Showing posts with label bahasa inggris. Show all posts
Showing posts with label bahasa inggris. Show all posts

Tuesday, January 16, 2007

Prof. HB Sutopo dan Eyang Murtidjono Pensiun

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews@yahoo.co.id


Resep Sehat Voice of America. Penguasaan dua bahasa, bilingual, berpotensi memperlambat seseorang dari ancaman kepikunan. Informasi kesehatan menarik itu saya dengar dari radio Voice of Amerika (VoA) Siaran Indonesia, 15/1/2007. Penggunaan dua bahasa secara aktif diwartakan memacu otak penggunanya menjadi lebih “cemerlang” dan “tahan lama” dibanding otak mereka para pengguna satu bahasa saja.

Kabar ini, sekali lagi, nampaknya semakin mengukuhkan pendapat use it or lose it, gunakan atau kehilangan, baik yang menyangkut otak mau pun otot Anda. Kiranya kita dapat bercermin dari pendapat Alfred Eisenstaedt (1898–1995), fotografer dan jurnalis kenamaan Amerika kelahiran Jerman. Seperti telah dikutip edisi elektronik majalah Life 24 Agustus 1995 (“tepat saya berumur 42 tahun”) ia telah berujar, ”although I am 92, my brain is 30 years old.” Walau saya berusia 92 tahun, tetapi otak saya berusia 30 tahun.

Umur saya kini menjelang 54 tahun. Juga sudah terasa mulai dihinggapi “penyakit” mudah lupa. Pernah saya ke warnet, sesudah berjalan kaki sekitar 2 km, harus kecewa karena disket yang berisi tulisan untuk di-upload ke blog-blog saya dan materi untuk membalas email, lupa tidak saya bawa.

Sehari-hari saya yang terlibat dalam pemakaian tiga bahasa, Jawa, Indonesia dan Inggris, tetapi ketika bercermin diri saya sungguh tidak tahu pasti sejauh mana tesis informasi dari VoA di atas berlaku untuk diri saya. Dari ketiga bahasa itu, pastilah bahasa Inggris yang paling minimal saya kuasai. Maklum.

Tahun 1986 pernah ikut tes TOEFL di Kedutaan Besar Amerika Serikat, nilai saya hanya 58. Padahal untuk bisa lulus harus minimal, kalau tak salah ingat, 76. Di antara yang mampu mencapai angka lulus itu adalah Rene L. Pattiradjawane, lulusan Sastra Cina FSUI, dan kini redaktur senior di Harian Kompas.

Proses penguasaan saya untuk bahasa negerinya Putri Diana itu berlangsung asal-asalan. Sejak kecil hingga kini. Tetap saja asal-asalan. Termasuk setahun terakhir ini ketika saya membaca-baca email atau mendengar obrolan via telepon dengan Niz, my sweet heart yang tinggal di London.


Like father, like son. Belajar bahasa adalah masalah kebiasaan, kata Niz, suatu waktu. Konon ia sendiri saat tiba di Inggris lebih dari 20 tahun lalu, belajar berbahasa Inggrisnya dari anak-anak atau kaum manula saat bekerja sebagai carer, pengasuh mereka.

Bahasa Inggris menarik saya ketika saya masih duduk di klas lima SD Negeri 3 Wonogiri, 1965. Saya tidak tahu untuk tujuan apa, tetapi saat itu ayah saya, Kastanto Hendrowiharso, yang seorang TNI Angkatan Darat, di rumah sering mengucapkan kata dan kalimat dalam bahasa Inggris. Saat itu ia bertugas di Kodim 0734 Yogyakarta. Saya punya ayah hanya setiap hari Sabtu dan Minggu. Beliau rupanya mengambil kursus bahasa Inggris di Yogyakarta dan ketika ia belajar di rumah, saya ikut mendampingi dan mendengarkan, sehingga terimbas secara alamiah.

Tahun lalu, Mas Bambang Setiawan (BS), warga Wonogiri yang lama tinggal di Jakarta, kakak dari Sri Wahyuni (teman seangkatanku di SMP Negeri 1 Wonogiri), bercerita lewat email tentang ayah saya. Mas BS bisa saling mengenal dengan diri saya gara-gara saya memiliki blog di Internet. Ketika di masa kanak-kanak, kami justru tidak saling mengenal.

Yang saya tahu kemudian, adiknya Sri Wahyuni adalah putri dari Wakil Kapolres Wonogiri saat itu. Rumah dinasnya di tepi jalan raya, depan warung menco. Kemudian saya tahu ternyata ibunya Mas BS itu, Ibu Sudarmo, telah pula mengenal ibu saya. “Bu Kastanto itu priyayi-nya tinggi besar,” kenang Ibu Sudarmo. Sebagai istri polisi rupanya beliau akrab pula dengan kalangan istri tentara di Wonogiri.

Mas BS sekarang merupakan salah satu dedengkot :-) paguyuban warga Wonogiri yang tinggal di Jakarta. Kantornya di Graha Irama Building, Jl. HR Rasuna Said, Jakarta. Di antara warga paguyuban wong Wonogiri itu, begitu ceritanya, antara lain mBak Ari Selopadi. Kalau tidak salah ingat, mBak Ari yang cantik dan tinggi semampai itu, yang pernah menjadi Putri Jawa Tengah, adalah juga alumnus sekolah dasarku, SD Negeri 3 Wonogiri. Termasuk semua adiknya, Minda, Iwan sampai Jajit.

Warga paguyuban lainnya adalah Mas Handrio, putra Pak Pangat, yang jarak rumahnya sekitar 150 m dari rumahku. Menurut Mas Handrio, seperti ditirukan oleh Mas BS, bahwa ia mengenal ayahku sebagai “lancar berbahasa Inggris.” Maka di emailnya pada saat-saat awal kenal, Mas BS membom diriku dengan perkataan : like father, like son.”

Selain belajar bahasa Inggris, beberapa waktu sebelumnya ayahku bercerita bahwa dirinya juga mempelajari bahasa Rusia. Kalau tak salah ingat, beliau bercerita akan ikut tes agar bisa lolos diikutkan menempuh tugas belajar di negeri asal Nikita Khrushchev, Mikhail Baryshnikov sampai Mikhail Sergeevich Gorbachev itu.

Dari buku-buku peninggalannya yang masijh utuh, antara lain dalam Buku Bahasa Rusia : Kursus Permulaan (Moskou, 1959), ia tulis dibeli seharga Rp. 50,00 tanggal 4 Desember 1961. Tercatat ayah mulai belajar 5 Desember 1961, Jam 17.30. Saat itu saya berumur 8 tahun. Dasar anak-anak, dari buku tersebut saya terpancing untuk ikut belajar bahasa Rusia pula.

Ketika SMP, saat dilanda cinta monyet, saya pernah menulis surat cinta berbahasa Indonesia tetapi dengan huruf abjad Rusia. Nasib surat itu mencocoki isi lirik lagu lama, Night of White Satin-nya Moody Blues : “letters I've written, never meaning to send. Surat-surat yang aku tulis tidak pernah dimaksudkan untuk dikirimkan. Kalau pun saya kirimkan, siapa yang mampu menjamin sang jantung hati akan memahami isinya ?

Tahun 1980 ketika berkuliah di FSUI saya berteman dengan Arlima “Ipit” Mulyono, adik pelawak Warkop Prambors, Nanu Mulyono. Ipit pernah berkuliah di Sastra Rusia. Ketika saya mencoba mengobrol dengan satu dua patah kata Rusia, Ipit mengira saya pernah ikut kursus Bahasa Rusia, Jl. Diponegoro, Jakarta.


Memvonis Raja Gerobak. Belajar bahasa Inggris secara tidak langsung lumayan menggebu di tahun 1977-1979. Saat itu saya menghuni sanggar seni rupa yang kami sebut sebagai Gallery Mandungan, Muka Kraton Surakarta. Kehidupan semi bohemian di sanggar itu membuat saya berinteraksi dengan pelbagai aktivis kesenian Solo lainnya.

Photobucket - Video and Image Hosting

Di Luar Arena Scrabble. Aktivitas kesenian di Sanggar Mandungan beragam. Antara lain pementasan musik dan pembacaan puisi. Dalam foto tergambar aktivitas latihan untuk pementasan Malam Puisi 1977. Ki-ka : Murtidjono, Marsudi (membelakangi kamera), Tatah, Harsoyo dan Efix Mulyadi.


Aktivis tersebut antara lain HB Sutopo, Conny Suprapto dan Narsen Afatara, ketiganya adalah pengajar di Jurusan Seni Rupa UNS Sebelas Maret. Ada pula Murtidjono atau Eyang Murti, sebutan gaulnya, yang saat itu baru lulus dari Fakultas Filsafat UGM. Dia lagi kesengsem sama Koes Murtiyah alias Gusti Mung dari Kraton Solo, yang saat itu masih duduk di SMAN 4 Solo.

Kalau aku sih lebih menyukai adiknya, Koes Indriyah. Juga diam-diam menyukai Kenil, putri Pak Panji Mloyosuman, pelajar SMA Ursulin, yang bermurah hati menebarkan senyum penuh pesona dan lambaian tangan ketika setiap kali melintas di depan Mandungan.

Pengunjung setia sanggar lainnya adalah Didik “Fernando” Marsudi almarhum. Ia pegawai Pemkot Solo, aktivis teater dan kemudian dikenal sebagai seniman ketoprak Solo, Harsoyo Rajiyowiryono, mahasiswa Sastra Jawa UNS Sebelas Maret dan kini bekerja di Taman Budaya Surakarta (TBS) Solo dan juga Broto, pemuda dompu asal Laweyan, sohib-nya Eyang Murti, yang saat itu sepertinya tak selesai-selesai kuliahnya di FE UGM.

Nama-nama di atas adalah musuh-musuh utama saya dalam bermain scrabble. Papan permainan ini saya beli tanggal 6 Juni 1979. Pada boksnya tertulis : Manufactured by J.W. Spear & Sons, Ltd., Enfield, Middlesex, England. Sebelumnya saya membeli yang buatan dalam negeri, tetapi kurang memuaskan. Ibarat pembagian liga dalam kancah sepakbola, maka di Gallery Mandungan sering berlangsung permainan scrabble dalam dua arena : para pemain divisi utama menggunakan papan buatan Inggris dan divisi kedua menggunakan papan scrabble buatan dalam negeri. :-)

Selain sebagai pemain, saya sendiri didaulat sebagai pencatat kata mau pun skor. Juga penghakim karena saya yang memiliki kamus dan sekaligus sebagai motor pengejek bagi pemain lain yang kosa katanya terbatas. Mereka yang sering berulang memunculkan kata “VAN” mendapat vonis ramai-ramai dengan sebutan Raja Gerobak.

Arena permainan kadang tidak hanya di Mandungan, tetapi berpindah ke Baturan, rumah Pak Topo yang berada di kompleks perumahan dosen UNS. Atau berekspansi ke Laweyan, rumahnya Broto, atau rumah Marsudi, di Kauman.

Permainan scrabble ini begitu mencandu, membuat hidup kami seolah terbalik. Siang hari dijadikan untuk tidur dan malam hari digunakan untuk melek, bertarung meramu huruf menjadi kata yang bermakna, sekaligus menggabungkan unsur penguasaan terhadap kosa kata dengan kalkulasi demi meraih nilai tertinggi dipadu strategi membunuh peluang lawan. Sebagai pencandu scrabble dan pelintas batas malam, kami pun mengeluarkan kata-kata mutiara : “Cara terampuh untuk bisa bangun pagi adalah bila semalaman tidak tidur.”


Imbauan Menawan Dari Michigan. Sekarang ini kabar tentang teman-teman bermain scrabble di atas, kadangkala saya ketahui dari surat kabar. Sejak tahun 1980 saya meninggalkan Solo untuk berkuliah di Jakarta dan tahun-tahun sesudahnya membuat saya seperti terbuang sekaligus terputus dari seluk-beluk atmosfir sampai kiprah dunia kesenian.

Seperti saya katakan via email kepada Tinuk R. Yampolsky di New Haven, Connecticut, AS, karena teman-teman sesama aktivis kesenian Solo nampak belum akrab dengan Internet, antara lain telah membuat kami yang secara geografis dekat justru sulit saling bertemu di dunia maya.

Tahun 1987 saya pernah menulis surat pembaca di Majalah Tempo (7/2/1987). Isinya menawarkan Buletin InfoSeksi, yaitu jasa informasi mutakhir kepada klien berupa puluhan daftar isi majalah-majalah ilmiah luar negeri. Saya saat itu sedang merintis bisnis sebagai broker informasi. Secara mengejutkan, alamat saya di majalah itu telah mengakibatkan saya mendapatkan surat dari Pak Topo. Dari Michigan, Colorado, Amerika Serikat. Beliau menceritakan berita gembira, bahwa dirinya telah meraih dua gelar master dan kini meraih gelar Ph.D.

Ia pun mengompori diri saya untuk tergerak pula menempuh pendidikan lanjutan di manca negara. Nasehat hebat. Tetapi karena kebacut putus asa dengan nilai TOEFL saya yang rendah itu, sehingga membuat peluang saya untuk memperoleh beasiswa Fulbright ke AS praktis tertutup karena melewati batas umur, saya mencoba menghibur diri dengan membalas : mungkin diri saya masih ada peluang untuk belajar ke Inggris. Ternyata, sampai sekarang pun impian belajar ke Inggris itu masih pula hanya sebatas sebagai impian belaka.


Pensiunan : Untapped Resources. Informasi lanjutan tentang Pak Topo saya ikuti dari surat kabar, antara lain ketika beliau diangkat sebagai guru besar di UNS Sebelas Maret. Saya lupa tahunnya. Adik saya yang terkecil, Basnendar Heriprilosadoso, masih sempat menjadi mahasiswa dari Prof. HB Sutopo tersebut.

Berita mutakhir, koran Solopos minggu lalu (13/1/2007) mewartakan bahwa Pak Topo telah memasuki masa pensiun sejak November 2006. Sementara itu koran Suara Merdeka, minggu lalu pula, mewartakan Murtidjono akan pensiun sebagai PNS bulan Juni 2007, dan berarti pula pensiun dari jabatannya yang lebih dari dua puluhan tahun sebagai Kepala Taman Budaya Surakarta (TBS) Solo itu.

Saya merasa lucu, juga rada aneh, membaca kabar-kabar di atas untuk memergoki fakta betapa sesama teman sepermainan scrabble di akhir tahun 70-an kini telah memasuki masa pensiunnya. Mungkin bila pekerjaan boleh diibaratkan sebagai permainan scrabble, maka pak Topo dan Eyang Murti boleh disebut mereka tidak akan bermain lagi. Tetapi bila karier yang diibaratkan sebagai permainan scrabble, masa pensiun bukanlah batas akhir untuk melanjutkan karier mereka. Karena pekerjaan memang miliknya perusahaan, sedang karier adalah milik setiap pribadi.

Di koran tersebut diberitakan, Pak Topo masih memiliki kesibukan sebagai konsultan di Yayasan Indonesia Sejahtera. Juga tetap mengajar di kampus. Eyang Murti konon akan membantu istrinya dalam mengelola perusahaan keluarga, Sadinoe Songkopamilih. Nama ini aku dengar dari ayah sebagai perusahaan terpandang di Solo yang menyediakan peralatan tanda pangkat, seragam sampai sepatu militer.

Pak Topo dan Eyang Murti, masih sehat dan produktif. Demikian pula banyak kaum pensiunan yang lain. Nabi media digital Nicholas Negroponte dari MIT, menyebut kaum pensiunan itu sebagai untapped resources, harta karun yang terbengkalai dan belum dibudi dayakan secara maksimal. Saya telah menyuarakan keprihatinan itu dalam surat pembaca, sekitar dua tahun yang lalu :


Masa Pensiun, Masa Loyo ?
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah
Rabu, 17 November 2004


Setiap kali penerimaan pelajar atau mahasiswa baru, mirip sebuah ritual, mereka harus menjalani masa orientasi. Bagaimana mereka yang akan pensiun ? Apakah mereka juga memperoleh bimbingan dan orientasi dari para seniornya ? Pertanyaan itu muncul ketika Kompas (10/9/2004) mewartakan tahun 2004-2009 terdapat 590.000 pegawai negeri sipil, terbanyak guru, yang pensiun. Jumlah yang sangat besar.

Hemat saya, sangat disayangkan bila ratusan ribu kaum terdidik yang selama ini terbiasa melakukan olah intelektual, bila tanpa bimbingan dan orientasi, akan membuat sumber daya intelektual mereka jadi muspro, sia-sia, di masa pensiunnya.

Dr. Mary Furlong, pakar Internet AS yang menaruh perhatian kepada kaum lansia, menemukan istilah bahasa Perancis, troisieme age, usia ketiga, untuk sebutan periode kehidupan saat seseorang bebas melakukan apa yang ia inginkan.

Periode Usia Pertama, seseorang berkembang sebagai pribadi. Periode Usia Kedua, mengejar karier dan membentuk keluarga. Di Usia Ketiga, usia pensiun, dirinya menjadi miliknya sendiri. Berbeda dari anggapan bahwa masa pensiun adalah saat dirinya tidak lagi dibutuhkan, lalu menjadi apatis dan loyo, sebenarnya masa pensiun merupakan waktu terbaik untuk mengembangkan kreativitas, terus belajar dan terus bereksplorasi.

Bapak Soeroyo (80 tahun), asal Solo, mungkin dapat dijadikan salah satu contoh. Bangga sebagai epistoholik, sejak pensiun dari PNS tahun 1981 beliau mengisi hari-hari kreatifnya di usia sepuh dan sehat itu dengan terus mengamuk (dalam tanda kutip), menulis surat-surat pembaca. Resepnya, banyak membaca, memperhatikan siaran radio, juga televisi. Bila ada hal-hal yang tidak laras dengan pikiran beliau, segera ia angkat pena. Tulisannya yang arif dan semangatnya yang tinggi menjadi ilham para yunior dalam komunitas Epistoholik Indonesia

Beliau juga rajin menggalang silaturahmi dalam wadah PWRI. Banyak humor. Bahkan punya slogan yang pantas dicamkan oleh sesama pensiunan dan mereka yang akan pensiun. Slogannya TOPP : Tua, Optimis, Prima dan Produktif. Beda dengan TOPP di jaman Orde Baru yang berarti Tua, Ompong, Peot dan Pikun.

Fenomena di AS tentang kaum lansia yang tetap aktif dan terus belajar ditunjukkan dengan data bahwa pengguna Internet yang terbanyak justru berasal dari kelompok demografis usia 50-an ke atas. Alias kaum usia ketiga, para pensiunan !

BAMBANG HARYANTO
Warga Epistoholik Indonesia
Jl. Kajen Timur 72
Wonogiri 57612


Bagaimana diri saya sendiri ? Bila menurut peraturan pegawai negeri sipil, saya akan pula pensiun satu-dua tahun mendatang. Tetapi saya bukan seorang pegawai negeri. Sehingga apabila pekerjaan dan karier diibaratkan sebagai permainan scrabble, maka saya masih tidak memiliki batas waktu yang ditetapkan orang lain untuk memainkannya.

Bahkan secara konkrit, saya pun masih memainkannya. Walau memang tidak bisa ramai-ramai lagi. Juga tidak pula harus setiap malam. Juga bukan lagi menggunakan papan scrabble buatan J.W. Spear & Sons, tetapi memanfaatkan peranti lunak permainan scrabble buatan Infogrames di komputer .

Dalam hidup kita memang saling memandang. Tetapi, there is only one success – to be able to spend your life in your own way. Hanya ada satu keberhasilan, yaitu menuntaskan waktu hidup Anda untuk menyusuri kehidupan yang telah Anda pilih sendiri. Ucapan penulis Amerika Christopher Morley (1890–1957) di atas kiranya pantas menjadi panduan kita semua. Terutama untuk diri saya pribadi yang selama ini memang tidak pernah menerjuni pekerjaan dan karier sebagai pegawai.

Ketika teman-teman sepermainan scrabble berangkat memasuki pensiun, seperti tergurat dalam lirik lagunya Carpenters yang saya sukai, We've Only Just Begun, mungkin hidup saya dalam beberapa hal justru baru akan dimulai. Lagu indah dan ucapan Morley di atas mampu membuat senyum kecil ketika di Wonogiri ini saya membaca email Niz yang mutakhir. Isinya setengah merajuk, sekaligus mengajukan pertanyaan : kapan mas mendampingi hidup saya di London ?


Wonogiri, 16 Januari 2007


tmw

Sunday, December 17, 2006

Tokoh Majalah TIME 2006 Dari Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews@yahoo.co.id




Pertandingan Everton-Chelsea terhenti semalam di Wonogiri. Tuan rumah unggul lebih dulu melalui gol penalti Mikael Arteta. Sejurus kemudian, Minggu Malam 17 Desember 2006 itu, listrik padam. Sepertinya seluruh Kota Gaplek ini mengalami gelap gulita total. Aku memutuskan untuk tidur daripada menunggu listrik hidup kembali. Acara parodi politik Republik Mimpi di MetroTV, dimana sang kreatornya Effendi Gazali kadangkala ber-SMS-an dengan saya, hanya bisa aku tonton di alam mimpi.

Ada pepatah abad 15 bilang, early to bed and early to rise, makes a man healthy, wealthy, and wise. Lebih awal berangkat tidur, lebih awal bangun pagi, menjadikan dirinya dikaruniai sehat, kaya dan bijaksana. Nasehat yang menarik, walau pun seorang humoris Amerika, James Thurber (1894–1961) punya pendapat rada berbeda : Early to rise and early to bed makes a male healthy and wealthy and dead. Lebih awal bangun pagi dan lebih awal berangkat tidur membuat pria sehat, kaya dan mati.

Bagi saya, nasehat yang pertama kali ini yang mengena. Tidur lebih awal membuat saya bisa bangun lebih pagi dan memutuskan untuk melakukan ritus jalan kaki pagi. Saya memilih rute utara, yaitu menuju kawasan Wonokarto.

Daerah ini disebut sebagai perluasan Wonogiri. Pagi itu saya ingin menuju SMA Negeri 2 Wonogiri dan SMK Negeri 1 Wonogiri. Ada keperluan penting apa sehingga pagi-pagi saya perlu pergi ke sekolah-sekolah tersebut ?

Saya bukan guru. Tahun 1973-1979 memang saya pernah berkuliah di fakultas keguruan, yaitu Fakultas Keguruan Teknik (FKT) IKIP Surakarta, yang kemudian melebur dalam UNS Sebelas Maret. Saya melanjutlkan berkuliah ke FKT ini karena saya setelah lulus SMP Negeri 1 Wonogiri rupanya memilih sekolah yang “salah,” yaitu Jurusan Mesin STM Negeri 2 Yogyakarta.

Saat itu sebenarnya saya juga diterima di SMA Negeri 5 Yogyakarta. Saya sebut sebagai “salah” karena di STM kawasan Jetis Yogya ini saya dikenal oleh kawan-kawan sebagai pelajar “STM Sastra.” Karena menyukai pelajaran bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan rutin menulis lelucon untuk majalah Aktuil, Bandung. Semua itu kini memang sudah menjadi bagian sejarah hidup saya.


Pagi itu saya harus pergi menuju kedua sekolah tersebut untuk mengirimkan majalah sepakbola Freekick, terbitan Jakarta. Edisi 12, Desember 2006. Sampulnya putih dengan topik utama : Boxing Day. Ini ritus pertandingan sepakbola Liga Inggris sehari setelah Natal.

Setiap bulan saya memperoleh 30 eksemplar majalah gratis ini. Nama saya memang tercantum dalam boks redaksi sebagai kontributor. Agar majalah ini lebih banyak dibaca dan lebih lama beredarnya, saya memutuskan sebagian besar eksemplarnya saya distribusikan ke pelbagai perpustakaan sekolah di Wonogiri. SMP Negeri 1, 2 dan 3. SMA Negeri 1 dan 2. SMA Pancasila 1 dan SMK Pancasila 1. Juga untuk perpustakaan umum Wonogiri yang rutin saya kunjungi. Lalu beberapa pribadi.

Di SMK Negeri Wonogiri, saya memiliki teman, guru bahasa Inggris. Bagyo Anggono. Rumahnya sebenarnya berjarak sekitar 200 meter dari rumah saya. Tetapi kami sebelum November 2004, ya ampun, tidak saling mengenal. “Mohon maaf ya Bagyo, aku sungguh tidak mengenalmu, kita beda generasi, walau kau telah mengenal diriku dan saudara-saudaraku.”

Bagyo Anggono dan saya secara resmi baru berkenalan di Jakarta. Tanggal 23 November 2004 ketika berlangsung acara welcome dinner di Restoran Bruschetta, Hotel Borobudur International. Saat itu kami sama-sama masuk final mengikuti kontes Mandom Resolution Award (MRA) 2004 yang berlangsung hingga tanggal 26 November 2004.

Bagyo Anggono saat itu mengajukan resolusi yang bagi saya menarik. Ia memiliki inovasi dalam pengajaran bahasa Inggris sehingga murid-muridnya mampu lulus seratus persen dalam ujian nasional. Inovasinya ini kemudian mendapatkan pujian khusus dari Ketua Dewan Juri, Prof. Sarlito Wirawan Sarwono, yang saat itu juga menjabat Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Dalam MRA 2004 ini akhirnya Wonogiri menempatkan dua pemenang, yaitu Bagyo Anggono dan saya sendiri.

Photobucket - Video and Image Hosting

Dua Wong Wonogiri Di Panggung Mandom Resolution Award 2004. Sepuluh pemenang berpose di panggung Malam Anugerah MRA 2004. Dari kanan : Sarlito Wirawan Sarwono (Ketua Juri), Tarjum (Subang, Juara 1), Soleman Betawai (Jakarta, 2), Bambang Haryanto (Wonogiri, 3), Ilham Prayudi (Jakarta, 4), Deny Wibisono (Jember,5), DR. Ir. Slamet Sudarmaji, M.Sc (Yogyakarta, 6), Hisyam Zamroni (Karimunjawa, 7), Bagyo Anggono (Wonogiri, 8), Dian Safitri (Jakarta, 9), dan Hariyadi (Yogyakarta, 10).


Sejak reuni dua wong Wonogiri di Jakarta itu terjadi, memang saya pernah bertemu Bagyo Anggono beberapa kali. Tetapi hanya saling melambai, ketika ia melintas di jalanan dengan mobilnya. Jadi saya tidak tahu apa yang terjadi kini dengan inovasinya itu. Inovasinya yang menarik tentang pengajaran bahasa Inggris itu, menurut hemat saya, sebaiknya juga disosialisasikan untuk khalayak yang lebih luas di luar pagar tembok sekolahnya.

Itu harapan terpendam saya. Siapa tahu, revolusi dari putra Wonogiri ini mampu meng-Indonesia. Menjadi bisnis pelatihan bahasa yang unik. Yang pasti, inovasinya ini akan mampu memperluas penguasaan bahasa Inggris warga Wonogiri. Yang pada ujungnya mampu mendongkrak rasa percaya diri yang lebih kuat bagi warga Wonogiri untuk berani tampil ke depan dalam pergaulan di era global dewasa ini.

Ya – siapa tahu.


Sambil melambungkan harapan itu, jalan kaki pagi saya, seperti biasa, sambil menguping siaran Radio BBC Siaran Indonesia. Saya mendapatkan info bahwa semalam ternyata Chelsea tidak jadi kalah. Michael Ballack (“yang pindah dari Muenchen ke Chelsea karena konon ingin belajar bahasa baru, bahasa Inggris”) mampu membuat gol. Demikian juga Frank Lampard dan Didier Drogba, hingga tim asuhan Jose Mourinho itu justru menang 2-3.

Sementara Manchester United kalah dari tuan rumah West Ham, 1-0. Akibatnya persaingan Chelsea vs MU makin ketat. Hanya selisih 2 angka dengan keunggulan di timnya Sir Alex Ferguson.

Siaran BBC yang sangat menarik bagi saya pagi itu, adalah keputusan majalah terkenal TIME yang memilih para pembacanya sebagai Tokoh Tahun 2006. Siangnya saya tengok di Internet dan saya temukan :

Photobucket - Video and Image Hosting

Bikin GR dan Bangga. Person of the Year : You. Yes, you. You control the Information Age. Welcome to your world. Sebagai blogger dan pendiri komunitas Epistoholik Indonesia sejak tahun 2003, kata-kata di sampul TIME tersebut sungguh memicu kegembiraan tersendiri bagi diri saya. Cita-cita saya sejak 2003 agar semua kaum epistoholik, pencandu penulisan surat-surat pembaca, memiliki blog masing-masing sebagai perwujudan budaya berdemokrasi, ikut bersuara dan beropini, kini seolah memperolah konfirmasi.


Untuk menvisualisasikan pandangan TIME tersebut maka pada halaman depan majalah edisi bersejarah itu telah tertempel cermin yang terbuat dari mylar. Jumlah totalnya adalah 6.965000 cermin. Ini merupakan edisi TIME yang terbanyak yang dicetak. “Kami memilih memasang cermin di sampul karena benar-benar mencerminkan ide bahwa Anda, bukan kami, yang mentransformasikan era informasi,” tutur Richard Stengel, Redaktur Pelaksana TIME.


Sebelumnya ia mengatakan, “para individulah yang mengubah sifat era informasi, para kreator dan konsumen informasi yang diproduksi oleh mereka sendiri tersebut yang telah mentransformasikan seni, politik dan perdagangan, karena merekalah sosok warga negara yang terlibat dalam kancah demokrasi digital yang baru.”

Keputusan TIME yang sangat fenomenal. Walau harian Kompas (18/12) hanya memuat berita ini dengan porsi teramat kecil, bagi saya, hal itu sangat membesarkan hati. Istilahnya, saya ikut GR, gede rasa. Saya memang tinggal di Wonogiri, tetapi bertahun-tahun pernah membaca-baca majalah TIME yang saya beli dari lapak buku dan majalah bekasnya Pak Yono (“asal Sragen”) di depan kantor PMI Kramat Jaya Jakarta. Sehingga saya merasa penghargaan itu juga untuk saya. Penjelasan wartawan Lev Grossman dari TIME sungguh menarik kita simak :


“Kami melihat ledakan produktivitas dan inovasi, dan fenomena ini barulah awal, bagaimana jutaan otak yang biasanya tenggelam dalam obskuritas, alias tidak dikenal, kini menyepak balik sebagai pelaku ekonomi intelektual global. Siapa saja mereka ?

Sesungguhnya mereka adalah orang yang duduk di depan komputer sesudah seharian bekerja dan berkata, saya tidak akan menonton “Lost” di televisi malam ini. Bagaimana kalau saya menghidupkan komputer dan merancang film dengan iguana, binatang kesayangan saya, sebagai aktor utamanya ? Bagaimana kalau saya mencampur aduk musik kelompok 50 Cent dengan instrumentalia dari kelompok musik Queen ? Bagaimana kalau saya menulis blog untuk menuangkan uneg-uneg tentang diri saya, tentang negara, atau tentang masakan stik dari restoran baru kotaku ? Siapakah yang memiliki waktu dan energi serta gairah semacam itu ?

Jawaban yang sebenar-benarnya adalah : Anda. Dan sebagai penguasa kendali media global, sebagai fondasi dan bingkai demokrasi digital yang baru, yang bekerja tanpa pamrih dan mengalahkan kalangan profesional dengan cara mereka sendiri, maka Tokoh Tahun 2006 dari majalah TIME adalah Anda.”

Diam-diam hatiku ikut bersorak.

Karena di kota kecil saya, Wonogiri ini, saya pun dalam beberapa waktu telah ikut sebagai pelaku aktif dalam arak-arakan peradaban baru, peradaban demokrasi digital baru yang bersejarah itu. Sebagai pendiri komunitas Epistoholik Indonesia, saya tak henti mempromosikan penguasaan blog bagi warga komunitas saya.

Dari Wonogiri saya memang mengelola blog sejak tahun 2003. Secara kasar hingga kini jumlahnya melebihi 40-an. Blog The Morning Walker yang baru ini, sebagai bagian dari kluster blog WonogiriNews, merupakan blog yang saya rancang ke depan untuk khusus berfokus pada kota saya Wonogiri. Saya memproklamasikan hadir kini sebagai placeblogger, istilah menarik yang saya petik dari Steven Johnson, yang artinya merujuk kepada penulis blog yang memfokuskan tulisannya pada daerah di mana ia tinggal.

Pengelolaan media berbasis digital ini merupakan ujud kecintaan dan kegairahan saya sebagai warga Wonogiri untuk aktif berbicara kepada dunia.



Wonogiri, 18 Desember 2006.

tmw