Showing posts with label danar rahmanto. Show all posts
Showing posts with label danar rahmanto. Show all posts

Tuesday, May 8, 2012

Skandal “Mark Up” di Gedung DPRD Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
 Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Badai gugatan. Orang satu ini kalau cangkemane tidak bikin risi orang lain mungkin akan sakit mag atau ambeyen. Dialah : Marzuki Alie.

Saat berbicara di acara bertajuk “Masa Depan Pendidikan Tinggi di Indonesia,” di kampus UI, Marzuki Alie ngablak bahwa koruptor itu adalah orang-orang pintar, bahkan lulusan perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.

 “Para koruptor itu bisa dari anggota Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, anggota Himpunan Mahasiswa Islam, lulusan Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan lainnya. Tidak ada orang bodoh,” katanya.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Arindra A. Zainal tak setuju dengan cara berpikir Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie. Dengan pernyataan Marzuki Alie itu, kata dia, sama halnya dengan menganalogikan bahwa semua maling di Indonesia yang berada di penjara adalah orang Islam. Atau misalnya di negara lain Eropa seperti Italia, yang penghuni penjaranya warga beragama Katolik.

"Lalu, apa yang disalahkan agamanya? Kan tidak demikian," ujar dia. Ketua Program Studi Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik (MPKP) UI ini menuturkan, "Korupsi itu kan tergantung pada orang-orangnya. Jangan menggeneralisasi," kata dia.  

Vonis teroris. Logika berpikirnya politikus Partai Demokrat itu bikin saya ingat isi lelucon komedian muslim AS, Azhar Usman. Dalam akun Twitternya 13 April 2012 yang lalu, di mana saya jadi makmumnya ia, bilang : “Menvonis Islam berdasar tingkah laku para teroris seperti menghakimi kapitalisme berdasar kelakuan Bernie Maddoff. Goblog.”

Ulah Marzuki Alie itu kini menebar badai. Panen gugatan. Sementara itu KPK justru menyatakan, betapa wakil rakyat alias anggota DPR-DPRD, ternyata memuncaki daftar mereka yang diindikasikan melakukan tindak korupsi di tahun 2012 ini.

Halo, Marzuki Alie sang Ketua DPR, omongan Anda tentang alumni PTN yang terlibat korupsi itu apa trik sulap Anda untuk membelokkan perhatian, bukan ? Kapan-kapan Anda silakan datang di gedung DPRD Wonogiri, karena di sini terjadi tindak “korupsi” besar-besaran.

Padahal kantor ini sepertinya setiap hari menjadi jujugan dan pula jadi tongkrongan para wartawan, tetapi mereka sepertinya tetap engga “ngeh” juga. Kenapa ya ? Mungkin ini ilustrasi yang cocok, mencocoki, karena dicoba dicocok-cocokkan untuk fenomena itu. Alkisah, suatu hari saya pernah di sebuah warnet menemukan amplop kosong. Kop amplopnya : DPRD Wonogiri. Lalu ada tulisan tangan, bahwa amplop itu diberikan kepada seorang wartawan.

Saya tersenyum kecil, dan bersyukur sedikit. “Untung saya hanya seorang blogger, fesbuker, dan bukan seorang wartawan.” Di benak lalu tergambar ucapan pengacara muda idealis Rudy Baylor yang dibintangi Matt Damon dalam film The Rainmaker (1997) :

 “Setiap pengacara, minimal dalam satu kasus, dirinya merasa telah menyeberangi batas yang tidak sengaja ia lakukan. Itu terjadi begitu saja. Tetapi apabila Anda kemudian ternyata berkali-kali menyeberangi batas itu, maka batas tersebut akan lenyap selamanya. Dan Anda kemudian akan menjadi bukan siapa-siapa lagi, kecuali menjadi pengacara dagelan. Anda masuk barisan sebagai seekor hiu lainnya lagi untuk berenang-renang dalam air comberan.”  

Mark-up 6 digit. Tapi ngomong-ngomong, apa sih bentuk “korupsi” di kantor DPRD Wonogiri ? Saya ingin tanya Mas Bambang Tri Subeno, kode pos kelurahan Anda, Wuryorejo, 57614. Kelurahane mas bupati, di mana warna cat rumahnya dan cat pagar garasi bisnya kini “menulari” habis-habisan pohon-pohon dan tempat sampah di pelbagai lokasi di Wonogiri, punya kode pos : 57681.

 Lalu Wonokarto, rumahnya Mas Anto (yang masih waris sama saya), adalah : 57612. Ternyata masih sama dengan kodepos rumahnya Mas Mujtahid dan kampung saya yang sama-sama masuk Kalurahan Giripurwo.

Lalu kantor DPRD Wonogiri (foto) yang juga masuk Giripurwo, mengapa punya kode pos tersendiri ? Aturan normalnya, se-Indonesia, kode pos itu 5 digit, kok di kantor para wakil rakyat Kota Gaplek ini justru pethakilan menjadi 6 digit ? Menjadi : 576551 !

Mungkin itu kode pos untuk daerah eksotis Wonogiri yang tidak terjangkau oleh pengawasan rakyat, di mana uang, politik, kekuasaan dan keserakahan, bergelut dan terpilin menjadi menu mereka sehari-hari.

Wakil rakyat, wakil rakyat.
Kodepos wae melu-melu keno mark-up !


Wonogiri, 8 Mei 2012

Saturday, December 18, 2010

Danar, Jamasan Keris dan Perang Budaya Di Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Bupati Danar Rahmanto kini sibuk.
Melunasi hutang-hutang dan janjinya.
Kegegeran pun terjadi.

Surat kabar berbahasa Inggris The Jakarta Globe (25/11/2010), telah menulis berita terkait keputusan mas bupati baru kita itu.

Bahkan berita ini berhari-hari menjadi topik favorit pembacanya.

"Tunduk kepada tekanan organisasi berbasis Islam konservatif lokal, bupati baru Wonogiri di Jawa Tengah telah mencabut dukungan pemerintahannya sebagai penyedia dana dan hal lainnya bagi penyelenggaraan peristiwa budaya tradisional setempat."

Alasan Danar, ia melakukan hal itu sebagai wujud pelunasan hutang secara moral dan memenuhi kontrak politik yang ia sepakati dengan pelbagai organisasi Islam dan tiga partai politik, yaitu Partai Gerindra, PAN dan juga PPP.

"Saya hanya akan menghapus tiga penyelenggaraan peristiwa budaya dari anggaran pemerintah, tetapi tidak akan melarang warga Wonogiri yang akan menyelenggakannya dengan dana mereka sendiri," tegas Danar Rahmanto.

Tiga peristiwa budaya itu adalah Tradisi Jamasan Pusaka yang rutin diadakan setiap bulan Sura/Muharam di Waduk Gajah Mungkur (WGM). Demikian pula acara tradisi seperti Larung Ageng di Pantai Sembukan dan Sedekah Bumi di Kahyangan, Tirtomoyo.

Jawa lagi bunuh diri. Seorang pembaca bernama "John Kramer" menulis pendapat yang sinis atas keputusan itu.

"Danar dan orang-orang dibelakangnya adalah mereka yang kacau dalam memahami mana yang bagian dari agama dan mana yang bagian dari adat istiadat suatu tradisi. Kami semua mampu melihatnya secara jernih. Mereka itu seharusnya juga mempromosikan Pancasila tetapi tanpa slogan 'Bhinneka Tunggal Ika' sejak sekarang, karena ini akan membingungkan orang dalam melaksanakan perintah 'satu agama sejati' mereka."

Pembaca lainnya "jeprince977" nimbrung berkomentar. Lebih galak. "Inilah tanda-tanda bahwa Indonesia mengalami pelemahan dan pembusukan dari dalam. Dan penyebab utamanya, sebagaimana orang melihat pelbagai bukti yang tersaji, adalah Islam radikal.

Siapa lagi yang mempromosikan kekerasan, pengrusakan, kebencian, dan terutama upaya mereka untuk menghancurkan keindahan khasanah budaya yang ada."

Muncul pendapat menarik, yang berupa kritikan tajam dan pedas kepada orang Jawa sendiri. Adalah "MoGei" yang menulis : "Sungguh menyedihkan melihat banyak dan banyak lagi orang Jawa yang nyingkur, membelakangi akar budaya mereka sendiri.

Secara pribadi saya tidak menyalahkan Islam dalam hal ini. Masalahnya adalah semakin banyak orang Jawa menelantarkan dan menolak identitas budaya mereka sendiri. Tentu saja selalu ada pengaruh dari luar, tetapi sisi internal, mentalitas (kebanggaan diri) akan selalu menentukan ketangguhan bangsa bersangkutan.

Apakah atas nama agama atau globalisasi, melalui cara kekerasan atau cara damai, orang-orang Jawa sekarang ini sedang membunuh warisan budaya mereka sendiri. Dalam pendapat saya, sebagian besar orang Jawa memang tidak memiliki kebanggaan sama sekali terhadap budaya mereka sendiri."

Wonogiri bergolak. Keputusan Danar Rahmanto itu memicu gejolak. Mantan Kepala Dinas Pariwisata (Diparta) Wonogiri, H Mulyadi menilai prosesi jamasan pusaka sudah telanjur dikenal di luar negeri. Karenanya dia menyayangkan penghapusan tradisi budaya jamasan dan ruwatan tiap bulan Muharram atau Sura di Wonogiri.

Seperti dilaporkan oleh koran lokal Solopos, Mulyadi yang juga mantan Sekretaris Daerah itu mengaku kegiatan jamasan dan ruwatan di Waduk Gajah Mungkur (WGM) telah dipromosikan ke lima negara, yakni Australia, Malaysia, Singapura, Thailand dan AS.

"Turis mancanegara tertarik soal budaya dan kegiatan jamasan atau ruwatan pusaka Mangkunegoro I di WGM telah kami usulkan sebagai event internasional," ujarnya.

Diskusi yang sempat membuat "hawa panas" di Wonogiri itu akhirnya memperoleh solusi. Acara itu akhirnya tetap akan dilangsungkan, hari ini. Minggu, 19 Desember 2010.

Tetapi sebagaimana diwartakan oleh situs Radio Komunitas Gunung Gandul, berbeda dengan saat Begug Poernomosidi masih menjabat dengan terjun sendiri untuk memimpin kirab, kini bupati dan jajarannya hanya sebagai penonton di panggung kehormatan. Acara itu diselenggarakan oleh Himpunan Keluarga Mangkunegaran (HKMN).

Citra Wonogiri. Sebagaimana kata presiden AS ke-15 James Buchanan (1791-1868), "I like the noise of democracy" , saya menyukai gaduhnya demokrasi, saya juga tertarik mengikuti kegaduhan dan "perang budaya" di Wonogiri ini.

Berbeda dibanding era Begug yang kemratu-ratu, yang dirinya suka memposisikan diri sebagai raja kecil, antara lain yang oleh para pegawai pemkab sering didaulat dengan sebutan feodal seperti Gusti Kanjeng, nampaknya Danar ingin menghapus citra-citra feodal itu. Seperti dalam spanduk-spanduk kampanyenya, ia ingin mencitrakan diri sebagai bupati yang merakyat.

Danar Rahmanto, sebagaimana tindakan biasa penguasa baru, memang senantiasa berusaha menghapus bayang-bayang pemerintahan sebelumnya. Aksi "de-begug-isasi" itu sedang ia gencarkan mulai saat ini. Termasuk yang segera nampak : mengubah tampilan bangunan di depan halaman kabupaten Wonogiri.

Bagi saya, penghapusan dukungan Pemkab Wonogiri bagi penyelenggaraan peristiwa budaya, dalam satu sisi, merupakan kabar baik. Inilah saatnya, walau mungkin harus tertatih terlebih dahulu, kekuatan sipil yang harus tampil ke depan sebagai motor untuk gerakan yang mereka antepi sendiri.

Lupakan pemerintah. Jangan tergantung melulu kepada pemerintah. Sebab seperti kata David Cameron, PM Inggris saat ini, "pemerintah itu makin lemah dan makin lemah, dan rakyat dengan dukungan teknologi komunikasi dan informasi, akan semakin menguat dan menguat posisinya."

Kirab 1000 Komputer. Teknologi komunikasi dan informasi. Itulah salah satu obsesi yang selalu mengusik saya, ketika bupati lama setiap kali menyelenggarakan acara-acara budaya yang menjadi klangenan dirinya.

Sebagai warga Wonogiri yang ingin ikut urun rembug, saya telah menulis surat pembaca ("itu yang bisa saya lakukan"), terkait bobot kecenderungan dirinya yang berorientasi ke masa lalu dan tabrakan dengan pemikiran pentingnya orientasi warga Wonogiri dalam melangkah menuju masa depan.


Kirab 1000 Komputer
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah,
Kamis, 13 April 2006

Setelah wayang, tahun ini UNESCO menetapkan keris Indonesia sebagai maha karya dunia. Saya tidak tahu apa dengan alasan itu Pemkab Wonogiri (12/2) menyelenggakan ritus jamasan pusaka dan diikuti kirab 1.000 keris. Pelaku kirab adalah siswa SLTP/SLTA Wonogiri yang hanya berbaris pasif, tanpa seni happening, dengan masing-masing membawa sebilah keris.

Kirab itu berkesan hanya sebagai acara tempelan. Jauh dari praksis memberikan penyadaran atau edukasi. Karena sama sekali tidak ditunjang dengan kegiatan ceramah, diskusi, pemutaran film, lomba karya tulis sampai workshop pembuatan keris sebagai karya seni dan warisan budaya.

Intinya, merupakan kegiatan edukatif menjauhkan generasi muda Wonogiri dari pemikiran gugon tuhon seputar keris yang kental berselimutkan aura mistis, misterius, yang disebarluaskan dari mulut ke mulut atau sinetron. Ingat kasus penipuan menyangkut jual-beli keris yang dianggap sakti dan bertuah yang menimpa seorang cerdik pandai asal Semarang.

Alangkah idealnya bila selain kirab 1.000 keris juga disertai kirab 1.000 buku favorit pelajar, sampai kirab 1000 komputer di Wonogiri. Generasi muda Wonogiri harus pula diajak untuk berorientasi ke masa depan.

Kalau kirab keris hanya sebagai tempelan acara ritus jamasan pusaka yang disukai generasi-generasi tua, apalagi kental bernuansa aura mistis, generasi muda Wonogiri tidak memperoleh manfaat apa-apa.

Terutama lagi bila dikaitkan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Wonogiri. Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal tanggal 7 Desember 2004 telah menyajikan data pahit : dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah ternyata Wonogiri termasuk sebagai daerah tertinggal.

Ngelus-elus dan menjamas keris saja jelas tidak menyumbang perubahan apa-apa !

Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612


Anda sebagai Warga Wonogiri, bagaimana pendapat Anda ?
Setelah gebrakan seperti ini, apa saja harapan Anda terhadap Mas Bupati kita itu terkait program untuk meningkatkan SDM Warga Wonogiri, yang selalu ia katakan ingin meningkatkan martabat warga Wonogiri ?


Wonogiri, 19 Desember 2010

Tuesday, November 16, 2010

Barack Obama Aslinya Wong Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.com


Barack Obama itu sebenarnya asli wong Wonogiri.
Cek saja Wikipedia.

Tetapi sebelum rumah saya di Kajen terancam dikrutuki batu oleh orang Kenya, orang Hawaii dan pendukung fanatik Obama dari Amerika Serikat, saya harus memberikan alasan dulu atas klaim saya di atas.

Coba ingat, apa saja nama makanan Indonesia yang disebut khusus oleh Obama. Baik waktu di perjamuan makan malam di Istana Negara. Atau pun saat tampil di kampusnya Mas Mujtahid, di Balairung Kampus Universitas Indonesia, Depok.

Nasi goreng.
Sate.
Bakso.
Emping.
Krupuk.

Di Wikipedia, dari lima makanan tersebut ada dua yang disebut menonjol sebagai makanan khas Wonogiri. Bakso dan emping. Bahkan untuk bakso, lema itu berbunyi : "Makanan khas lain adalah bakso dan mie ayam Wonogiri yang memiliki citarasa khas. Makanya di Jakarta banyak sekali tukang bakso atau mie ayam dari Wonogiri, namun sayang kalau membeli di Jakarta rasanya jauh tidak enak."

Jadi, pidato Obama itu sebenarnya menunjukkan perasaan kerinduan atau keinginan dirinya untuk bernostalgia tentang Wonogiri. Mungkin saja, itu menunjukkan betapa dirinya adalah benar-benar asli wong Wonogiri.

Untuk klaim terakhir ini, kita bisa menyimak lelucon dari komedian politik AS terkenal, David Letterman. Agar saya tidak dikira sedang berbohong, merekayasa,inilah kutipan aslinya : "President Obama went to India, South Korea, then Japan. He's going to keep traveling until he finds his birth certificate."

Kalau Anda sempat mengikuti perjalanan karir Obama, banyak warga AS yang meragukan Obama sebagai warga asli AS. Menurut mereka, akta kelahiran Obama itu meragukan. Malah muncul kelompok bernama birther yang secara terang-terangan menyuarakan hal itu. Bahkan seperti dalam foto di bawah ini, keraguan itu dipajang sebagai baliho di jalan-jalan raya.

Ada yang menduga Obama itu asli kelahiran Kenya, tanah kelahiran bapaknya.

Yang lain bersikeras bahwa Obama itu " a citizen of Indonesia, or that because he had dual citizenship at birth (British and American), he is not a natural born citizen of the United States, which is a requirement to be President of the United States under Article Two of the United States Constitution."

Media sosial. Barangkali David Letterman sengaja tidak menyebutkan nama Indonesia. Karena ia tahu :-), sertifikat kelahiran Obama yang asli itu masih tersimpan di Wonogiri. Walau di kelurahan mana, masih rahasia.

Kalau saja David Letterman menyebut Indonesia, tentu Obama akan mungkin memaksakan datang ke Wonogiri. Sambil makan bakso, sebagai seorang blogger yang serius, saya yakin dirinya akan mau membisiki bupati Wonogiri yang baru agar benar-benar serius, seperti dirinya, benar-benar memanfaatkan media-media sosial secara masif dan efektif dalam memutar roda pemerintahannya.

Misalnya, contoh mudah, meniru Obama yang tiap minggu wajib berpidato dan mengunggah video pidatonya di Youtube. Sebelumnya, George W. Bush meluncurkan pidatonya dengan fasilitas podcast.

Semoga saya keliru, Bupati Wonogiri yang baru, Danar Rahmanto, malah nampaknya belum pernah berpidato secara resmi untuk memaparkan visi dan misinya dalam memimpin Wonogiri di masa depan. Ketika dilantik, 1 November 2010, yang banyak berpidato justru gubernur Pak Bibit. Halo Mas Bupati, ayo segera beri kami rakyat Wonogiri informasi dan arahan, bagaimana Wonogiri yang Anda cita-citakan lima tahun mendatang ?

Ayolah, tak ada jeleknya untuk kebaikan, meniru yang baik dari tradisi di AS itu. Begitu dilantik pada tanggal 20 Januari 2009, Obama langsung menceritakan visi-misinya di hadapan rakyat Amerika Serikat.

Yang paling menonjol saat itu adalah dicanangkannya oleh Obama tentang era baru, era bertanggung jawab yang baru, di mana setiap warga Amerika Serikat memiliki tugas untuk diri mereka sendiri, untuk bangsanya, dan juga untuk dunia.

Kangen bakso. Obama kini sudah kembali ke Gedung Putih. Kunjungan singkatnya di Indonesia itu semoga mampu menginspirasi para sedulur Wonogiri yang jualan bakso di Jakarta. Pertama, siapa tahu, mungkin bisa ditelusur secara gethok tular, tentang kemungkinan ada bakul bakso asal Wonogiri yang pernah melayani Obama kecil di Menteng Dalam saat dirinya bersekolah SD di Jakarta tahun 1967-1970-an itu.

Kedua, siapa tahu pula, muncul inspirasi jenius lainnya : bakso Wonogiri segera membuka pasar baru di Washington. Juga kota-kota besar lainnya di dunia.

Ini bukan ide asli saya. Tetapi menuruti advis ekonom Hendri Saparini, saat di televisi mengomentari isi pidato Obama di UI, kampus saya jua, yang memunculkan wacana mengekspansikan nama-nama makanan asli Indonesia yang disebut oleh Obama sebagai "enak ya" tadi ke seluruh dunia.

Alangkah menariknya, bila nanti angkring bakso asli Wonogiri bisa sliwar-sliwer, wira-wiri, di Pennsylvania Avenue, jalan di depan Gedung Putih. Siapa tahu di balik pagar akan selalu muncul teriakan panggilan : "Bakso !" Itulah suara presiden AS Barack Obama yang kangen sama bakso asli Wonogiri, dari Indonesia.

Seribu kali lebih hebat. Obama telah pergi. Tetapi gaya pidatonya dan isinya masih akan lama untuk bisa kita kenang. Saya kecipratan manfaatnya.

Sekadar cerita, kebetulan saya diundang untuk menjadi nara sumber dalam pertemuan mahasiswa se-Indonesia yang diadakan oleh Stube-HEMAT, 6-7 November 2010 di Yogyakarta. Saya diminta membawakan lima makalah. Ada tentang revolusi media, media sosial dan epistoholik, kiat menulis surat lamaran/resume, merancang yel-yel a la suporter sepakbola dan juga kiat-kiat dalam merancang pidato yang hebat.

Gara-gara Merapi meletus, acara itu ditunda. Ada berkah terselubung, ketika Obama datang dan berpidato hebat. Saking hebatnya, Lasma Siregar, teman Internet saya di Melbourne Australia kirim email menarik. Ia cerita tentang Greg Sheridan, editor luar negeri surat kabar "The Australia," yang telah menulis di edisi Kamis 11 November 2010 tentang pidato Obama di Jakarta :

"This speech was a thousand times better than Obama's first big effort with the Muslim world, in Cairo in June last year. In Indonesia, he could credibly talk about democracy and human right, about pluralism and open civil society. These were not things Obama could say in Cairo or to the Arab world more generally".

Teman saya menimpali : "(Pidato) Obama di Jakarta 1000 kali lebih hebat daripada di Cairo ! (Karena) Indonesia punya demokrasi, HAM, reformasi dan kebebasan bersuara, sementara dunia Arab masih sibuk membicarakannya!"

Ethos, pathos dan logos. Kalau saja pertemuan dengan mahasiswa se-Indonesia di Yogyakarta tadi bisa benar terjadi, untuk menyampaikan makalah saya akan tinggal memutar video pidatonya Obama di UI tadi. Lalu bersama-sama membedahnya. Saya ingin meniliknya seperti isi surat pembaca yang saya kirim ke koran Kompas Jawa Tengah kemarin (15/11/2010) :


Dibalik Pidato Obama

Pidato Presiden Amerika Serikat Barack Obama (10/11/2010) memang memesona. Mungkin karena ia merasa nyaman ketika "pulang kampung," membuat pidatonya terasa menyambung dengan apa yang dipikirkan dan apa yang menjadi problema bangsa Indonesia saat ini.

Dalam ilmu berpidato Obama mempraktekkan formula ampuh, yang dikenal dengan pendekatan ethos (kredibilitas), pathos (empati) dan logos (logika). Kredibilitasnya, tentu tak diragukan lagi. Lalu dengan menyebut "Indonesia bagian dari diri saya," "sate," "bakso," "Bhinneka Tunggal Ika" sampai "Pancasila," Obama berhasil menunjukkan empati, dalam merangkul audiennya.

Setelah sukses dengan dua jurus itu, barulah ia memasukkan logika, antara lain membicarakan pelbagai isu tentang masa depan hubungan AS-Indonesia yang membutuhkan sumbangan dan peran masing-masing warganya.

Berkaca pada gaya berpidato tokoh-tokoh kita, bahkan juga pidato rutin di tempat-tempat peribadatan, yang sering lebih menonjol menomorsatukan logos. Audien dianggap sebagai botol kosong yang hanya bisa menerima jejalan pemikiran dari sang orator.

Pidato seperti itu jelas membosankan, membuat audien mengantuk, pesannya pun tidak pula masuk ke kalbu. Dampak sampingnya sering malah lucu, di mana sang orator menjadi tersinggung, lalu marah-marah.

Gaya pidato semacam ini nampaknya mencerminkan gaya kepemimpinan kuno dari pemimpin-pemimpin kita selama ini, yang merasa dirinya paling penting, paling pintar dan paling berkuasa, sementara rakyat yang harus melayani kepentingan-kepentingan mereka pula !

Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612


Moga-moga bisa dimuat.

Lalu bisa menginspirasi bupati Wonogiri yang baru, untuk segera berpidato. Menyapa rakyatnya. Mengajaknya. Nguwongke warganya di mana pun berada.

Alangkah hebatnya bila dirinya mampu mengikuti keteladanan luhur dari pemimpin demokrasi asal Birma, Aung San Suu Kyi. Lihatlah, begitu bebas dari penjara rumahnya selama belasan tahun, yang pertama dia sampaikan adalah adalah pernyataan : "Saya akan mendengar apa kata rakyat dahulu, sebelum memutuskan langkah kita ke masa depan."


Wonogiri, 16 November 2010

tmw

Saturday, September 18, 2010

The Fallen Kings dan Era Baru Wonogiri ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Bulan puasa usai.
Hari Lebaran pun baru saja lewat.

Selasa, 14 September 2010.
Saya kembali bisa jalan kaki pagi.

Dengan rute istimewa : menuju rumah sakit Margo Husodo. Saya sih masih sehat-sehat. Pagi itu saya mau bezoek dik Ayu, istri adik saya Broto Happy W., yang sudah hari ketiga dirawat di rumah sakit di kawasan Wonokarto ini. Ia menderita dehidrasi, karena diare dan gangguan pencernaan. Mungkinkah ini tipikal gangguan kesehatan pasca-Ramadhan ?

Pagi itu dik Ayu, syukurlah, sudah nampak sehat. Ia ditemani Gladys, putrinya. Saya lalu mengobrol dengan Happy di lobi, sambil membaca-baca Tabloid BOLA, surat kabar Solopos dan Jawapos. Sebelumnya saya mendapat SMS dari Mayor Haristanto, berisi kabar duka : Pemimpin Redaksi Solopos, YA Sunyoto, meninggal dunia di Solo dan hari itu akan dikebumikan di kampung halamannya, di Rembang.

"Saya mengenal dia beberapa tahun lalu, saat Mas Nyoto menjadi wartawan harian Bisnis Indonesia di Jakarta dan meliput tim Arseto ke Solo," kata Happy. Saya mengenal almarhum yang suka humor dan perokok berat itu, ketika saya masih aktif di Pasoepati. Tahun 2000-2002. Baru-baru saja ini, ketika mengirim artikel ke Solopos juga terkadang saya tembuskan pengantarnya melalui message ke akun Facebooknya Mas Nyoto itu pula. Mungkin karena sibuk, ia belum pernah membalasnya.

"Selamat jalan, Mas Nyoto."

Pagi itu pula saya kirim SMS ikut berduka cita ke Mas Popon, wartawan Harian Jogja dan Mas Triyanto Hery Suryono, wartawan Solopos yang bertugas di Wonogiri. Keduanya, tentu mengenal Mas Nyoto sebagai bos dan kawan seprofesi.

Money politics. Membuka harian Solopos terdapat berita tentang konvoi sepeda motor seribuan anggota Satgas Anti Money Politics (SAMP) di Wonogiri. Ini lembaga atau ormas bentukan baru, bermarkas di Ngadirojo, hadir untuk menyikapi penyelenggaraan pemilihan umum kepala daerah Kabupaten Wonogiri, yang pencoblosannya jatuh pada hari Kamis, 16 September 2010.

Di koran Solopos itu, pimpinan satgas tersebut, Rio Hana, juga mengaku mendapatkan laporan dugaan money politics di daerah Kajen, Giripurwo, Wonogiri. "Laporan hanya SMS dan tidak jelas siapa pengirimnya. Mestinya, laporan disertai bukti dan waktu kejadian," katanya pula.

Happy tertawa membaca berita itu. Saya juga.
Karena Kajen adalah kampung tempat kami tinggal.

Penyakit egosentris. Berita lain tentang Wonogiri adalah acara Andum Ketupat di komplek wisata Waduk Gajah Mungkur (13/9). Ketupat-ketupat itu dibagikan oleh bupati Wonogiri dan jajaran Muspida Wonogiri kepada pengunjung. Secara khusus, dalam berita itu disebut pula nama lengkap dari bupati Wonogiri yang dalam Pemilukada 2010 itu maju lagi sebagai calon wakil bupati, mendampingi Sumaryoto.

Nama lengkap dia yang terpajang adalah : Kanjeng Pangeran Ario Adipati Candrakusuma Sura Agul-Agul Begug Poernomosidi. Ia juga memiliki banyak nama lainnya, termasuk ketika mendalang, atau saat memimpin kelompok kesenian reog.

Nama "Sura Agul-Agul" itu juga terpasang di pelbagai baliho besar yang melintang di tengah jalan kota Wonogiri. Di Wonokarto. Saya senyum-senyum membacanya. Menurut saya tagline itu terlalu egosentris, narsis, mementingkan diri sendiri. Karena apa sih yang dijanjikan oleh semboyan bersangkutan bagi warga Wonogiri ?

Sikap narsis merupakan jebakan yang seringkali sulit dideteksi atau dirasakan oleh si penderitanya sendiri. Terlebih lagi bagi penguasa. Karena semakin berkuasa seseorang, apalagi tiadanya kontrol dan kritik, akan semakin membuat dirinya merasa sebagai pusat dunia. Wonogiri yang masih kental berbalut budaya Jawa, yang kental menjaga harmoni, menghindari konflik yang diametral, dan kuatnya sikap wegah rame itu, justru merupakan ladang subur bagi hadirnya penguasa-penguasa yang egosentris dan manipulatif.

Apakah Begug Poernomosidi yang mampu terpilih selama dua periode itu juga mengidap narsistis pula ? Rakyat Wonogiri yang akan memberi jawaban di pemilukada nanti.

Sayang, baliho dengan slogan "Sura Agul-Agul" di Wonokarto itu saya tidak sempat memotretnya. Saya kehilangan dokumen visual bersejarah, karena pada hari itu pula papan peraga kampanye mulai dibersihkan. Saya hanya tergerak memotret baliho kampanye Sumaryoto-Begug Poernomosidi di Kerdukepik (foto) yang lagi dalam proses diturunkan oleh petugas.

pemilukada wonogiri 2010,sumaryoto,begug poernomisidi,danar rahmanto,bambang haryanto,wonogiriSepi di dunia maya. Nampak poster besar pasangan Sumaryoto-Begug Poernomosidi di Kerdukepik sedang diturunkan. Kampanye pemilukada di Wonogiri belum nampak menggarap media-media maya. Sumaryoto memiliki blog di Kompasiana dan Danar Rahmanto memiliki blog dan akun Facebook, tetapi digarap seadanya.Walau demikian, komunikasi warga Wonogiri secara gethok tular seputar kondite dan ulah kontroversi dari pasangan peserta pemilukada ternyata diam-diam masih ampuh berfungsi, sehingga hasil pemilukada Wonogiri ini bisa disebut mengejutkan.

Sibuk jualan citra. Papan peraga kampanye milik pasangan nomor satu ini, yang didukung oleh Koalisi Merah Putih, yaitu PDIP-PKS, memang nampak paling dominan. Strategi pencitraan mereka juga jauh lebih masif.

Misalnya Sumaryoto telah meluncurkan kampanye "Aku Cinta Wonogiri" dan berkali-kali mengadakan acara jalan kaki santai yang bertabur hadiah. Radio Gajahmungkur, miliknya, sepertinya nampak dikorbankan value-nya sebagai media. Karena terlalu bertabur dengan pesan-pesan kampanye dirinya yang kadang membuat pendengar mudah menjadi jenuh.

Sumaryoto juga secara "tiba-tiba" menjadi khatib sholat Jumat di Masjid Agung At-Taqwa, yang memicu kontroversi. Tetapi hebatnya, oleh koran Jawapos kontroversi itu justru diekspos yang dapat ditafsirkan sebagai "memperlebar" dan "memperkuat" kampanye pencitraan oleh anggota DPR-RI kelahiran Nguntoronadi ini. Menjelang hari pencoblosan, koran yang sama nampak juga mem-blow-up gerakan "Aku Cinta Wonogiri" yang ia gagas itu.

Beragam jurus kampanye pasangan Sumaryoto-Begug itu seolah membuat pemilukada Wonogiri sudah berakhir ketika mereka mencalonkan diri. Piece of cake. Atau, suwe mijet wohe ranti. Kemenangan akan mudah mereka raih.

Tetapi teman ngobrol saya, Bambang Susilo, yang mantan chef hotel internasional di Hanoi, Vietnam, punya pendapat lain. "Begug adalah kartu mati untuk koalisi yang mencalonkannya," begitu prediksinya.

Saya tidak begitu mempercayainya. Karena culture of fear, budaya ketakutan, yang (mungkin secara tidak sengaja ?) meruyak selama politisi kawakan itu berkuasa, menurut saya, akan hanya membuat warga Wonogiri seperti kerbau dicocok hidung. Untuk aman mereka cenderung untuk patuh, takjim, kemudian mengikuti apa saja yang dikatakan oleh sang penguasa itu.

Saya keliru. Hari Kamis, 16 September 2010. Rombongan Happy, dik Ayu, Gladys, dengan mobil yang disopiri Mas Yudi asal Ngadirojo, malam itu mengabarkan dirinya sudah sampai di Tegal. Keluarga ini menuju rumah mereka, di Bogor.

Ia menyatakan ikut bergembira mendengar berita bahwa pasangan nomor empat, Danar Rahmanto (foto) -Yuli Handoko, sudah jauh unggul dibanding tiga pasangan lainnya.

Kamis sore itu, memakai laptop Compaq milik keponakan saya, Yudhistira Laksmana Satria, yang murid klas 7A, SMP Negeri 1 Wonogiri, kami segera mengakses Internet dengan fasilitas hotspot di rumah. Membuka Suara Merdeka CyberNews, tersaji berita yang berjudul Pasangan Nomor Empat Makin Jauh Memimpin.

Berita itu lebih lanjut mengabarkan bahwa hasil sementara perolehan suara pukul sampai 16.30 WIB, masih unggul di posisi pertama pasangan nomor empat H Danar Rahmanto yang berpasangan dengan Yuli Handoko dengan perolehan suara sementara 92.798 atau 40,49%. Di posisi kedua pasangan nomor urut satu Sumaryoto dan Begug Poernomosidi dengan perolehan suara 65.547 atau 28,53%.

Di posisi selanjutnya pasangan nomor urut dua, yakni Sutadi-Paryanti dengan mengumpulkan 39.943 suara atau 17,38%. Pada posisi akhir pasangan nomor urut tiga Mulyadi-Eddy Purwanto dengan mengumpulkan suara 31.446 suara. Total suara yang sudah dihitung berjumlah 229.734 suara atau sudah mencapai 38,99%.

Kemudian terjadi komunikasi SMS bolak-balik saya dengan Nano Maryono, tangan kanan dan kerabat Danar Rahmanto di PO Timbul Jaya. Juga dengan istrinya, Nuning, yang adik saya. Inti kabarnya sama : "Mas Danar, menang !"

Wah, guyonan Mas Danar dulu rupanya kesampaian. Pada tanggal 7 Juli 2010, ketika diadakan pengundian nomor urut peserta pemilukada di KPUD Kabupaten Wonogiri, saya ikut menonton. Sebagai blogger, saya juga memotret sana-sini.

Saat itu alumnus SMA Negeri 3 Padmanaba Yogyakarta diberondong pertanyaan wartawan terkait nomor empat yang menjadi nomor urutnya. "Nomor itu nomor bagus," kata Danar Rahmanto. "Angka empat kalau dibalik kan menjadi kursi ? Saya yakin akan menang dan mendudukinya."

Rakyat Wonogiri telah ikut berjasa membalik angka empat itu. "Kemenangan saya adalah kemenangan rakyat Wonogiri pula," katanya dalam menyikapi perolehan suara yang mengungguli tiga pasangan lainnya.

Era baru Wonogiri. Sore itu saya kemudian mengirim SMS ke sobat saya, Bambang Susilo yang pemilik kafe Ngaso Angkringan di Pokoh, bahwa saya mengaku salah. Sementara dirinya yang benar. Prediksi saya bahwa Sumaryoto-Begug yang akan jadi pemenang, ternyata dimentahkan oleh ratusan ribu warga Wonogiri.

Warga Kota Gaplek ini secara sadar dan menurut saya cerdas, ternyata lebih memilih untuk menolak peluang keduanya sebagai pemimpin dan penguasa di kabupaten tercintanya ini. Kegagalan keduanya, boleh jadi, dapat diibaratkan sebagai kejatuhan sang raja. Jatuh secara keras dan menyakitkan. Semoga keduanya, juga pasangan lain yang kalah, menerima suara rakyat itu dengan kearifan dan bersikap kenegarawanan.

Saya segera mendapatkan buktinya. Saya sempat berkirim SMS ke calon bupati pasangan nomor dua, H. Sutadi. "Dengan hormat. Walau Pak Tadi belum menang & akan kembali bertugas di Banten, saya sebagai Warga Wonogiri masih berharap Bapak akan terus berkomitmen memajukan Wonogiri. Salam." Saya kemudian memperoleh balasan : "Iya saya akan selalu komit tumpah darahku." (Jumat, 17/9/2010 ; 18.04.26).

Dengan terpilihnya pasangan Danar Rahmanto-Yuli Handoko sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Wonogiri 2010-2015, apakah otomatis menjanjikan kemajuan, keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan, bagi warga Wonogiri ?

Melalui Facebook saya telah mengirimkan pesan ke akun Facebook Mas Danar sebagai berikut :

"Dengan hormat. Saya dan keluarga di Kajen, mengucapkan selamat bekerja dan berprestasi untuk Mas Danar Rahmanto, juga pasangan wakil bupati terpilih Yuli Handoko.

Semoga panjenengan berdua mampu membawa kemajuan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi Warga Wonogiri di masa-masa mendatang !"


Wonogiri, 19 September 2010

tmw