Showing posts with label mayor haristanto. Show all posts
Showing posts with label mayor haristanto. Show all posts

Tuesday, June 19, 2012

Wong Wonogiri Menggebrak Acara Kick Andy

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Warisan Anda. "Saya suka mengamati contrail, aliran gas buang berwarna putih yang ditinggalkan oleh pesawat jet.

Ia merupakan jejak sementara yang tergurat di pasir dan kemudian sinar matahari akan menghapusnya untuk selamanya.

Pergilah ke Montana dan mungkin Anda akan menemukan bekas-bekas jejak kaki dinosaurus yang tertoreh sejak ribuan tahun yang lalu."

Awal tulisan yang menarik dari Seth Godin dalam blognya. Ia membicakan topik universal dan menarik, tentang macam apa warisan yang kita tinggalkan sesudah nanti kita tiada.

"Sepanjang hari kita menulis email, status, men-twit atau membubuhkan tanda like, sementara orang lain berkarya secara lebih konkrit. Adakah sesuatu jejak yang bakal Anda tinggalkan dari hidup Anda ?"

Sebagai suporter sepakbola, saya berusaha ikut pula meninggalkan sesuatu jejak sejak sepuluh tahun lalu. Ketika bergabung dalam Pasoepati di tahun 2000 bersama Mayor Haristanto. Saya kemudian menulis pandangan, cita-cita dan juga gagasan tentang suporter sepakbola. Menulis di surat kabar, tabloid, milis dan juga blog.

Tanggal 12 Juli 2000, saat berlangsungnya pertemuan kelompok suporter di kantor redaksi Tabloid BOLA, saya mencetuskan hari itu sebagai Hari Suporter Nasional. Tahun 2002, impian saya tentang masa depan suporter sepakbola memenangkan The Power of Dreams Contest 2002 yang diselenggarakan oleh Honda Prospect Motor.


Jejak belum terkubur. Karena harus bekerja di perusahaan Internet di Jakarta, akhir tahun 2001 saya undur dari kegiatan di Pasoepati di Solo. Ternyata di Jakarta, sampai tahun 2002, masih ada tugas menanti. Berkiprah membidani lahirnya Asosiasi Suporter Sepakbola Indonesia (ASSI). Bahkan didaulat untuk menjabat sebagai Sekretaris Jenderal.

Sesudahnya, saya pensiun. Tetapi tetap menulis di blog ini. Bahkan masih sempat mendukung timnas dalam final Piala Tiger 2004/2005, baik di Jakarta atau pun di Singapura. Foto menunjukkan komentar saya yang dimuat di surat kabar utama Singapura, The Straits Times (17/1/2005). Mayor juga pensiun dari kegiatan suporter, walau dengan wadah Republik Aeng Aeng  ia masih sering bersinggungan untuk beraktifria bersama anak-anak Pasoepati di Solo.

Jejak lama saya itu, syukurlah, masih ada yang mau mengingat. Pada tanggal 10 Maret 2009, Arista Budiyono, sekretaris Pasoepati Jabodetabek, punya ide brilyan. Ia telah menulis surat ke penanggung jawab acara pamer cakap Kick Andy, agar acara populer itu menampilkan pentolan suporter dan pencinta sepakbola dengan kreasinya untuk menggairahkan dunia sepakbola.

Surat Arista Budiyono itu dia pajang di blognya sendiri, berjudul :  Suporter Menendang Kick Andy. Ia mengusulkan nama-nama sineas Andibachtiar "Ucup" Yusuf, Yuli Soempil Sugiarto (dirijen Aremania), Bambang Haryanto, Mayor Haristanto, Yan Tuheryanto (Singa Mania) dan situs Ongisnade.net.

Surat Arista itu tidak terkubur di arsip Kick Andy, tetapi menunggu dibangkitkan pada momen yang tepat.

Testimoni seorang Ibu. Momen itu hadir ketika wajah sepakbola kita harus menitikkan air mata. Yaitu ketika ada penggemar, yang merupakan roh sekaligus pendukung industrinya, tewas karena tingkah kebrutalan suporter brandal yang dibelit oleh fanatisme sempit.

Pada pertandingan Persija Jakarta melawan Persib Bandung di Gelora Bung Karno Senayan, Minggu, 27 Mei 2012, memakan korban dengan tewasnya Lazuardi (28), Rangga Cipta Nugraha (22) dan Dani Maulana (17). Pengeroyoknya berjumlah enam orang yang merupakan suporter The Jakmania telah tertangkap dan menanti untuk disidangkan.

Terenggutnya nyawa suporter sepakbola itu telah mendorong tayangan pamer cakap Kick Andy dari MetroTV untuk membicarakannya. Mengulik akar permasalahan dan menyerap aspirasi dari pelbagai fihak untuk memperoleh solusinya.

Sebagian besar nama yang diusulkan dalam email Arista Budiyono tiga tahun lalu yang kemudian menjadi nara sumber acara yang rekamannya berlangsung Rabu, 13 Juni 2012.


Kick Andy Show 22 Juni 2012 : Fanatisme Berujung Maut, Nara sumber acara Kick Andy, 22 Juni 2012, ki-ka : Cakra Wibawa,Iip Saripah, Mayor Haristanto, Yuli Sugiarto (bertopi), Bambang Haryanto dan Andibachtiar Yusuf

Nara sumberDari kiri ke kanan : Cakra Wibawa (adik almarhum Rangga Cipta Nugraha), Ibu Iip Saripah (ibu Rangga), Mayor Haristanto, Yuli Soempil Sugiarto (bertopi), Bambang Haryanto dan Andibachtiar "Ucup" Yusuf.

Dalam mimbar itu Ibu Iip Saripah mengatakan : "Keluarga memang sudah mengikhlaskan kepergian Rangga. Tapi, cara kepergian yang seperti itu kami masih tidak bisa terima. Kami minta pihak yang berwajib mengusut tuntas kasus penganiayaan yang menyebabkan tewasnya Rangga.”


Kick Andy, 22 Juni 2012 : Kerusuhan Suporter dan Solusinya, Acara bertajuk "Fanatisme Berujung Maut" menghadirkan ki-ka : Sineas Andibachtiar Yusuf, Yuli Sugiarto, Cakra Wibawa dan Iip Saripah, Bambang Haryanto dan Mayor Haristanto. Penonton yang bersemangat (kanan bawah).  

Suasana kental bernuansa sepakbola. Sineas Andibactiar "Ucup" Yusuf, Yuli Soempil Sugiarto, Cakra Wibawa dan Ibu Iip Saripah, Bambang Haryanto, Mayor Haristanto, dan penonton yang bersemangat.

Pada segmen terakhir, pada awal acara Mayor dan saya berusaha membuat studio Kick Andy layaknya suasana pertandingan di stadion sepakbola. Kami menyulap audien sebagai suporter yang bergairah, rileks, damai, bergembira dengan yel-yel dan lagu-lagu penggugah semangat yang bergelora.


Bambang Haryanto, Mayor Haristanto dan host Andy F. Noya, Kick Andy, 22 Juni 2012, Bambang Haryanto mengangkat topik rekayasa sosial suporter sepakbola  Mayor Haristanto berbagi pengalaman mengelola kelompok suporter cinta damai dan atraktif di Solo, Makasar, Pekanbaru dan Manado.

Duta suporter damai dan kreatif dari Solo. Saya dan Mayor, tampil di segmen terakhir. Kami berdua seolah harus menaiki mesin waktu, surut ke belakang di tahun 2000 guna membongkar-bongkar cerita dan kenangan saat Pasoepati berdiri dan mencari bentuk. Saat itu saya menggores sebuah tagline atau semboyan "Revolusi Citra Baru Suporter Indonesia."

Nara sumber yang tidak kalah penting dalam acara Kick Andy kali ini adalah dosen Sosiologi Universitas Gajah Mada (UGM), Muhammad Najib Azca, Ph.D. "Saya hanya menyumbang sedikit bagian penutup, melihat isu rusuh suporter sebagai  bagian budaya anak muda perkotaan yang dihimpit oleh sistem sosial yang tidak ramah," tulis beliau dalam obrolan di akun Facebooknya.

Saya berdua baru bertemu menjelang naik panggung, tetapi kimianya cocok, seolah kami merupakan teman lama. Itu terbukti ketika saya perkenalkan bahwa Mayor adalah lulusan Ilmu Pemerintahan UGM, yang bernaung pada fakultas yang sama dengan Mas Najib.

Sementara beliau adalah pembimbing dan penguji skripsi sobat saya, Aji Wibowo (yang bertopik suporter sepakbola ; Aji kini redaksi majalah fans Liverpool FC, Walk On, di Jakarta).  Dalam proses penulisan skripsi Aji melakukan korespondensi via email dengan saya.

Jejak langkah kami berdua, malam itu kami torehkan lagi. Di panggung acara Kick Andy. Mendengar pendapat Mas Najib Azca bahwa apa yang kami berdua gagas dan kerjakan selama ini sebaiknya direplikasikan kepada kelompok-kelompok suporter lain di Indonesia, barangkali itu menjadi mimpi berikutnya yang menantang untuk direalisasikan.

Tentu saja saya, Mayor, atau kami berdua,dalam mewujudkan mimpi itu tidak bisa melakukannya secara sendirian. Semua sobat saya suporter sepakbola Indonesia, harus juga mengambil prakarsa.

Semua itu dapat dimulai, seperti harapan penutup saya dalam acara itu dengan tekad : "Jadikanlah kita semua sebagai energi positif bagi dunia suporter sepakbola dan sepakbola Indonesia."

Insya Allah, jejak kita semua bukan seperti nasib asap pesawat jet yang melintas. Yang mudah menghilang dalam waktu cepat dan dilupakan oleh sejarah.


Wonogiri,19-20 Juni 2012
 

Thursday, December 1, 2011

Solo Cyber Day 2011, Wong Wonogiri dan Indonesia Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id



IndoWLI.
Anda sudah akrab dengan singkatan ini ?

Sedang Onno W. Purbo ?
Ini nama tokoh.
Agak kebangeten bila Anda belum mengenal beliau.

Untuk warga Solo yang belum tahu dan belum kenal, silakan berkenalan dengan beliau. Tempatnya di depan Plaza Sriwedari. Minggu Pagi, 4 Desember 2011. Jam 7-an. Beliau akan memberikan orasi dalam acara Solo Cyber Day 2011.

Acara siber-siberan semacam ini bikin saya agak bernostalgia.

Karena tiga tahun lalu,2008, Walikota Solo Jokowi sudah mencanangkan bahwa tanggal 30 Juli sebagai Solo Cyberholicday. Hari mabuk dunia cyber. Hari kasmaran Internet. Saking ikut-ikutan mabuk saya sempat membuat blog khusus untuk momen itu.

Di blog tersebut Anda dapat melihat secuplik sajian kelompok keroncong siswa-siswi SMA St Yosef yang memanggungkan lagu "Solo Cyberholicday" dengan lirik yang cerdas. Juga dilantunkan secara penuh semangat dalam balutan lagu "It's a Holy Holyday"-nya Boney M, kelompok musik asal Jerman.

Apakah deklarasi oleh Pak Wali hari Minggu esok itu secara resmi menghapus deklarasi dia 3 tahun yang lalu ? Ataukah akan ada dua hari mabuk cyber secara resmi di Solo, yaitu setiap 30 Juli dan 4 Desember ?

Cerita keluarga. Yang pasti,dalam acara tanggal 4 Desember 2011 itu komunitas saya berdasarkan keturunan Trah Martowirono akan ikut ambil bagian. Stan kami bernomor 18, berkat pilihan eksklusif oleh Presiden Republik Aeng-Aeng Mayor Haristanto, tempatnya jadi dekat panggung. Berseberangan dengan stan organisasinya Mas Donny Budi Utoyo, Internet Sehat yang terkenal itu.

Ada sekitar 50 stan yang memunculkan beragam komunitas di Solo dan Indonesia yang memanfaatkan Internet untuk mempertegas eksistensi dan krida-krida mereka yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Stan Trah Martowirono mengusung misi ingin berbagi cerita, bahwa tiap-tiap keluarga itu punya kisah menarik dan hero, walau kelas kampung sekali pun, yang pantas untuk dituliskan. Karena seperti kata Stephen R. Covey, kini saatnya di era Internet ini masing-masing pribadi memberikan "suara"-nya bagi dunia. Ia merujuk setiap insan adalah istimewa. Pakar Internet Dave Wiener lalu menimpali, bila 6 milyar umat manusia bisa saling terhubung, dunia akan menjadi lebih baik adanya.

Modal "unjuk dada" kami di acara SCD 2011 itu hanya blog. Itu pun blog gratisan, yang kami sebut sebagai keuntungan sebagai sarana berbagi pesan betapa keluarga lain, keluarga Anda pun pasti bisa melakukan hal yang sama. Yaitu memiliki blog, untuk menyambungkan silaturahmi (selain Facebook, Twitter dan media sosial lainnya) antarkeluarga Anda. Juga sebagai media untuk mencatat sejarah keluarga Anda.

Kembali ke Mas Onno. Walau hanya lewat email, saya mengenal beliau. Saat acara Jagongan Media Rakyat 2010 di Yogya, Juli 2010, saya sempat berfoto-ria di halaman Jogja Museum.

Juga minta tanda tangan dalam artikel majalah Esquire Indonesia edisi Juni 2010. Profil Onno W. Purbo dimuat di majalah gaya hidup pria tersebut, dan nama saya ikut muncul di halaman lain yang membahas tentang wabah tindak kekerasan di kancah suporter ("saya pencetus Hari Suporter Nasional, 12 Juli 2000") sepakbola Indonesia.

Membincangkan masa depan Indonesia Kita. Sebagai warga Wonogiri, pagi ini sesudah jalan kaki pagi, melalui milis IndoWLI (IndoWireLessIndonesia) yang digerakkan oleh Dr. Onno W. Purbo,saya ingin mengirimkan email ucapan selamat datang di Solo untuk beliau. Tetapi saya juga terpincut untuk membuka kabar-kabar lain yang masuk. Ada kabar yang ditulis oleh Bapak Ade Kuswandi.Menurut saya menarik.
Di bawah ini saya bagikan untuk Anda :

Cerita mahasiswa Indonesia di Ausie.

Nyata.

Suatu pagi,kami menjemput seseorg klien di bandara.Org itu sdh tua,kisaran 60 thn.Si Bpk adl pengusaha asal Singapura,dgn logat bicara gaya melayu & english,beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kpd kami yg msh muda.

Beliau berkata,"Ur country is so rich!" Ah biasa banget denger kata2 itu. Tapi tunggu dulu."Indonesia doesn't need the world,but the world needs Indonesia,"lanjutnya. "Everything can be found here in Indonesia,U don't need the world."

"Mudah saja,Indonesia paru2 dunia.Tebang saja hutan di kalimantan,dunia pasti kiamat. Dunia yg butuh Indonesia!

Singapura is nothing,we can't be rich without Indonesia. 500.000 org Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan.Bisa terbayang uang yg masuk ke kami,apartemen2 terbaru kami yg beli org2 Indonesia,ga peduli harga selangit, laku keras.

Lihatlah RS kami,org Indonesia semua yg berobat.Trus,kalian tau bgmna kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk? Ya,bener2 panik.Sangat terasa,we are nothing.Kalian tau kan kalo Agustus kmrn dunia krisis beras.Termasuk di Singapura dan Malaysia?

Kalian di Indonesia dgn mudah dpt beras.Liatlah negara kalian, air bersih di mana2,liatlah negara kami,air bersih pun kami beli dari Malaysia. Saya ke Kalimantan pun dlm rangka bisnis,krn pasirnya mengandung permata.Terliat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3rb/kg ke pabrik china,di pabrik jual kembali seharga Rp 30rb/kg.Saya liat ini sbg peluang.

Kalian sadar tidak kalo negara2 lain selalu takut mengembargo Indonesia! Ya,karena negara kalian memiliki segalanya.Mereka takut kalau kalian mnjadi mandiri,makanya tidak di embargo. Harusnya KALIANLAH YG MENG- EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah pangan dr petani2 kita sendiri,belilah tekstil garmen dr pabrik2 sendiri.Tak perlu impor klo bs produk sendiri.

Jika kalian bs mandiri,bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA WILL RULE THE WORLD!!

Plis share ya biar sampe ke seluruh bangsa Indonesia...

Wassalam,
Ade Kuswandi

Terima kasih, Pak Ade Kuswandi.
Pembaca, semoga cerita campur-bawur ini ada manfaatnya bagi Anda.Bagi kita semua. Apakah momen Solo Cyber Day 2011 itu juga dapat kita manfaatkan untuk memperteguh rasa nasionalisme kita, lalu membuat kita tergerak sesuai nasehat tokoh bisnis Singapura itu pula ?


Salam saya dari Wonogiri.


Wonogiri, 1 Desember 2011
Bonus dari acara jalan kaki pagi.

Saturday, September 18, 2010

The Fallen Kings dan Era Baru Wonogiri ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id


Bulan puasa usai.
Hari Lebaran pun baru saja lewat.

Selasa, 14 September 2010.
Saya kembali bisa jalan kaki pagi.

Dengan rute istimewa : menuju rumah sakit Margo Husodo. Saya sih masih sehat-sehat. Pagi itu saya mau bezoek dik Ayu, istri adik saya Broto Happy W., yang sudah hari ketiga dirawat di rumah sakit di kawasan Wonokarto ini. Ia menderita dehidrasi, karena diare dan gangguan pencernaan. Mungkinkah ini tipikal gangguan kesehatan pasca-Ramadhan ?

Pagi itu dik Ayu, syukurlah, sudah nampak sehat. Ia ditemani Gladys, putrinya. Saya lalu mengobrol dengan Happy di lobi, sambil membaca-baca Tabloid BOLA, surat kabar Solopos dan Jawapos. Sebelumnya saya mendapat SMS dari Mayor Haristanto, berisi kabar duka : Pemimpin Redaksi Solopos, YA Sunyoto, meninggal dunia di Solo dan hari itu akan dikebumikan di kampung halamannya, di Rembang.

"Saya mengenal dia beberapa tahun lalu, saat Mas Nyoto menjadi wartawan harian Bisnis Indonesia di Jakarta dan meliput tim Arseto ke Solo," kata Happy. Saya mengenal almarhum yang suka humor dan perokok berat itu, ketika saya masih aktif di Pasoepati. Tahun 2000-2002. Baru-baru saja ini, ketika mengirim artikel ke Solopos juga terkadang saya tembuskan pengantarnya melalui message ke akun Facebooknya Mas Nyoto itu pula. Mungkin karena sibuk, ia belum pernah membalasnya.

"Selamat jalan, Mas Nyoto."

Pagi itu pula saya kirim SMS ikut berduka cita ke Mas Popon, wartawan Harian Jogja dan Mas Triyanto Hery Suryono, wartawan Solopos yang bertugas di Wonogiri. Keduanya, tentu mengenal Mas Nyoto sebagai bos dan kawan seprofesi.

Money politics. Membuka harian Solopos terdapat berita tentang konvoi sepeda motor seribuan anggota Satgas Anti Money Politics (SAMP) di Wonogiri. Ini lembaga atau ormas bentukan baru, bermarkas di Ngadirojo, hadir untuk menyikapi penyelenggaraan pemilihan umum kepala daerah Kabupaten Wonogiri, yang pencoblosannya jatuh pada hari Kamis, 16 September 2010.

Di koran Solopos itu, pimpinan satgas tersebut, Rio Hana, juga mengaku mendapatkan laporan dugaan money politics di daerah Kajen, Giripurwo, Wonogiri. "Laporan hanya SMS dan tidak jelas siapa pengirimnya. Mestinya, laporan disertai bukti dan waktu kejadian," katanya pula.

Happy tertawa membaca berita itu. Saya juga.
Karena Kajen adalah kampung tempat kami tinggal.

Penyakit egosentris. Berita lain tentang Wonogiri adalah acara Andum Ketupat di komplek wisata Waduk Gajah Mungkur (13/9). Ketupat-ketupat itu dibagikan oleh bupati Wonogiri dan jajaran Muspida Wonogiri kepada pengunjung. Secara khusus, dalam berita itu disebut pula nama lengkap dari bupati Wonogiri yang dalam Pemilukada 2010 itu maju lagi sebagai calon wakil bupati, mendampingi Sumaryoto.

Nama lengkap dia yang terpajang adalah : Kanjeng Pangeran Ario Adipati Candrakusuma Sura Agul-Agul Begug Poernomosidi. Ia juga memiliki banyak nama lainnya, termasuk ketika mendalang, atau saat memimpin kelompok kesenian reog.

Nama "Sura Agul-Agul" itu juga terpasang di pelbagai baliho besar yang melintang di tengah jalan kota Wonogiri. Di Wonokarto. Saya senyum-senyum membacanya. Menurut saya tagline itu terlalu egosentris, narsis, mementingkan diri sendiri. Karena apa sih yang dijanjikan oleh semboyan bersangkutan bagi warga Wonogiri ?

Sikap narsis merupakan jebakan yang seringkali sulit dideteksi atau dirasakan oleh si penderitanya sendiri. Terlebih lagi bagi penguasa. Karena semakin berkuasa seseorang, apalagi tiadanya kontrol dan kritik, akan semakin membuat dirinya merasa sebagai pusat dunia. Wonogiri yang masih kental berbalut budaya Jawa, yang kental menjaga harmoni, menghindari konflik yang diametral, dan kuatnya sikap wegah rame itu, justru merupakan ladang subur bagi hadirnya penguasa-penguasa yang egosentris dan manipulatif.

Apakah Begug Poernomosidi yang mampu terpilih selama dua periode itu juga mengidap narsistis pula ? Rakyat Wonogiri yang akan memberi jawaban di pemilukada nanti.

Sayang, baliho dengan slogan "Sura Agul-Agul" di Wonokarto itu saya tidak sempat memotretnya. Saya kehilangan dokumen visual bersejarah, karena pada hari itu pula papan peraga kampanye mulai dibersihkan. Saya hanya tergerak memotret baliho kampanye Sumaryoto-Begug Poernomosidi di Kerdukepik (foto) yang lagi dalam proses diturunkan oleh petugas.

pemilukada wonogiri 2010,sumaryoto,begug poernomisidi,danar rahmanto,bambang haryanto,wonogiriSepi di dunia maya. Nampak poster besar pasangan Sumaryoto-Begug Poernomosidi di Kerdukepik sedang diturunkan. Kampanye pemilukada di Wonogiri belum nampak menggarap media-media maya. Sumaryoto memiliki blog di Kompasiana dan Danar Rahmanto memiliki blog dan akun Facebook, tetapi digarap seadanya.Walau demikian, komunikasi warga Wonogiri secara gethok tular seputar kondite dan ulah kontroversi dari pasangan peserta pemilukada ternyata diam-diam masih ampuh berfungsi, sehingga hasil pemilukada Wonogiri ini bisa disebut mengejutkan.

Sibuk jualan citra. Papan peraga kampanye milik pasangan nomor satu ini, yang didukung oleh Koalisi Merah Putih, yaitu PDIP-PKS, memang nampak paling dominan. Strategi pencitraan mereka juga jauh lebih masif.

Misalnya Sumaryoto telah meluncurkan kampanye "Aku Cinta Wonogiri" dan berkali-kali mengadakan acara jalan kaki santai yang bertabur hadiah. Radio Gajahmungkur, miliknya, sepertinya nampak dikorbankan value-nya sebagai media. Karena terlalu bertabur dengan pesan-pesan kampanye dirinya yang kadang membuat pendengar mudah menjadi jenuh.

Sumaryoto juga secara "tiba-tiba" menjadi khatib sholat Jumat di Masjid Agung At-Taqwa, yang memicu kontroversi. Tetapi hebatnya, oleh koran Jawapos kontroversi itu justru diekspos yang dapat ditafsirkan sebagai "memperlebar" dan "memperkuat" kampanye pencitraan oleh anggota DPR-RI kelahiran Nguntoronadi ini. Menjelang hari pencoblosan, koran yang sama nampak juga mem-blow-up gerakan "Aku Cinta Wonogiri" yang ia gagas itu.

Beragam jurus kampanye pasangan Sumaryoto-Begug itu seolah membuat pemilukada Wonogiri sudah berakhir ketika mereka mencalonkan diri. Piece of cake. Atau, suwe mijet wohe ranti. Kemenangan akan mudah mereka raih.

Tetapi teman ngobrol saya, Bambang Susilo, yang mantan chef hotel internasional di Hanoi, Vietnam, punya pendapat lain. "Begug adalah kartu mati untuk koalisi yang mencalonkannya," begitu prediksinya.

Saya tidak begitu mempercayainya. Karena culture of fear, budaya ketakutan, yang (mungkin secara tidak sengaja ?) meruyak selama politisi kawakan itu berkuasa, menurut saya, akan hanya membuat warga Wonogiri seperti kerbau dicocok hidung. Untuk aman mereka cenderung untuk patuh, takjim, kemudian mengikuti apa saja yang dikatakan oleh sang penguasa itu.

Saya keliru. Hari Kamis, 16 September 2010. Rombongan Happy, dik Ayu, Gladys, dengan mobil yang disopiri Mas Yudi asal Ngadirojo, malam itu mengabarkan dirinya sudah sampai di Tegal. Keluarga ini menuju rumah mereka, di Bogor.

Ia menyatakan ikut bergembira mendengar berita bahwa pasangan nomor empat, Danar Rahmanto (foto) -Yuli Handoko, sudah jauh unggul dibanding tiga pasangan lainnya.

Kamis sore itu, memakai laptop Compaq milik keponakan saya, Yudhistira Laksmana Satria, yang murid klas 7A, SMP Negeri 1 Wonogiri, kami segera mengakses Internet dengan fasilitas hotspot di rumah. Membuka Suara Merdeka CyberNews, tersaji berita yang berjudul Pasangan Nomor Empat Makin Jauh Memimpin.

Berita itu lebih lanjut mengabarkan bahwa hasil sementara perolehan suara pukul sampai 16.30 WIB, masih unggul di posisi pertama pasangan nomor empat H Danar Rahmanto yang berpasangan dengan Yuli Handoko dengan perolehan suara sementara 92.798 atau 40,49%. Di posisi kedua pasangan nomor urut satu Sumaryoto dan Begug Poernomosidi dengan perolehan suara 65.547 atau 28,53%.

Di posisi selanjutnya pasangan nomor urut dua, yakni Sutadi-Paryanti dengan mengumpulkan 39.943 suara atau 17,38%. Pada posisi akhir pasangan nomor urut tiga Mulyadi-Eddy Purwanto dengan mengumpulkan suara 31.446 suara. Total suara yang sudah dihitung berjumlah 229.734 suara atau sudah mencapai 38,99%.

Kemudian terjadi komunikasi SMS bolak-balik saya dengan Nano Maryono, tangan kanan dan kerabat Danar Rahmanto di PO Timbul Jaya. Juga dengan istrinya, Nuning, yang adik saya. Inti kabarnya sama : "Mas Danar, menang !"

Wah, guyonan Mas Danar dulu rupanya kesampaian. Pada tanggal 7 Juli 2010, ketika diadakan pengundian nomor urut peserta pemilukada di KPUD Kabupaten Wonogiri, saya ikut menonton. Sebagai blogger, saya juga memotret sana-sini.

Saat itu alumnus SMA Negeri 3 Padmanaba Yogyakarta diberondong pertanyaan wartawan terkait nomor empat yang menjadi nomor urutnya. "Nomor itu nomor bagus," kata Danar Rahmanto. "Angka empat kalau dibalik kan menjadi kursi ? Saya yakin akan menang dan mendudukinya."

Rakyat Wonogiri telah ikut berjasa membalik angka empat itu. "Kemenangan saya adalah kemenangan rakyat Wonogiri pula," katanya dalam menyikapi perolehan suara yang mengungguli tiga pasangan lainnya.

Era baru Wonogiri. Sore itu saya kemudian mengirim SMS ke sobat saya, Bambang Susilo yang pemilik kafe Ngaso Angkringan di Pokoh, bahwa saya mengaku salah. Sementara dirinya yang benar. Prediksi saya bahwa Sumaryoto-Begug yang akan jadi pemenang, ternyata dimentahkan oleh ratusan ribu warga Wonogiri.

Warga Kota Gaplek ini secara sadar dan menurut saya cerdas, ternyata lebih memilih untuk menolak peluang keduanya sebagai pemimpin dan penguasa di kabupaten tercintanya ini. Kegagalan keduanya, boleh jadi, dapat diibaratkan sebagai kejatuhan sang raja. Jatuh secara keras dan menyakitkan. Semoga keduanya, juga pasangan lain yang kalah, menerima suara rakyat itu dengan kearifan dan bersikap kenegarawanan.

Saya segera mendapatkan buktinya. Saya sempat berkirim SMS ke calon bupati pasangan nomor dua, H. Sutadi. "Dengan hormat. Walau Pak Tadi belum menang & akan kembali bertugas di Banten, saya sebagai Warga Wonogiri masih berharap Bapak akan terus berkomitmen memajukan Wonogiri. Salam." Saya kemudian memperoleh balasan : "Iya saya akan selalu komit tumpah darahku." (Jumat, 17/9/2010 ; 18.04.26).

Dengan terpilihnya pasangan Danar Rahmanto-Yuli Handoko sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Wonogiri 2010-2015, apakah otomatis menjanjikan kemajuan, keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan, bagi warga Wonogiri ?

Melalui Facebook saya telah mengirimkan pesan ke akun Facebook Mas Danar sebagai berikut :

"Dengan hormat. Saya dan keluarga di Kajen, mengucapkan selamat bekerja dan berprestasi untuk Mas Danar Rahmanto, juga pasangan wakil bupati terpilih Yuli Handoko.

Semoga panjenengan berdua mampu membawa kemajuan, kemakmuran dan kesejahteraan bagi Warga Wonogiri di masa-masa mendatang !"


Wonogiri, 19 September 2010

tmw