudian menemukan tempat yang menjual pupuk organik. Juga membaca-baca majalah pertanian Trubus yang terkenal itu.

Di masa krisis moneter itu cabe harganya mencapai puluhan ribu per kilogram, aku pikir, gerakan swadesi alias mencukupi kebutuhan diri sendiri model Mahatma Gandhi (foto di atas) sebaiknya dicoba untuk dipromosikan."

Revolusi kita bersama. Apakah Anda sebagai warga Wonogiri, di mana pun Anda berada, kira-kira kini menjadi ikut tertarik dan kemudian tergerak untuk ikut dalam revolusi locavore yang inspiratif ini ? Hanya Anda yang bisa memastikannya.

Harapan saya : semoga obrolan tentang cekikan harga cabe, gerakan locavore, dan inspirasi dari Mahatma Gandhi ini mampu membawa manfaat bagi kita semua.

Mari kita mulai beraksi.
Demi kesejahteraan Anda pribadi, keluarga Anda, dan kita semua.

Anda punya pendapat menarik tentang hal ini ?
Saya menantikannya.
Terima kasih sebelumnya saya haturkan kepada Anda.


Wonogiri, 19-21/1/2011

PS : Saat ini saya memelihara 6-7 tanaman cabe. Walau tak begitu lebat, saya masih bisa mengonsumsi sayuran favorit ini, untuk diganyang menemani tempe mendoan.

Silakan akses artikel menarik ini dari Bapak Kusmayanto Kadiman, Locavore - Jurus Pamungkas Michelle Obama Menyiasati Globalisasi.

tmw

Saturday, December 18, 2010

Danar, Jamasan Keris dan Perang Budaya Di Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Bupati Danar Rahmanto kini sibuk.
Melunasi hutang-hutang dan janjinya.
Kegegeran pun terjadi.

Surat kabar berbahasa Inggris The Jakarta Globe (25/11/2010), telah menulis berita terkait keputusan mas bupati baru kita itu.

Bahkan berita ini berhari-hari menjadi topik favorit pembacanya.

"Tunduk kepada tekanan organisasi berbasis Islam konservatif lokal, bupati baru Wonogiri di Jawa Tengah telah mencabut dukungan pemerintahannya sebagai penyedia dana dan hal lainnya bagi penyelenggaraan peristiwa budaya tradisional setempat."

Alasan Danar, ia melakukan hal itu sebagai wujud pelunasan hutang secara moral dan memenuhi kontrak politik yang ia sepakati dengan pelbagai organisasi Islam dan tiga partai politik, yaitu Partai Gerindra, PAN dan juga PPP.

"Saya hanya akan menghapus tiga penyelenggaraan peristiwa budaya dari anggaran pemerintah, tetapi tidak akan melarang warga Wonogiri yang akan menyelenggakannya dengan dana mereka sendiri," tegas Danar Rahmanto.

Tiga peristiwa budaya itu adalah Tradisi Jamasan Pusaka yang rutin diadakan setiap bulan Sura/Muharam di Waduk Gajah Mungkur (WGM). Demikian pula acara tradisi seperti Larung Ageng di Pantai Sembukan dan Sedekah Bumi di Kahyangan, Tirtomoyo.

Jawa lagi bunuh diri. Seorang pembaca bernama "John Kramer" menulis pendapat yang sinis atas keputusan itu.

"Danar dan orang-orang dibelakangnya adalah mereka yang kacau dalam memahami mana yang bagian dari agama dan mana yang bagian dari adat istiadat suatu tradisi. Kami semua mampu melihatnya secara jernih. Mereka itu seharusnya juga mempromosikan Pancasila tetapi tanpa slogan 'Bhinneka Tunggal Ika' sejak sekarang, karena ini akan membingungkan orang dalam melaksanakan perintah 'satu agama sejati' mereka."

Pembaca lainnya "jeprince977" nimbrung berkomentar. Lebih galak. "Inilah tanda-tanda bahwa Indonesia mengalami pelemahan dan pembusukan dari dalam. Dan penyebab utamanya, sebagaimana orang melihat pelbagai bukti yang tersaji, adalah Islam radikal.

Siapa lagi yang mempromosikan kekerasan, pengrusakan, kebencian, dan terutama upaya mereka untuk menghancurkan keindahan khasanah budaya yang ada."

Muncul pendapat menarik, yang berupa kritikan tajam dan pedas kepada orang Jawa sendiri. Adalah "MoGei" yang menulis : "Sungguh menyedihkan melihat banyak dan banyak lagi orang Jawa yang nyingkur, membelakangi akar budaya mereka sendiri.

Secara pribadi saya tidak menyalahkan Islam dalam hal ini. Masalahnya adalah semakin banyak orang Jawa menelantarkan dan menolak identitas budaya mereka sendiri. Tentu saja selalu ada pengaruh dari luar, tetapi sisi internal, mentalitas (kebanggaan diri) akan selalu menentukan ketangguhan bangsa bersangkutan.

Apakah atas nama agama atau globalisasi, melalui cara kekerasan atau cara damai, orang-orang Jawa sekarang ini sedang membunuh warisan budaya mereka sendiri. Dalam pendapat saya, sebagian besar orang Jawa memang tidak memiliki kebanggaan sama sekali terhadap budaya mereka sendiri."

Wonogiri bergolak. Keputusan Danar Rahmanto itu memicu gejolak. Mantan Kepala Dinas Pariwisata (Diparta) Wonogiri, H Mulyadi menilai prosesi jamasan pusaka sudah telanjur dikenal di luar negeri. Karenanya dia menyayangkan penghapusan tradisi budaya jamasan dan ruwatan tiap bulan Muharram atau Sura di Wonogiri.

Seperti dilaporkan oleh koran lokal Solopos, Mulyadi yang juga mantan Sekretaris Daerah itu mengaku kegiatan jamasan dan ruwatan di Waduk Gajah Mungkur (WGM) telah dipromosikan ke lima negara, yakni Australia, Malaysia, Singapura, Thailand dan AS.

"Turis mancanegara tertarik soal budaya dan kegiatan jamasan atau ruwatan pusaka Mangkunegoro I di WGM telah kami usulkan sebagai event internasional," ujarnya.

Diskusi yang sempat membuat "hawa panas" di Wonogiri itu akhirnya memperoleh solusi. Acara itu akhirnya tetap akan dilangsungkan, hari ini. Minggu, 19 Desember 2010.

Tetapi sebagaimana diwartakan oleh situs Radio Komunitas Gunung Gandul, berbeda dengan saat Begug Poernomosidi masih menjabat dengan terjun sendiri untuk memimpin kirab, kini bupati dan jajarannya hanya sebagai penonton di panggung kehormatan. Acara itu diselenggarakan oleh Himpunan Keluarga Mangkunegaran (HKMN).

Citra Wonogiri. Sebagaimana kata presiden AS ke-15 James Buchanan (1791-1868), "I like the noise of democracy" , saya menyukai gaduhnya demokrasi, saya juga tertarik mengikuti kegaduhan dan "perang budaya" di Wonogiri ini.

Berbeda dibanding era Begug yang kemratu-ratu, yang dirinya suka memposisikan diri sebagai raja kecil, antara lain yang oleh para pegawai pemkab sering didaulat dengan sebutan feodal seperti Gusti Kanjeng, nampaknya Danar ingin menghapus citra-citra feodal itu. Seperti dalam spanduk-spanduk kampanyenya, ia ingin mencitrakan diri sebagai bupati yang merakyat.

Danar Rahmanto, sebagaimana tindakan biasa penguasa baru, memang senantiasa berusaha menghapus bayang-bayang pemerintahan sebelumnya. Aksi "de-begug-isasi" itu sedang ia gencarkan mulai saat ini. Termasuk yang segera nampak : mengubah tampilan bangunan di depan halaman kabupaten Wonogiri.

Bagi saya, penghapusan dukungan Pemkab Wonogiri bagi penyelenggaraan peristiwa budaya, dalam satu sisi, merupakan kabar baik. Inilah saatnya, walau mungkin harus tertatih terlebih dahulu, kekuatan sipil yang harus tampil ke depan sebagai motor untuk gerakan yang mereka antepi sendiri.

Lupakan pemerintah. Jangan tergantung melulu kepada pemerintah. Sebab seperti kata David Cameron, PM Inggris saat ini, "pemerintah itu makin lemah dan makin lemah, dan rakyat dengan dukungan teknologi komunikasi dan informasi, akan semakin menguat dan menguat posisinya."

Kirab 1000 Komputer. Teknologi komunikasi dan informasi. Itulah salah satu obsesi yang selalu mengusik saya, ketika bupati lama setiap kali menyelenggarakan acara-acara budaya yang menjadi klangenan dirinya.

Sebagai warga Wonogiri yang ingin ikut urun rembug, saya telah menulis surat pembaca ("itu yang bisa saya lakukan"), terkait bobot kecenderungan dirinya yang berorientasi ke masa lalu dan tabrakan dengan pemikiran pentingnya orientasi warga Wonogiri dalam melangkah menuju masa depan.


Kirab 1000 Komputer
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah,
Kamis, 13 April 2006

Setelah wayang, tahun ini UNESCO menetapkan keris Indonesia sebagai maha karya dunia. Saya tidak tahu apa dengan alasan itu Pemkab Wonogiri (12/2) menyelenggakan ritus jamasan pusaka dan diikuti kirab 1.000 keris. Pelaku kirab adalah siswa SLTP/SLTA Wonogiri yang hanya berbaris pasif, tanpa seni happening, dengan masing-masing membawa sebilah keris.

Kirab itu berkesan hanya sebagai acara tempelan. Jauh dari praksis memberikan penyadaran atau edukasi. Karena sama sekali tidak ditunjang dengan kegiatan ceramah, diskusi, pemutaran film, lomba karya tulis sampai workshop pembuatan keris sebagai karya seni dan warisan budaya.

Intinya, merupakan kegiatan edukatif menjauhkan generasi muda Wonogiri dari pemikiran gugon tuhon seputar keris yang kental berselimutkan aura mistis, misterius, yang disebarluaskan dari mulut ke mulut atau sinetron. Ingat kasus penipuan menyangkut jual-beli keris yang dianggap sakti dan bertuah yang menimpa seorang cerdik pandai asal Semarang.

Alangkah idealnya bila selain kirab 1.000 keris juga disertai kirab 1.000 buku favorit pelajar, sampai kirab 1000 komputer di Wonogiri. Generasi muda Wonogiri harus pula diajak untuk berorientasi ke masa depan.

Kalau kirab keris hanya sebagai tempelan acara ritus jamasan pusaka yang disukai generasi-generasi tua, apalagi kental bernuansa aura mistis, generasi muda Wonogiri tidak memperoleh manfaat apa-apa.

Terutama lagi bila dikaitkan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Wonogiri. Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal tanggal 7 Desember 2004 telah menyajikan data pahit : dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah ternyata Wonogiri termasuk sebagai daerah tertinggal.

Ngelus-elus dan menjamas keris saja jelas tidak menyumbang perubahan apa-apa !

Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612


Anda sebagai Warga Wonogiri, bagaimana pendapat Anda ?
Setelah gebrakan seperti ini, apa saja harapan Anda terhadap Mas Bupati kita itu terkait program untuk meningkatkan SDM Warga Wonogiri, yang selalu ia katakan ingin meningkatkan martabat warga Wonogiri ?


Wonogiri, 19 Desember 2010

Saturday, September 18, 2010

The Fallen Kings dan Era Baru Wonogiri ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Bulan puasa usai.
Hari Lebaran pun baru saja lewat.

Selasa, 14 September 2010.
Saya kembali bisa jalan kaki pagi.

Dengan rute istimewa : menuju rumah sakit Margo Husodo. Saya sih masih sehat-sehat. Pagi itu saya mau bezoek dik Ayu, istri adik saya Broto Happy W., yang sudah hari ketiga dirawat di rumah sakit di kawasan Wonokarto ini. Ia menderita dehidrasi, karena diare dan gangguan pencernaan. Mungkinkah ini tipikal gangguan kesehatan pasca-Ramadhan ?

Pagi itu dik Ayu, syukurlah, sudah nampak sehat. Ia ditemani Gladys, putrinya. Saya lalu mengobrol dengan Happy di lobi, sambil membaca-baca Tabloid BOLA, surat kabar Solopos dan Jawapos. Sebelumnya saya mendapat SMS dari Mayor Haristanto, berisi kabar duka : Pemimpin Redaksi Solopos, YA Sunyoto, meninggal dunia di Solo dan hari itu akan dikebumikan di kampung halamannya, di Rembang.

"Saya mengenal dia beberapa tahun lalu, saat Mas Nyoto menjadi wartawan harian Bisnis Indonesia di Jakarta dan meliput tim Arseto ke Solo," kata Happy. Saya mengenal almarhum yang suka humor dan perokok berat itu, ketika saya masih aktif di Pasoepati. Tahun 2000-2002. Baru-baru saja ini, ketika mengirim artikel ke Solopos juga terkadang saya tembuskan pengantarnya melalui message ke akun Facebooknya Mas Nyoto itu pula. Mungkin karena sibuk, ia belum pernah membalasnya.

"Selamat jalan, Mas Nyoto."

Pagi itu pula saya kirim SMS ikut berduka cita ke Mas Popon, wartawan Harian Jogja dan Mas Triyanto Hery Suryono, wartawan Solopos yang bertugas di Wonogiri. Keduanya, tentu mengenal Mas Nyoto sebagai bos dan kawan seprofesi.

Money politics. Membuka harian Solopos terdapat berita tentang konvoi sepeda motor seribuan anggota Satgas Anti Money Politics (SAMP) di Wonogiri. Ini lembaga atau ormas bentukan baru, bermarkas di Ngadirojo, hadir untuk menyikapi penyelenggaraan pemilihan umum kepala daerah Kabupaten Wonogiri, yang pencoblosannya jatuh pada hari Kamis, 16 September 2010.

Di koran Solopos itu, pimpinan satgas tersebut, Rio Hana, juga mengaku mendapatkan laporan dugaan money politics di daerah Kajen, Giripurwo, Wonogiri. "Laporan hanya SMS dan tidak jelas siapa pengirimnya. Mestinya, laporan disertai bukti dan waktu kejadian," katanya pula.

Happy tertawa membaca berita itu. Saya juga.
Karena Kajen adalah kampung tempat kami tinggal.

Penyakit egosentris. Berita lain tentang Wonogiri adalah acara Andum Ketupat di komplek wisata Waduk Gajah Mungkur (13/9). Ketupat-ketupat itu dibagikan oleh bupati Wonogiri dan jajaran Muspida Wonogiri kepada pengunjung. Secara khusus, dalam berita itu disebut pula nama lengkap dari bupati Wonogiri yang dalam Pemilukada 2010 itu maju lagi sebagai calon wakil bupati, mendampingi Sumaryoto.

Nama lengkap dia yang terpajang adalah : Kanjeng Pangeran Ario Adipati Candrakusuma Sura Agul-Agul Begug Poernomosidi. Ia juga memiliki banyak nama lainnya, termasuk ketika mendalang, atau saat memimpin kelompok kesenian reog.

Nama "Sura Agul-Agul" itu juga terpasang di pelbagai baliho besar yang melintang di tengah jalan kota Wonogiri. Di Wonokarto. Saya senyum-senyum membacanya. Menurut saya tagline itu terlalu egosentris, narsis, mementingkan diri sendiri. Karena apa sih yang dijanjikan oleh semboyan bersangkutan bagi warga Wonogiri ?

Sikap narsis merupakan jebakan yang seringkali sulit dideteksi atau dirasakan oleh si penderitanya sendiri. Terlebih lagi bagi penguasa. Karena semakin berkuasa seseorang, apalagi tiadanya kontrol dan kritik, akan semakin membuat dirinya merasa sebagai pusat dunia. Wonogiri yang masih kental berbalut budaya Jawa, yang kental menjaga harmoni, menghindari konflik yang diametral, dan kuatnya sikap wegah rame itu, justru merupakan ladang subur bagi hadirnya penguasa-penguasa yang egosentris dan manipulatif.

Apakah Begug Poernomosidi yang mampu terpilih selama dua periode itu juga mengidap narsistis pula ? Rakyat Wonogiri yang akan memberi jawaban di pemilukada nanti.

Sayang, baliho dengan slogan "Sura Agul-Agul" di Wonokarto itu saya tidak sempat memotretnya. Saya kehilangan dokumen visual bersejarah, karena pada hari itu pula papan peraga kampanye mulai dibersihkan. Saya hanya tergerak memotret baliho kampanye Sumaryoto-Begug Poernomosidi di Kerdukepik (foto) yang lagi dalam proses diturunkan oleh petugas.

pemilukada wonogiri 2010,sumaryoto,begug poernomisidi,danar rahmanto,bambang haryanto,wonogiriSepi di dunia maya. Nampak poster besar pasangan Sumaryoto-Begug Poernomosidi di Kerdukepik sedang diturunkan. Kampanye pemilukada di Wonogiri belum nampak menggarap media-media maya. Sumaryoto memiliki blog di Kompasiana dan Danar Rahmanto memiliki blog dan akun Facebook, tetapi digarap seadanya.Walau demikian, komunikasi warga Wonogiri secara gethok tular seputar kondite dan ulah kontroversi dari pasangan peserta pemilukada ternyata diam-diam masih ampuh berfungsi, sehingga hasil pemilukada Wonogiri ini bisa disebut mengejutkan.

Sibuk jualan citra. Papan peraga kampanye milik pasangan nomor satu ini, yang didukung oleh Koalisi Merah Putih, yaitu PDIP-PKS, memang nampak paling dominan. Strategi pencitraan mereka juga jauh lebih masif.

Misalnya Sumaryoto telah meluncurkan kampanye "Aku Cinta Wonogiri" dan berkali-kali mengadakan acara jalan kaki santai yang bertabur hadiah. Radio Gajahmungkur, miliknya, sepertinya nampak dikorbankan value-nya sebagai media. Karena terlalu bertabur dengan pesan-pesan kampanye dirinya yang kadang membuat pendengar mudah menjadi jenuh.

Sumaryoto juga secara "tiba-tiba" menjadi khatib sholat Jumat di Masjid Agung At-Taqwa, yang memicu kontroversi. Tetapi hebatnya, oleh koran Jawapos kontroversi itu justru diekspos yang dapat ditafsirkan sebagai "memperlebar" dan "memperkuat" kampanye pencitraan oleh anggota DPR-RI kelahiran Nguntoronadi ini. Menjelang hari pencoblosan, koran yang sama nampak juga mem-blow-up gerakan "Aku Cinta Wonogiri" yang ia gagas itu.

Beragam jurus kampanye pasangan Sumaryoto-Begug itu seolah membuat pemilukada Wonogiri sudah berakhir ketika mereka mencalonkan diri. Piece of cake. Atau, suwe mijet wohe ranti. Kemenangan akan mudah mereka raih.

Tetapi teman ngobrol saya, Bambang Susilo, yang mantan chef hotel internasional di Hanoi, Vietnam, punya pendapat lain. "Begug adalah kartu mati untuk koalisi yang mencalonkannya," begitu prediksinya.

Saya tidak begitu mempercayainya. Karena culture of fear, budaya ketakutan, yang (mungkin secara tidak sengaja ?) meruyak selama politisi kawakan itu berkuasa, menurut saya, akan hanya membuat warga Wonogiri seperti kerbau dicocok hidung. Untuk aman mereka cenderung untuk patuh, takjim, kemudian mengikuti apa saja yang dikatakan oleh sang penguasa itu.

Saya keliru. Hari Kamis, 16 September 2010. Rombongan Happy, dik Ayu, Gladys, dengan mobil yang disopiri Mas Yudi asal Ngadirojo, malam itu mengabarkan dirinya sudah sampai di Tegal. Keluarga ini menuju rumah mereka, di Bogor.

Ia menyatakan ikut bergembira mendengar berita bahwa pasangan nomor empat, Danar Rahmanto (foto) -Yuli Handoko, sudah jauh unggul dibanding tiga pasangan lainnya.

Kamis sore itu, memakai laptop Compaq milik keponakan saya, Yudhistira Laksmana Satria, yang murid klas 7A, SMP Negeri 1 Wonogiri, kami segera mengakses Internet dengan fasilitas hotspot di rumah. Membuka Suara Merdeka CyberNews, tersaji berita yang berjudul Pasangan Nomor Empat Makin Jauh Memimpin.

Berita itu lebih lanjut mengabarkan bahwa hasil sementara perolehan suara pukul sampai 16.30 WIB, masih unggul di posisi pertama pasangan nomor empat H Danar Rahmanto yang berpasangan dengan Yuli Handoko dengan perolehan suara sementara 92.798 atau 40,49%. Di posisi kedua pasangan nomor urut satu Sumaryoto dan Begug Poernomosidi dengan perolehan suara 65.547 atau 28,53%.

Di posisi selanjutnya pasangan nomor urut dua, yakni Sutadi-Paryanti dengan mengumpulkan 39.943 suara atau 17,38%. Pada posisi akhir pasangan nomor urut tiga Mulyadi-Eddy Purwanto dengan mengumpulkan suara 31.446 suara. Total suara yang sudah dihitung berjumlah 229.734 suara atau sudah mencapai 38,99%.

Kemudian terjadi komunikasi SMS bolak-balik saya dengan Nano Maryono, tangan kanan dan kerabat Danar Rahmanto di PO Timbul Jaya. Juga dengan istrinya, Nuning, yang adik saya. Inti kabarnya sama : "Mas Danar, menang !"

Wah, guyonan Mas Danar dulu rupanya kesampaian. Pada tanggal 7 Juli 2010, ketika diadakan pengundian nomor urut peserta pemilukada di KPUD Kabupaten Wonogiri, saya ikut menonton. Sebagai blogger, saya juga memotret sana-sini.

Saat itu alumnus SMA Negeri 3 Padmanaba Yogyakarta diberondong pertanyaan wartawan terkait nomor empat yang menjadi nomor urutnya. "Nomor itu nomor bagus," kata Danar Rahmanto. "Angka empat kalau dibalik kan menjadi kursi ? Saya yakin akan menang dan mendudukinya."

Rakyat Wonogiri telah ikut berjasa membalik angka empat itu. "Kemenangan saya adalah kemenangan rakyat Wonogiri pula," katanya dalam menyikapi perolehan suara yang mengungguli tiga pasangan lainnya.

Era baru Wonogiri. Sore itu saya kemudian mengirim SMS ke sobat saya, Bambang Susilo yang pemilik kafe Ngaso Angkringan di Pokoh, bahwa saya mengaku salah. Sementara dirinya yang benar. Prediksi saya bahwa Sumaryoto-Begug yang akan jadi pemenang, ternyata dimentahkan oleh ratusan ribu warga Wonogiri.

Warga Kota Gaplek ini secara sadar dan menurut saya cerdas, ternyata lebih memilih untuk menolak peluang keduanya sebagai pemimpin dan penguasa di kabupaten tercintanya ini. Kegagalan keduanya, boleh jadi, dapat diibaratkan sebagai kejatuhan sang raja. Jatuh secara keras dan menyakitkan. Semoga keduanya, juga pasangan lain yang kalah, menerima suara rakyat itu dengan kearifan dan bersikap kenegarawanan.

Saya segera mendapatkan buktinya. Saya sempat berkirim SMS ke calon bupati pasangan nomor dua, H. Sutadi. "Dengan hormat. Walau Pak Tadi belum menang & akan kembali bertugas di Banten, saya sebagai Warga Wonogiri masih berharap Bapak akan terus berkomitmen memajukan Wonogiri. Salam." Saya kemudian memperoleh balasan : "Iya saya akan selalu komit tumpah darahku." (Jumat, 17/9/2010 ; 18.04.26).

Dengan terpilihnya pasangan Danar Rahmanto-Yuli Handoko sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Wonogiri 2010-2015, apakah otomatis menjanjikan kemajuan, keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan, bagi warga Wonogiri ?

Melalui Facebook saya telah mengirimkan pesan ke akun Facebook Mas Danar sebagai berikut :

"Dengan hormat. Saya dan keluarga di Kajen, mengucapkan selamat bekerja dan berprestasi untuk Mas Danar Rahmanto, juga pasangan wakil bupati terpilih Yuli Handoko.

Semoga panjenengan berdua mampu membawa kemajuan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi Warga Wonogiri di masa-masa mendatang !"


Wonogiri, 19 September 2010

tmw

Sunday, February 28, 2010

Facebook, Trik Humas Kabupaten Wonogiri dan Anda

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Mobil dan megafon.

Itulah peralatan yang menonjol dan terlihat dari kiprah bagian hubungan masyarakat (humas) Kabupaten Wonogiri. Setiap ada hal-hal tertentu yang ingin disampaikan kepada masyarakat, mobil dengan petugas humas bersenjatakan megafon itu segera berkeliling kampung.

Saya lupa nama petugasnya yang berhalo-halo itu, walau saya pernah ia boncengkan dengan motor model lamanya dari kantor humas sampai Perpustakaan Wonogiri. Setiap kali beliau berhalo-halo, mudah memancing komentar-komentar jahil. Terutama merujuk kepada laju mobilnya, sehingga pendengar pengumuman itu berpotensi hanya memperoleh informasi yang terpotong-potong.

Misalnya, penjelasan tentang apa dan siapa, boleh jadi terdengar jelas di RT 1. Lalu hari dan tanggal penyelenggaraan, hanya jelas terdengar di RT 2. Sementara informasi mengenai tempat dan jam penyelenggaraan, tak lagi terdengar bagi penduduk RT 1 dan RT 2, dan hanya difahami oleh penduduk RT 3. Sementara penduduk RT 4 hanya memperoleh seruan untuk datang berbondong-bondong, tanpa tahu untuk apa perintah bersangkutan.

Gangguan atau noise dalam berkomunikasi itu semakin diperparah karena modus seruan tersebut masih bercokol pada paradigma pegawai negeri sebagai pangreh praja. Sebagai penguasa. Maka halo-halo itu cenderung sebagai perintah kepada rakyat. Top-down.

Sebagai contoh yang mutakhir, materi halo-halo itu adalah mengajak warga untuk menjaga kebersihan lingkungan. Ajakan itu disampaikan karena sebentar lagi Wonogiri konon segera didatangi tim dari propinsi untuk menilai kelayakan Wonogiri dalam kontes memenangkan Piala Adipura. Rakyat hanya menjadi obyek peserta. Atau bahkan obyek penderita.

Idealnya, ajakan itu disampaikan dalam semangat bottom-up, menjadikan masyarakat sebagai subyek. Sehingga krida kebersihan dan ikhtiar mereka dalam menjaga lingkungan itu dimaknai sebagai kepentingan warga itu sendiri. Bila ide ini berhasil, maka masalah menguber anugerah itu otomatis terpadu di dalamnya.

Gue, gue, gue ! Petugas humas kabupaten saya itu, dalam istilah dunia strategi berburu pekerjaan, condong menerapkan trik yang disebut WIFM, singkatan dari What's In It For Me. Trik ini jelas-jelas berorientasi kepada kepentingan dirinya sendiri sebagai sebuah sekrup mesin birokrasi.

Ketika kampanye pemilihan umum apa pun, dan juga dalam pilkada, saat jalan kaki pagi di Wonogiri saya menemukan sebagian besar pesan dalam baliho kampanye mereka hampir semua kandidat mengambil posisi WIFM itu. Orang Jakarta akan bilang : gue, gue, gue. Pilih saya, coblos saya, menangkan saya !

Padahal idealnya, seharusnya ia mengejawantahkan pendekatan WIFT, singkatan dari What's In It For Them. Intinya, semua kebijakan, seruan dan ajakan itu pertama kali harus dijelaskan sebagai bermanfaat bagi masyarakat. Masyarakat dimotivasi, agar tergugah. Lalu mereka dapat tergerak mengeluarkan prakarsa, energi dalam bentuk partisipasi sampai ditemukannya solusi-solusi yang inovatif. Bila mampu berjalan, segi positifnya toh juga bakal mengimbas kepada pemerintahan.

Tendangan buat pembuat problem. Perbedaan tajam antara WIFM dan WIFT itu juga dapat disimak dari postingan status di Facebook kita-kita ini. Silakan Anda menghitung sendiri perbedaan persentasi dari kedua titik pandang tersebut. Boleh jadi Anda bisa mulai menghitung dari diri sendiri ?

Dalam ranah strategi berburu pekerjaan dan juga dalam bisnis, mereka yang sadar atau tidak sadar menggunakan pendekatan WIFM itu akan terancam disingkirkan dalam babak awal memperebutkan peluang. Sebab perusahaan akan mempertimbangkan mereka yang mampu memberikan solusi. Sementara mereka yang datang hanya hendak menyodorkan problemnya sendiri, jelas berpeluang kena tendang sejak dini !


Wonogiri, 28/2/2010

tmw